Isekai: New Adventure In The Fantasy World

Isekai: New Adventure In The Fantasy World
103. Hari pertama sebagai murid STAMY



Seorang pemuda ber manik ruby berjalan di koridor sekolah, menarik mata orang orang di sekitar nya untuk memandang ke arah nya. Zion memang sudah terbiasa menjadi pusat perhatian, tapi bukan dengan cara seperti ini!!


Selama perjalanan dari atap ke kelas, banyak orang yang memperhatikan nya. Bahkan beberapa dari mereka sempat menyapa pemuda mungil itu, yang hanya di tanggapi dengan senyuman. Mulutnya lelah kalo harus menjawab mereka satu bersatu.


Sementara Zuka, yang ada di samping nya hanya tersenyum melihat saudara nya itu. Ternyata anak itu sudah sangat terkenal sekarang.


"Enak ya, jadi kau yang gak perlu ribet jawab." Ujar Zion sambil sedikit menggembungkan pipinya.


Lantas Zuka tertawa "habisnya kau terlalu terkenal sih..." Zuka mencolek colek gemas pipi gembil saudara nya itu, yang tentu langsung di tepis begitu saja. "Melihat mu seperti ini gemas juga!"


"Zuka! Pipiku ini bukan boneka tau!"


"Tapi kau imut seperti boneka."


Zion mendengus kesal. Sementara Zuka justru semakin gemas dengan pemuda bermanik ruby itu.


Tidak terasa, mereka sudah sampai di depan kelas. Begitu memasuki kelas, mereka menghela nafas lega karena guru belum datang. Tapi hal itu justru digantikan oleh tatapan dari murid murid lain di kelas itu.


Zion, "...." Kenapa mereka menatapku seperti itu? Apa ada yang aneh? Aku gak salah masuk kelas kan?


"Sudah ku duga jangan jadikan Zion ketua kelas. Pasti peraturan nya bakal banyak banget." Ujar salah satu murid.


"Di tambah lagi dia itu cukup sadis. Selain itu tugas nya menjadi pelatih dan pengawas pasti sudah berat bukan?"


"Tapi dia cukup manis juga..."


Seketika perempatan imajiner muncul di dahi Zion. 'Apa maksudnya dengan kau mengatai ku manis hah?'


Sementara Zuka yang juga mendengar itu justru menahan tawa. "Mereka gak salah loh Zii."


"Diamlah!"


Tapi tunggu, bukannya organisasi kelas sudah lama di bentuk ya?


"Kalian sedang membicarakan apa? Bukannya organisasi kelas harusnya di bentuk saat awal kalian masuk di tahun ajaran baru?" Tanya Zion.


"Membicarakan tentang ketua kelas. Bagaimana jika seandainya kau yang menggantikan posisi itu." Ucap Kei yang baru saja datang dan langsung menepuk pundak Zion, membuat pemuda itu sedikit terkejut.


Kebiasaan buruk. Apa semua orang sangat senang jika mengejutkan nya? Atau dirinya saja yang terlalu mudah terkejut ya?


Zuka bertanya. "Memangnya siapa ketua kelas sebelumnya?"


Kei langsung menunjuk sosok pemuda yang mengenakan jaket biru muda sedang tertidur menyandarkan kepala nya di atas meja. Wajah nya tampak tenang tenggelam di alam mimpi, bahkan tak terganggu dengan keributan di sekitar nya.


Zion membulatkan mata. "Ha? Gimana bisa?" Mengingat Ice adalah anak yang... Cukup pemalas, dingin, cuek dengan sifat bagaikan kulkas berjalan, sudah jelas ia terkejut saat mengetahui Ice lah yang menjadi ketua kelas nya.


Jika itu Hali atau Sein mungkin masih bisa di anggap wajar. Tapi jika itu Ice? Apa yang ia lewatkan? Apa dirinya terlalu fokus pada ketua ras Inimicus dan persiapan perang sampai tidak tahu hal seperti ini?


Secara tiba tiba Leo langsung merangkul Zion dan Zuka dari belakang. "Cerita nya panjang dan... Sungguh wow. Tapi, dengan senang hati aku akan menjadi jelaskan nya dengan rinci pada kalian."


