
Tidak ada lagi jalan baginya untuk menghindar. Neily benar benar sudah terjebak sekarang. Di hadapan nya, pemuda ber manik blue Sky itu masih menatap tajam menunggu jawaban dari gadis ber rambut pendek di hadapan nya.
Manik biru pemuda itu berkilat mengerikan saat tersorot cahaya bulan malam itu. Angin berhembus meniup rambut hitam nya memberi kesan semakin mengerikan.
"B-baiklah... Jadi...." Ucap nya terbata. Tubuh gemetar takut melihat pemuda itu. Namun secara tiba tiba ia merasakan aura dingin di sekitar nya. Neily mengalihkan pandangan nya ke samping dan melihat sosok pria di sana. 'Tepat waktu.'
"Aku tidak akan memberitahu nya!"
Wush!
"[Sihir angin:pelindung angin]!!" Angin kencang berhembus membentuk pelindung di hadapan Kei. Ia berdecak kesal saat secara tiba tiba ada yang menyerang nya. Harusnya ia tau jika gadis itu tak sendirian.
Dirinya terlalu marah sampai sampai tidak memperhatikan sekitarnya. Jika saja ia terlambat sedikit saja membuat pelindung itu, mungkin ia sudah terluka sekarang.
Kei menurunkan tangan nya menghilangkan pelindung yang ia buat. Mata nya langsung menangkap sosok pria yang mulai berjalan menghampiri nya. Di sisi lain, Neily Cirva langsung berlari sekuat tenaga pergi dari sana.
Kei mendengus kesal. Ia langsung berlari mengejar gadis itu. "Jangan lari!"
"[Tebasan sabit kematian]"
BLAR!!
Namun sayangnya, sosok itu tidak membiarkan Kei untuk pergi begitu saja. Ia langsung menegaskan sabit nya ke arah Kei. Beruntung pemuda itu dengan cepat menghindar sehingga tak terkena serangan maut itu.
Kei membutuhkan jawaban dari Neily Cirva, tapi di sisi lain dirinya justru terjebak dan harus berhadapan dengan sosok pria misterius di sini.
Benar benar merepotkan.
"Lawan mu adalah aku." Ujar pria itu. Pria itu mengenakan jubah berwarna hitam dan memegang sabit seperti malaikat kematian. Wajah nya tertutup masker membuat Kei sulit melihat ekspresi nya. Tapi pandangan Kei tertarik pada simbol bulan sabit yang sedikit bersinar ungu di dada pria itu.
Simbol yang cukup mencurigakan baginya.
"Jangan halangi aku." Ujar Kei dingin. Angin berhembus dan mengitari tubuh pemuda itu. Kilatan amarah masih terlihat jelas di mata nya. Jika orang biasa pasti akan lebih memilih untuk menghindari pemuda itu daripada terkena masalah.
Tapi lain hal nya dengan sosok pria misterius di hadapan nya yang justru menyeringai di balik masker yang ia kenakan. Mata hitam nya menatap tajam pemuda ber manik biru itu.
"Kau teman Zion bukan? Tak ku sangka jika pahlawan seperti nya bisa meminta bantuan orang seperti mu. Hebat juga."
Dalam hati Kei bertanya, kenapa sosok itu menyebut Zion sebagai pahlawan?
"Iya. Dan aku tak akan biarkan siapapun mencelakai nya. Mau apa kau kesini hah?!"
Sosok itu terkekeh. "Aku Estra. Orang yang hampir merenggut nyawa Zion. Kali ini aku tak akan gagal lagi. Tapi sebelumnya, aku akan membunuh mu!!"
Estra langsung berlari ke arah Kei sambil mengayunkan sabit nya. Dengan cepat pemuda itu langsung menghindar dan membalas serangan sosok spirit itu dengan bor angin nya.
Wush
Kei membulatkan mata saat sosok itu secara tiba tiba menghilang. 'Dia bukan manusia'
Dug!
"Akh!" Pekik Kei saat secara tiba tiba ia merasakan seseorang memukul punggung nya dengan cukup kerasa. Pemuda itu langsung jatuh tersungkur ke tanah.
