
Beberapa menit kemudian, Zion pun kembali dengan masakan buatannya. Aroma yang sungguh menggugah selera dan penampilan masakan yang terlihat lezat.
"Wah... Tak sangka kau pandai memasak Zion" Puji Rendrano.
"Hehe... Biasa saja... Aku memang suka memasak dulu" Kata Zion agak malu malu.
Namun, saat mereka bersiap memakannya...
"Ngomong ngomong... Kok dapur sangat berantakan ya? Biasanya enggak gini" Lanjut Zion dengan senyuman manis. Namun, aura di sekitarnya tak mengenakkan. Yanata langsung merosot dari tempat tidur dan mencoba bersembunyi.
"Setelah makan nanti, beresin ya..." Ucapnya lagi dengan senyuman yang lebih manis namun mengerikan.
"B-Baik kak! " Ucap Yanata mantap. Dan mereka pun mulai makan. Tak di sangka, masakan Zion memang enak.
Tapi di hari ini, mereka juga mendapat satu pelajaran. Bahwa, jangan membiarkan barang berantakan saat Zion ada di sana. Beruntung pemuda ber rambut hitam itu tidak mengamuk.
Setelah selesai makan... Zion dan Yanata pun membersihkan dapur. Benar benar sampai bersih tanpa sedikitpun debu. Setelahnya, mereka pun menuju ruang keluarga dimana Alex, Rendrano dan Ocho berkumpul.
"Zion, aku boleh tanya satu hal?" Tanya Alex.
Zion pun mendudukkan diri nya "mau tanya apa?"
"Berapa level sihirmu?"
Zion terkejut. Sebelum ini dirinya juga tidak tau berapa level sihirnya. Nero hanya mengatakan jika sihirnya merupakan sihir terkuat di dunia ini.
"Aku... Tidak tahu" Jawab Zion apa adanya.
"Jika begitu kita ukur sekarang. Aku akan mengambil bola kristalnya." Ucap Rendrano dan pergi.
"Tuan Rendrano punya bola kristal sihir?" Tanya Ocho.
"Ayahku kan penyihir level tinggi. Jadi wajar kan?" Ucap Yanata.
Tak lama kemudian, Rendrano pun datang dengan membawa bola kristal berwarna biru muda. Bola kristal yang terlihat indah... Namun, entah mengapa Zion menjadi gugup. Seakan mau melaksanakan ujian dengan guru super galak sebagai pengawas saja.
"Zion letakkan tanganmu di atas kristal ini" Ucap Rendrano. Zion pun mengangguk dan melakukannya.
Rasanya benar benar gugup. Saat ia menempelkan tangannya pada kristal itu, kristal tersebut pun mulai bercahaya.
"Berapakah level kak Zion yang sebenar nya? Dung dung dung dung dung... Mari kita saksikan bersama sama!!!" Ucap Yanata yang ber acting seperti MC.
Mereka semua penasaran dengan jumlah level Zion. Berapakah level Zion yang sebenar nya? Sampai saat angka muncul...
"100??!!!" Seru seru semuanya terkejut. Bagaimana tidak? Level sihir tertinggi di dunia ini baru mencapai level 9. Dan ini pertama kalinya ada orang yang memiliki level sampai ratusan. Jelas membuat mereka terkejut.
Alex yang masih terkejut "Level ini... Ini yang tertinggi di dunia... "
Yanata menutup mulutnya "Kakak punya level setinggi ini?!"
"Bagaimana pisa anak seusia mu memiliki level sihir setinggi ini?" Ucap Rendrano yang masih tak percaya.
Ocho menatap ke arah Zion. "Siapa kau sebenarnya?"
Pertanyaan dari Ocho juga mengundang perhatian dari yang lain. Kini, mereka semua menatap pemuda ber surai hitam itu.
"A-aku... Aku... H- hanya anak biasa" Jawab Zion gugup. Dirinya benar benar gugup. Ia pikir tak akan sampai seperti ini. Bagaimana jika identitas nya sebagai orang yang bukan berasal dari dunia ini terbongkar?
Alex, "Jangan bohong Zion."
Sementara Zion sendiri bingung harus menjawab apa.
"Aku... Minta maaf... Aku tak bisa memberitahu kalian..." Ucapnya dengan suara pelan. Entah kenapa dadanya merasa sesak setelah mengatakan itu.
