
Zuka menarik nafas lega. "Kita aman sekarang...."
"Ya.. Lebih baik kita kumpulkan tenaga dulu." Sambung Hali.
Lainnya pun mengangguk. Namun saat membalikkan badan, seketika bulu kuduk mereka berdiri membuat mereka membeku di tempat.
Di hadapan mereka, tulang belulang manusia berserakan di lantai rumah. Jaring laba laba terlihat menempel di dinding dan atap atap rumah dengan laba laba berwarna hitam merah yang mengerikan.
Angin dingin berhembus dan beberapa kali kelelawar beterbangan mencari tempat gelap nan nyaman untuk mereka tidur. Di tambah kilatan petir yang menyambar menambah kesan horor pada tempat itu.
Sungguh, ini bukan rumah hantu kan?
"Kita... Pergi aja yuk..." Ajak Zion yang memang takut dengan hantu sejak awal.
"Jangan ngaco. Mau ketangkap? Mereka di luar.. Lagian hujan hujan gini juga." Ucap Rio yang dengan santai nya menyingkirkan tengkorak manusia dari atas sofa dan membaringkan tubuh nya di sana.
Apa dia tidak takut dengan semua tulang itu?
Hujan terus berlanjut sampai malam tiba. Angin kencang bertiup dan gemuruh petir serta kilat menyambar membuat suasana malam itu semakin menyeramkan.
Zion memandang sekitarnya. Hali dan Zuka sudah tertidur pulas. Sepertinya mereka kelelahan. Tapi dirinya tetap heran, bagaimana mereka bisa tidur di tempat menyeramkan seperti ini?
Zion kemudian mengalihkan pandangan nya pada Rio yang terbangun dan berjalan mendekati jendela. Wajah nya terlihat begitu cemas dan gelisah. Apa yang dipikirkan pemuda itu sebenarnya?
Zion memutuskan untuk menghampiri nya. Ia memandang ke luar jendela yang menunjukkan suasana malam yang di guyur hujan yang deras. Entah mengapa melihat rintik hujan itu dan mencium aroma khas tanah yang terkena hujan membuat nya tenang.
"Kau sedang memikirkan apa?" Tanya Zion membuat Rio terkejut dan refleks menoleh.
"Ah kau... Jangan mengejutkan ku begitu.. Kalo aku jantungan gimana?"
"Ku ganti dengan jantung werewolf."
"Kau mau aku jadi manusia serigala?"
"Enggak lah." Zion menghela nafas. Ia mengalihkan pembicaraan pada topik sebelumnya. " Apa kau sedang ada masalah?"
Rio terdiam. Ia ragu untuk membicarakan nya. Terlebih lagi pada orang yang baru ia kenal.
"Kalo gak mau kasih tau juga gak masalah kok." Ucap Zion lagi. Ia membuka jendela yang membuat angin berhembus menerpa rambut hitam nya. Helaian rambut putih yang ada di antara rambut hitam itu terlihat berkilau saat tertiup angin. Ditambah manik ruby yang terlihat begitu indah membuat orang yang melihat nya terpesona.
Tanpa sadar, seulas senyuman terukir di bibir Rio. Ia baru menyadari kecantikan pemuda di dekat nya itu. Mengingat semua perlakuan nya pada anak itu, ia jadi merasa bersalah.
"Sebenarnya aku rindu pada kembaran ku. Aku menghawatirkan kondisi nya. Dimana dia sekarang dan apa dia baik baik saja?" Ucap Rio pelan.
Zion berbalik. Ia menatap wajah Rio yang masih terlihat khawatir. Awalnya ia kira pemuda itu gak akan menceritakan nya. "Jadi kau punya kembaran.. Kupikir saudara biasa."
"Ya. Ren itu kembaran ku. Aku lebih tua lima menit darinya. Tapi sikapnya yang justru seperti kakak ku. Ya... Itu memang benar... Melihat betapa ceroboh nya aku. Jika saja aku lebih berhati hati... Mungkin kami tak akan terpisah..."
"Bukan salah mu. Maksud ku, jangan menyalahkan dirimu seperti itu. Jika Ren tau tentang itu, dia pasti marah nanti. Dia melakukan itu untuk menyelamatkan mu. Dia sayang padamu. Jadi jangan salahin dirimu terus." Zion menjeda ucapan nya. Ia kembali teringat saat dimana dirinya dan Zuka terpisah dulu. "Lagipula... Semua tak akan selesai hanya dengan kau yang menyalahkan diri sendiri." Lanjutnya.
"Ini berkaitan dengan perpisahan mu dengan Zuka?"
Zion mengangguk. Kejadian itu masih tercetak jelas dalam ingatan nya. Bagaimana Zuka ditarik masuk dan ia tidak bisa menyelamatkan nya. Tapi menyesal saja tidak ada artinya. Ia harus tetap kuat dan berusaha untuk menyelamatkan nya. Dan untuk saat ini, menjaga dan melindungi nya.
Zion memandang rambut putih pemuda yang sedang tertidur pulas itu. Wajah nya tampak tenang dan manis walau masih agak pucat. Walau ia sudah membantu menyembuhkan luka luka di tubuh nya, tapi kondisi nya sekarang masih belum bisa dibilang benar-benar baik.
