Isekai: New Adventure In The Fantasy World

Isekai: New Adventure In The Fantasy World
99. Jalan yang ku pilih



Gelap... Dingin.... Sunyi...


Itulah yang Zion rasakan dan lihat kali ini. Ia mencoba meraba, mencari tau jika ada sesuatu di dekatnya. Namun hasilnya nihil. Tidak ada apapun di sana. Hanya kegelapan yang menyelimuti.


Zion mencoba mengingat ingat kembali. Ia baru saja memenangkan perang melawan Ketua ras Inimicus. Namun karena kehabisan tenaga juga kelelahan, dirinya jatuh pingsan di pelukan Zuka saat itu.


Tunggu, ia tidak mati lagi kan? Masa sih ia harus mati lagi setelah kemenangan yang baru saja ia raih. Bukankah ini tak adil?


"Halo?? Apa ada orang? Bisakah ada yang memberitahu ku di mana aku sekarang?" Tanya Zion. Tidak ada jawaban. Benar benar sunyi sekarang. Sampai akhirnya sebuah titik cahaya kecil muncul di hadapan nya.


Zion memperhatikan titik cahaya itu. Awalnya ia kira kunang kunang karena melayang berputar di dekatnya. Tapi setelah ia perhatikan lagi, itu lebih tempat seperti bola cahaya kecil yang melayang layang di sekitarnya.


Zion mengernyitkan dahi nya. "Apa ini?" Tanya nya sambil mencoba menyentuh bola cahaya itu.


Puk!


Bola cahaya itu meletus dan kini muncul layar hologram di hadapan nya. Ini mengingatkan Zion saat pertama kali ber reinkarnasi ke dunia ini.


Tulisan muncul di layar hologram itu, membuat Zion mengernyitkan dahi. Zion membaca pertanyaan itu. "Apa kau masih ingin hidup di dunia ini, atau membiarkan jiwa mu tenang?"


Pertanyaan macam apa itu? Zion terdiam. Kini tugas nya dan alasan nya untuk ber reinkarnasi ke dunia ini sudah selesai. Tapi apa ia harus berpisah dengan semua teman dan keluarga baru nya?


Jika ia pergi sekarang, semua teman dan keluarga nya pasti akan sedih. Terlebih lagi setelah semua yang ia lakukan. Cukup berat bagi Zion untuk meninggalkan mereka. Di tambah lagi, ia belum tau apa yang terjadi dengan Avren dan murid murid yang ikut perang. Apa mereka Selamat? Apa mereka baik baik saja?


Zion kembali memandang layar hologram itu. Zion tersenyum kecil. Ia sudah menentukan pilihan nya.


"Ini jalan yang ku pilih." Ucap nya sambil menekan layar hologram itu. Zion sudah memutuskan. Inilah jalan yang ia pilih. Untuk tetap bersama keluarga dan teman teman nya.


Untuk kedua kali nya, cahaya menyilaukan muncul membuatnya menutup mata. Perlahan, Zion membuka mata nya kembali, mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam penglihatan nya. Tidak seterang sebelumnya, membuat mata Zion lebih mudah menyesuaikan diri.


Hal pertama yang dilihatnya langit langit ruangan berwarna putih. Ia mengedarkan pandangan nya ke sekitar. Dan menemukan Zuka yang tertidur di sebelah nya. Sejak kapan pemuda itu di sana?


"Zuka?" Panggil Zion sambil sedikit mengusap kepala Zuka, membuat pemuda itu terbangun.


Sepertinya Zuka menemani dirinya di sini sampai tertidur. Zuka tampak mengusap mata nya dan sedikit menguap. Sepertinya Zuka kelelahan. Ia jadi merasa bersalah karena membuat Zuka seperti itu.


"Zion? Kau baik baik saja? Ada yang sakit? Pusing? Butuh sesuatu? Kau benar benar tak apa bukan??" Tanya Zuka bertubi-tubi.


Untuk kesekian kalinya ia di hadapkan pertanyaan seperti itu. "Aku baik baik saja. Bagaimana dengan mu? " Tanya Zion. Sungguh, ia tak berbohong kali ini. Semua luka di tubuh nya sudah sembuh. Beruntung ia memiliki kemampuan sihir penyembuhan yang cepat.


"Aku baik baik saja. Lainnya juga sama. Murid yang terluka sudah di sembuhkan. Begitu juga pasukan yang lain. " Mendengar jawaban Zuka membuat Zion dapat menarik nafas lega. Ia senang semuanya baik baik saja sekarang. Tapi tunggu, bagaimana dengan Avren?


"Bagaimana dengan Avren? Dia selamat kan?" Tanya Zion dengan ekspresi khawatir.


"Tenang aja, Avren selamat kok!" Ucap Zuka sambil tersenyum.


Tok tok tok!


Tepat saja, setelah Zuka mengatakan itu, pintu di ketuk dan seorang pemuda ber manik hitam masuk ke dalam ruangan.


"Kupikir kau tidak akan selamat." Ucap Avren yang entah mengapa terdengar cukup menyebalkan bagi Zion.


