
Malam yang gelap di sebuah tebing yang cukup curam, dua orang pemuda ber rambut hitam berjalan dengan hati hati agar tidak terjatuh dari tebing.
Salah satu di antara mereka terlihat membaca sebuah peta sihir dan menunjukkan jalan menuju arah tujuan mereka.
"Masih berapa jauh lagi?" Tanya salah satu pemuda pada rekan nya.
"Sedikit lagi, di puncak tebing ini." Jawab pemuda satu nya. Mereka pun melanjutkan perjalanan.
Angin mulai berhembus membuat mereka sedikit kesulitan. Terlebih lagi harus mencari pijakan yang sesuai agar tidak tergelincir dan jatuh ke sungai di bawah nya.
"Kenapa tidak menggunakan sihir saja untuk terbang atau ber teleportasi? Bukannya itu akan lebih mudah?" Tanya pemuda yang berjalan di belakang pemuda satunya.
"Sssttt... Jangan berisik! Jika menggunakan sihir, mereka bisa mengetahui lokasi kita dan mereka akan menangkap kita nantinya." Ujar pemuda satunya sambil sedikit berbisik.
Pemuda di belakangnya hanya bisa menghela nafas kesal. Apa tidak boleh menggunakan sihir sedikit saja? Jika ia tau akan mendaki tebing seperti ini, seharusnya ia mempersiapkan peralatan mendaki.
Tapi sayangnya, tidak semua yang direncanakan akan terjadi. Dan hal hal tidak terduga bisa muncul kapanpun di situasi seperti ini.
Tak lama kemudian mereka pun sampai di puncak. Hal pertama yang mereka lihat kalau itu adalah sebuah kristal sihir besar berwarna biru yang bersinar terang. Terlihat begitu indah dengan cahaya yang mengeluarkan Aura sejuk.
"Indahnya... Inikah kristal nya?" Tanya salah satu pemuda sambil berjalan mendekat. Ia terlihat begitu terpesona dengan keindahan kristal itu.
"Rio jangan ceroboh! Bagaimana jika ada yang menjaga kristal itu?" Ujar salah satu pemuda pada pemuda yang dipanggil Rio itu.
Sementara Rio hanya tersenyum remeh. "Kau terlalu khawatir. Tenang saja.. Tidak ada apa apa di sini..."
Rio berjalan mendekati kristal itu dan menepuk nepuk kristal itu dengan tangan nya, mencoba membuktikan bahwa memang tidak ada apa apa. "Lihat kan... Kau terlalu khawatir Re-"
KIYAA!!!
Kata katanya terpotong saat terdengar suara melengking. Dengan cepat, kedua pemuda itu memasang posisi siaga.
Mereka mempertajam indra penglihatan dan pendengaran mereka, mencari asal suara itu.
Suhu dingin tiba tiba terasa membuat keduanya menggigil. Namun itu masih belum cukup untuk menurunkan kewaspadaan mereka.
"Rio awas!!"
DUAR!!
Sebuah kristal es meluncur ke arah mereka. Beruntung Rio berhasil di tarik menghindar dari serangan itu. Jika tidak, pasti dia sudah terluka parah.
"Kau tak apa?" Tanya pemuda itu sambil mengecek kondisi rekan nya.
"Aku tak apa. Terimakasih Ren." Ujar Rio pada Ren rekan nya. Ran hanya mengangguk mendengar itu. Pandangan nya beralih pada sosok burung raksasa berwarna coklat dengan kuku kaki dan tanduk di atas kepala nya yang terbuat dari es.
Ren memberikan tatapan tajam pada Rio. "Selamat Rio... Kau sukses membuat kita dalam bahaya."
Rio menggaruk belakang kepala nya yang tak gatal. "A... Ehehe.. Sorry..."
"Sudahlah. Kita selesaikan dulu yang ini" Setelah mengatakan itu, Ren langsung mengaktifkan sihir nya dan berlari menuju monster di hadapan nya.
"[Sihir kegelapan: pedang kematian]!!" Seru Ren. Lingkaran sihir berwarna ungu muncul di hadapan nya dan mengeluarkan sebuah pedang katana hitam.
Ren langsung mengambil pedang itu dan menebaskan nya pada monster di hadapan nya. Namun sayang nya berhasil di halang dengan sayap burung itu yang berubah jadi kristal es.
"Melawan monster tipe burung itu jangan dari daratan~"
Ren menoleh pada sumber suara. Terlihat Rio yang terbang dengan sepasang sayap hitam di punggung nya. Ia menggenggam sebuah pistol dan mengarahkan nya pada burung itu.
"[Sihir kegelapan: tembakan peluru kegelapan]!!!" Pelatuk di tekan dan peluru sihir langsung meluncur dengan cepatnya menuju monster itu.
