
'Bangun bangun!!! Sudah siang jangan molor terus!!!'
"Siapa juga yang tidur? Kau pikir aku bisa tidur hah?"
Zion menghela nafas lelah. Ia benar-benar tidak tidur malam ini... Sungguh melelahkan mempelajari semua itu dalam semalam agar tidak ada kesalahan nantinya.
Matanya sudah berubah menjadi seperti pandai dengan lingkaran hitam di sekitar nya. Pikiran nya lelah mendengarkan penjelasan sekaligus membaca di saat yang sama.
Ia melihat ke arah jam. "Pukul 07.00. Sudah cukup siang... "
Zion pun langsung bergegas mandi dan bersiap siap. Setelah selesai, ia berjalan lesu ke kantin untuk mengisi perutnya. Biasanya ia akan memilih untuk memasak sendiri karena lebih sehat. Tapi di kondisi yang seperti ini, penyakit kemalasan Lebih dulu menguasai membuatnya tak ingin memasak sendiri.
Sesekali tak masalah bukan?
Tak butuh waktu lama, semangkuk mie dan jus sudah terhilang di meja. Zion benar-benar kesal hingga tak memikirkan tentang makanan. Yang ia pikirkan saat ini hanyalah..
"Bodo amat sama makanan sehat. Yang penting hilangin emosi!! Awas aja kau Reon!!" Ujarnya kesal.
Tanpa ia sadari, seorang pemuda sudah duduk di belakang nya memandang anak yang sedang makan campur emosi itu.
Melihatnya begitu cukup menggemaskan juga.
"Ada yang lagi ngambek nih."
"Uhuk uhuk!!"
Seketika itu juga Zion terbatuk. Ia terkejut dengan suara seseorang di belakang nya.
"Woy! Gak usah ngagetin bisa gak sih?? Mau aku mati tersedak apa??" Protes Zion emosi.
"Wo wo wo... Sabar bro.. Jangan marah marah nanti jadi panda beneran."
"Gak lucu! "
"Emang gak niat buat bercanda."
Oke, orang itu benar benar membuatnya semakin emosi. Tidak bisakah dirinya makan dengan tenang?
"Lagian tumben amat gak masak sendiri. Dan kenapa tuh mata sampe kaya panda gitu? " Tanya Alex yang kini beralih duduk di samping Zion.
Zion menghela nafas. "Karena siapa lagi kalo bukan kakak mu tuh!! Seenaknya saja memberikan tugas tiba tiba seperti itu! Aku kan jadi harus bergadang untuk mencari informasi."
Alex justru tertawa mendengar itu. Apanya yang lucu?
"Hahaha! Kaya baru kenal kak Reon saja. Dia tuh emang sejak lahir gitu. Emang nyebelin. Jadi sabar aja ya... "
Zion hanya bisa menghela nafas mendengar itu. Yang Alex katakan tidak salah juga. Memang kenyataan nya menyebalkan...
"Ngomong ngomong, kudengar raja kerajaan Beast dan putri nya datang hari ini. Apa ada hal penting? " Tanya Alex.
Zion menjelaskan. "Ini berkaitan tentang perang juga. Selain penyihir, kita juga perlu meminta bantuan ras lainnya kan? Mengingat seberapa kuat musuh kita. "
Zion sedikit merenung. Sebaliknya, Alex justru bingung. Sekuat itu kah musuh mereka sampai Zion berfikir keras dan menyiapkan pelatihan murid murid sematang mungkin seperti ini? Bahkan meminta bantuan ras beast secara langsung.
Apa se bahaya itu kah?
"Zion, boleh aku tanya sesuatu?" Tanya Alex.
Zion mengangguk. " Ya, tanyakan saja. Ada apa?"
Zion terdiam. Dalam hatinya ingin sekali ia memberitahu hal itu pada sahabatnya itu. Tapi, ini belum saatnya untuk membongkar identitasnya dan apa alasan ia begitu banyak membuat persiapan.
"Memang benar mereka sangat berbahaya. Mereka bukan monster dan iblis biasa... Kemampuan mereka tidak bisa di remehkan..."
Alex memandang wajah Zion yang terlihat khawatir. Sepertinya ada hal lain yang membuatnya takut. Mungkin itu juga alasan mengapa Reon tak mengizinkan nya ikut dalam perang dulu.
Tangan Alex terulur menggenggam tangan putih Zion. " Tenang saja, aku yakin kali ini kita akanenang. Kau sudah membuat pilihan yang tepat. Apalagi murid murid yang kau pilih bukanlah murid murid biasa. Jadi tenang saja ya? " Ujar Alex sambil tersenyum.
Entah mengapa ini mengingatkan ya pada Zuka.
Zion tersenyum lembut. " Baiklah.. Terimakasih kak All!"
Sementara itu, di ruangam Rendrano, dua orang pria sedang asik berbincang dengan formal. Mereka terlihat sedang membicarakan masalah perang dan rencana yang Zion siapkan.
"Wah.. Dari apa yang anda ceritakan, terlihat jelas anak itu begitu berbakat. Saya akan sangat senang jika murid murid saya bisa di ajar olehnya." Ujar seorang pria ber rambut coklat dengan telinga dan ekor singa.
"Iya, saya juga mengharapkan begitu, raja Girori. Kami sangat senang anda mau ikut berpartisipasi dalam perang kali ini." Ujar Rendrano.
"Tidak masalah. Dalam perang sebelumnya, saya juga cukup kesal karena banyak prajurit yang gugur. Tapi dengan pelatihan seperti ini, saya merasa lebih yakin kita akan benar benar mencapai kemenangan."
Rendrano tersenyum mendengar itu. Ia senang rencana kerja sama mereka berjalan lancar mengingat kerajaan beast cukup ramah pada ras lain. Khususnya ras manusia.
Ditambah lagi raja mereka, Girori Wiver dan putri nya, Yiva Wiver yang juga cukup ramah pada semua orang yang mempermudah rencana kerjasama mereka.
"Jadi, di mana anak yang anda katakan itu? Saya ingin bertemu dengan nya." Ujar Girori.
"Sebentar lagi juga mereka datang. " Ucap Rendrano.
Tok tok tok!
Dan tepat waktu suara ketukan pintu terdengar. Rendrano pun mempersilahkan nya untuk masuk.
Seorang pemuda bermanik merah masuk ke ruangan. Di belakangnya, seorang anak pun ikut masuk. Yanata yang melihat kedatangan Zion pun langsung berlari ke arahnya dan memeluk kakaknya itu.
"Wah.. Sepertinya kau memiliki teman baru ya Yana?" Tanya Zion setelah melihat gadis ber rambut hitam tidak terlalu panjang dan di ikat dua itu. Terlihat telinga dan ekor singa yang sama seperti ayah nya.
"Perkenalkan, saya Yiva Wiver. Salam kenal. " Ujar Yiva sambil sedikit membungkukkan badan nya.
Zion juga sedikit membungkukkan badan nya. "Saya Zion Ravael. Senang berkenalan dengan anda, putri. "
"Cukup panggil aku Yiva saja. "
"Baiklah."
Sementara, Reon, Rendrano dan Girori kembali melanjitkan pembicaraan mereka.
"Jadi ini orang yang anda maksud? Jika tuan Reon saya akan senang murid murid saya di latih olehnya."
"Oh, bukan Reon yang melatihnya. Tapi Zion."
Girori dan Yiva membulatkan mata.
"Anak cebol ini yang melatih mereka??!!"
Zion membatin. 'Aku tidak cebol!!'
TBC