
Rendrano yang melihat Zion pingsan, membawanya ke rumah. Sementara Alex terlihat sangat khawatir pada anak itu. Saat ini, pemuda vampir itu masih saja menunggu kesadaran Zion.
Ia merasa bersalah karena sudah membuat kondisi Zion seperti itu. Bagaimanapun ini karena dirinya yang masih menyerangnya bahkan setelah duel selesai.
"Maafkan aku"
Alex tertunduk menyesal. Ia benar benar menyesal karena itu. Namun, ada hal lain yang mengganggu pikirannya.
Bagaimana bisa Zion menggunakan sihir tingkat tinggi seperti itu? Berapa levelnya sebenarnya? Lalu kode yang ia katakan, NonMagic. Bukannya sihir tersegel. Darimana ia mempelajarinya?
Bahkan di semua buku sejarah sihir, tidak ada yang menjelaskan tentang semua itu. Siapa Zion sebenarnya?
Dan satu skill yang membuat Alex semakin penasaran. Penghentian. Sejauh ini, tidak pernah ada penyihir yang bisa menghentikan bahkan menghilangkan sihir lawan. Tapi pemuda itu bisa melakukannya. Bagaimana bisa?
"Hey... Maafkan aku... Aku tau aku berlebihan. Seharusnya aku tak melakukan itu. Kau memang kuat. Jujur saja, aku tak bisa mengalahkan mu. Aku bisa menghindar dan selamat saja hanya kebetulan. Maaf... Aku tak bermaksud membuat mu seperti ini" Ucap Alex yang menyesal.
Ia kembali mengingat kejadian tadi, dimana ia hampir celaka karena serangan dari Zion. Halilintar abadi itu... Beruntung tidak mengenainya secara langsung dan ia berhasil membuat pelindung yang cukup kuat untuk menahannya. Jika tidak, mungkin itu akan jadi hari terakhirnya untuk hidup.
BRAK!
Tiba-tiba pintu di dobrak membuat Alex terkejut. Dan saat melihatnya, seorang gadis kecil dengan rambut yang di ikat dua menatapnya marah. Matanya berapi api dan seakan ada asap keluar dari kepalanya. Oh gawat, Yanata marah besar.
Sejauh ini, Yanata adalah orang yang sangat menyayangi keluarganya. Ia akan marah besar dan tidak mengampuni siapapun yang berani meremehkan atau mencelakai keluarganya. Dan sudah jelas, Alex akan mendapat omelan panjang kali lebar dari gadis itu.
"Apa lihat lihat?! Berani sekali kau membuat kak Zion sampai seperti ini! Duel sudah berakhir tapi kenapa kakak terus menyerang kakak ku?! Hanya karena kakak itu pangeran vampir, tapi bukan berarti kakak bisa melakukan apapun semua kakak dan bersikap keterlaluan seperti itu!
Benar benar menyebalkan! Kakak kejam! Lihat kondisinya yang sampai seperti itu! Apa kakak mau kalo ada di posisi nya? Aku akan beri pelajaran pada kak Alex yang sudah berani mencelakai kakak ku seperti ini!!" Benar kan, Yanata langsung datang dan mengomel panjang lebar.
"Maaf maaf... Sungguh, aku tak bermaksud melakukan itu. Aku hanya ingin tau kemampuannya saja" Kata Alex.
"Ingin tau tapi sampai membuat kakakku seperti ini?!"
"Aku- Tunggu sebentar, kakakmu?"
"Ya! Dia kakakku! Emang kak Zion bukan kakak kandung ku, tapi, aku dan ayah udah anggap kak Zion jadi kakakku! Jadi jelas aku marah!!" Omel Yanata.
Alex sedikit berfikir. Keluarga Fryfer adalah kelurga penyihir yang terkuat. Bahkan nama Rendrano Fryfer sudah sangat terkenal di seluruh kerajaan. Jelas ada alasan khusus kenapa Rendrano sampai mengangkat Zion menjadi anak nya.
Hal itu tentu membuat Alex semakin penasaran dengan pemuda mungil di hadapan nya. Apa karena kekuatan sihirnya yang begitu besar? Tapi sebelum ini, dia belum pernah sekalipun mendengar tentang nama keluarga Zion.
Banyak pertanyaan di kepalanya, tapi ia juga tak bisa lupa bahwa ada penyihir yang berubah menjadi iblis dan siap menghancurkannya kapan saja. Walau masih kecil, cukup mengerikan juga melihatnya marah seperti itu.
"Halooo! Malah bengong kak Alex!" Ucap Yanata menyadarkannya dari lamunannya.
"Aku minta maaf. Aku tau aku salah dan tak seharusnya begitu. Jujur saja aku hanya ingin tau kemampuan nya. Aku mendengar dari kakak ku kalau dia mengalahkan hampir semua monster di medan perang. Aku penasaran apa dia benar benar sehebat itu? Makanya aku datang ke sini dan ingin menguji nya langsung. Ya, dia memang hebat. Selain itu, dia juga jujur. Aku yg salah... Justru melakukan itu padanya. Padahal aku lebih tua." Ucap Alex dengan raut wajah bersalah.
