
"Hali dan Zion hilang?! Bagaimana bisa?" Tanya Rendrano yang terkejut setelah mendengar penjelasan Yanata dan Yiva. Kedua gadis itu telah menceritakan semuanya pada Reon dan Rendrano.
Jika Zion dan Hali sampai menghilang seperti itu, pasti mereka sedang dalam masalah besar. Mengingat bagaimana kemampuan Zion, tidak mungkin jika mereka tersesat atau diculik, kecuali orang yang melakukan itu memiliki kemampuan yang tinggi atau tau kelemahan Zion.
Seketika satu kata muncul dalam pikiran Rendrano. Inimicus. Mengingat penyerangan dan bagaimana Zion menjelaskan tentang berapa berbahaya nya ras itu, sudah jelas ras Inimicus ada kaitan nya dengan kejadian ini.
Rendrano mengaktifkan lingkaran sihir di atas telapak tangan nya. Tidak terlalu besar, sekedar untuk komunikasi. Mengingat belum lama ini ia juga telah berkomunikasi dengan Zion menggunakan lingkaran sihir, kemungkinan Rendrano masih bisa melacak sihir Zion dengan itu.
"Zion kau bisa mendengar ku?" Tanya Rendrano.
"Iya Pak Rendrano" Jawab Zion.
"Syukurlah... Bagaimana kondisi mu sekarang? Dimana kau?"
"Aku dan Hali baik baik saja. Kami.. Ada di dasar jurang, tepatnya sarang peliharaan ketua Inimicus itu. Membutuhkan waktu mungkin beberapa hari atau minggu untuk kembali, jadi sementara itu bisakah murid murid Hero Class dan Beast berlatih dengan anda dan kak Reon? Aku akan menilai nya saat kembali nanti."
"Baiklah, yang penting kau-"
Roar!!
Kata kata Rendrano terhenti saat mendengar suara raungan yang cukup keras.
"Zion? Apa yang terjadi di sana? "
"Tidak, hanya sedikit monster pengganggu. Kami sedikit sibuk, jika ada waktu saya akan menghubungi lagi."
"Baiklah.. Sampai nanti" Lingkaran sihir pun menghilang dari atas tangan Rendrano. Tapi seketika ia merasakan hawa dingin dadi belakang nya.
Saat ia berbalik, terlihat jelas para pangeran elemen yang memendam amarah dengan sihir yang meluap lupa dari diri mereka. Beberapa orang yang ada di dekat mereka pun lebih memilih menghindar daripada jadi sasaran kemarahan.
"Kak Hali sungguh berani ya... Awas saja saat pulang nanti!" Ujar Leo sambil memukul mukul tangan nya.
"Hihihi~ tepat sekali. Kita keroyok habis habisan!" Sambung Thory sambil tersenyum manis, namun justru memberikan kesan paling mengerikan dari yang lain.
Sungguh? Mereka tidak khawatir tapi justru marah? Yanata dan Yiva hanya bisa menepuk dahi melihat kelakuan kelima pemuda itu.
Sementara, di dasar jurang, Zion baru saja menghilangkan lingkaran sihir saat secara tiba tiba ia mendengar ledakan besar yang hingga membuat Zion membentuk pelindung agar dirinya tidak terkena batu batu dan debu akibat ledakan itu.
Di sisi lain, Hali justru menyandarkan tubuhnya pada dinding gua dengan nafas yang tidak beraturan.
"Sial..." Gumam nya. Listrik merah terlihat masih mengalir di tangan pemuda pengendali petir itu.
Zion yang melihat nya justru menggeleng geleng kan kepala nya. Bagaimana tidak? Seekor Lady Spider berteriak keras sambil berlari ke arah Hali dengan senyuman lebar nya dan berseru,
"KYAA!!!! PANGERAN TAMPAN!! MAUKAH JADI PASANGAN HIDUP KU???"
Tapi sayang nya langsung disambar sampai mati oleh pemuda itu.
"Dasar monster gila." Ucap nya kesal. Itulah salah satu alasan kenapa Hali tidak suka perempuan yang terlalu berlebihan.
Sedangkan Zion justru berusaha menahan tawa melihat wajah pucat Hali. Segitu tidak suka nya kah?
"Napa ketawa? Gak lucu tau!" Cetus Hali. Sungguh itu tidak lucu. Bagaimana jika Zion yang ada di posisi nya? Bukannya akan semakin menyebalkan jika di tertawakan?
