Isekai: New Adventure In The Fantasy World

Isekai: New Adventure In The Fantasy World
40. Latihan



Setelah selesai makan dan membersihkan nya, mereka pun langsung sibuk dengan kegiatan masing masing.. Namun sayangnya itu tidak berlangsung lama. Khususnya untuk di hari libur seperti ini.


"Haaahh bosan!!!" Keluh Leo sambil merebahkan tubuhnya di atas sofa.


Kei duduk di samping Leo. "Iya. Apa gak ada yang bisa kita lakuin? Setidaknya biar enggak mati karena bosan seperti ini."


"Na na na na na... Aku gak bosan tuh." Ucap sebuah suara. Mereka pun menoleh pada pemuda ber iris hijau yang sedang dengan tenangnya menyiram tanaman bonsai di atas meja sambil bersenandung kecil.


Thory memang sangat menyukai tumbuhan, sampai tak merasakan bosan sama sekali saat berada di dekat tumbuhan.


Sementara itu, Ice justru sedang tertidur tenang di sofa sambil memeluk bantal. Lalu Hali yang sibuk membaca buku dan Sein yang memainkan bola cahaya dari sihirnya.


Melihat teman teman nya itu, membuat kedua pemuda yang hyperactive itu menghela nafas. Sedangkan Zion yang juga merasa bosan hanya terdiam sambil menuliskan beberapa kaya sihir di buku nya.


"Kak Haliii!!! Bosan lah!!! Apa tak ada yang bisa di lakukan?" Tanya Kei.


Hali menghela nafas. Teman temannya yang lain pun juga ikut memandang kearah nya.


Di sini, saat mereka ingin melakukan sesuatu, mereka pasti akan menanyakan nya pada Hali. Dengan kata lain, Hali lah yang biasanya mengatur rencana atau lain nya. Dan semuanya pun setuju dengan keputusan pemuda pengendali elemen petir itu.


"Mungkin kita bisa berjalan jalan atau..." Melihat ke arah Zion yang masih menuliskan kata kata di buku nya. "Latihan? Bagaimana jika kita melatih kemampuan kita?"


Zion yang mendengar itu, "ya! Aku bisa membantu kalian." Ucapnya semangat.


Lainnya pun sepakat dan menuju lapangan untuk mulai latihan. Sementara Zion menghampiri pak Rendrano untuk meminta baju olahraga, mengingat Zion baru di sama.


Sementara menunggu Zion, para pangeran elemen hanya melakukan pemanasan ringan.


"Kita mau mulai dari apa?" Tanya Ice.


"Sambil nunggu Zion, bagaimana jika kita lari dulu?" Usul Leo. Mengingat dia yang paling jago dalam urusan olahraga, lainnya pun setuju dan mulai berlari mengelilingi lapangan.


Lainnya terlihat berlari normal, hanya trio itu saja yang malah seperti balap lari.


Namun lain halnya dengan Ice yang baru satu putaran sudah lelah. Ia lebih memilih beristirahat di tepi lapangan, duduk bersila sambil memejamkan mata dan mengatur aliran sihir nya.


Mereka tak menyadari jika Zion menonton mereka dari tepi lapangan. 'Sepertinya Ice sudah mulai duluan' batin Zion sambil tersenyum.


Ia pun berjalan mendekat. "Teman teman, sudah cukup lari nya. Ayo berkumpul di sini!!" Seru Zion. Teman temannya pun segera berbalik dan menuju ke arah pemuda mungil itu yang berdiri di atas dinding pembatas di tepi lapangan setinggi 8 meter.


Mereka yang melihat itu sempat berfikir, apa Zion akan melompat dari atas sana? Yang benar saja!


Dan benar saja. Pemuda itu melompat dengan santainya.


"ZION!!" Seru mereka yang melihat itu dan mempercepat lari ke arah pemuda mungil itu.


Namun, orang yang di panggil mendarat dengan sempurna di tanah seakan dia sudah sering melakukan itu. Tentu saja hal itu membuat para pengendali elemen itu terkejut.


Dalam hati, mereka mulai ragu jika Zion penyihir level 6.


"Ada apa?" Tanya Zion memecahkan lamunan mereka.


"T-tidak, tidak apa apa." Jawab Thory.


Namun lainnya, "....." Melompat dari tempat setinggi itu dan kau masih bisa bersikap santai seolah baru saja melompati anak tangga kecil? Yang benar saja!