Rendrano yang memahami trauma Zion "baiklah, tidak apa jika kau tidak ingin memberitahu nya."
"Terimakasih..." Ucap Zion yang sekarang bisa sedikit bernafas lega.
"Tapi... Bagaimana jika ada yang tau tentang kekuatan Zion? Dia harus merahasiakan nya bukan?" Ucap Alex.
Semuanya mengangguk. Itu benar juga. Setidaknya dengan itu, tak akan ada masalah kedepannya.
"Tapi.... Gimana?" Tanya Yanata. Mereka pun sama sama berfikir. Bagaimana cara menyembunyikan kekuatan Zion?
"Buku skill!! Seperti buku mantra yang dapat menyalurkan sihir." Jawab Ocho.
"Ide yang bagus. Sepertinya aku punya. Yanata, tolong ambilkan satu buku skill di laci meja di kamar ayah." Pinta Rendrano. Yanata pun mengangguk sambil memberi hormat.
Beberapa saat kemudian, Yanata pun kembali dengan sebuah buku kecil cukup tebal dengan sampul coklat dan ada hiasan berwarna emas di atasnya.
Yanata menyerahkan buku itu pada sang ayah. "Ini ayah."
Rendrano menerimanya dan menyerahkannya pada Zion.
"Ini akan membantumu"
Zion menerimanya dan sedikit menunduk hormat. "Terimakasih Lord"
Buku skill adalah buku yang sering di gunakan di dunia itu. Buku itu berfungsi mempermudah penggunaan sihir dengan mengubah kata kata menjadi sihir. Buku itu juga bisa digunakan untuk menyimpan barang dalam suatu ruang seperti skill [Inventory]
"Nah, sekarang jadi tidak perlu khawatir orang lain akan mengetahui skill mu. Yang mereka tau nantinya hanya code sihir dan buku itu. Itu juga akan menyamarkan elemen aslimu" Ucap Ocho.
Alex menyandarkan tubuhnya pada sofa."Baiklah, satu masalah selesai sekarang."
Namun, baru saja Alex mengatakan itu, sebuah hologram muncul di hadapan mereka dan menampilkan seseorang.
"Rendrano Fryfer, kami membutuhkan bantuan mu. Desa kami di serang bandit. Cepat datang ke lokasi yang ku kirimkan."
Rendrano bangkit dari duduknya. "Baiklah, tugas memanggil. Maaf, aku harus pergi."
Zion yang melihat itu. "Boleh aku ikut?"
"Tapi mungkin ini berbahaya." Ucapnya.
"Tak apa. Izinkan saya ikut, Lord. Ini juga bisa saya gunakan untuk melatih kemampuan sihir saya" Zion bersikeras.
Menghela nafas. "Baiklah. Tapi, kau harus serius dalam tugas ini. Dan jangan melakukan kesalahan sedikitpun."
"Yes, my Lord!"
Setelah itu, mereka pun segera bersiap untuk pergi ke lokasi yang sudah ditentukan.
Sedangkan Ocho yang melihat itu, "wah wah wah... Seperti nya akan ada pertempuran nih. Semoga anak itu tidak terluka." Ucapnya.
"Kakak ku itu kuat loh. Kak Ocho jangan remehin kakak ku" Ucap Yanata sambil melipat tangan di depan dada.
"Ya, aku tau itu. Tapi bukankah akan ada pertumpahan darah di sini?"
"Para bandit itu harus dibunuh. Untuk anak yang masih polos sepertinya apa bisa membunuh orang? Usia nya juga masih terlalu muda. Bandit bandit itu tak pantas hidup bukan? Apa dia bisa? " Sambung Alex.
Kedua gadis itu pun mengangguk. Mereka penasaran, bagaimana cara Zion menghadapi para bandit itu? Apakah Zion akan berhasil? Tapi dilihat dari kekuatan nya mungkin saja.
Namun, walau dari segi kekuatan dia cukup unggul, dari segi pengalaman Zion masih belum cukup. Setidaknya itu yang mereka pikirkan. Mereka tidak tahu jika sebelum sampai di sana, Zion sudah melalui banyak hal.
Namun tetap saja, ada perbedaan antara membunuh monster dan membunuh sesama manusia.
"Permainan akan segera di mulai. Ah... Bagaimana sang pahlawan menyelesaikannya?"