
"Kau sudah berjanji untuk tidak melukai nya. Kenapa kau melakukan itu?!"
Seorang pemuda ber rambut putih terlihat menangis sambil melemparkan barang barang di sekitar nya pada sosok pemuda ber iris hitam di hadapan nya.
"Kau tau dia tidak selemah itu bukan? Lagipula.. Apa dia masih pantas hidup?" Ujar sosok itu.
"Dia keluarga ku. Aku tak akan biarkan siapapun menyakiti keluarga ku!!!" Zuka mengaktifkan sihir nya, lingkaran sihir terbentuk di hadapan nya. Ia sudah benar-benar muak dengan sosok di hadapan nya itu. Namun..
Sreg
"Akh! Lepas!" Jerit Zuka saat Avren tiba tiba mencekik leher nya.
Zuka mencoba melepaskan tangan Avren saat ia merasakan kulit nya mulai tergores kuku tajam pemuda itu. Tapi sayangnya tubuhnya terlalu lemah untuk melepas cengkraman Avren.
"Jadi kau sudah berani melawan ku sekarang? Lihat saja apa yang akan ku lakukan jika kau berani melawan ku!" Ancam Avren dan melempar pemuda bermanik gold itu hingga terjatuh dan menabrak rak buku di belakang nya.
"Maafkan aku Zuka." Lanjutnya dan pergi. Meninggalkan pemuda ber rambut putih yang kini sedang menangis sendirian.
Ia benci pada sosok yang telah merebut keluarga nya. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Dirinya tidak bisa melawan sekarang.
"Zion... Maafkan aku tidak bisa mencegah nya.. Hiks..."
****
Zion membuka matanya perlahan. Dapat dirasakan sedikit nyeri di tubuhnya, tapi tidak separah sebelumnya. Hal pertama yang ia lihat kala itu adalah wajah seorang gadis yang sedang menangis.
Tunggu, sampai menangis begitu, ia tidak sempat mati kan?
Oke, Zion mulai berpikiran aneh.
Luka nya sudah di sembuhkan namun bercak darah masih terlihat membekas di pakaian nya. Seperti nya lukanya cukup parah juga.
"Ocho..." Panggil Zion.
Ocho yang merasa namanya di panggil pun langsung memandang Zion. Ia menarik nafas lega melihat manik ruby itu sudah terbuka kembali.
"Zion!!! Syukurlah!! Syukurlah kau baik baik saja Zion!! Aku minta maaf!! Seharusnya aku tidak lengah.. Tolong maafkan aku Zion!! " Ucap Ocho sambil memeluk Zion erat.
"Ocho... Ocho lepaskan.. Se-sak... "
Ocho yang mendengar itu langsung melepas pelukan nya membuat Zion bisa kembali menarik nafas lega.
Apa gadis itu kira tubuhnya boneka? Main peluk saja seperti itu.
"Maafkan aku Zion!!!" Sesal Ocho meminta maaf.
Zion menggeleng. "Tidak apa kok. " Tapi tunggu, bukan nya tadi mereka sedang melawan Estra? Dimana makhluk itu?
Zion memandang sekitarnya dan mencoba mencari setidaknya tubuh sosok spirit itu.
"Dimana Estra?" Tanya Zion sambil mencoba bangkit namun di cegah oleh Ocho.
"Tidak perlu pikirkan itu. Dia sudah hancur. Semuanya sudah selesai sekarang." Jawab Alex.
Tunggu..
"Apa kalian yang menghancurkan nya? "
Alex dan Ocho menggeleng. "Ia hancur terikat rantainya sendiri. Bekas abu dari sosok itu saja masih ada. " Jawab Ocho.
Tidak...
Alex sempat berfikir "Aku masih tidak mengerti. Kenapa dia menghancurkan dirinya sendiri?"
Bukan... Bukan seperti itu.. Rantai itu bukan miliknya..
"Bawa aku ke tempat itu." Ujar Zion sabil berdiri. Namun lagi lagi dirinya ditahan oleh Ocho.
"Zion tenang lah... Walau lukamu sudah sembuh, tapi kondisi mu masih lemah... Semuanya sudah berakhir.. Kita sudah menang.. "Ujar Ocho.
