
Murid murid Hero Class telah selesai membersihkan lapangan. Dengan segera mereka berjalan menuju kelas untuk sekedar beristirahat atau juga mengganti kaos olahraga yang mereka kenakan.
Tak terkecuali tiga pemuda yang kini berjalan paling belakang dari teman teman nya. "Aku penasaran bagaimana Zion dan Avren? Apa mereka berhasil menemukan pelakunya?" Tanya Leo sambil menarik tangan nya di belakang kepala nya, sembari meregangkan otot otot nya yang sedikit kaku.
"Semoga saja iya. Lagipula kemampuan Zion tinggi, tidak mungkin juga kan dia kalah." Ucap Kei. Thory mengangguk setuju.
Mengingat bagaimana Zion melatih mereka dan bagaimana cara pemuda itu mengalahkan ketua ras Inimicus dengan kekuatan nya yang begitu hebat, tentu tak bisa di ragukan lagi kemampuan nya.
"Tapi aku penasaran. Dimana Zion berlatih semua itu. Kau tau Zu...."
Kata kata Leo seketika terhenti saat melihat Zuka yang berlari tergesa-gesa mendahului mereka.
Leo, "Zuka mau kemana tuh?"
"Entahlah. Ikutin yuk. Kayaknya seru."
Thory menyahut cepat. Mata nya tampak berbinar semangat. Dengan cepat pun ia menjawab. "Ayuk! Pasti seru nih! "
Sementara Kei tampak sedikit ragu. Jika mereka sampai ketahuan mengikuti Zuka nanti, jelas mereka akan terkena masalah besar. Apalagi jika ini berkaitan dengan Zion.
Melihat salah satu patner nya itu, Leo merangkul bahu Kei, sudut bibirnya terangkat mengungkapkan senyum khas miliknya.
"Hey, Kei Mau ikut?"
"Walaupun sebenarnya aku ingin jadi anak baik tapi... Tentu." Kei tersenyum mengiyakan. Walau ia sedikit ragu, tapi rasa penasaran nya jauh melampaui keraguan nya. Tanpa buang waktu lagi, mereka segera pergi mengikuti Zuka diam diam.
"Duh lama amat sih. Nunggu di luar aja kali ya?"
Leo, Kei dan Thory berjongkok di balik pot tanaman. Mereka ingin mengintip, tetapi takut akan ketahuan oleh Zuka yang masih ada di depan ruangan. Mereka mengabaikan tatapan orang-orang yang lewat dan mulai saling berbisik.
Sampai tak lama kemudian, Zion dan Zuka akhirnya keluar dari ruangan pak Rendrano.
"Untuk saat ini amati saja dulu. Kita juga perlu memperketat penjagaan."
"Selain itu kita juga harus tetap melatih murid murid Hero Class. Melihat mereka yang juga menjadi sasaran penyerangan tadi, kemampuan mereka juga perlu di latih."
"Khususnya di bagian kerjasama. Selain itu kemampuan bertarung mereka juga masih kurang. Walau pelatihan Hero Class untuk mengalahkan ras Inimicus dulu sudah bagus, tapi pengalaman mereka masih kurang. Di tambah lagi saat survival camp dulu juga gagal karena menyelamatkan ku bukan?"
Ketiganya tampak serius menguping pembicaraan Zion dsn teman teman nya. Ditambah setelah me dengar tentang survival camp, mereka jadi semakin bersemangat.
"Apa nggak apa nguping gini? Kalo ketahuan gimana? Lagipula jam pelajaran berikut nya sebentar lagi di mulai kan?" Ucap Kei.
"... Sejak kapan kau mempedulikan pelajaran?" Tanya Leo.
"Baiklah! Kami akan memulai persiapan lainnya."
Ketiga pemuda itu berlalu pergi, Kei, Leo dan Thory punkeluar dari persembunyian mereka.
" Jadi mereka akan mengadakan survival camp lagi..."
"Ini justru hebat kan? Aku bisa tunjukkan kehebatan ku yang sempat tertunda!!" Sambung pemuda ber iris jingga.
"Thory bisa ketemu banyak tumbuhan lagi. Jalan jalan di hutan hore!" Sorak Thory girang.
"Tapi tentang iblis yang menyerang akademi... Ini masalah serius kan?" Leo tampak memasang pose berfikir. Ia masih kesal dengan kedatangan iblis iblis itu.
"Kita amati saja dulu, lalu bantu Zion secara diam diam. Jika Zion tau, sudah jelas dia akan melarang kita ikut campur. Jadi, lebih baik jangan sampai dia tau."
"Membantunya secara diam diam.. Sepertinya bagus." Ujar Leo disambung anggukan setuju Thory.
"Baiklah. Misi baru TTM, membantu Zion secara diam dia... Dimulai!"
"Yoo!!"
"Persiapan apa yang kalian maksud?"
Glek.
Seketika mereka terdiam. Sebuah suara lembut namun menekan terdengar dari belakang mereka. Kei yang lebih dulu berbalik memasang cengiran khas nya.
Namun ia sedikit terkejut saat melihat seorang gadis ber rambut hitam dengan jepit rambut merah yang ada di belakang mereka. "Eh Lau... Sejak kapan kau di sini?"
Gadis itu, Laura menghela nafas kesal. "Cari angin. Lagian kalian kaya maling ayam gini nyamain sih?"
"Kami disini mengamati Zi-umph!" Ucapan Thory seketika terpotong oleh Leo dan Kei yang membekap mulutnya tiba tiba.
"Tidak tidak apa apa. Lagi cari udara segar aja. Sumpek di kelas. Ya kan Leo?"
Dengan cepat Leo mengangguk. "Betul banget tuh. Nih juga mau lanjut cari udara segar.. Yuk teman teman..." Ketiganya bernalik, hendak melarikan diri. Namun, suara dingin mendadak terdengar membuat tubuh mereka gemetar
"Berani kalian menyebarkan apa yang kalian dengar, siap siap akan mendapat tusukan maut dari pedang ku dan kak Hali. Paham?"
"B-baik! Kabur!!!" Ujar ketiganya dam berlari pergi
TBC