"Baiklah baiklah maafkan aku. Tapi seranganmu lumayan juga." Puji Zion akhirnya. Iya tidak berbohong, mengalahkan Lady Spider dengan sekali serang itu hebat loh.. Walau mereka tidak sekuat Krmya, tapi kekuatan Lady Spider itu sudah mencapai level 5 yang tergolong dalam tipe monster yang cukup berbahaya.
Hali menghela nafas. Setidaknya pekerjaannya sudah selesai sekarang. Ia berharap tidak ada monster lagi yang mendekat.
"Sebaiknya kita cari jalan keluar dari sini. Aku tidak mau terjebak lebih lama di sini." Ujar Hali. Zion pun mengangguk. Ya, lagipula siapa juga yang mau berlama lama di tempat ini bukan?
Zion dan Hali mulai mencari jalan keluar. Setidaknya dengan bantuan Nero memeriksa jalur di depan mereka akan mengurangi resiko mereka tersesat atau menemui jalan buntu di tempat itu. Sungguh buruk bukan jika sudah lama berjalan justru tersesat?
Namun, seketika terpikir sebuah pertanyaan yang sebenarnya mengganggu Hali sejak lama. Tepatnya, sejak awal Hali melihat Zion melawan Neily Cirva. Tapi, apa tidak apa menanyakan nya sekarang? Ia sudah terlalu banyak bertanya. Takutnya malah membuat pemuda mungil itu tidak nyaman nanti.
"Jika ingin menyanyikan sesuatu, tanyakan saja." Ujar Zion tiba tiba.
Tunggu, Zion tidak membaca pikiran nya bukan?
"Tidak ada." Bohong Hali.
"Tidak perlu berbohong. Dari ekspresi mu wajah sudah sangat jelas ada yang ingin kau tanyakan."
Oke, Hali tidak bisa mengelak lagi sekarang.
"Baiklah, apa elemen inti mu? Sejak pertama melihatmu, kau selalu menggunakan elemen berbeda. Aku jadi sulit menebak apa elemen inti mu." Tanya Hali akhirnya.
Zion terdiam. Pertanyaan yang menjebak. Apa ia harus menjawab jika dirinya bisa mengendalikan semua elemen? Tidak, itu terlalu blak blakan.
'Katakan saja kau pengendali elemen tanah.' ujar Nero tiba tiba.
'Bukannya pengendali elemen tanah sudah menghilang? Kalo aku hilang gitu bukannya membuat kecurigaan?'
'Itu lebih baik daripada mengatakan bisa mengendalikan semua elemen. Memang akan beresiko kedepan nya. Tapi jika dipikirkan lagi, alasan mu menyembunyikan sihir asli mu dan menggunakan alat sihir untuk bisa mengendalikan elemen lain untuk menutupi nya akan membuatnya masuk akal. Itu jika kau tidak mau ribet sendiri kedepan nya.' jelas Nero. Tapi apa tidak masalah?
"Zion?"
Mendengar nama nya di panggil, pemuda mungil itu langsung menoleh. "Ah maaf, sebenarnya aku... "
Zion menghentikan ucapan nya dan menyentuh dinding jurang di samping nya. "[NonMagic: tanah tajam]"
Roar!!!
"Kau bisa..."
"Ya, aku pengendali elemen tanah. Aku menggunakan alat sihir untuk bisa menggunakan elemen lain." Jawab Zion.
Apa Hali akan percaya? Semoga percaya semoga percaya!!
Namun Hali justru tersenyum membuat Zion kebingungan sendiri. Ada apa?
"Masuk akal kalo kamu pake alat sihir selama ini. Tapi setahuku semua pengendali elemen tanah sudah menghilang. Kalo gitu harusnya kau tau kan alasan nya? Apa ada yg terjadi?" Tanya Hali lagi.
Sudah Zion duga hal ini justru akan membuat nya terjebak sendiri.
"A-aku tidak tahu. Aku terpisah dengan keluarga ku saat kecil, jadi aku tidak tau banyak tentang itu." Bohong Zion. Ayolah, sampai kapan ia harus berbohong seperti itu?
"Jika begitu wajar saja. Setahuku pengendali elemen tanah sengaja bersembunyi dan akan muncul saat akan ada bahaya atau malapetaka. Anggap saja mereka yang mengusir malapetaka itu. Sama seperti apa yang para pengendali elemen tanah lakukan dahulu." Jelas Hali. Zion hanya mengangguk mendengar itu. Jujur saja ia tidak tau terlalu banyak, tapi malah mendapat informasi seperti itu.
"Kau tau dari mana?"
"Seseorang." Jawab Hali singkat.
"Seseorang itu siapa? Bukankah punya nama?" Tanya Zion lagi. Entah kenapa ia malah penasaran.
