Isekai: New Adventure In The Fantasy World

Isekai: New Adventure In The Fantasy World
53. Kebenaran



"Bagaimana? Apa kau sudah menemukan nya?" Tanya Zion pada sosok naga di hadapan nya.


Naga itu hanya terdiam. Menengok sedikit dan memalingkan wajahnya membuat perempatan imajiner muncul di dahi pemuda ber rambut hitam itu.


Apa dia mengabaikannya? Familiar menyebalkan!


"Oi! Aku bertanya padamu Nero!" Seru Zion kesal.


Nero menghela nafas dan merubah wujudnya menjadi seorang anak seumuran Zion, dengan rambut putih dan mata merah darah dan pupil kucing yang menatap tajam.


"Haah... Apa lagi yang harus kubilang? Aku sudah coba cari tau, tapi sihir Aren terlalu kuat. Kenapa bukan kau saja? Sihir mu kan lebih kuat darinya." Ujar Nero.


Zion menghela nafas. "Kalo aku bisa, aku gak bakal minta bantuanmu."


"Salahmu gak mau latihan. Kau kan tuan nya, masa gitu aja gak bisa."


"Kau kan familiar ku. Kau harus menuruti perintah ku."


"Ogah amat. "


"Dasar menyebalkan!! Cepat carii!!! "


Nero lagi lagi menghela nafas. "Iya iya kucari.. Cerewet amat."


Ya, Zion meminta Nero mencari tau bagaimana kondisi Zuka. Mengingat Zuka yang mengendalikan Lady Spider, jelas membuatnya khawatir. Tak mungkin kan jika Zuka benar-benar mematuhi Avren kan? Atau ia di paksa untuk melakukan nya? Itulah yang membuat Zion penasaran.


"Aku akan coba menggunakan sihir perantara. Ya, semoga saja berhasil. Dan lain kali, coba untuk mengambil jiwa makhluk itu sebelum kembali di ambil Avren."


Zion mengernyit kan dahi nya bingung. "Kenapa? "


"Karena Avren bisa menggunakan jiwa makhluk itu dan menghidupkan nya lagi. Memangnya kau mau melawan mereka dua kali? Simpan core mereka dalam buku skill mu. Itu bisa menyegel nya agar tidak digunakan lagi." Jelas Nero.


Zion mengangguk. Ada benarnya juga. Untuk berikutnya ia akan menyimpan nya. Sungguh merepotkan jika harus melawannya lagi.


"Tapi menurutku, Zuka masih belum berubah. Ia masih Zuka yang sama dengan yang kau kenal dulu."


Zion menoleh pada sosok di sampingnya dan tersenyum tipis. Ia juga yakin akan hal itu. Zuka masih belum berubah. Dan bagaimanapun ia harus menyelamatkan nya.


"Baiklah, terimakasih bantuanmu Nero. Aku tunggu hasil nya."


Nero mengangguk. "Tentu. Dah cepat pergi sana gih. Kasihan lainnya khawatir."


"Iya iya..."


Zion hanya bisa menurut. Ada benarnya juga, mendadak pingsan seperti itu jelas membuat lainnya khawatir. Entah bagaimana reaksi mereka saat dirinya sadar. Terlebih lagi tentang kondisi nya dan bagaimana ia harus menjelaskan alasan nya pingsan begitu?


Haah merepotkan..


Perlahan Zion membuka mata nya. Rasa sakit langsung terasa di kepalanya saat itu juga. Apa lukanya separah itu?


Ia memandang ke sekitarnya dan mendapati lima pemuda yang sedang tertidur.


Jadi mereka menemani nya di sini? Entah kenapa Zion jadi merasa tidak enak.


"Mereka bersikeras menemanimu. Aku sudah melarangnya, tapi mereka bilang ingin menjagamu. " Ucap Hali yang baru masuk ke ruangan itu. Pemuda ber manik merah itu pun duduk di samping Zion.


"Aku gak ngira kalian bisa perhatian gini... Padahal kita kan baru beberapa bulan kenal." Ucap Zion sambil mendudukkan dirinya di samping Hali.


Pemuda pengendali elemen petir itu hanya tersenyum. "Aku gak tau tentang mereka, tapi bagiku ku cukup menarik. Mungkin karena itu?"


Mendengar itu, Zion hanya terkekeh pelan. Apa darinya yang membuat mereka tertarik? Apa ketampanannya?


"Ngomong ngomong, bagaimana kondisi mu? Sudah baikan? Masih ada yang sakit?" Hanya Hali.


Pertanyaan sudah mulai datang... Zion harus mencari kata yang tepat untuk menjelaskan nya. Kalau jujur pun sebenarnya tak masalah, tapi itu justru akan mengundang lebih banyak pertanyaan bukan? Terpaksa ia harus berbohong...


"Kondisi ku baik kok. Cuma masih sedikit sakit di kepala saja." Jawab nya sambil mengusap kepala nya yang di perban.


