
"Bisakah kau berhenti mencelakai dirimu sendiri? Apa masih kurang puas selalu berhadapan dengan kematian? Kau sudah pernah mati sekali, apa kau mau mati lagi? Selain itu, kalo mau mati tuh cari lokasi dan situasi yang tepat, gak kaya gini Zion! Mati di tengah pertarungan dengan bodoh nya karena kau menjadikan dirimu sebagai perisai. Kau mau mati konyol atau bagaimana? Seenaknya saja meninggalkan tanggung jawab mu begitu saja! Kau pikir siapa yang mau memikul tanggung jawab sebesar itu?"
Menghela nafas. Dirinya benar-benar tidak habis pikir dengan sosok manusia di hadapan nya. "Kau tau Zion, kau masih punya banyak tanggung jawab yang belum kau selesaikan. Tugas mu melatih Hero class dan Beast. Lalu bagaimana caramu mengalahkan ras Inimicus jika karena sebuah rantai kecil saja dah tumbang. Bangkitin kekuatan mu dasar bocah! Tugasmu masih banyak! Sadar woy!"
Zion memijat pelipis nya. Telinga nya seakan berdenging mendengar ceramahan panjang kali lebar dari sosok di hadapan nya itu. Lalu, dia bilang apa tadi? Mati konyol? Ia bahkan tidak mau memikirkan hal seperti itu. Apa makhluk itu kira menjalankan hidup semudah mematahkan sebuah benang apa?
Ketahuilah jika takdir tidak bisa di tebak. Mana dia tau apa yang akan terjadi di masa depan?
Lalu diri nya juga menjadi perisai berniat melindungi keluarga nya. Bagaikan jika itu terjadi pada nya? Saat satu satunya orang yang ia anggap keluarga terancam bahaya, apa mau membiarkan nya begitu saja? Tentu tidak kan?
Dan satu kata yang paling Zion benci. 'Bocah.' ingatlah jika dirinya sudah remaja, bukan bocah lagi!
"Apa kau pikir semudah itu hah? Aku juga sudah coba tau! Dan kau tau sendiri tanggung jawab ku besar. Aku juga tidak mau mati dulu. Masih banyak yang ingin ku lakukan dasar naga pengangguran!" Zion melipat tangan nya di depan dada dan memalingkan wajah nya.
Lagi lagi Nero menghela nafas lelah. Walau begitu tidak salah juga sih. Terkadang ia ragu, apa Zion mampu mengambil tanggung jawab sebesar itu?
"Perlu ku katakan, aku tidak selemah itu ya..."
Nero menutup mulutnya. Apa Zion memiliki kemampuan telepati juga? Sampai tau isi pikiran nya seperti itu.
"Ya kau tidak lemah. Hanya kurang mengetahui kekuatan asli mu. Sesekali, coba kau gunakan itu. Lagipula sudah takdir mu di dunia ini untuk menyelamatkan mereka."
Zion mengerenyitkan dahi. Apa dia bilang tadi? Apa Nero tau sesuatu mengenai alasan nya datang ke dunia ini?
Zion bertanya, "Apa ini berkaitan dengan takdir 'pahlawan' Seperti apa yang Rio katakan padaku?"
Nero yang saat ini mengambil bentuk manusia terdiam. Ia sendiri tidak tahu banyak sebenarnya. Tapi dilihat dari bagaimana Zion datang ke dunia ini, lalu menjadi seorang dengan sihir terkuat dan bisa mengendalikan berbagai skill dan elemen, itu sudah dapat di pastikan bukan?
"Bukannya itu sudah jelas? Itulah takdir mu."
Mendengar jawaban itu membuat Zion menghela nafas. Walau diri nya sudah berlatih bertahun tahun dan sekarang melatih murid murid nya, tapi Zion sendiri juga masih belum yakin tentang kemampuan nya.
"Aku tidak tahu apa aku mampu, Nero. Apa aku bisa melindungi semua orang? Apa aku bisa mengendalikan kekuatan ku?" Ungkap Zion. Entah kenapa semua keyakinan nya selama ini seakan menguap tanpa sisa. Menyatu dengan udara lalu tertiup angin entah kemana.
Cetak!
"Aduh!" Pekik Zion saat secara tiba tiba Nero memukul kepala nya.
Nero menatap tajam. Mata merah darah nya menatap lekat pada sepasang manik ruby di hadapan nya. "Halo? Kemana semua keyakinan mu? Kau bilang mau melindungi semua kan? Lalu kenapa kau putus asa seperti ini bocah?"