" Bawa aku ke sana! Rantai itu bukan miliknya! Aku ingin melihat nya."
Alex dan Ocho saling memandang bingung. Bukan miliknya? Lalu milik siapa?
Zion berlari menuju tempat itu. Terlihat jelas abu yang tertumpuk di tanah. Zion langsung mendekat dan memeriksa abu itu.
"Ada apa sebenarnya Zion?" Tanya Alex khawatir melihat teman nya itu.
"Jiwa nya sudah di ambil kembali oleh ketua Inimicus itu... Yang artinya Estra masih bisa di bangkitkan lagi..." Ujar Zion. Alex dan Ocho yang mendengar itu cukup terkejut. Artinya mereka masih belum menang. Tapi kenapa ras Inimicus itu mengambil jiwa makhluk itu?
Zion menghela nafas. Sia sia saja.. Ia cukup kecewa, marah dan takut di saat yang sama. Bagaimana jika Avren mengirimkan monster atau iblis lain untuk menyerang? Jika seperti ini terus tidak ada habisnya.
"Zii"
Zion terkejut dan menoleh ke belakang. Ia melihat Alex dan Ocho yang menatap nya khawatir. Ah, ia lupa tentang mereka yang masih ada di sini.
"Maaf sudah membuat kalian khawatir. Aku tidak apa." Ujar nya berusaha untuk tersenyum.
"Kau yakin?" Tanya Alex memastikan.
Zion mengangguk. "Ya aku benar-benar tidak apa apa kok. Baiklah, aku harus kembali ke perkemahan. Aku khawatir dengan mereka."
"Tapi perhatikan juga kondisi mu.. Lagipula ini sudah malam. Besok saja ya?" Ucap Ocho coba untuk mencegah nya.
Zion hanya mengangkat tangan nya. "Jika ada hal buruk aku akan memberitahu kalian. Terimakasih" Ujar Zion sambil tersenyum manis.
Melihat senyuman itu Ocho dan Alex sedikit merasa tenang. Walau mereka juga tidak bisa menyembunyikan rasa khawatir dan takut yang masih mengganggu mereka.
Apa Zion akan baik baik saja?
"Jangan sok jadi pahlawan seorang diri." Ujar Alex akhirnya.
****
Suasana gelap hutan lah yang pertama kali Zion lihat ketika keluar dari portal. Angin dingin langsung berhembus menusuk kulit membuat nya merinding.
Tapi bukan itu yang ia pikirkan sekarang. Dalam pikiran nya masih saja teringat tentang Estra dan Avren. Rencana apa yang Avren siapkan sampai melakukan semua itu?
Setiba nya di perkemahan Zion langsung mengamati sekitar. Semuanya sudah tertidur. Ia pun berjalan menuju tenda Yanata dan Yiva. Kedua gadis cilik itu pun sudah tertidur.
"Kerja bagus..." Bisik Zion sambil menaikkan selimut mereka agar tidak kedinginan.
Setelahnya ia mengambil jaket milik nya dan berjalan pergi memasuki hutan.
Ia memilih sendiri untuk saat ini. Perasaan nya sungguh tidak enak.
Suasana gelap hutan setidaknya mrmbuat nya tenang saat ini. Zion menghentikan langkah nya saat melihat sebuah danau. Ia mendudukkan diri nya bersandar di salah satu pohon di tepi danau itu.
Mata nya menatap lurus pada pantulan cahaya bulan yang terlihat menyinari danau itu.
"Kenapa jadi seperti ini? Nero, salahkah aku jika aku ingin keluargaku kembali?" Tanya Zion.
'Tidak. Aku tau ini sulit, tapi kau harus bersabar.' jawab Nero.
"Sampai kapan? Jika aku terlambat sedikit saja, rantai itu pasti sudah mengenai Ocho. Kenapa ia selalu ingin mengambil keluarga ku?"
Nero tidak menjawab. Kata kata seakan lenyap begitu saja. Ia sedih melihat Zion benar-benar stress seperti itu. Tapi ia juga tidak boleh gegabah di saat seperti ini.
"Karena kau spesial."