Yanata yang mendengar itu terdiam. Dapat dilihat Alex benar benar menyesali nya. Apa Yanata sudah bersikap berlebihan?
"Um... Maaf kak... Aku gak bermaksud bilang gitu. Yanata... Cuma khawatir sama kak Zion aja. Maaf ya kak... " Ucap Yanata menyesal.
"Tidak apa. Memang salahku"
Alex yang melihat Yanata malah merasa bersalah sendiri. "Tak apa kok... Yanata... Kelihatannya kau sangat menyayanginya ya... Apa yang kau tau tentangnya?" Tanya Alex.
"Um... Kak Zion itu baik dan enggak pantang menyerah. Itu yang Yanata suka. Terus... Yanata senang aja kalo ada kak Zion. Ayah bawa kak Zion ke sini dari medan perang. Katanya dia pingsan habis bunuh banyak monster. Yanata juga gak tau banyak tentang kak Zion. Tapi satu yang Yanata tau, kak Zion itu baik dan... Dari matanya terlihat kalo kak Zion kesepian. Kak Zion pasti sudah lalui banyak hal sebelum sampai di sini. Tapi sekarang enggak lagi. Karena ada Yanata dan ayah yang sudah jadi keluarga kak Zion!" Jelas Yanata tanpa memberitahu mengenai Zuka dan Avren.
Walau masih kecil, tapi Yanata bisa mengerti jelas apa yang orang lain rasakan dan itu juga termasuk apa yang ingin Zion rahasiakan.
Alex mengangguk kecil. Sedikit pertanyaannya sudah terjawab. Tapi, tetap saja dia masih penasaran dengan pemuda yang terbaring di sampingnya itu. Ia masih belum membuka mata nya. Zion benar benar kehabisan tenaga.
Pandangan Alex kembali terarah pada Yanata. "Terimakasih sudah memberitahuku tentang ini" Ucap Alex.
Yanata tersenyum. Namun, pandangannya justru mengarah ke tempat lain. "Baiklah. Um... Maaf pangeran Alex. Kayaknya nggak apa apa sih kalo tinggalin kak Zion. Tapi... Haduh... Jadi bingung. Oke! Kalo gitu jagain kak Zion ya! Tata titi tutu!!!" Dan Yanata pun pergi.
Alex yang melihat itu malah jadi bingung sendiri. "Mendadak pergi gitu kenapa?" Tanya nya.
Ia menghela nafas. Pandangan nya kembali terarah pada Zion. "Hey... Sampai kapan kau mau tidur? Jangan membuatku semakin bersalah. "
Perlahan kelopak mata Zion mulai terbuka. Alex yang melihat itu tentu senang. "Zion! Syukurlah..." Ucapnya senang.
Terlihat Zion memegang kepalanya. Sepertinya ia masih merasa pusing.
"Sudah... Jangan terlalu banyak bergerak. Tiduran saja ya... Kau masih perlu banyak istirahat" Ucap Alex.
Zion mengangguk. Namun... "Ternyata kau bisa perhatian juga ya... Sangat berbeda dengan saat awal kita bertemu" Kata Zion dengan nada lemah.
Alex yang mendengar itu... "...." Apa barusan dia mengejek ku? Itu pujian atau hinaan? Tapi... Ada benarnya juga ya? Kenapa sikapku berbeda? Apa karena dia imut? Mukanya memang imut sih... Ah apa yg ku pikirkan?!
"Cih! Siapa juga yang perhatian?! Aku hanya... Sedikit khawatir saja tau!"
"Oh ya? Tapi dari yang kau katakan tadi sangat berbeda. Aku dengar semua loh..."
Tunggu tunggu. Zion mendengar semua?
"Ha? Jadi kau sudah sadar dari tadi? Kau mendengar semua itu? Serius?" Ucap Alex terkejut.
Bagaimana tidak? Dirinya yang terkenal jarang peduli dengan orang lain justru bersikap seperti ini di hadapan orang yang baru ia kenal.
Orang yang awalnya ia kira tak sadarkan diri, ternyata sudah sadar dan mendengar semua ucapannya yang memang langsung dari hati. Menunjukkan sisinya yang seperti itu... Mau ditaruh di mana wajahnya?
"Ya. Semua itu aku mendengar nya. Maaf ya sudah membuatmu khawatir"
Alex yang mendengar itu, "Tak apa kok. Aku... Minta maaf. Hanya karena aku punya kehormatan dan juga harus menjadi panutan rakyat biasa ya..." Sikap sombongnya kembali. Tapi setidaknya ia bisa sedikit menarik nafas lega. Zion masih polos ternyata...
"Kelihatan jelas" Ucap Zion. Alex yang mendengar itu cukup kesal. Ternyata peka juga anak ini.
"Oh ya, kau berlatih bersama Rendrano kan? Boleh aku membantu mu latihan?" Tanya Alex.
Zion malah membalik tubuhnya membelakangi Alex. "Hm... Sudahlah. Aku mau tidur... " Jawabnya.
Jawaban yang menjengkelkan. Tapi entah kenapa, dirinya tak bisa marah pada anak itu.