
Matahari sudah terbit dan terlihat Zion yang sedang sibuk memasak di dapur. Aroma makanan yang lezat mengisi ruangan. Dengan sigap, Zion memasak nasi goreng buatannya dan meletakkan nya di piring setelah matang.
Leo yang saat itu keluar dari kamarnya pun mendekati pemuda yang lebih pendek darinya itu. Ia sedikit menyeringai. Ide jahil muncul di kepalanya dan secara diam diam berjalan mendekati Zion.
"Jangan lakukan itu jika kau tak ingin ku pukul dengan spatula panas." Ucap Zion tiba tiba yang membuat Leo menghentikan gerakan nya.
Leo melipat tangan nya di depan dada. "Yah... Padahal dikit lagi. Pura pura kaget kek." Ucap nya.
"Tidak terimakasih. Kemana yang lain?" Tanya Zion sembari meletakkan makanan yang sudah siap di atas meja makan.
"Masih tidur kali."
"Baiklah, sebaiknya kau makan dulu. Aku akan memanggil yang lain."
Leo menggeleng. "Ah, mungkin nanti saja. Aku mau joging dulu. Sampai nanti Zii-chan!!"
"Haah dasar anak itu..."
Tapi... Sepertinya ada yang sedikit janggal.
Leo baru saja memanggilnya apa tadi?! Zii-chan? Dia ini laki laki lah!!!
Zion menghela nafas. Lainnya masih belum bangun dan ini sudah cukup siang menurutnya. Bagaimana caranya membangunkan mereka dengan cepat?
Namun, secara tiba tiba Zion terpikir sebuah ide jahil di kepala nya.
Ia mengambil panci dan sendok lalu berjalan ke dekat kamar teman temannya itu. Sepertinya ide ini akan berhasil membangunkan mereka. Dengan begitu, Zion bisa menghemat waktu karena tak perlu membangunkan satu bersatu
Namun, secara tiba-tiba suara Nero terdengar. 'Saran ku, jangan lakukan itu.'
Zion mengernyitkan dahi. "Kenapa? Usil dikit gak ada salahnya lah... "
'Bukan itu, tapi ingatlah dengan nyawamu sendiri. Kau sedang di awasi harimau.'
Zion bingung. "Harimau?"
'Maksudku Hali. Dia akan memberimu pelajaran jika kau melakukan itu'
"Hanya sekali tak apa lah..."
'Terserah. Aku sudah mengingatkan.'
Akhirnya Nero terdiam. Mengganggu kesenangan saja. Zion mengangkat tangan nya yang memegang panci dan sendok itu, lalu siap memukul. Namun...
"Jangan berfikir untuk melakukan itu." Suara dingin nan datar terdengar di belakang Zion. Pemuda itu pun langsung menghentikan aksi nya. Bulu kuduk nya berdiri saat mendengar suara itu, seakan dirinya sudah di pojok kan oleh pembunuh saja.
Namun di saat berikutnya, Zion berbalik dan menggembungkan pipi nya. "Yah... Padahal kan kalo berhasil seru."
"Mereka akan mengamuk nanti. Biar aku yang memanggil mereka. Kau panggil Leo." Ucap Hali.
Zion memberi hormat. "Siap Vendelous!!"
"Cukup panggil Hali saja."
"Baiklah... Siap Hali!"
Zion pun berjalan ke luar, namun saat hendak membuka pintu, pintu itu sudah dibuka terlebih dahulu. Terlihat pemuda bermanik jingga yang kini berdiri di hadapan nya. Tubuhnya di basahi keringat yang juga sedikit membasahi baju nya.
Ah, kebetulan sekali orang nya sudah datang. Setidaknya Zion tak perlu lelah mencari nya.
"Baru saja mau ku cari."
Leo terkekeh. "Hehehe... Ini karena sempat bertemu gadis gadis aneh jadi aku pulang saja. Tapi kenapa kau mencari ku? Apa kau rindu padaku???"
"Tidak." Jawab Zion singkat.
Namun...
Leo langsung memeluk Zion. Dan sedikit mengedipkan matanya yang bertepatan dengan teman teman nya yang baru saja datang.
Entah kenapa rasanya kesal melihat itu.
"Leo!! Lepaskan Zion!!" Ujar Kei.
Leo justru menyeringai. "Kenapa? Kau iri??"
Kei memalingkan muka. "Bukan! Kau.... Kau bau keringat!"