Zion terkejut dan langsung menoleh ke samping nya. Di sampingnya ia melihat Hali yang sedang duduk bersandar di pohon. Sejak kapan ia ada di sana?
"Sedang apa kau di sini? Ini sudah malam.. Berbahaya berjalan jalan di hutan seperti ini." Ujar Zion.
Hali hanya menghela nafas dan membaringkan tubuh nya di samping Zion. "Aku tidak bisa tidur. Niatku mau keluar cari udara segar saat melihat mu masuk ke hutan. Kau sendiri kenapa?"
"Cuma mau tenangin diri." Jawab Zion singkat.
Hening... Tidak ada lagi yang membuka pembicaraan saat itu. Suara serangga malam mendominasi menghilangkan kesunyian bak lagu malam. Suasana yang menenangkan...
"Zion-" Kata kata Hali terpotong saat melihat danau di depan nya tiba tiba bercahaya.
" Zion kau bisa dengar aku? Halo? Siapa saja jawab."
Secara tiba tiba terdengar suara yang jelas tidak asing bagi Zion. Pemuda ber manik ruby itu pun mendekat.
Ia cukup terkejut tapi juga senang saat melihat sosok pemuda ber rambut putih.
"Z-Zuka.."
"Zion! Sudah lama sekali... Aku menggunakan sihir perantara untuk bisa menghubungi mu... Tapi aku tidak bisa terlalu lama. Ada yang harus ku katakan pada mu. " Ujar Zuka.
" Ada apa?"
"Avren sudah berubah sekarang. Dia akan melakukan apapun untuk membuatmu kembali. Aku minta maaf.. Aku tidak bisa menahan nya lagi... Kumohon kau hati hati.." Zuka mengalihkan pandangan nya pada sosok pemuda di samping Zion. "Hali Vandelous. Aku percayakan Zion padamu. Tolong lindungi dia pangeran.."
"Aku pasti akan melindungi nya." Jawab Hali. Zuka tersenyum mendengar itu.
"Oh ya, jadi-"
Prang!
Secara tiba tiba terdengar suara kaca pecah dan seseorang datang mendekati Zuka.
"Zuka? Zuka! Ada apa?! Kau bisa mendengar ku Zuka!?"
"Ah.. Lama tidak melihat mu ruby kecil ku..." Ucap sosok pemuda ber manik hitam yang kini memeluk Zuka.
"Avren... Lepaskan Zuka!!!"
"Tenang saja... Aku tidak akan melukai harta ku yang berharga. Begitu juga dengan mu. Semoga kau berhasil, Zion."
Bayangan di danau itu pun lenyap seketika.
"Zuka! Zuka!!" Seru Zion tapi hasilnya sia sia. Avren sudah memutus komunikasi mereka.
Tidak ada jawaban. Dirinya semakin khawatir. Sudah tentu Avren melakukan sesuatu pada Zuka. Tapi apa yang bisa ia lakukan?
"Bagaimana ini.. Aku harus bagaimana?? " Ujar Zion panik.
Hali yang melihat itu memcoba untuk menenangkan nya. " Zion tenanglah... Dia pasti akan baik baik saja!"
"Baik bagaimana? Kau dengar sendiri kan!?"
"Tapi- Zion awas!!"
Hali langsung mendorong nya saat sebuah rantai muncul dari dalam tanah dan nyaris mengikat Zion.
"Hali tolong!! " Namun sayangnya, rantai rantai lainnya muncul dan mengikat pemuda ber manik ruby itu menuju sebuah portal.
"Tenang saja aku akan melepaskan mu!" Hali menggunakan sihir nya untuk memutuskan rantai itu. Tapi sayangnya terlalu kuat. Dan sekarang tangan nya pun juga ikut terikat.
Ia panik, ia mencoba melepaskan ikatan rantai yang mulai menarik nya, tapi Zion juga sudah mulai tertarik masuk ke dalam portal itu.
"Hali!!!" Seru Zion saat tubuhnya sudah benar-benar tertarik ke dalam.
Ikatan rantai nya semakin kuat membuat nya sulit untuk bergerak dan mau tidak mau juga ikut tertarik ke dalam portal.
TBC