
Satu tahun kemudian, kemampuan Zion sudah meningkat pesat. Ia sudah bisa mengendalikan kekuatan sihirnya dengan baik. Sejauh ini semuanya berjalan lancar.
Kecuali satu.
Ia masih belum bisa mengendalikan saat Nero ingin mengambil alih dirinya atau menyembunyikan pupil iblis nya saat ia marah.
Tapi itu bukanlah masalah besar, karena di hari ini juga, Zion akan membereskan masalah itu. Bersamaan dengan apa yang ia rencanakan satu tahun lalu.
***
"Kak Zion... Kakak sama ayah jaga diri ya! Semangat!!" Ucap Yanata yang membantu Zion beres beres.
Yah, karena Zion akan pergi ke Star Magic Academy sebentar lagi. Sebagai adik yang baik, Yanata pun membantu sang kakak untuk bersiap siap.
Zion yang sudah selesai mengemas kopernya, "ah.. Akhirnya selesai juga... Terimakasih ya Yanata, karena sudah membantu ku." Ucap Zion sambil tersenyum.
Yanata pun membalas senyuman kakaknya itu. "Sama sama kak!!"
Zion tampak bersemangat karena akan datang ke akademi. Walau ia memiliki tugas lain di sana, setidaknya dirinya juga bisa menambah pengalaman dengan melihat kemampuan para penyihir lain.
"Zion, kau sudah siap?" Tanya Rendrano.
Zion mengangguk. "Sudah ayah!"
"Baiklah, ayo pergi." Kata Rendrano dan membuat portal dengan sihirnya. Namun sebelum masuk...
"Yanata, kau yakin tak mau ikut?" Tanya Zion.
Yanata menggeleng. "Enggak kak! Aku mau jadi lebih kuat dulu!! Kakak dan ayah hati hati ya!!"
Ya, Yanata memutuskan untuk tidak ikut dan memilih untuk tetap tinggal di sana bersama dengan nenek dan kakeknya. Sekalian ingin berlatih dan membantu di sana katanya.
"Baiklah jika begitu. Sampai jumpa lagi, Yanata-chan."
"Sampai jumpa lagi kak Zii!!" Ucapnya dengan senyuman lebar.
Rendrano terlihat berjalan mendekati putrinya itu. Ia berjongkok dan membelai kepala Yanata lembut. "Jaga diri ya... Jangan sampai telat makan, jangan memaksakan diri saat latihan."
Yanata tersenyum dan langsung memeluk sang ayah. "Ayah juga... Jaga kesehatan... Jangan lupa makan loh... Ayah kan sering telat makan..." Ucapnya sambil memeluk Rendrano kuat.
"Baiklah..."
Yanata pun akhirnya melepaskan pelukannya.
"Sampai jumpa lagi!!!" Ucapnya sambil melambaikan tangan. Zion dan Rendrano pun membalas itu.
"Sampai jumpa..." Ucap mereka bersamaan dan memasuki portal.
Sebenarnya ia baru akan pergi ke akademi esok hari, jadi sambil bersiap mereka mampir ke apartemen dulu. Tapi sayang sekali, apa yang Zion bayangkan awalnya tentang apartemen nya, sungguh bertolak belakang dengan yang dilihatnya.
Berantakan.
Sampah dimana mana...
Zion menjatuhkan kopernya. Ia membeku di tepat, mulutnya terbuka melihat apa yang ada di hadapannya. Berkas berserakan di meja, sepatu tak tersusun di rak nya, sofa berdebu dan beberapa barang ada di atasnya.
"Nah, Zion bagaima-" Ucapan Rendrano berhenti seketika saat melihat ke arah pemuda di belakangnya itu.
Zion mengelamkan wajahnya dan aura gelap nan mencekam mengelilingi tubuh pemuda itu. Hawa di ruangan itu pun ikut berubah jadi suram dan terkesan mengerikan.
Apa apaan ini?
Zion mengangkat tangan kananya ke depan. Cahaya merah pudar berkumpul dan membentuk pistol di tangannya. "Bersihkan semua ini atau akan ku tembak." Ucapnya dengan nada dingin.
Benar benar mengerikan!!
"B-baik!" Ucap Rendrano yang langsung kabur mencari sapu.
Zion menurunkan tangannya. Ia menghela nafas lelah. Matanya berubah normal kembali. Tak ia sangka akan se berantakan ini... Benar benar diluar dugaan nya.
