Isekai: New Adventure In The Fantasy World

Isekai: New Adventure In The Fantasy World
115. Ajaib



Duar!!


Zion seketika menutup telinganya saat mendengar ledakan dari belakang nya. Sepertinya Avren pun sudah selesai dengan urusan nya.


"Kerja bagus." Ujar Zion, lalu tubuhnya melemas dan tumbang seketika.


Avren yang melihat itu tentu terkejut fan langsung berlari ke arah Zion.


"Zion! Kau baik baik saja? Zion!" Seru nya panik sambil menepuk nepuk pipi saudara nya itu. Apa Zion pingsan karena kelelahan? Apa dia terluka? Pikiran pikiran buruk terus menghantui otaknya, yang dengan cepat berusaha ia tepis menjauh.


"Aku cape... Ngantuk..."


"Eh?" Avren sedikit terkejut. Tangan pemuda mungil itu bergerak menutupi mata nya. Helaan nafas panjang di lepaskan oleh Zion.


"Kau tau, karena masalah ini aku jadi kurang istirahat tau. Kayaknya kalo aku bisa pingsan lebih lama saat itu akan lebih baik bukan?"


Avren mendengus kesal. Sepertinya kekhawatiran nya pada Zion tadi sedikit berlebihan. Ia lupa, seserius apapun Zion, pemuda itu juga punya sifat manis dan manja.


Tapi apa yang Zion katakan ada benarnya juga. Harus mengemban tanggung jawab sebesar ini di usianya yang begitu muda pasti bukan hal yang mudah bagi Zion.


Terlahir di dunia ini sebagai anak kecil setelah mengalami sebuah kecelakaan, mencoba menyesuaikan diri dan menahan sakit serta penderitaan, dituntut untuk terus bersikap dewasa dan berfikir kritis tentu bukan hal yang mudah untuk nya.


Walau ia tau usianya lebih dewasa dari yang di pikirkan nya, tapi itu masa lalu. Sekarang pemuda ber iris ruby itu hanyalah anak berusia di bawah 15 tahun yang mengemban tanggung jawab besar sebagai pahlawan untuk dunia ini. Tentu hal itu membuat nya lelah.


Menyadari kesunyian di sekitarnya, Zion membuka mata nya, memastikan pemuda ber iris hitam itu masih di sana. "Apa ada masalah?" Tanya nya, begitu melihat raut wajah Avren yang menjadi lesu.


Avren menggeleng. Di tatap nya lekat netra ruby itu. Senyuman kecil terbentuk di bibir nya. "Sikapmu seperti anak anak."


Zion mendengus kesal. "Aku kan memang anak anak. Kau pikir melakukan semua ini tak melelahkan apa?"


Avren hanya tertawa kecil. "Sudahlah, lebih baik kita pergi sekarang. Semoga murid murid Hero Class bisa mengatasi monster monster itu.


"Percaya dengan kemampuan mereka, aku yakin mereka bisa. Selain itu, para pangeran elemen dan Zuka juga di sana untuk membantu bukan?" Ujar Zion.


Avren hanya menatap datar. Lalu siapa yang begitu khawatir dengan para murid Hero Class tadi? Tapi...


"Ada benarnya. Itu juga bisa dijadikan latihan untuk mereka." Dengan mengalahkan para monster itu, para murid Hero Class juga mendapat tambahan pengalaman. Mengatasi monster parasit memang bukan hal yang sulit, tapi akan menjadi sulit jika tidak berhati hati. Di tambah dengan jumlah mereka yang begitu banyak jelas membutuhkan banyak kekuatan untuk mengalahkan mereka semua. Kerjasama dan sihir mereka akan semakin terlatih dengan itu.


Avren mengulurkan tangan nya.


Zion mengangguk kecil dan menggapai uluran tangan saudara nya itu. " Kau benar. Tapi, perasaan ku tetap tidak enak. Semoga mereka tak membuat lapangan hancur atau semacamnya. Kalo aku yang harus beresin kan ribet. "


Avren tertawa kikuk. Rupanya Zion lebih khawatir pada lapangan daripada para murid itu.