"Kupikir kau kuat. Tapi ternyata hanya segini kemampuan mu hah?"
Nafas Kei tercekat. Tubuhnya tidak bisa bergerak dan mata nya membulat saat sebuah sabit sudah menempel di leher nya. Pergerakan Estra terlalu cepat.
Wusshh!
Angin berhembus kencang dan tiga cakram udara secara tiba tiba meluncur ke arah Estra membuat sosok itu refleks menghindar. Kei langsung bangkit dan kembali meluncurkan serangan. Namun rantai rantai bermunculan di sekitarnya membuat Kei cukup terkejut.
"Kau terlalu mudah teralihkan."
Tanpa Kei sadari, Estra sudah ada di belakang nya dan langsung menebaskan sabit andalan nya. Kei langsung menghindar, tapi sayang nya sabit itu berhasil melukai bahu kiri nya.
"Argh!" Rintih Kei sambil memegangi bahu nya yang terluka dengan tangan nya bermaksud untuk menutupi luka itu.
Belum cukup sampai di situ, rantai yang tadi bermunculan dari belakang nya mengikat tubuh pemuda itu.
"Ck. Sial!" Kei mencoba untuk melepaskan ikatan nya, namun terlalu kuat. Sihir anginnya pun tak mampu melepaskan rantai itu.
Dan tentu saja ini menjadi kesempatan bagus untuk Estra menyerang. Itu mengangkat sabit nya tinggi tinggi di atas kepala bersiap untuk menyerang. Kei membulatkan mata melihat kilatan sabit itu.
Sial. Apa dia akan berakhir di sini?
Sreg!
Trang!
Mendengar suara dia senjata yang saling bergesekan membuat Kei membuka mata nya. Ia terkejut tapi juga senang dengan apa yang ia lihat.
Sosok pemuda ber rambut hitam dengan sedikit rambut putih di antaranya. Mata merah ruby yang menatap tajam tersorot sinar bulan yang justru memberi kesan indah sekaligus menyeramkan di dalam nya. Kedua tangan nya memegang kuat sebuah pedang katana berwarna hitam dengan corak merah dan emas yang indah namun juga terkesan sangat tajam.
"Zion..." Ucap Kei.
Zion langsung mendorong pedang nya membuat Estra sedikit mundur.
"Akhirnya kau datang juga, Zion." Ujar Estra sambil menatap tajam lawannya kali ini.
Zion mengerenyitkan dahi. Darimana pria itu tau nama nya? Ia tidak ingat pernah melihatnya saat di Kerajaan Gold Moon dulu.
"Darimana kau tau namaku hah?!" Tanya Zion dengan nada penuh penekanan.
"Kau tidak ingat dengan ku? Estra. Jika saja tuan ku tidak mengambil kembali jiwa ku, aku pasti sudah berhasil melenyapkan mu saat itu!!"
Zion terdiam. Ia memandang sosok spirit itu dari atas hingga bawah.
"Widih keren. Oprasi plastik di mana? Apa bosen sama tubuh spirit jadi ganti bertubuh manusia?"
Mendengar kata kata itu, perempatan imajiner muncul di dahi Estra. "Kau pikir aku ini apa hah?! Tuan Avren yang sudah merubahku. Tentu saja untuk mengalahkan mu!"
"Eleh. Palingan yang kalah juga kau. Lagian kalo Avren gak ikut serang pake rantai itu, kau pasti sudah hancur karena serangan Ocho." Ucap Zion sambil memasang ekspresi meremehkan.
Sementara Kei yang mendengar perbincangan itu hanya terdiam.
Apa mereka teman lama yang bertemu kembali? Aku jadi nyamuk kah?
Sementara Estra justru semakin emosi dengan ucapan Zion. Memang tidak salah sih... Tapi itu cukup membuat nya emosi. " Itu dulu. Kali ini aku akan menghancurkan mu!!" Langsung saja Estra mengayunkan sabit nya ke arah Zion yang tentu bisa di hindari dengan mudah oleh pemuda itu.
"Jangan pikir aku masih sama seperti dulu, Estra."
TBC