Isekai: New Adventure In The Fantasy World

Isekai: New Adventure In The Fantasy World
106. Gadis yang aneh



Suara langkah kaki terdengar dari seorang pemuda ber iris merah ruby yang kini sedang berjalan di koridor sekolah. Zion tidak pergi ke ruangan pak Rendrano, melainkan mengalihkan langkah nya menuju ke gudang sekolah.


Pintu di buka dan Zion berjalan pelan ke dalam. Ruangan yang gelap dan berdebu, banyak barang tak terpakai dan cukup usang dan berdebu. Jaring laba laba terlihat menempel di sudut sudut ruangan dengan laba laba yang siap menunggu mangsa nya untuk datang.


Langkahnya tertuju pada sebuah rak buku yang sedikit menghitam seakan baru di lahap api, namun tidak sampai hancur menjadi abu. Beberapa buku di sana juga terbakar walau tak seutuh nya.


Zion mengambil sebuah kertas kecil yang terselip di antara lembaran lembaran kertas itu. Kertas dengan tulisan yang sedikit bersinar redup lalu menghilang. Zion berdecak kesal. Ia meremas kertas itu.


"Dia bahkan sudah berhasil menghancurkan segel nya."


'Suatu saat nanti dia akan sadar, berhadapan dengan manusia di sini.'


"Benar benar tidak bisa dianggap remeh ya.... Banyak yang akan menjadi korban jika begini." Zion berjongkok, meneliti lokasi sekitar rak itu. Walau sangat tipis, ia dapat merasakan energi sihir yang tersisa menempel di lantai dan rak buku itu.


BRAK!


"Beraninya kau menentang nya!"


Secara tiba tiba terdengar suara seperti seseorang memukul benda keras, di sambung dengan seruan. Zion dapat menebak jika ada yang berkelahi di luar sana. Helaan nafas kasar di hembuskan. Satu masalah belum selesai, dan sekarang ada masalah lain yang harus ia selesaikan.


Dengan segera Zion berbalik dan berjalan keluar gudang itu. Tak jauh dari lokasi nya, ada tiga pemuda yang terlihat memukul satu pemuda ber rambut hitam kebiruan.


"Kau harus meminta maaf pada ketua kami! Berani sekali kau bersikap seenaknya di depan Aaron!"


Kasus yang sama seperti saat pertama kali ia datang ke sekolah ini. Masih ada saja orang seperti itu.


Tubuh pemuda ber rambut hitam kebiruan itu bergetar. Ia bersandar di dinding sambil memegang kepala nya yang sepertinya terasa sakit. "Aku sudah minta maaf kan? Jadi biarkan aku pergi." Ujar nya.


Pemuda yang di duga bernama Aaron itu mencengkram kerah baju pemuda ber rambut hitam kebiruan itu dengan kasar.


"Pakaian ku kusut karena mu. Kau kira maaf saja sudah cukup hah? Kau tidak tau siapa aku ya?" Tanya Aaron dengan seringaian di wajah nya.


Ya, sepertinya ia harus bertindak sekarang. Namun, baru saja ia hendak mendekati mereka,


"Kalian bertiga hentikan sekarang juga!"


Dari belakang nya, seorang gadis dengan rambut hitam di bawah bahu dengan iris merah dan jepit rambut merah terang berjalan mendahului Zion menarik perhatian pemuda pemuda itu.


"Cih. Dasar laki laki payah. Seenaknya saja menindas yang lemah. Kalo aku jadi kalian, aku akan malu." Ujarnya dengan nada mengejek.


Perempatan imajiner muncul di kepala ketiga pemuda itu yang menatap sang gadis dengan tatapan tajam. Tapi bukannya takut, tapi justru gadis itu membalas dengan tatapan yang tak kalah tajam nya.


"Berani sekali kau mengatakan itu hah?! Siapa kau?! Seenaknya saja berkata seperti itu pada kami!!" Bentak Aaron.


"Hemph, aku Laura. Dan kalian tau, aku paling benci penindas seperti kalian." Gadis itu, Laura memandang pemuda ber rambut hitam kebiruan itu. "Lagipula, anak manis sepertinya ini..." Laura mendekati anak itu. "Kau tega menyakitinya? Dia imut loh. Yap, imut. Daripada kalian yang jelek. Dah jelek, kasar lagi. Wah... Aku jamin, gak bakal ada cewek yang mau."


Zion yang melihat adegan itu hanya bisa terdiam, antara tak tau hadis berkata apa dengan ucapan dan sikap gadis itu, atau ingin mengamatinya lebih dulu. Ia belum pernah melihat gadis itu sebelumnya di STAMY. Dari seragam yang dia kenakan juga bukan seragam STAMY. Lalu siapa gadis itu? Bagaimana bisa dia ada di sini? Ada urusan apa dia kesini?


Tapi satu hal yang perlu Zion akui, kata katanya cukup tajam juga. Tak seperti gadis biasanya yang justru takut dan memilih menghindar untuk tidak terlibat dengan masalah seperti ini, Laura justru sebaliknya.