Zion mendekati Ice yang masih mengontrol aliran sihir dengan serius. Namun, aliran sihirnya masih berantakan dan meluber kemana mana dengan arus yang terlalu cepat.


"Penghentian."


Seketika aliran sihir Ice berhenti membuat pemuda ber iris biru muda itu terkejut dan menoleh pada Zion.


"Kau memulai awal yang bagus. Hanya saja, aliran mu masih terlalu cepat dan berantakan."


Zion memejamkan mata nya dan mengatur aliran sihir nya.


"Coba kau bayangkan kau ada di tengah padang rumput dan aliran mu berputar searah jarum jam dengan stabil. Rasakan aura yang kau keluarkan dan atur perlahan. Jika kau merasakan seperti tertiup angin lembut yang hangat, itu artinya kau sudah berhasil mengontrolnya dengan sempurna. Tapi, jika kau gagal, kau akan merasakan pukulan keras dari aliran mu sendiri." Jelas Zion.


Ice yang sedari tadi mengontrol sambil mendengarkan penjelasan Zion pun mulai mengerti. Perlahan walau belum sempurna, aliran itu mulai bergerak dengan teratur.


Para elemental lainnya yang melihat itu pun juga ikut mempraktekkan nya. Mereka mulai mengatur aliran sihir mereka.


Zion yang mengetahuinya tanpa perlu membuka mata pun tersenyum. Sepertinya keputusan nya tidak salah untuk melatih mereka terlebih dahulu.


Satu jam berlalu dan Zion mulai meneliti aliran sihir mereka. Ada yang masih berantakan, ada juga yang masih saling berlawanan arah membuat Zion harus sedikit membantu untuk mengaturnya.


"Jika kalian bisa mengontrol aliran sihir dengan sempurna, itu bisa di manfaatkan untuk menghemat tenaga dan sihir kalian. Contohnya saja saat aku melawan Neily Cirva saat itu. Aku bisa mengontrol nya yang membuat tenagaku tidak cepat habis."


Zion melanjutkan. "Lain halnya dengan Neily. Aliran sihir nya yang masih berantakan dan terlalu cepat membuatnya mudah kehabisan tenaga. Jadi, dalam pertarungan, pengontrolan aliran sihir itu juga penting dan berpengaruh dengan persentase keberhasilan kalian."


Lainnya mengangguk mengerti. Perlahan aliran sihir mereka mulai stabil.


Ice yang terlihat begitu tenang dengan aliran yang sudah cukup bagus. Diikuti Hali dan Sein yang juga sudah mulai bisa menstabilkan nya. Zion tersenyum. Ia senang melihat teman teman nya yang tidak banyak mengeluh dan bisa dengan cepat memahami nya.


"Baiklah sudah cukup." Ucap Zion sambil menepuk tangan nya. Ke enam pemuda itu pun membuka mata. Mereka sedikit mengontrol nafas yang sedikit tak beraturan.


Awalnya mereka tak memikirkan jika aliran sihir juga berpengaruh dalam pertarungan seperti itu.


Di sisi lain, Rendrano sedang memandang keluar jendela dari ruangan nya. Ia memperhatikan Zion yang mulai melatih para elemental itu. Namun, mendadak ia merasakan aura yang cukup kuat.


"Bagaimana hasilnya?" Tanya Rendrano.


Dari balik bayangan sisi gelap dari ruangan itu, seorang pria ber iris merah muncul dan sedikit menunduk.


"Seperti yang dikatakan. Mereka mulai bergerak. Kita harus mempercepat rencana. Mungkin akan banyak monster yang melakukan penyerangan di beberapa tempat. " Ujar nya.


"Baiklah, pangeran. Saya akan mulai mempersiapkan nya."


"Tak perlu memanggilku pangeran. Dan bagaimana dengan murid Hero Class?"


Kembali melihat ke luar jendela. "Zion sudah mulai bergerak. Latihan khusus akan segera di mulai. Aku akan serahkan mereka pada nya."


"Kuharap mereka bisa memahami nya dengan cepat. Kita tak punya banyak waktu."


"Kuharap juga begitu. Untuk saat ini, kita ikuti saja rencana Zion."


Pria itu, Reon mengangguk. Ia pun langsung menghilang dibalik bayangan.


"Kuharap dengan ini, kita bisa mengalahkan mereka."


TBC