Isekai: New Adventure In The Fantasy World

Isekai: New Adventure In The Fantasy World
135. Fire Ball



"La lala lala la la la... Naik.. Naik ke puncak gunung. Tinggi... Tinggi sekali... Yey! Senang nya bisa jalan jalan di hutan lagi!" Dengan membawa sebuah ranting dan memakai topi pramuka, seorang pemuda ber iris hijau zamrud berjalan sambil tersenyum ceria. Mata nya berbinar melihat tanaman tanaman di sekitar nya.


Langit gelap dan angin yang berhembus dingin seakan bukan halangan untuk nya merasakan kesenangan dan melepas rindu pada sang alam di sekitar nya. Pasalnya, sebagai seorang pecinta alam sekaligus penyihir tumbuhan, wajar saja ia sangat senang ada di alam bebas walau itu malam hari sekalipun.


Beberapa kali nampak tangan misterius yang keluar dari semak semak, mencoba untuk menangkap kaki Thory. Namun pemuda itu berhasil menghindari nya dengan mudah. Setiap tangan misterius itu mencoba untuk menangkap kaki nya, pemuda itu selalu berhasil menghindar atau melalui nya. Bahkan entah si pemuda itu menyadari nya atau tidak. Dirinya terlalu sibuk mengagumi alam sekitar.


Siapa lagi jika bulan Thory Leinsta? Seorang penyihir pengendali elemen tumbuhan yang sangat menyukai alam. Dan juga salah satu pengendali sihir tumbuhan terkuat di Kerajaan.


Lain halnya dengan satu lagi pemuda yang menjadi rekan nya. Bertumpu pada sebuah tongkat yang membantu memudahkan jalan nya, ia seakan tak suka dengan situasi itu. Tidak, tepatnya tak terlalu suka aktifitas melelahkan seperti itu.


Ice mengelap keringat yang mengalir di pipi nya. Rasanya cukup melelahkan harus menyamakan langkah agar tidak tertinggal saudara nya yang sangat ceria itu. Namun hebat nya, sama seperti Thory, seakan Ice pun tak menyadari tangan tangan dari makhluk astral yang mencoba menarik kaki nya.


Krek!


Tangan sosok astral itu tanpa sengaja terinjak kaki Ice yang langsung berjalan begitu saja. Tangan itu tampak menggeliat dan di kibas kibaskan seakan menahan sakit.


Sungguh malang nasib mu wahai hantu...


"Ice Ice cepat dong!!" Panggil Thory sambil melambaikan tangannya.


"Sabar... Aku cape tau.. Lagipula kita kesini buat cari gulungan bukan tamasya..." Ujar Ice sambil menyandarkan punggung nya di sebuah batang pohon.


Thory tertawa sambil menggaruk belakang kepala nya yang tak gatal. "Ehehe.. Sesekali kan gak ada salahnya gitu." Balas Thory ceria.


Ingin rasanya Ice menggerutu. Tapi di sisi lain ia juga tak ingin menghilangkan tawa ceria pemuda di depan nya itu. Sudah banyak masalah yang mereka lalui. Jadi, tak ada salahnya untuk sedikit bersenang senang.


Walau itu bukan suatu kesenangan untuk nya. "Andai aku bisa cepat kembali dan tidur di kasur yang empuk..." Ice menghela nafas pasrah. Mau tidak mau mereka harus menyelesaikan tantangan dulu baru bisa kembali. Ia sendiri penasaran, kali ini tantangan seperti apa yang Zion rencanakan.


Ice sedikit termenung. Ada masalah lagi yang terjadi di Star Magic Academy. Tapi apa itu masih di rahasiakan. Benar kata saudara nya yang lain. Kejadian penyerangan itu pasti di sengaja. Tapi, sampai sekarang pun masih belum di temukan siapa pelakunya. Siapapun itu sudah jelas memiliki kekuatan yang besar. Apa mungkin setara dengan ras Inimicus? Apapun itu dirinya harus bersiap untuk menghadapi nya. Sama seperti sebelum nya, mereka harus membantu Zion.


Wush!!


Secara tiba tiba sebuah kain putih melayang di belakang Ice. Pemuda itu menoleh namun tak ada apapun di sana. "Mungkin hanya perasaan ku saja." Sangkal nya.


"Kak Ice! Cepat ke sini!" Panggil Thory sambil melambaikan tangan nya. Ice hanya menghela nafas dan berjalan menuju arah Thory.


Ice mengernyitkan dahi nya. 'Kenapa malah ketombe?' ah, ia jadi penasaran bagaimana Thory dan Sheelda menyelesaikan tantangan mereka dulu.


"Sudahlah... Kita fokus saja mencarinya. Jangan sampe ada yang ketinggalan. Periksa setiap sudut dan di balik dedaunan." Ucap Ice akhirnya yang langsung di tanggapi anggukan setuju oleh Thory.


"Gimana kalo kita tanya anak itu saja?" Thory nampak menunjuk ke arah seorang anak kecil yang sedang berdiri sambil memegang sebuah boneka. Anak perempuan sepertinya berumur sekitar 5 atau 6 tahun, mengenakan gaun putih dan memegang sebuah boneka beruang. Anak itu ber rambut pendek dengan bando putih yang serasi dengan gaun putih nya.


Tapi tunggu, apa wajar di tempat seperti ini ada anak kecil? "Thory tunggu!!" Ice mencoba menghentikan Thory, namun terlambat. Thory sudah sampai ke tempat anak itu.


"Dek, apa adek lihat gulungan kertas kecil do sekitar sini?" Tanya Thory ramah sambil menunjukkan senyuman manis nya.


Gadis yang membelakangi nya itu mengulurkan tangan nya ke samping. "Ini bukan kak?" Ujarnya sambil membuka tangan nya, menunjukkan sebuah gulungan kertas kecil yang sejak tadi mereka cari.


Wajah Thory nampak berbinar. Dengan senang hati ia menerima gulungan kertas itu. "Iya! Terimakasih banyak ya! Adek baik banget sih!" Puji Thory.


Ice hanya bisa diam membeku. Entah ia harus berbuat apa atau berbicara apa. Satu pertanyaan yang terpikir di kepala nya, 'gadis itu beneran hantu bukan sih?'


Thory membuka gulungan kertas itu dan membaca tulisan yang tercetak di sana. "Kalahkan fire ball untuk menyelesaikan tantangan. Hati hati panas loh~ semoga berhasil~"


"Fire..."


"Ball?" Ucap Ice di sambung Thory. "Kita bakal main bola dong?"


Ice menepuk dahi nya. "Kita harus kalahin bukan malah main bola Thory... Tapi.. Bola api macam apa yang akan kita lawan?"


"Kakak..."


Mendengar suara gadis itu, Thory dan Ice pun mengalihkan pandangan nya. Keduanya melihat gadis kecil itu yang menunjuk ke arah semak semak. Dari balik semak semak itu, bola bola api berwarna jingga dan merah bermunculan mengepung mereka.


Sungguh, Ice dan Thory harus mengalahkan semua bola api itu? Jumlahnya mungkin ratusan, mengelilingi mereka. Uang menjadi pertanyaan, kenapa mereka gak menyadari nya sejak tadi?


"Di sana... Itu portal apa?" Tanya Thory. Di belakang bola bola api itu, terdapat lingkaran sihir menyerupai portal berwarna merah yang terbentuk. Ya, mereka yakin bola bola api itu keluar dari sana.


Ice dan Thory langsung membentuk posisi siaga dan menyiapkan sihir mereka. Sepertinya mereka akan banyak menggunakan sihir sekarang.