KYIIAAA!!
Suara melengking monster itu terdengar saat peluru sihir yang Rio tembakan mengenai nya. Namun, sepertinya Rio juga salah perhitungan saat itu.
Hanya selisih beberapa detik, monster itu langsung menyemburkan salju dari mulut nya yg tepat mengenai Rio. Pemuda itu mencoba menghindar, namun sayap nya mulai membeku akibat serangan monster itu.
"Sial! Jika terus begini aku bisa jatuh!" Keluh nya sambil mengontrol kepakan sayap nya agar ia tidak terjatuh. Namun, dirinya yang teralihkan pada sayap nya itu melupakan monster yang kini terbang ke arah nya.
"Gawat!"
"[Sihir kegelapan: panah kegelapan]!" Sebuah busur dan panah muncul. Dengan cepat, Ren langsung menarik busur nya. Anak panah yang meluncur langsung berubah jadi banyak begitu Ren melepaskan nya.
Burung itu memcoba untuk menghindar, namun Ren menggerakkan tangan nya mengendalikan busur busur itu mengikuti nya.
"Baiklah, aku tak mau kalah!!" Rio yang tidak mau kalah dari rekan nya langsung mengulurkan tangan nya ke depan. "[Sihir kegelapan: sabit kematian]!!"
Sebuah sabit besar berwarna hitam muncul dan langsung Rio lempar pada monster itu. Monster burung itu yang mencoba untuk menghindar justru tertusuk panah dari belakang nya. Belum cukup sampai situ, sabit yang Rio lempar di kendalikan nya untuk berbalik dan sukses memotong kepala monster itu.
"Yey! Berhasil!" Sorak Rio dan terbang turun. " Hehe! Keren kan aksi ku tadi?" Ujarnya sambil sedikit bergaya.
Ren hanya menatap datar dan menghala nafas. "Kenapa kau ikut ikutan melempar sabit mu? Bukannya buat bumerang saja akan lebih baik? Atau cakram."
Mendengar ucapan rekan nya, Rio hanya tertawa garing sambil menggaruk belakang kepala nya. "Hehe.. Lupa. Setidaknya berhasil kan? Oke! Ayo kita ambil kristal itu dan melanjutkan perjalanan!"
Ren hanya bisa menghala nafas. Entah kenapa ia harus terjebak dengan orang seperti itu.
Kling..
Namun langkah mereka terhenti saat mendengar suara rantai. Mereka mengedarkan pandangan dan kembali mengaktifkan sihir mereka.
"Mereka tidak menemukan kita bukan?" Tanya Rio pelan.
Ren hanya menggeleng. " Aku juga tidak tahu. Semoga saja tidak. Setelah dia mendapat senjata baru, kukira dia sudah melupakan kita."
"Kupikir juga begitu. Ternyata kebebasan hanya sementara."
"Rio awas!!"
Rio nyaris terjatuh saat Ren secara tiba tiba mendorong nya dan menahan sebuah rantai dengan pedang nya. Ia benar-benar tidak menyadari hal itu.
"Kenapa aku hampir kena serang mulu sih??" Keluh Rio yang nyaris kehilangan keseimbangan saat di dorong tiba tiba.
Ingatkan Rio untuk lebih waspada lain kali.
"Jangan cuma ngeluh! Cepat bantu aku!" Seru Ren yang masih menahan rantai itu dengan pedang nya.
Rio mengangguk singkat dan membentuk pistol yang lagsung ia gunakan untuk menembak rantai rantai itu hingga terputus.
Namun sayangnya, jumlah rantai yang muncul semakin banyak membuat mereka cukup kewalahan.
Tujuannya datang ke sini untuk mengambil energi dari kristal sihir yang akan mereka gunakan untuk mengembalikan kekuatan sihir mereka, justru gagal karena serangan monster. Ditambah lagi mereka yang ketahuan oleh si pemilik rantai, membuat mereka harus melawan nya.
Di gelapnya malam, kedua pemuda itu dengan lincah nya menghindari setiap serangan dari rantai yang bergerak liar. Keringat mulai menetes walau suhu di sekitar mereka cukup dingin.
"Sampai kapan kita harus begini?" Tanya Rio yang mulai kesal.
"Aku tidak tau. Yang penting kita lawan saja du- akh!" Kata kata Ren terpotong saat secara tiba tiba ia merasakan sakit di leher nya. Terlihat simbol bulan sabit terikat rantai yang sedikit mengeluarkan cahaya ungu gelap.
Mendengar rintihan rekan nya, Rio langsung menoleh. Namun di saat yang sama, ada sebuah rantai yang bergerak ke arah nya dengan cepat. "Ren awas!!"
