
"Kami pulang!!"
Dua orang pemuda membuka pintu masuk sambil membawa sekeranjang apel. Awalnya semuanya normal saja, namun saat mereka melihat apa yang terjadi di ruangan itu, seakan semua kata menghilang mereka tidak bisa mengucapkan apapun lagi.
Dalam hati ingin ketawa tapi kasihan. Ingin mengasihani tapi juga cukup lucu.
"Rio cepat ambilkan makanan aku lapar."
"Rio cepat pijat bahu ku."
"Rio siapkan air, setelah ini aku ingin mandi."
"Rio cepat!"
Ren terus saja memerintah Rio macam macam, dan pemuda itu dengan terpaksa dan terus menggerutu menuruti setiap perintah nya. Sedangkan Hali? Ia memilih tidak peduli dan tertidur di sofa.
"Ya ampun... Apa Rio baik baik saja?" Tanya Zion pada Ren yang sedang tenang dipijat oleh kakak nya.
"Ya dia baik baik saja."
"Tidak aku tidak baik! Sungguh kejam!!" Sangkal Rio kesal.
Ren hanya mengabaikan kakak nya itu. Salah nya sendiri tidak langsung membantu nya dan malah mengabaikan dirinya. Ia memandang keranjang buah yang baru saja diletakkan Zion di atas meja. Buah buah yang terlihat segar. "Kebetulan ada buah. Rio, kupas buahnya."
"Tadi kau menyuruh ku memijat mu."
"Kau punya dua tangan kan? Lalu kau juga punya sihir. Kenapa tidak gunakan kekuatan mu?"
Ingin sekali Rio membungkam mulut adiknya itu. Jika tidak karena hukuman dan ia yang sayang pada adiknya, ia tak akan mau terus di perintah seperti ini. Terlebih lagi di hadapan teman teman baru nya. Mau ditaruh mana wajah tampa nya itu?
"Ngomong ngomong dapat dari mana nih buah?" Tanya Rio sambil mengambil sebuah apel merah yang terlihat segar.
"Ada anak perempuan yang hampir di serang goblin. Kami tolong dan dia memberikan ini sebagai gantinya." Ucap Zion santai sambil berjalan lalu mendudukkan dirinya di sofa dan memakan sebuah apel.
"Gadis? Cantik gak? Masih jomblo? Tanya Rio.
Lainnya justru memandang datar.
Kenapa malah itu yang di tanyakan?
"Cantik. Kalo jomblo enggak nya sih mana kami tau." Jawab Zuka sambil beralih mendekati Zion.
"Ngomong ngomong bagaimana jika kita sedikit berlatih? Saat sampai di desa ini, aku melihat lahan kosong yang cukup luas. Aku penasaran dengan kekuatan sihir kalian. Lagipula kita juga harus bersiap untuk melawan monster yang mungkin akan datang kan?" Ajak Ren.
Zuka menghela nafas lelah. "Baru aja kami sampai."
"Okelah kalo gitu." Ucap Zuka akhirnya.
Mereka pun segera menuju tempat yang Ren tunjukkan.
Sepanjang perjalanan, suasana desa yang hangat dengan lampu lampu yang sudah mulai menyala karena menjelang senja. Berbagai hiasan dan toko toko camilan berjajar dengan rapi di tepi jalan.
Anak anak tampak berlari di jalanan sambil tertawa riang menanti malam tiba. Di pusat desa, sebuah patung besar berbentuk seorang wanita yang terbuat dari berbagai jenis sayuran dan buah buahan berdiri kokoh dengan lilin lilin kecil yang mengitari nya.
Ditambah lagi hiasan hiasan lain dan berbagai bentuk binatang yang terbuat dari jerami, menambah keindahan tempat itu. Jika saja Zion bisa membawa serta ponsel nya saat bereinkarnasi, ia pasti sudah berfoto di tempat itu. Mengabadikan keindahan ini dengan teman teman nya.
"Desa ini begitu indah..." Ucap Zion dengan mata yang berbinar.
"Ini pertama kalinya ya kau melihat festival seperti ini?" Tanya Ren.
Zion menggeleng. "Di tempat asal ku juga ada. Rasanya kangen aja. Akhirnya bisa menikmati keindahan ini lagi." Jawab Zion. Mengingat dulu dirinya juga sering menghadiri Festival dengan keluarga dan teman teman nya.
"Di Kerajaan Gold Moon juga sama. Kangen rasanya." Sambung Zuka.
"Oke oke tunda dulu wisata nya... Kita fokus latihan sekarang." Ujar Rio yang sudah berjalan di depan mereka menuju luar desa.
Orang itu benar-benar menyebalkan.
Sebuah lahan kosong di luar desa yang cukup luas. Rerumputan hijau segar menyejukkan mata dan angin yang bertiup serta cahaya jingga matahari menjadi penyambut mereka saat tiba di sana.
Ren memang tak salah memilih tempat. Lokasi nya yang cukup jauh dari desa membuat mereka tidak perlu khawatir serangan mereka akan berdampak pada rumah rumah warga. Memang cocok untuk dijadikan sebagai tempat latihan.
"Baiklah kita mulai saja?" Ujar Rio.
Lainnya mengangguk menyetujui itu. Namun,
'Hati hati! Ada 5 ekor serigala yang mengarah pada kalian!' mendengar peringatan itu, Zion langsung memasang posisi siaga dan mengeluarkan senjata nya.
"Ada apa?" Tanya Zuka.
"Kayaknya kita punya tambahan target latihan deh. Ada sukarelawan buat kita bunuh."
Dan tepat saja, lima ekor serigala melompat keluar ke hadapan mereka.
"Wah wah... Waktunya bermain..."
TBC