"Andai kami saudara kandung..." Gimana Zion tanpa sadar. Sejak Zuka dan Avren menganggap nya seperti keluarga, ia benar benar merasa memiliki keluarga baru di dunia nya saat ini. Jika saja mereka memang saudara kandung, pasti akan lebih baik bukan?
"Kau tak punya saudara di kehidupan sebelum nya?"
Zion yang terkejut refleks menoleh. Sejauh mana yang Rio tau tentang dirinya sebenarnya?
"Kuharap begitu."
Mendengar jawaban singkat pemuda bermanik ruby itu, entah mengapa membuat Rio canggung. Apa ia salah bicara tadi?
"Aku minta maaf untuk sikap ku padamu sejak pertama kali bertemu." Ucap Rio. Ia pikir ini waktu yang tepat untuk mengungkapkan permintaan maaf.
Zion sedikit menggeleng. "Tidak masalah, aku sudah memaafkan mu." Zion menghela nafas. Ia memandang wajah Rio yang sedikit memerah. Dan dari tatapannya, sepertinya dia memang tulus dengan itu.
"Aku boleh tanya satu hal? Pertanyaan yang selalu ingin ku tanyakan."
"Tentang alasan aku memanggilmu pahlawan?" Potong Rio. Zion hanya mengangguk sebagai balasan. Setidaknya untuk sekarang pertanyaan nya akan di jawab.
"Setiap orang, bereinkarnasi pasti punya alasan bukan? Apa kau bertemu dewa atau semacamnya saat setelah kematian mu?" Tanya Rio memastikan.
Zion menggeleng. "Hanya tempat serba putih dan layar hologram."
"Apa ada sesuatu yang tertulis di sana?"
"Ada. 'Apakah ada suatu pertanyaan yang masih belum kau jawab, atau sebuah penyesalan?' seingat ku itu dan aku menjawab ya. Alasannya, aku ingin tau siapa yang mendorong ku saat hendak menyebrang. Ya... Orang yang membuat ku mati tertabrak truk saat itu." Jelas Zion.
"Dan setelah itu kau justru bertemu naga itu. Dan sekarang menjadi percobaan ras Inimicus dan ingin menghancurkan nya. Kau masih belum sadar?" Tanya Rio. Zion justru semakin bingung dengan semua pertanyaan itu.
"Bisa tolong jelaskan?"
"Dalam kerajaan kami, ada seorang peramal yang mengatakan, saat dunia akan menghadapi kehancuran dan jatuh di tangan suatu penguasa yang kejam, seorang pahlawan yang datang dari dunia luar akan mengalahkan penguasa itu dan menjadi penyelamat dunia. Dan dari apa yang ku lihat dan terjadi padamu, sepertinya ramalan itu di tujukan padamu."
Setelah mendengar nya, sepertinya masuk akal jika dia bereinkarnasi ke dunia ini. Terlebih lagi dengan kekuatan sihir yang begitu besar. Tapi apa ia mampu mengemban tanggung jawab sebesar itu?
"Aku.. Sungguh tidak menyangka" Sungguh, Zion tidak tahu harus berkata apa lagi sekarang. Dirinya baru tau jika ia punya tanggung jawab sebesar itu. Tapi kenapa harus dirinya? "Aku takut jika aku gagal."
Rio menepuk pundak Zion dan tersenyum lembut. " Aku akan membantu mu. Selain itu, kau tidak sendiri kan? Mereka, orang orang yang sayang padamu dan selalu ada untuk mendukung mu juga ada bukan? Ditambah, murid murid yang sudah kau latih."
Zion tersenyum tipis. Yang Rio katakan memang benar. Ia tidak sendiri. Teman teman dan saudara nya selalu ada untuk nya. Lagipula, ia tidak bisa membiarkan teman dan keluarga nya terus terancam bahaya bukan?
"Aku akan melindungi semua orang."
Rio tersenyum. "Baguslah! Sekarang ayo kita tidur. Kita perlu menyiapkan diri untuk besok. Lagipula sudah ada yang menunggu di luar, kita harus membunuh mereka bukan?"
Zion mengangguk. Istirahat sedikit sepertinya tidak masalah. " Baiklah..."
Cicit cicit
Namun seketika langkah Zion terhenti saat seekor kelelawar terbang tepat di hadapan wajah nya. Bahkan nyaris mengenai nya. Saat itu juga tanpa sadar pemuda bermanik ruby itu menahan nafas.
Ia mengedarkan pandangan nya ke sekitar. Sekali lagi ia menghela nafas. Apa ia bisa tidur di tempat seperti ini?
"Cepatlah pagi...." Demi apapun, Zion tidak ingin berlama-lama ada di sini.
Dengan berat hati, Zion membaringkan dirinya di sofa setelah menyingkirkan tulang tulang dan tengkorak di sana.
"Setahuku ada orang yang bunuh diri di sana loh... Dan arwah nya belum tenang. Kemungkinan sedang tidur di situ juga." Ucap Rio membuat mata Zion membulat seketika.
"jangan mengada ngada!! Aku tau kau sengaja membuatku takut kan??"
Rio hanya tertawa kecil mendengar omelan Zion. Mengerjai anak itu ternyata seru juga.
Zion menghela nafas kasar. Ia benar-benar kesal. Namun, secara tiba tiba ia terpikir murid murid Hero Class dan Beast. Bagaimana pelatihan mereka?
TBC