Mendengar peringatan Rio, Ren terkejut dan berusaha menghindar. Namun sayang, rantai itu bergerak terlalu cepat. Yang bisa ia lakukan sekarang hanya menutup mata erat erat bersiap merasakan sakit.
Namun,
"Akh!!!"
Ren langsung membuka mata nya. Ia terkejut melihat rekan nya yang justru ada di hadapan nya.
Saat berikutnya, Rio langsung jatuh berlutut sambil memegangi perut nya yang mengalirkan darah.
"Rio kau baik baik saja?" Tanya Ren panik. Ia sungguh tidak mengira akan jadi seperti ini.
"A-aku baik baik saja... Akh..." Bohong nya.
Kebohongan yang terlalu jelas.
Ingin Rio menggerutu tentang si pemilik rantai itu. Sudah tertusuk rantai, lehernya juga terasa sakit karena tanda bulan itu. Nasib nya sungguh tidak beruntung.
Trang!
Ia mengalihkan pandangan nya pada pemuda di hadapan nya yang terus mencoba untuk menahan serangan rantai itu. Namun sayangnya, rantai itu mengenai tangan Ren yang membuat pedang nya terlepas dan jatuh ke sungai di dasar tebing.
"Akh sial!" Keluh Ren mencoba menahan perih di tangan nya yang tergores ujung rantai yang tajam. Tidak cukup dalam, tapi luka itu cukup membuatnya kesakitan. Ditambah ia harus kehilangan pedang kesayangan nya.
"Ren!" Seru Rio khawatir dan mencoba untuk bangkit. Namun ia tak memperhatikan ada sebuah rantai yang juga mengarah pada nya dari samping.
"Rio awas!!!" Dengan cepat Ren langsung berlari ke arah rekan nya itu. "[Sihir ruang: teleportasi]!!"
Sebuah portal muncul di belakang Rio dan Ren langsung mendorong pemuda itu masuk ke dalam.
"Apa yang kau lakukan?!"
"Pergi!!"
Belum sempat Rio membalas, dirinya sudah masuk ke dalam portal. Namun dari belakang, sebuah rantai mengikat tubuh Ren membuat pemuda itu tidak bisa bergerak.
"Sial!" Ren mengepalkan tangan nya membuat portal itu menghilang. Selanjutnya menggunakan sihirnya untuk melepaskan ikatan di tubuhnya.
Tapi ia tak menyadari jika ada rantai yang juga mengarah pada nya dari samping. Ditambah, simbol bulan sabit yang membuatnya cukup kesakitan mempersulit nya.
"Ugh!" Rintih nya saat mau tidak mau harus merasakan sakit akibat tebasan dari rantai itu yang juga membuatnya terjatuh dari tebing.
"HUAAAA!! TOLONG!!!!!!"
*****
"HHUUAAA!!!"
"Ada apa?! Ada monster? Di gigit nyamuk? Ada yang jahil? Ada hantu?? Zion kenapa??" Tanya Hali dan Zuka bersamaan saat mendengar Zion yang secara tiba tiba menjerit membuat mereka terkejut dan terbangun dari tidur nyenyak mereka.
Mereka memandang khawatir ke arah Zion yang terlihat masih mencoba mengatur nafas nya yang tak stabil.
"A-aku tidak apa apa. Aku cuma mimpi buruk saja." Ucap Zion.
Hali mengernyitkan dahi "mimpi?"
"Mimpi apa?" Tanya Zuka sambil menatap penasaran.
"Ada dua orang pemuda yang sedang melawan rantai. Sepertinya rantai dari ketua Inimicus itu. Tapi salah satunya tertusuk saat mencoba menyelamatkan teman nya. Dan satu nya lagi mencoba untuk melindungi tapi hampir kena serangan dan akhirnya mendorong teman nya yang terluka ke dalam portal. Tapi sayangnya dia gagal masuk juga dan jatuh ke sungai karena serangan rantai itu. Entah kenapa mimpi itu rasanya begitu nyata." Jelas Zion sambil mengusap kepala nya yang agak berdenyut sakit.
"Entah kenapa aku jadi khawatir." Ucap Zuka.
"Sudahlah.. Itu hanya mimpi. Sebuah kesalahan besar kalian mengganggu tidur naga agung seperti ku. Cepat tidur atau kujadikan camilan malam ku kalian." Ucap Haru yang tidur tak jauh dari mereka.
"Huh! Dasar naga ngeselin." Gerutunya Zuka. Namun di abaikan oleh naga itu.
Mereka pun memutuskan untuk kembali tidur. Walau dalam hati, Zion masih khawatir dan terus memikirkan mimpinya itu.
'Apa benar itu hanya mimpi?' batin Zion.
TBC