Zion pun segera bersiap untuk ikut membersihkan. Buku dan berkas di yang berserakan di meja ia bereskan, sepatu yang tak tersusun ia susun pada tempatnya dan semacamnya. Dan tak butuh waktu lama semuanya kembali rapi dan bersih.
Zion tersenyum puas. "Nah, begini kan lebih bagus..." Ucapnya. Sedangkan Rendrano hanya tersenyum tipis sambil merebahkan dirinya di sofa.
Ia memperhatikan Zion yang berjalan ke arah jendela untuk membetulkan tirai yang sedikit terbuka. Namun, tiba tiba ia mengingat sesuatu. "Zion, untuk pupil mata mu itu... Sepertinya harus sedikit disembunyikan. Cukup mencurigakan jika mendadak berubah seperti tadi."
Zion menghentikan aktifitas nya dan berbalik memandang pria itu. "Ada benarnya juga. Terkadang aku juga tak menyadari nya. Tapi bagaimana?" Tanya nya.
Rendrano dan Zion sedikit berfikir. Pupil mata itu berubah saat Nero mengambil alih. Sedangkan Rendrano tak terlalu tau tentang itu. Tapi, pria itu masih bisa merasakan tekanan dan aura yang kuat yang Zion hasilkan. Pertanyaannya, bagaimana cara meredam dan menyamarkan itu?
"Ah, bagaimana jika gunakan itu saja?" Ucap Rendrano tiba tiba dan pergi ke kamarnya.
Apa yang Rendrano ambil?
Tak lama kemudian, Rendrano pun kembali sambil menunjukkan wadah kecil berisi pil berwarna kuning cerah.
"Apa itu?" Tanya Zion.
"Ini pil yang akan membantu menyamarkannya. Memang tak terlalu efektif, tapi setidaknya bisa sedikit menekan auramu dan juga mengontrolnya." Ucap Rendrano sambil menyerahkan nya pada Zion.
Pemuda itu pun menerimanya. "terimakasih ayah." Ucapnya sambil tersenyum.
"Makan pil itu rutin pada pagi hari. Itu akan mempermudah mu untuk mengendalikan nya. Jangan sampai lupa ya..."
"Baiklah! Aku akan selalu ingat kok!" Ucap Zion sambil tersenyum manis.
Mereka pun memutuskan untuk beristirahat sebelum ke Star Magic Academy besok. Kira kira... Apa yang akan terjadi?
Keesokan harinya...
Pukul 06.30. Zion dan Rendrano sudah sampai di Star Magic Academy. Akademi yang cukup besar dengan gedung sekolah bercat kan putih dengan hiasan emas dan perak. Terlihat begitu indah...
Zion terlihat cukup kagum dengan itu. Membuat Rendrano sedikit terkekeh. " Walau begitu, jangan lupakan tugasmu ya..." Ucap Rendrano.
"Baiklah!!"
Dan mereka pun berjalan menuju ke ruang guru. Tepatnya di salah satu ruangan khusus milik Rendrano. Ya... Berhubung Rendrano ini kepala sekolah di Akademi itu. pria itu memberikan sebuah buku pada Zion. Tertulis di sana, "Buku Peraturan Star Magic Academy."
"Hafalkan itu ya.." Pinta Rendrano.
"Baik." Jawab Zion singkat dan mulai membacanya. Sedangkan Rendrano juga mulai sedikit menjelaskan tentang beberapa hal umum di akademi itu pada Zion.
pemuda itu terlihat menyimak setiap penjelasan nya dan mencatat beberapa hal yang mungkin akan membantu nya nanti.
Hari ini hari pertamanya bertugas di sini. Tapi, ia masih belum bisa menceritakan alasannya bertugas. Untuk sementara, akan lebih baik jika ia merahasiakannya terlebih dahulu. itu akan membuat nya lebih mudah mengamati murid murid dan mengetahui kemampuan asli mereka.
Jika Zion langsung memberitahu tentang tugas nya, sudah jelas akan menimbulkan kecurigaan dan mengingat usia mereka yang tak terlalu jauh pasti akan menimbulkan kecurigaan. Selain itu merahasiakan identitas nya juga penting di sini.
untuk kali ini, Zion memilih merahasiakan semua identitasnya. khusus nya asal usul dan masa lalu nya.
Apakah Zion akan berhasil menjalankan tugas nya?