Isekai: New Adventure In The Fantasy World

Isekai: New Adventure In The Fantasy World
139. Pertanyaan Yang Terjawab



Dunia fantasi. Dunia di mana ada yang namanya sihir yang menjadi sumber kekuatan para makhluk di sana. Semua manusia yang hidup di sana terlahir dengan elemen sihir mereka masing masing. Sihir di sini tidak di tentukan oleh keturunan. Jika suatu keluarga memiliki sihir api dan angin, anak mereka bisa saja memiliki sihir elemen lain. Maka dari itu, manusia menyebut diri mereka sebagai penyihir.


Selain ras manusia, banyak juga ras lain yang hidup di dunia itu dan juga bisa menggunakan sihir. Seperti ras beast, iblis, elf, vampir dan monster.


Sihir elemen di dunia ini di golongkan menjadi 8 macam. Yaitu elemen petir, angin, tanah, api, air, tumbuhan, cahaya dan kegelapan. Namun, ada juga yang memiliki kemampuan unik dapat mengendalikan mana atau energi alam ataupun tipe sihir lainnya.


Biasanya seorang penyihir hanya bisa menggunakan 1 elemen sihir. Tapi terkadang ada dari mereka yang spesial dan bisa mengendalikan lebih dari 1 elemen. Tapi itu terbilang sangat jarang di dunia ini.


Namun, untuk sekarang pengendali elemen tanah sudah sangat jarang di temui. Sudah bertahun tahun lamanya, semua anak yang terlahir tak ada yang memiliki kekuatan sihir elemen tanah. Konon katanya, mereka yang memiliki kemampuan sihir elemen tanah lebih memilik bersembunyi dan akan muncul saat ada bencana yang datang dan mengatasi nya.


Seiring berjalan nya waktu, akhirnya cerita itu menjadi legenda yang tersebar di masyarakat. Bersamaan dengan itu juga, ada yang mengatakan jika seorang pengendali elemen tanah itu akan menjadi pahlawan yang di takdirkan menyelamatkan dunia dari kehancuran.


Dan semua cerita itu, sepertinya mengarah pada seorang pemuda saat ini. Siapa lagi kalo bukan Zion Ravael? Pemuda yang harus mengalami kecelakaan dan berpindah ke dunia ini dengan takdir dan tugas yang begitu berat.


Di hadapkan dengan fakta bahwa mau tidak mau dirinya tak bisa menghindar atau mundur dari tanggung jawab ini, bukanlah hal yang mudah bagi Zion.


Tapi... Dari semua pengalaman dan apa yang sudah ia alami dan pelajari selama ini, ia ingin tetap melindungi semua sahabat dan orang-orang tersayang nya. Alasan nya hanya satu, ia tak ingin lagi kehilangan orang-orang yang ia sayang.


Meninggalkan dunia awal nya dengan mengenaskan dan tanpa sempat berpamitan tentu memberi penyesalan tersendiri pada Zion.


Awalnya ia tidak tahu apa alasan dan tujuan dirinya di panggil ke dunia ini. Tapi, sepertinya pertanyaan itu akan segera terjawab kali ini.


Karena di hadapan nya, ia yakin. Orang yang berdiri di hadapan nya kali ini yang membuat nya masuk dalam dunia ini sekarang.


"Sebelum itu, apa alasan mu membawa ku ke dunia ini?"


Zion langsung memberikan pertanyaan yang selama ini tersimpan dalam pikiran nya. Mengenai alasan kenapa orang itu membawa nya ke dunia ini. Apa hanya untuk mengalahkan nya?


Erano tersenyum. Namun bukan senyuman manis yang Zion lihat saat pertama kali mereka bertemu senyuman penuh arti yang mengisyaratkan kesenangan dan kekejaman di saat yang bersamaan.


"Aku hanya ingin menjadikan mu sebagai pahlawan dunia ini." Jawab Erano.


Zion justru mengernyitkan dahi mendengar nya. "Pahlawan?"


Erano terkekeh. "Kau pasti tau kan legenda tentang pengendali elemen tanah dan pahlawan yang akan datang menyelamatkan dunia dari kehancuran? Ya itu kau. Tapi aku melakukan nya bukan tanpa alasan." Erano menjeda ucapan nya dan berjalan mendekati Zion. "Aku ingin melihat, bagaimana manusia lemah bisa memikul semua beban ini."


"Pahlawan. Kau sendiri yang mengatakan, arti dari pahlawan yang sebenarnya. "Orang yang memberikan kebahagiaan, bukan penderitaan." Bukannya begitu?"


Zion masih belum mengerti. Dia memang mengatakan itu, tapi jujur saja ia pun masih belum terlalu mengerti dengan apa yang coba Erano katakan.


"Aku mau kau menyelamatkan dunia ini dari ras Inimicus. Dari kehancuran yang mengancam semua makhluk di dunia ini."


"Tapi bukannya ketua ras Inimicus itu sudah di kalahkan?"


"Kau pikir semudah itu?"


Tunggu... Ketua ras Inimicus itu masih hidup?! Dia belum beneran beneran di kalahkan? Tapi bagaimana bisa?


"Saat kau masuk ke dunia ini, kau di beri pertanyaan bukan? Dan saat kau sudah memenangkan perang juga. Pertanyaan itu untuk menguji apa kau memiliki tekat yang kuat atau tidak. Biasanya, setelah mengalahkan monster atau iblis, seorang pahlawan sekalipun ingin terbebas dari tugas nya. Tapi kau tidak. Bahkan tetap menerima tugas ini."


"Itu karena aku tidak ingin kehilangan keluarga ku lagi." Ya, setelah kematian nya dan di bangkitkan lagi, hanya orang-orang terdekat nya yang menjadi keluarga baginya. Di sana juga Zion bisa melepas rindu dan menuangkan segala keluh kesah nya. Susah dan senang teman teman nya akan selalu membantu nya, membuat nya kembali semangat dan tersenyum.


Zion tak ingin semua keakraban itu hilang. Sudah terlalu banyak hal manis yang tak bisa Zion lupakan semenjak ia datang ke dunia ini.


"Maka dari itu, lindungi keluarga mu." Ujar Erano sambil mengulurkan tangan.


Zion menggapai ukuran tangan itu dan tersenyum.


Tapi tunggu, jika Ketua ras Inimicus itu masih hidup, apa tugas yang di berikan pada Zion bukan untuk mengalahkan Erano tapi Ketua ras Inimicus itu? Lantas, apa Erano hanya pembawa pesan?


"Jika begitu, bukan kau yang seharusnya ku kalahkan bukan?"


Erano mengangguk. "Aku memang iblis, tapi aku tak sejahat yang kalian pikirkan. Tak semua bangsa iblis jahat, kami pun juga memiliki kebaikan walau gak semua iblis sih... Salah satunya aku. Untuk bisa berbaur dengan ras lain, aku harus menyamar sebagai manusia untuk menutupi identitas asli ku. Tidak semua iblis jahat, kami juga ingin berdamai dengan ras lainnya, bisa merasakan kehangatan seperti yang kalian rasakan."


Zion mengerti sekarang. Alasan mengapa Erano membawa Zion ke dunia ini, selain sebagai pelindung, ia juga ini Zion membantu nya membuat perdamaian antara ras iblis dan ras lainnya.


"Tapi, jika bukan kau, artinya Ketua ras Inimicus itu juga ada di Akademi kan? Kau tau di mana?!" Tanya Zion panik sekaligus khawatir.


"Jika itu...."