Zion dan Zuka hanya bisa mengikuti pemuda itu dan mencari kursi kosong di dekat mereka.


"Jadi... 1 hari setelah kau muncul secara misterius di STAMY...."


Flashback on


"Kalian tau kan anak laki laki itu?"


"Dia itu lebih muda dari kita kan?"


"Tapi kemampuan nya hebat juga.. Bahkan bisa mengalahkan Neily."


"Dia itu siapa sih?"


"Dia bukan murid kan? Lalu apa tujuan nya datang ke sini?"


Pelajaran belum di mulai, suasana pagi di Hero Class telah di hiasi oleh cewek cewek yang ngerumpi di pojok ruangan, mengabaikan para laki-laki yang memandang mereka heran.


Apa semua cewek suka ngerumpi dan gosipin orang ya? Gak ada hobi lain yang lebih berfaedah kah?


"Cewek cewek yang cantik... Daripada menggosip kan hal yang tidak baik, lebih baik kalian lihat kegantengan ku aja." Ujar Sein tiba tiba sambil sedikit bergaya. Para gadis itu hanya menoleh sebentar dan melanjutkan obrolan mereka.


Sein, "...." Malah di kacangin!!


"Dahlah... Mending kita mulai susun perwakilan Kelas biar gak ribet ke depan nya. Siapa yang mau jadi ketua kelas?" Tanya Hali menarik perhatian seisi kelas yang langsung terdiam. Namun saat berikutnya, secara kompak kelima saudara nya menunjuk ke arah nya.


"Yang mengusulkan yang mencoba lebih dulu." Ucap Leo.


"Kak Hali kan tegas, disiplin dan... Garang kek singa, jadi pas lah buat jadi ketua kelas. Pasti semuanya auto nurut deh." Lanjut Kei. Mengingat sifat kakak nya yang tempramen dan gak mau di lawan, kalo dia jadi ketua kelas bukan nya bagus?


"Ogah. Cari yang lain saja. Aku bosen jadi ketua terus." Tolak Hali mentah mentah.


Mengingat Hali memang sudah menjadi ketua kelas di sekolah sebelum nya, tentu ia ingin membiarkan lainnya merasakan posisi itu. Gak adil dong kalo dia terus yang jadi ketua kelas nya. Walau sebenarnya itu juga karena Hali ingin lebih santai sih...


"Lalu siapa dong yang mau jadi ketua kelas?"


Satu kelas kembali ricuh dengan murid murid yang saling tunjuk untuk menjadi ketua kelas. Tapi di antara semua itu, ada satu pemuda yang justru mengangkat tangan nya.


"Memangnya, tugas ketua kelas itu apa sih? "


Krik krik...


Jangkrik numpang lewat...


Satu kelas terdiam menatap pemuda yang memiliki iris mata berwarna hijau zamrud itu.


Sein tampak mendekati sang kakak dan menepuk pundak nya. " Jadi, tugas ketua kelas itu mengatur kelas, memberikan hukuman pada yang melanggar peraturan, memanggil guru kalo guru gak masuk kelas lebih dari 5 menit setelah jam pelajaran di mulai. Ya, hanya itu kurasa."


Hanya itu? Tapi justru mengatur kelas itulah yang sulit. Ditambah lagi harus mengatur para penyihir dengan segala tingkah mereka. Sepertinya tugas sebagai 'ketua kelas' akan jadi tugas dan tanggung jawab yang besar di sini.


"Sudahlah kalian." Begitu Hali angkat suara, semua orang di kelas itu langsung terdiam. Antara mematuhi tatakrama atau karena takut kena amuk si pengendali elemen petir itu kalo gak mau mendengarkan nya. "Daripada ribut, lebih baik kita tunggu wali kelas kita dulu, baru putuskan bersama siapa yang akan jadi ketua kelas."


"Ada benarnya. Daripada ribut terus gini." Ujar Leo menyetujui.


Tak lama, seorang pria bertubuh gendut dengan kumis dan jenggot panjang ala penyihir datang memasuki kelas. Ia mengenakan jubah panjang berwarna merah biru dengan topi penyihir berwarna merah terang dengan simbol bintang emas di tengah nya.