"Huuh!! Aku gak bisa nafas tau!!! Dan yang di katakan Kei benar. Kau bau keringat. Cepat mandi!!!!" Seru Zion.
"Ah siap mama Zii-chan!!" Ucap Leo dan langsung pergi.
Eh tunggu, apa? Dia panggil apa barusan? Mama? Dia gak salah dengar kan?
"JANGAN PANGGIL AKU BEGITU!! AKU LAKI LAKI BERUMUR 13 TAHUN BUKAN EMAK EMAK!!!" Teriak Zion kesal. Seenaknya saja dipanggil emak emak!! Apanya yang mirip emak emak coba? Karena bisa memasak? Banyak kan laki laki yang bisa memasak? Menyebalkan!!
Zion pun menghela nafas dan duduk di salah satu kursi bersama lain nya. Dia masih kesal dengan ucapan Leo tadi. Lainnya pun juga makan dengan tenang.
Sampai Sein menanyakan sesuatu yang menarik perhatian yang lain. "Zion, boleh aku tanya? Berapa level sihir mu?"
Pertanyaan tiba tiba itu lantas membuat Zion tersedak. "Uhuk! Uhuk!!"
Zion langsung mengambil air dan meminumnya.
"Eh Zion? Kau tidak apa apa?" Tanya Thory khawatir.
"Aku tak apa kok!"
"Jadi?" Tanya Sein lagi.
"Um... Itu..."
mendadak Zion jadi gugup.
"Kau level berapa?" Kini Kei yang bertanya.
Semuanya memandang Zion yang entah kenapa terlihat gugup. Padahal kan hanya menanyakan level sihir?
Tapi mereka tidak tahu jika itu hal yang cukup mengganggu untuk Zion. Dia tak ingin level sihir nya diketahui orang lain.
Zion masih terdiam. Sementara lainnya masih menunggu jawaban dari pemuda mungil di hadapan nya itu. Apa yang membuat nya harus terdiam begitu lama hanya untuk mengatakan level sihir nya?
'Rendahkan level mu.' secara tiba-tiba suara Nero terdengar. Zion menarik nafas panjang dan menghembuskan nya perlahan.
"L-level... 4." Bohong Zion.
"Bohong!!"seru ke enam pemuda itu membuat Zion terkejut.
"Mana mungkin level 4 bisa mengalahkan Neily Cirva!"
"Mana mungkin level 4 memiliki begitu banyak skill seperti itu!"
"Mana mungkin level 4 bisa menggunakan senjata sihir seperti itu!"
"Mana mungkin level 4 bisa mengalahkan Flameball sendirian!"
"Mana mungkin level 4 bisa menggunakan lebih dari 2 elemen seperti itu!"
"Mana mungkin level 4 bisa memulihkan kondisi dengan cepat!"
"Katakan yang sebenarnya Zion!" Ujar ke enam pemuda itu. Zion menundukkan kepala nya.
Bagaimana dia harus menghadapi ini? Entah mengapa tubuh nya bergetar. Ia tak menyukai situasi seperti ini. Bahkan saat melawan monster saja ia tak merasa segugup dan setakut ini. Ada apa dengan nya?
"L-level 6." Jawab Zion pelan.
Terasa seseorang megusap pucuk kepala pemuda itu. Mencoba membuatnya lebih tenang.
"Tak apa. Kami senang jika kau jujur." Ucap Hali lembut.
"Kurasa cukup masuk akal jika begitu. Tak perlu khawatir.. Untuk seusia mu itu cukup hebat!" Sambung Sein sambil tersenyum dan memakan makanan nya.
Zion mengangguk kecil. Sudah lama ia tak merasakan kebersamaan seperti ini. Dalam hatinya, ia menyesal telah berbohong. Tapi bagaimanapun ia terpaksa berbohong untuk tetap merahasiakan level sihirnya.
Semoga tidak berlangsung lama.
Pada saat yang tepat nanti, mereka akan tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Tepat pada saat semua tugas dan alasan nya datang ke akademi itu selesai, ia tak perlu merahasiakan nya lagi. Karena di saat itu, Zion yakin mereka sudah siap untuk mengetahuinya.
Bersamaan dengan siapnya mereka menghadapi suatu hal yang akan merubah hidup mereka.
Dan tugas Zion lah untuk menuntun mereka untuk sampai ke sana.
TBC