
Perang telah berakhir. Ras Inimicus telah di kalahkan dan dunia telah diselamatkan dari kehancuran. Kisah Zion dan murid murid Hero Class dari Star Magic Academy yang mengikuti Perang dan berhasil mengalahkan ketua ras Inimicus itu menyebar dengan cepat bahkan sampai ke kerajaan kerajaan tetangga.
Kemampuan dan kehebatan mereka saat melawan para monster dan iblis tentu menjadi pembicaraan hangat di seluruh negri.
Khususnya Zion. Pemuda ber iris ruby dengan ciri khas rambut hitam dan sejumput rambut putih yang berkilau indah. Pemuda yang cukup manis dan lembut. Namun, juga bisa menjadi sangat kejam dan sadis.
Seorang pemuda yang ditakdirkan untuk menjadi pahlawan setelah ber reinkarnasi ke dunia ini. Walau sudah banyak orang yang tau tentang rahasia kekuatan nya, tapi tidak banyak yang tau jika Zion sebenarnya bukan berasal dari dunia ini. Jika diberitahu pun... Apa mungkin akan percaya semudah itu?
Setelah perang itu, semuanya kembali berjalan normal. Zion, Zuka dan Avren kini tinggal di asrama Akademi bersama keenam pangeran elemen. Sedangkan Ren dan Rio kembali ke kerajaan mereka setelah terbebas dari para iblis dan ras Inimicus.
Tapi, jangan kira kisah nya akan berakhir di sini. Ingatlah Zion masih memiliki tanggung jawab untuk melindungi kerajaan. Kemunculan iblis yang begitu tiba tiba dan bisa di bilang cukup terang terangan di Akademi tentu tak bisa di biarkan begitu saja. Selain itu... Tanggung jawab nya sebagai pelajar di Star Magic Academy.
*******
"Star Magic Academy atau di singkat 'STAMY' merupakan Akademi sihir terbesar di Kerajaan yang melatih para penyihir. Di antara semua kelas, ada satu kelas yang merupakan kelas unggulan. Semua murid di kelas itu merupakan murid murid dengan kemampuan sihir yang tinggi. Maka dari itu, kelas itu di juluki sebagai Hero Class."
"Selain itu, Hero Class juga satu satunya kelas di Akademi yang mengikuti Perang melawan ras Inimicus. Dengan Zion sebagai pelatih nya, apa sih yang gak bisa?"
"Tapi, bagaimana jika kali ini pemuda mungil yang menjadi 'pelatih khusus' itu justru juga salah satu murid di kelas itu? Apakah yang akan terjadi? Apakah dia bisa mengatasi ketidakwarasan teman teman sekelas nya? Atau justru pusing dan stress sendiri karena dirinya adalah satu satunya orang yang waras?"
Sang surya bersinar cerah menerangi bumi dengan cahaya hangat nya. Hembusan angin sepoi sepoi dan gumpalan awan pun turut menghiasi langit biru yang membentang di atas sana. Burung burung terbang bebas di angkasa, melewati awan menuju tempat mereka mencari makanan.
Di pagi yang cerah itu, seorang gadis kecil ber rambut coklat di ikat dua terbang di antara awan menggunakan sayap yang ia buat dari aliran sihir nya. Dengan lincah ia mengitari gumpalan awan dan terbang melesat menuju sebuah akademi sihir.
Gadis itu mendarat sempurna di atas sebuah pohon, mengawasi seorang pemuda ber rambut hitam dengan sejumput rambut putih yang sedang berdiri di dekat pintu masuk akademi.
Pemuda itu tampak mencatat sesuatu sambil mengamati sekitar nya, lalu beralih masuk ke gedung sekolah.
"Kayaknya dia milih awasi dari atap deh." Gumam gadis itu sambil terus mencoba mengawasi. Namun, karena terlalu serius dengan pemuda itu, ia sampai tak menyadari jika seorang gadis seusia nya mengamati nya dari bawah pohon.
"HUWAAA!!!! "
BRUG!!
"Aduh!!!" Pekik gadis itu saat terjatuh dari atas pohon karena terkejut. Ia sedikit mengusap punggung nya yang terasa sedikit sakit. Beruntung pohon nya tidak terlalu tinggi.
"Yanata ya ampun maaf!!" Seorang gadis yang tadi mengejutkan Yanata langsung melompat menghampiri sahabat nya itu. "Kau baik baik saja? Ada yang sakit? " Tanya gadis itu dengan raut wajah khawatir.
Gadis yang di panggil Yanata itu menggeleng kecil sambil membersihkan debu yang menempel di baju nya. "Aku gak apa apa kok. Untung sempat pake sihir hehe" Ucap Yanata sambil tersenyum. "Lagian kamu nya juga yang hobi amat kagetin orang sih, Yiva." Lanjut nya.
Gadis beast tipe harimau dengan rambut pendek di ikat dua itu hanya menggaruk garuk belakang kepala nya yang tak gatal.
"Habisnya tingkah mu mencurigakan. Kek mau maling jemuran aja."
Yanata mendengus mendengar itu. "Yakali gadis cantik sepertiku jadi maling jemuran. Aku cuma lagi amati kak Zion lah. Ini hari pertama nya masuk akademi. Tentu saja aku penasaran. Maksudku, sebagai murid. Apakah pendapat semua roommate dan saudara nya kak Zii??"
Ekspresi Yanata berubah. Pikiran nya melayang membayangkan bagaimana Zion akan kerepotan di kelas nanti. Mungkinkah akan sering terjadi drama di kelas itu?
Yiva yang melihat ekspresi Yanata memasang ekspresi seolah berkata ' semoga pikiran mu tak melayang terlalu jauh Yana...'
Yiva mengibas ngibaskan ekornya sambil memasang pose berfikir. "Aku yakin Kak Zion bakal kerepotan. Tapi kayaknya seru juga."
Yanata mengangguk. Ia kembali memandang Zion yang kini berada di atap sekolah. Tampaknya ia masih mengawasi. Tapi tunggu, ada yang janggal. Kenapa Zion se serius itu? Apa ada yang salah?
TBC