Sudah kuduga...


"A.. Aku terjatuh tadi.. "


'Jawaban yang buruk.' ujar Nero dalam pikiran Zion.


'Jangan memperburuk keadaan!!' keluh Zion.


Namun, jawaban Hali selanjutnya justru membuatnya kesal.


"Baiklah, lagipula wajar saja terluka begitu jika jatuh dari atas kepala monster dan dijadikan bola yang ditendang."


Tepat sasaran. Zion langsung menggembungkan pipinya dan memalingkan wajah. Tapi...


"Darimana kau tau? " Tanya Zion.


Hali tersenyum tipis melihat keterkejutan pemuda itu. Baginya, cukup menggemaskan melihat Zion yang ketahuan hendak berbohong.


"Ada makhluk yang memberitahuku." Jawab Hali membuat Zion mengernyit kan dahi bingung. Melihat itu, Hali pun sudah tau jika Zion meminta penjelasan atas ucapan nya tadi.


"Kau ingat Black Mist Dragon yang kau kalahkan?" Tanya Hali. Zion pun mengangguk sebagai jawaban. "Beberapa hari lalu, dia menemuiku. Ia memberitahu semuanya. Serangan di Akademi bukanlah karena kecelakaan. Tapi ada yang memanggil Black Mist Dragon dan membuatnya marah hingga menghancurkan Akademi." Jelas Hali membuat Zion terkejut.


"Siapa yang memanggilnya?" Tanya Zion.


Hali melanjutkan. "Orang yang menjadi musuh pertama mu begitu datang ke sekolah ini. Sepertinya dia masih menyimpan dendam dan ingin membunuhmu dengan bantuan Black mist dragon. Tapi sayang, perkiraannya salah. Dengan bodohnya, ia menyerang naga itu dan membuatnya marah."


Mendengar itu, Zion terdiam. Ia turun dari tempat tidur nya dan berjalan mendekati jendela. "Peraturan nomor 42. Dilarang menggunakan lingkaran sihir pemanggil tanpa izin dari guru dan kepala sekolah." Ujarnya.


Hali hanya terdiam melihat Zion. Entah kenapa melihat Zion yang berdiri di depan jendela dengan sorotan cahaya bulan yang tepat mengarah padanya, ditambah perban yang membalut kepala nya itu membuat pemuda itu terlihat begitu rapuh.


Ditambah lagi masalah yang Zion sembunyikan. Sosok yang ia lihat selama ini bagaikan sebuah topeng senyuman yang menutup kesedihan dan luka pada anak itu.


"Aku tak pernah mengira Neily bisa melakukan hal seperti itu."


Hali mengangguk pelan. "Sebaiknya kau melaporkan nya pada pak Rendrano. Ini sudah cukup keterlaluan."


Zion berbalik dan kembali duduk di kasur lalu menyenderkan dirinya pada Hali. "Lebih baik memberi hukuman langsung yang akan membuatnya menyesal."


"Ya. Dan Black Mist Dragon memintaku menyampaikan ini padamu. Dia bilang apa yang mengincar mu sudah semakin dekat. Lebih baik kau mempercepat rencanamu."


Jadi yang di maksud naga itu? Apa semua naga di dunia ini terlampau pintar?


"Aku penasaran darimana dia tau tentang itu. Tapi baiklah, terimakasih."


"Sama sama.." Ucap Hali sambil mengusap pelan kepala pemuda mungil itu. Ia memandang iris ruby itu yang terlihat begitu indah terkena cahaya bulan. "Tapi, rencana apa yang kau siapkan?" Tanya Hali.


Zion hanya terkekeh pelan dan memejamkan mata nya. " Besok juga kau akan tau. Gak salah kan kalo aku buat sedikit tantangan dan ujian dadakan?"


Hali terlihat bingung. "Ujian dadakan?"


"Ya, aku sudah merencanakan ini. Besok, orang tua kalian akan hadir untuk menyaksikan kalian. Aku akan menguji kalian untuk duel satu lawan satu. Dan pemenangnya akan melawan ku di akhir nanti. Ini rencanaku untuk memilih siapa yang benar benar siap." Jelas Zion.


Hali hanya terkekeh mendengar itu. Rencana yang terlalu bagus sampai membuat hal seperti itu. Terkadang ia berfikir jika Zion juga berbohong tentang usia nya. Walau itu memang benar.


Hali tersenyum. "Kau memang selalu membuatku terkejut dan pemasaran ya?"


Namun tak ada jawaban. Ia melihat pemuda itu yang ternyata sudah tertidur membuatnya geleng geng kepala. Jadi ia bicara Sendiri tadi?


Hali pun menidurkan Zion perlahan agar pemuda mungil itu tak terbangun. Melihat wajah polosnya saat tertidur membuatnya merasa gemas sendiri.


Namun... Ia juga penasaran dengan apa yang akan terjadi besok. Kira kira akan jadi seperti apa duel itu?


TBC