"Haah... Biarlah mereka. Sekarang temani aku melapor pada pak Rendrano." Ujar Zion sambil berjalan mendahului Avren.


Pemuda ber netra hitam itu hanya bisa mengikuti Zion pasrah. Sepertinya ini lebih baik. Daripada dirinya kembali ke lapangan dan melihat entah kekacauan macam apa yang terjadi di sana. "Baiklah baiklah... Kau itu memang beda dari yang lain ya."


******


"[Sihir tumbuhan:tumbuhlah rumput rumput!]" Lingkaran sihir berwarna hijau terbentuk. Cahaya hijau pudar terlihat menyelimuti seisi lapangan. Perlahan, rumput rumput hijau mulai tumbuh mengisi lapangan itu.


Lapangan yang tadinya kacau balau dan hancur, kini sudah kembali indah seperti sedia kala. Terlihat beberapa murid yang masih membersihkan sisa sisa serangan di tepi lapangan.


Dengan kerjasama yang bagus, tidak butuh waktu lama untuk mereka membereskan kekacauan ini.


"Yosh! Dengan begini Zion tak kan marah melihatnya nanti." Ujar Zuka sambil menyeka keringat yang mengalir di dahi nya.


"Betul banget tuh. Semuanya dah beres!" Ujar Leo yang tampak bersemangat meski keringat mengalir di tubuh nya.


Tapi berbeda dengan nya di tepi lapangan, dua orang pemuda terlihat bersandar pada pagar pembatas dengan nafas yang terengah engah.


"Aku cape...luntur sudah kegantengan ku kalo gini..." Ujar Sein yang terlihat kelelahan sambil di kipasi oleh Thory dengan kipas yang ia buat dari daun daunan.


"E..eleh... Cuma gitu aja dah cape. Laki tuh harus kuat dong!" Ujar Kei sambil sedikit bergaya. Ditambah dengan angin dari sihir nya yang berhembus membuat rambutnya bergoyang, membuat para gadis di sisi lapangan berteriak histeris.


Sein hanya menatap datar. "Au ah. Aku bukan kalian yang suka latih otot. Aku lebih suka latih otak."


Kei berdecak. "Eleh... Sok pinter amat. Lihat tuh.. Kak Hali dah pinter tapi juga strong~"


Hali yang di bicarakan hanya menatap sekilas lalu mengalihkan pandangan nya, mengambilnya botol air dan meminum nya.


"KYAAAAA~!!!!!!" Tapi hanya dengan itu saja, para gadis langsung berteriak histeris dengan kris mata mereka yang berbentuk love.


Sein melongo melihat itu. Apalagi yang di maksud adalah saingan terberat nya. "Gimana bisa para gadis itu histeris dengan gaya Hali yang minimalis gitu?" Tanya nya heran.


"Minimalis tapi cool~" Ujar Kei dan Leo berbarengan.


"Betul betul betul!" Tak mau ketinggalan, Thory pun ikut membenarkan."


Perempatan imajiner muncul di dahi Sein. "Menyebalkan!!"


Namun...


Brug


Pandangan mereka seketika teralih pada sosok pemuda yang kini terbaring di rumput. Dengkuran jalur terdengar dari pemuda itu yang sepertinya sedang nyaman di alam mimpi tanpa mempedulikan situasi sekitar nya sama sekali.


"Jadi daritadi dia masih tidur?" Tanya Sein heran.


"Adek mu ajaib amat Leo... Gak bangun padahal ada ribut ribut." Sambung Kei.


"Aku sendiri juga heran sama nih bocah." Padahal kau lah kakak nya Leo...


Sein menghela nafas. Niatnya untuk marah tadi sudah hilang melihat kembaran si tuan kembang api yang meledak ledak ini justru benar-benar seperti es.


Seperti kata orang, nama mencerminkan sifat. Ternyata itu memang benar sekarang


TBC