
Biru langit membentang luas. Sang bayu berhembus pelan menyejukkan. Di atap akademi, seorang pemuda ber rambut hitam sedang berdiri di sambil menyandarkan punggung nya pada pagar pembatas. Rambutnya bergoyang terkena angin. Mata nya menatap ke arah lapangan, tempat para murid Hero Class berlatih. Tepatnya pada beberapa orang di sana.
"Mereka pasti akan menjadi sasaran yang tepat, kan?" Ujar nya. Senyuman miring terbentuk di wajah putih pemuda itu. Memandang lekat 6 pemuda pengendali elemen berbeda di sana. Lalu pandangan nya teralih pada dua pemuda yang terbilang baru di Akademi itu.
"Bahkan mereka juga di sana. Bukankah ini waktu yang tepat?"
Setelah ia mengatakan itu, seekor burung kecil berwarna hitam terbang menghampiri nya. Pemuda itu mengangkat tangan nya, dan sang burung langsung hinggap di jari pemuda itu. Tubuh nya yang kecil membuat nya tidak kesulitan hinggap di jari kecil pemuda itu.
"Kau sudah mendapatkan nya?" Tanya pemuda itu. Sang burung sedikit mengangguk dan mengeluarkan sebuah batu kristal berwarna ungu gelap.
Senyuman terukir lebar di wajah sang pemuda saat melihat batu kristal yang si burung berikan.
"Kerja bagus. Pergilah." Setelah mengatakan nya, burung kecil itu langsung terbang menjauh.
****
Zion berlari cepat menuju lapangan, mengabaikan beberapa murid yang memandang nya bingung. Mereka bertanya tanya, kenapa Zion terlihat begitu khawatir. Namun, keinginan mereka untuk bertanya seketika lenyap saat mendengar suara ledakan yang berasal dari lapangan.
Apa ada masalah?
Beberapa orang ingin melihat apa yang terjadi, namun...
"Kalian semua, cepat masuk ke kelas masing masing sekarang!" Entah dari mana, Reon datang dan langsung menyuruh semua murid masuk ke kelas masing masing. Tak lupa dengan tatapan tajam nya, membuat semua orang merinding seketika.
Lebih baik mereka menurut daripada terkena masalah nanti nya.
Di lapangan, tepatnya tempat para murid Hero Class berlatih, beberapa lingkaran sihir muncul dan keluar makhluk dengan tubuh seperti manusia, namun tubuh nya sedikit transparan berwarna hitam dengan kabut ungu mengitari mereka. Cairan kental berwarna hitam keunguan menetes dari tubuh makhluk makhluk itu yang seakan meleleh.
Mengerikan sekaligus menjijikan di saat yang bersamaan.
"Makhluk apa itu?? Bagaimana bisa ada di dalam akademi??" Tanya Leo sambil mempersiapkan sihir nya untuk menyerang.
"Mungkin mereka mau ikut sekolah kali? Wah.. Kita dapat teman teman baru!" Ujar Thory dengan polosnya, sambil melambaikan tangan pada makhluk makhluk itu. Lainnya justru menatap datar.
Sungguh? Siapa juga yang mau berteman dengan makhluk makhluk seperti mereka?
"Daripada banyak bicara, lebih baik cepat hancurkan mereka sebelum mulai menyerang murid murid lain! " Komando Hali. Lainnya pun mengangguk dan mulai menyerang.
Zuka yang melihat itu sedikit Mengerenyitkan dahi. Ia tau jelas monster apa itu. Mereka adalah monster parasit.
Monster ini biasa bermunculan pada zaman dulu dan sering merasuki manusia untuk mendapatkan kontrol tubuh nya. Dari apa yang Zuka tau dari cerita orang tua nya dulu, monster parasit itu berasal dari orang orang yang mati tanpa menyisakan sedikit pun bekas dari mayat, bahkan tulang tulang mereka. Biasanya dari korban kebakaran atau serangan yang membuat tubuh mereka hancur tanpa sisa. Itu yang menjadi alasan untuk mereka muncul dan mencari tubuh orang lain sebagai inang nya.
Atau, lebih tepatnya makhluk spirit yang mencari tubuh baru untuk di kendalikan.
Monster parasit biasanya paling kuat hanya mencapai level 3. Tapi jumlah nya yang cukup banyak tetap membuat orang orang kewalahan.