"Keterlaluan kau!!"


Sreg!


Aaron langsung menarik kerah baju Laura, tanpa peduli lagi jika kini ia berhadapan dengan perempuan. Emosinya sudah meluap.


"Cukup!"


Pandangan mereka langsung teralihkan saat Zion angkat suara. Cengkraman Aaron pun langsung melemas. Mata nya membulat dan ekspresi wajahnya menunjukkan keterkejutan.


Aura gelap menyelimuti tubuh Zion yang memandang mereka dengan tatapan tajam. Tapi senyuman tetap terukir di wajah Zion yang justru membuatnya semakin mengerikan.


"Z-Zion..."


"Wah... Sepertinya kalian cukup bersenang-senang. Apa aku boleh bergabung?"


"Z-Zion, aku bisa jelaskan. Dia seenaknya saja menabrak ku dan tak langsung minta maaf. Jadi, aku hanya memintanya meminta maaf dengan benar." Bohong Aaron mencari alasan.


Senyuman Zion seketika menghilang. "Tapi dia bilang tadi sudah meminta maaf."


"Aku hanya-"


"Sudah jelas dia berbohong. Dan... MENYINGKIR DARIKU!!"


BESSTT!!


"AARRRGGGHHHHH!!!!!!!!"


Listrik merah menyambar tubuh Aaron membuat pemuda itu langsung melepaskan cengkraman nya dan terjatuh. Samar samar, percikan listrik merah terlihat di tubuh itu, lalu menghilang.


Kedua rekan Aaron langsung meneguk ludah paksa melihat itu. Tubuh mereka gemetar melihat ketua mereka dikalahkan dengan mudah oleh seorang gadis yang bahkan mereka tak tau darimana asal nya dan apa alasan kedatangan nya ke sekolah ini.


Di sisi lain, Zion menatap serius kedua pemuda itu. "Jika hal ini terulang lagi, aku akan pastikan memberikan hukuman pada kalian."


"B-baik! Maaf!"


Kedua pemuda itu langsung merangkul Aaron yang tidak sadarkan diri dan membawa nya pergi dari sana. Sementara, Laura hanya menatap kesal dan membuang muka. Sedangkan anak ber rambut hitam kebiruan itu menarik nafas lega. Untuk kali ini dirinya terselamatkan.


"Kau baik baik saja? Apa kau terluka? Tanya Zion sambil mengulurkan tangan nya.


Pemuda itu meraih tangan Zion dan berdiri. " Aku baik baik saja. Terimakasih kalian sudah menolong ku."


"Sama sama. Santai aja lah~" Balas Laura. Sedangkan Zion hanya tersenyum.


"Ngomong ngomong nama mu siapa? Sepertinya aku belum pernah melihat mu."


"Aku Erano Holliano, pengendali elemen ganda, es dan kegelapan." Jawab Erano, pemuda itu.


Jarang sekali ada anak yang memiliki elemen ganda seperti itu. Jika di ingat ingat ini yang kedua setelah Ice yang memiliki kemampuan sihir es dan air. Tapi jika di pikir, es itu elemen tahap kedua dari air. itu masih masuk akal jika elemen Ice berevolusi. Tapi jika anak ini... Bukankah sedikit aneh?


"Aku Zion Ravael, salam kenal." Zion mengalihkan pandangan nya pada Laura. "Dan kau?"


"Namaku Laura Vendellous. Salam kenal! Aku kesini karena panggilan pak Rendrano."


Tunggu, Vendellous? Artinya dia saudara Hali dan Kei. Tapi dari sikap dan warna iris mata nya, seperti nya dia lebih mirip dengan Hali.


"Jika begitu, biar ku antara ke ruangan pak Rendrano."


Namun, Laura justru terlihat mengamati Zion dengan ekspresi aneh. Apa ada yang salah dengan dirinya? Apa Laura melihat apa yang ia lakukan di gudang tadi? Semoga saja tidak. Lagipula Laura datang beberapa saat setelah Zion keluar dari gudang. Dan ia yakin sebelum itu gadis itu belum ada di sana.


"Rupanya memang benar kau Zion Ravael si pahlawan itu... Baiklah. Aku tak perlu khawatir sekarang. Lagipula kau sahabat baik kakak kakak ku. Ayo!" Ujar Laura sambil berjalan menuju dahului Zion.


"...."


Tapi tunggu, apa informasi mengenai dirinya yang mengalahkan ketua ras Inimicus menyebar secepat itu?


Tapi yang lebih penting, memangnya Laura tau jalan menuju ruangan pak Rendrano? Bukannya ini kali pertama gadis itu datang ke sini?


Namun baru saja Zion hendak memanggil gadis itu, dia sudah lebih dulu berbalik.


"Ruangan nya ke arah mana ya?"


"...."


Sudah ia duga akan seperti ini.


TBC