"Aku gak mau mati lagi. Dah cukup mati sekali."


Avren terkekeh mendengar itu. Ya, Zuka sudah menceritakan semua tentang Zion pada pemuda ber manik hitam itu. Jadi sekarang tidak ada lagi rahasia di antara mereka. Ya, itu lebih baik.


"Bagaimana keadaan mu?" Tanya Avren sambil mendudukkan dirinya di sebelah Zion.


"Aku baik baik saja. Kau sendiri?"


"Baik. Walau masih agak sakit karena serangan mu itu."


Jujur sekali..


"Aku penasaran dengan lainnya. Bagaimana jika kita lihat kondisi mereka?" Ajak Zion. Kedua pemuda di samping nya justru memberikan tatapan tajam dan secara kompak menjawab.


"Kau baru sadar, Zion! Istirahat dulu jangan langsung keluyuran!"


Zion yang mendengar itu menggembungkan pipi nya. Di saat seperti ini mereka bisa sangat kompak. Sungguh menyebalkan. Apa dirinya akan terus berada di dalam ruangan yang pengap itu tanpa bisa melihat langit biru yang cerah dan merasakan angin kebebasan? Ketahuilah, Zion paling tidak suka kalo harus berlama lama di ruangan seperti ini. Ditambah lagi selalu di awasi dan di larang ini itu. Sungguh tidak enak.


Ia kembali teringat saat dirinya sampai masuk rumah sakit saat itu. Zion tidak ingin mengalami hal yang sama. Jadi sekarang, ia harus mencari alasan untuk bisa terbebas.


Zion memasang ekspresi manis dan memohon pada wajahnya. Mata nya berbinar dengan bibir yang sedikit di majukan. "Ayolah teman teman... Aku gak apa apa kok... Sebentar... Aja.. Ya ya ya??? Please... " Mohon Zion.


Kedua teman nya justru bergidik ngeri melihat tingkah pemuda ber manik ruby itu. Sepertinya lebih baik mereka mengizinkan nya saja daripada Zion melakukan hal yang lebih aneh nanti.


"Baiklah... Tapi kau tetap di bawah pengawasan kami!" Ucap Zuka.


Zion mengangguk. "Hm! Baiklah!"


"Satu lagi, kau harus menuruti apa yang ku mau." Ucap Avren yang menatapnya dengan seringaian yang mengerikan.


"He? Kenapa pula?"


"Iya lah... Sakit tau... Aku gini kan karena serangan mu.. Aduh..." Ucap Avren sambil ber acting kesakitan.


Keduanya hanya menatap dengan tatapan datar. Sungguh drama sekali.


"Baiklah..." Jawab Zion akhirnya. Itu lebih baik daripada dia terus terjebak di tempat ini kan?


Langit biru yang cerah dengan gumpalan awan putih yang menghiasi. Sinar matahari yang terik tapi tidak terlalu panas membuatnya tenang. Ditambah dengan kicauan burung dan bunga bunga bermekaran. Itu bisa membuatnya melupakan suasana perang yang mengerikan malam itu.


Zion menarik nafas dalam, mengisi paru paru nya dengan oksigen lalu menghembuskan nya lagi. "Haaah segarnya...."


Zuka yang melihat itu tertawa kecil. Seperti orang yang sudah lama terjebak di ruang sempit saja. Padahal baru sebentar Zion di sana.


"ZIOOOOOOOOONNNNNNNNNNNN!!" Mendengar seseorang memanggil namanya Zion hendak menoleh. Tapi ia mengurungkan niatnya dan malah bergerak ke samping. Dan tepat saja, tiga orang pemuda berlari kencang berniat memeluknya tapi langsung jatuh begitu Zion menghindar.


Brug!


"Haduh!!!" Keluh mereka bertiga yang kini jatuh bertumpuk di tanah.


Zion menggeleng geleng kan kepala nya. "Ya ampun... Kalian ini sedang apa sih?"


Ketiga pemuda itu segera bangun dari jatuh nya dan sedikit membersihkan debu yang menempel di baju mereka.


"Niatnya mau peluk Zion tapi malah menghindar. Huh jahat." Ucap Leo sambil melipat tangan nya.


Zion tertawa kecil. "Maaf maaf..."


Namun, pandangan ketiga pemuda itu justru tertuju pada dua orang yang berada di dekat Zion. "Siapa mereka?" Tanya Kei.


"Kenalkan, mereka keluarga ku. Zuka dan Avren. Mereka ini-"


"Zion! Disini kau rupanya." Kata kata Zion seketika terpotong oleh Alex yang terlihat sedang berlari ke arahnya. Ekspresi Zion seketika berubah.


"Ada apa All?" Tanya Zion.


"Pak Rendrano memanggil mu ke ruangan nya. Aku sendiri tidak tahu apa, tapi sepertinya ini cukup serius." Jelas Alex.


"Baiklah." Dengan cepat Zion langsung menuju ruangan pak Rendrano. Jika pak Rendrano langsung memanggilnya seperti itu, pasti ada hal penting yang perlu di bicarakan. Tapi apa?


TBC