Sebenarnya cukup mudah mengalahkan monster parasit seperti mereka. Sebagai makhluk spirit, cukup dengan mengucapkan mantra pengusir atau menyerang tepat pada kepala nya, mereka akan langsung kalah. Tapi, orang orang zaman dulu melakukan pencegahan dengan menaruh air suci di dekat pintu rumah untuk menghalau mereka.
Monster parasit biasanya bermunculan untuk membalas dendam pada yang masih hidup atau jika di kendalikan. Dalam kasus ini, Zuka dan Zion masih belum mendapat informasi tentang alasan mereka datang ke mari.
"Terus menyerang, tapi tetap berhati hati. Jangan sampai mereka menjadikan kalian inang nya!" Ujar Zion yang baru saja sampai.
"Baik!" Ujar semua orang serentak.
Zion memandang sekitar nya. Tangan nya terulur ke depan memunculkan pistol andalan nya, tepatnya membidik pada lingkaran lingkaran sihir yang masih aktif di sana.
Ia menggenggam pistol itu, matanya sedikit menyipit membidik target. "[NonMagic:peluru sihir]!"
PRANG!
Lingkaran sihir itu langsung hancur begitu terkena tembakan Zion. Ia terus membidik lingkaran sihir lain, mencegah semakin banyak monster parasit berdatangan.
Tapi, satu di hancurkan, lingkaran sihir lain pun muncul. Zion berdecak kesal. Jika seperti ini terus tidak ada habisnya. Ia harus mencari sumber nya.
"Zuka!" Panggil Zion. Zuka yang merasa nama nya di panggil pun langsung menghampiri Zion.
"Monster parasit ini... Sepertinya mereka di kendalikan." Ujar Zuka yang kini yakin.
Zion sedikit mengangguk. "Bisa aku minta bantuan mu? Sebar mana mu untuk mendeteksi sihir dan sumber lingkaran sihir itu." Pinta Zion.
"Baiklah!" Ujar Zuka dan langsung memfokuskan sihir nya.
"Nero, apa kau bisa bantu cari tau?" Tanya Zion.
'Maaf, aku tidak bisa. Seperti ada yang menghalangi sihir ku.'
Zion membulatkan mata. " Bagaimana bisa? Ada yang menghalangi sihir naga.."
"Pasti iblis itu. Apa keributan tadi juga karena nya?" Tanya Avren sambil berlari menghampiri mereka.
"Itu hanya pengalihan untuk menjauhkan ku dari kalian." Jawab Zion. Tangan nya mengepal kuat. Ia masih kesal karena di permainkan oleh iblis itu.
Avren berdecak kesal. Cerdik juga iblis itu telah merencanakan semua ini. Tapi, apa tujuan nya sebenarnya?
Apa mungkin menjadikan semua murid Hero Class sebagai bawahan nya? Mengingat kemampuan mereka yang tinggi, khusus nya ke enam pangeran elemen, sepertinya masuk akal jika ia ingin mengendalikan mereka.
Pandangan Zion teralih pada murid murid Hero Class yang dengan sigap menggunakan sihir mereka untuk melawan monster monster itu.
Tapi dapat di lihat kerjasama mereka masih belum cukup. Jika di perhatikan, terlihat beberapa serangan yang nyaris mengenai murid lain. Seperti nya Zion perlu melatih kerjasama mereka.
"Ada apa Zion?" Tanya Zuka yang menyadari perubahan ekspresi Zion.
"Jika ku perhatikan, ini juga bisa dijadikan sebagai latihan untuk mereka. Kekompakan dan kerjasama mereka masih kurang..."
Zuka dan Avren memandang murid murid Hero Class. Apa yang Zion katakan ada benarnya.
Sepertinya kedatangan para parasit itu tidak selalu buruk. Ada sisi baik nya juga.
Namun, ini bukanlah waktu yang tepat untuk menonton dan mengamati pertarungan mereka. Masih ada masalah yang harus ia selesaikan.
'3 detik lagi kau akan mendapat serangan dari belakang! Hati hati!'
Syut!
Beruntung Nero memperingatkan nya, membuat nya memiliki cukup waktu untuk menghindar.
Dari belakang nya, sebuah tombak berwarna hitam meluncur dan nyaris saja mengenai nya.
'Dari mana lagi serangan itu? Iblis itu benar benar menyebalkan!' batin Zion kesal.
"Ketahui lah, Zion. Ini baru permulaan."
TBC