"Wih... Penyihir beneran dateng ke kelas... " Ucap Kei.


"Kita semua penyihir di sini." Bisik Sein mengingatkan.


"Selamat pagi murid murid ku yang cantik dan ganteng! Walau lebih gantengan saya sih. Ho ho ho!" Sapa guru itu dengan wajah ceria dan senyuman lebar nya.


Para murid hanya menyapa canggung melihat penampilan guru itu. Sungguh menghayati peran nya sebagai penyihir.


Sang guru langsung berjalan menuju depan meja guru. Tapi tunggu, bukannya wali kelas mereka itu pak Rendrano?


"Sebelumnya, dikarenakan pak Rendrano sedang ada urusan, jadi untuk hari ini saya akan menggantikan tugasnya. Sebelum itu, kenalkan, nama saya Leilas Cornioul V. Panggil saja kak Lei. Jangan panggil saya pak, karena saya belum tua tua amat lah. Okhey murid murid sekalian??"


'Penampilan anda sudah terlihat cukup tua...' batin hampir semua murid.


Wajar saja menanyakan itu, karena huruf ngegantung gitu siapa juga yang gak bakal pemasangan sama arti nya?


"Itu... Rahasia. Biarkan diriku dan keluargaku saja yang tahu. Jangan kepo ya anak muda~"


Seisi kelas hanya memberikan tatapan datar mendengar itu.


"Ekhem. Kak Lei, bagaimana jika kita mulai saja kegiatan kelas?" Ujar Hali yang tidak mau berlama lama.


"Benar kak Lei, kami sudah tidak sabar ingin belajar!" Ujar Leo yang justru mendapat tatapan tak percaya dari seisi kelas.


Pangeran elemen lainnya, "...." Kau pasti berbohong.


Sudah jelas Leo berbohong. Lebih tepatnya ia ingin cepat cepat menyelesaikan kelas dan bermain. Leo itu tipe orang yang tidak bisa diam di satu tempat terlalu lama.


Sedangkan Thory yang polos malah memberikan tatapan curiga, apa mungkin Leo sedang di rasuki hantu rajin belajar?


"Kalian sungguh ingin belajar? Oo... Bagus bagus... Jika begitu langsung saja kita mulai UJIAN DADAKAN!!!!"


"EEHHHHHH??????"


"Tapi ini baru hari pertama masuk"


"Iya, mulai pelajaran aja belum, masa dah ujian aja."


"Gak adil kak Lei"


Protes murid murid.


Kei, Leo dan Thory tampak panik karena belum mempelajari apapun sebelum masuk. Sein sendiri terlihat santai karena dia sudah sempat belajar sebelum nya. Bukan Sein namanya kalau belum mempersiapkan segala nya untuk menjadi nomor satu sejak awal. Sedangkan Hali justru terlihat tidak peduli. Bagaimana dengan Ice? Jangan tanya, dia bahkan tidak mempedulikan dan malah tertidur sedari tadi.


"Ekhem, kak Lei, bukannya lebih baik jika kita menyusun organisasi kelas dulu?" Ujar Hali akhirnya.


Saudara nya yang lain menarik nafas lega. Setidaknya mereka berharap itu bisa mengalihkan guru mereka agar tidak memberikan ujian dadakan di hari pertama masuk.


"Ada benarnya juga. Kalau gitu saya akan langsung tunjuk siapa yang menjadi ketua kelas." Ujar Lailas sambil mengambil buku absen. Ia tampak menggumamkan beberapa nama.


"Hm... Kita kira siapa ya yang akan manjadi ketua kelas...." Melirik ke salah satu murid.


"Mungkin... Kamu? Atau kamu? Kamu? " Ujar nya sambil menunjuk beberapa murid yang justru membuat mereka merinding.


"Haha maaf hanya bercanda. Jika begitu yang akan menjadi ketua kelasnya adalaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhh......."


Dung dung dung dung dung!!!


Suara gendang di tabuh entah dari mana.


"Ice Vlict! Kamu yang menjadi ketua kelas!! Di mana anak nya ini??"