Nero menepuk pindah Zion. "Rasakan kekuatan dalam dirimu. Jika kau pergi sekarang, bagaimana lainnya? Keluarga mu? Ayolah Zion.. Bertahan untuk mereka. Lindungi mereka."
Entah sejak kapan naga itu bisa mengatakan hal seperti itu. Tapi ada benarnya. Mungkin memang saatnya ia membongkar identitas nya dan melindungi orang-orang yang ia sayang.
"Baiklah terimakasih. Aku akan melakukan nya." Ucap Zion mantap.
Nero tersenyum. "Gitu dong! Aku juga akan membantu mu!"
Zion mengangguk. Namun, secara tiba tiba ia merasakan aura hangat mengelilingi nya. Rambut nya berkibar tertiup angin membuatnya memejamkan matanya.
"Zion...."
Samar Samar ia dengar suara seseorang memanggil nama nya. Ya, dirinya tau siapa pemilik suara itu.
"Zion kumohon sadar lah... Hiks... Zion..."
Ah, Zuka benar benar mengkhawatirkan nya ya?
"Kau terlalu imut untuk mati secepat ini..."
Perlahan Zion membuka mata nya, menyesuaikan cahaya yang memasuki penglihatan nya. Rasa sakit di tubuh nya sudah mulai berkurang dan sepertinya luka nya sudah sembuh sekarang.
Tes...
Terasa air menetes di pipi nya. Bahkan Zuka sampai menangis seperti itu.
"Zuka..." Panggil Zion lirih. Seketika pemuda itu terkejut dan langsung memandang Zion yang kini berbaring di pangkuan nya itu.
"Zion! Zion apa kau baik baik saja? Bagaimana kondisi mu sekarang? Apa ada yang sakit? Mana aja yang sakit? Zion!" Tanya Zuka bertubi tubi.
Sungguh, apa Zion akan dihujani pertanyaan setiap kali baru sadar dari pingsan?
"Aku baik baik saja..." Ucap Zion sambil mencoba untuk bangun.
Ia sedikit memeriksa kondisi tubuh nya. Ya, sepertinya memang sudah baik baik saja sekarang. Lalu Zion mengalihkan pandangan nya pada rantai rantai yang mengurung mereka.
"Kita... Benar benar terjebak ya..."
"Sepertinya gitu. Tapi pasti ada jalan lain untuk bisa keluar dari sini."
"Jalan lain ya?"
Seketika Zion dan Zuka terdiam. Shara yang jelas mereka kenali tapi justru menarik perhatian untuk mereka.
"Tepatnya jalan menuju kematian kalian bukan?" Ujar suara itu lagi. Suara yang terdengar sedikit menggema namun tetap jelas. Zion segera mengaktifkan sihir nya.
"Avren... Itu kau kan? Kenapa kau melakukan semua ini?!" Tanya Zuka. Terlihat jelas ia kesal dan kecewa. Tangan nya mengepal kuat tanda ia benar benar marah.
"Ah... Aku hanya ingin memberi sedikit hadiah perpisahan pada kalian."
"Hadiah?"
Beberapa portal muncul di sekitar mereka. Dari dalam portal itu, beberapa jenis monster yang cukup mengerikan berjalan keluar.
Zion dan Zuka membulatkan mata melihat monster monster itu.
"Dasar keterlaluan! Kau benar benar kejam!!" Seru Zion kesal.
Avren justru tertawa. "Ya! Aku memang kejam. Dan tak akan ku biarkan kalian hidup dengan bebas. Sampai kapanpun, kalian tetap akan jadi senjata ku. Tapi sepertinya lebih baik kalian mati untuk kali ini. Selamat bersenang senang~"
Suara itu menghilang bersamaan dengan monster monster di sekitar mereka yang mulai bersikap menyerang.
"Ah Zion, pernah aku bilang aku senang memiliki keluarga sepertimu?" Tanya Zuka tiba tiba.
"Aku sudah tau."
"Apa kita benar benar akan berakhir di sini?"
Zion terdiam. Namun kemudian ia menyeringai. "Tentu tidak. Ada yang belum ku beritahu padamu. Tapi mungkin sekarang waktu yang tepat memberitahumu semua tentang ku."
Zuka mengerenyitkan dahi. "Memangnya ap-" Kata kata Zuka terpotong saat merasakan luapan energi sihir yang begitu besar.
Apa ini kekuatan asli Zion?
TBC