"Dia tidak menyebutkan nama nya. Intinya saja, seorang pemberontak yang membenci keluarga ku."
Zion mengernyit kan dahi. "Membenci keluarga mu?"
Hali mengangguk. Ia sedikit menghela nafas. "Ini berkaitan tentang masalalu ku dan saudara saudaraku."
Zion hanya terdiam mendengar itu. Sepertinya Hali tidak nyan membicarakan masalalu nya. Tanpa sadar, mereka sampai di depan sebuah kolam yang cukup luas.
Air jernih dan sedikit cahaya matahari menyinari kolam itu membuat nya terlihat begitu indah. Ditambah kristal kristal sihir berwarna warni yang juga menerangi tempat itu memberi kesan hangat dan menenangkan.
"Bagaimana jika kita istirahat dulu di sini?" Tawar Zion. Hali pun setuju.
Suasana yang menenangkan itu entah mengapa membuat Zion mengantuk. Pemuda itu menyandarkan tubuhnya pada pundak Hali membuat pemuda pengendali elemen petir itu cukup terkejut.
"Hali... Nyanyi dong..." Pinta Zion.
Tunggu, apa? Yang benar saja! Permintaan Zion justru membuat muka pemuda itu langsung memerah.
"A-aku... Gak bisa nyanyi." Jawab Hali sambil memalingkan wajah nya.
"Kenapa? Setiap orang itu bisa menyanyi loh..." Zion tidak berbohong tentang itu. Hanya, tergantung suara dan bagaimana orang itu mengambil nada saja.
"Aku serius..."
Zion yang mendengar itu menggembungkan pipi nya. Cukup menggemaskan melihat Zion ngambek begitu. "Huuh... Baiklah... Padahal kan aku pengin dengar nyanyian Hali..."
Hali hanya terdiam. Entah ia harus menjawab apa kali ini. Sebenarnya ia bisa menyanyi, hanya saja malu untuk menunjukkan suara lembut nya.
Suasana menjadi sunyi saat tidak ada lagi dari mereka yang membuka pembicaraan. Hali memilih menikmati cahaya lembut dari kristal kristal di dekat kolam. Sedangkan Zion malah mulai terlelap karena kesunyian yang membuatnya tenang.
Namun, sayangnya bukan hanya mereka yang ada di sana. Seekor kecoa kecil mungil terlihat sendang berjalan jalan di dekat mereka. Perlahan berjalan mendekati pemuda pengendali elemen petir itu dan merambat menaiki pakaian nya.
Hali yang menyadari sesuatu merambat menaiki nya langsung terkejut.
"HHUUAAAAA!!!!!!!!! " jerit nya seketika dan berdiri mengibaskan tangan nya memukul serangga malang itu hingga terlempar dan masuk ke kolam. Belum cukup sampai di situ, sang kecoa malang itu langsung di mangsa ikan di kolam.
Sungguh malang nasib mu wahai kecoa... Semoga kau tenang di alam sana...
"Ugh sakit..." Pekik seseorang. Hali yang mendengar itu langsung berbalik dan melihat Zion yang terbaring di tanah dengan posisi yang... Membuatnya langsung tertawa.
"Haduh!!! Berdiri itu bilang bilang dong!! Sakit tau!!" Keluh Zion yang masih dalam posisi nya.
"Maaf maaf..." Ucap Hali sambil menggapai tangan Zion dan menariknya.
Zion menggembungkan pipi nya. Ia memalingkan wajah kesal pada pemuda itu. Namun tunggu, ia pernah mengalami ini sebelumnya. Senyuman kecil terbentuk di bibir Zion saat mengingat kembali kenangan nya dengan Zuka dulu. Ia jadi tau bagaimana saat di posisi nya.
"Ada apa?" Tanya Hali membuat Zion tersadar.
Dengan cepat Zion pun menggeleng. "Tidak apa apa." Jawab nya.
Hali yang mendengar itu hanya terdiam dan mendudukkan dirinya di samping Zion. Namun pemuda itu malah bersandar di dinding. Takut terjatuh lagi mungkin.
Ia melihat ke arah Zion yang juga memandang nya namun langsung mengalihkan pandangan.
"Jika ada pertanyaan, tanyakan saja." Ujar Hali. Ia juga cukup pandai membaca ekspresi.
"Um... Jujur saja aku cukup penasaran tentang mu."
Tunggu, apa?
"Jangan berpikiran macam macam! Maksudku... Masalalu mu." Lanjut Zion.
Tau saja Hali memikirkan hal lain. "Baiklah... Sebenarnya... Kami dulu tidak sebahagia sekarang." Ucap Hali yang membuat Zion makin penasaran.
TBC