Leo, Kei dan Sein hampir saja tertawa jika saja tidak langsung mendapat tatapan tajam dari Hali. Sedangkan Thory mulai memikirkan hal hal baik dan buruk yang mungkin saja terjadi. Mengingat sifat malas Ice, bagaimana jadinya jika dia yang menjadi ketua kelas nanti?


Dengan menggunakan ujung pensil, Thory yang tepat berasa di belakang Ice mencoba untuk membangunkan pemuda itu sambil sedikit berbisik. "Psstt Ice Ice! Kau menjadi ketua kelas!"


Ice terbangun mendengar itu. Dalam pikiran nya langsung berdatangan pikiran pikiran aneh tentang tugas ketua kelas.


Sudah jelas ia akan sibuk. Oh tidak... Waktu nya bersantai akan semakin sedikit jika begini.


"Kak, kenapa saya yang menjadi ketua kelas? Kenapa bukan lainnya saja?" Tanya Ice.


"Hm.... Karena 3 alasan. Pertama, saya suka namamu"


Bagaimana bisa nama menjadi alasan untuk seseorang terpilih menjadi ketua kelas??


"Kedua, karena saya suka sihir es. Lumayan dapat pendingin ruangan gratis."


Jadi pak Leilas ingin menjadikan nya AC gitu?


"Dan yang ketiga, juga merupakan yang terpenting!!!! Agar kau tidak tidur terus!! Hah! Memang kau pikir saya tidak tahu wahai anak muda????"


Oke, untuk satu ini ia memang tidak bisa membantah.


"Selain itu, jika kau bukan murid baik baik, kau pasti sudah kena kepish" Lanjut Leilas.


"Kepish?" Tanya semua murid.


Kepish!!


Seisi kelas memandang horor saat secara tiba-tiba dan entah dari mana datang nya, Leilas sudah memunculkan sebuah rotan dan memukul meja sehingga suara khas yang nyaring terdengar jelas di ruangan itu.


"Kau mau kena juga???" Tanya Leilas sambil menatap Ice dengan senyuman lebar yang terkesan menyeramkan.


Ice meneguk ludah paksa "T-tidak!!" Jawab nya lantang.


"Baguslah! Jika begitu selamat anak muda Vlict, ku serahkan tanggung jawab sebagai ketua kelas pada mu...." Ujar Leilas.


Ice hanya tersenyum pasrah. Ya, ia tidak bisa melawan. Ia juga tidak mau kena kepish benda keramat andalan para guru galak itu. Jadi mau tidak mau ia harus menerima nya walau dengan keterpaksaan. Nasib lah....


Bersabarlah Ice... Ini adalah ujian untuk mu....


Flashback off


"Jadi begitulah ceritanya." Jelas Leo serinci mungkin sampai seakan Zion dan Zuka melihat sendiri kejadian itu.


Jika sudah begitu apa boleh buat? Memang tidak ada jalan untuk melawan. Sungguh guru yang luar biasa.


"Jadi, mau kan kau yang jadi ketua kelas? Atau kau, Zuka?" Tanya Ice berharap ada yang bersedia menggantikan posisi nya.


"Maaf gak mau." Ucap Zuka cepat.


Zion berjalan mendekati Ice. "Tenang saja, akan ku bantu kok!" Ujar Zion sambil tersenyum manis.


Ice yang melihat senyuman itu menghembuskan nafas. Di satu sisi ia lega karena ada yang membantu nya mengatur kelas yang... Memang susah di atur itu. Terlebih lagi saudara nya. Tapi disisi lain, dia juga khawatir dengan apa yang akan terjadi kedepannya.


"Sudah selesai ngobrol nya?"


Namun ada satu hal yang mereka lupakan kala itu. Bel masuk sudah lama berbunyi, ditambah dengan cerita Leo yang panjang kali lebar, sudah jelas memakan banyak waktu.


Ajaib nya, semua murid dikelas itu telah duduk rapi di tempat duduk masing masing. Sejak kapan???


"A... Haha... Pak Rendrano kapan datang?" Tanya Zion canggung berusaha mengalihkan.


Rendrano hanya tersenyum. "Baru saja, cepat duduk, pelajaran sudah hampir di mulai."


Dengan cepat Zion pun langsung mengambil posisi duduk di bangku nya. Sungguh hari pertama yang memalukan!!


TBC