Isekai: New Adventure In The Fantasy World

Isekai: New Adventure In The Fantasy World
24. Tamu Tak Diundang



Tiga hari setelahnya, kondisi Zion sudah lebih baik dan ia sedang berlatih bersama Rendrano. Sedangkan Yanata dan Alex lagi lagi bertugas sebagai 'pengacau' Konsentrasi Zion.


Sepertinya mereka begitu menikmati saat melihat Zion terjatuh atau gagal melakukan serangan. Apakah itu bisa disebut sebagai teman dan saudara yang baik?


"Baiklah, latihan kali ini cukup sampai di sini." Ucap Rendrano. Zion pun berhenti. Ia kemudian berjalan mendekati Yanata dan Alex yang sedang santai di bawah pohon dan menyiapkan buah buahan.


"Wah wah... Bagaimana latihan mu kali ini Zii-chan? Wajahmu kok di tekuk gitu?" Tanya Alex melihat Zion yang sepertinya agak kesal. Ya, dia tau itu karenanya...


Tapi menggoda anak itu menyenangkan juga.


"Kau lihat sendiri kan? Dan jangan panggil aku seperti itu!" Protes Zion dan langsung mengambil sebuah apel dan memakan nya.


"Hahaha... Kak Zion ngambek tuh..." Ucap Yanata. Sementara anak yang dibicarakan hanya membuang muka tak peduli.


Selanjutnya, mereka pun makan sambil bercanda. Tentu saja, Zion yang menjadi sasaran. Entah kenapa Yanata dan Alex senang sekali menggoda Zion. Atau karena dia imut?


"Wah wah... Kalian bersenang senang ya..."


Sebuah suara mendadak terdengar. Suara perempuan yang terdengar lembut. Tapi dari mana? Zion dan Yanata berusaha mencari asal suara itu. Tapi, itu justru menjadi pengecualian untuk Alex yang malah menutupi wajahnya dengan poni rambutnya.


"Suara siapa itu?" Tanya Zion. Yanata hanya bergidik bahu.


Tapi, tatapannya ter arah pada Alex yang baginya bersikap aneh. Jelas lah... "Kak Alex kenapa?"


Pertanyaan Yanata yang cukup simpel itu malah membuatnya terkejut. "A-aku... Aku tidak apa apa." Ucapnya.


"Tidak apa apa ya? Atau karena ku?"


Suara itu kembali terdengar. Dan kali ini semakin dekat.


Secara tiba tiba, ada yang menutup mata Alex dari belakang. Dan entah mengapa membuatnya tak bisa bergerak.


Seorang gadis ber rambut panjang berwarna hitam dengan jepit rambut kuning cerah dan iris mata biru muncul di belakang Alex dan menutup matanya. Ia mendekatkan wajahnya pada telinga Alex dan berbisik. "Lama tak berjumpa, All-chan"


Setelah itu Alex langsung menghindar. "S-sedang apa kau disini??? "


Menggembungkan pipinya. "Aku yang seharusnya bertanya! Raja dan Ratu Vampir khawatir kau menghilang tiba tiba! Jadi jelas aku mencari mu. Aku kan mate mu"


Seenaknya saja dia berbicara. Tapi entah kenapa pipi Alex terasa panas. Tapi... itu justru teralihkan dengan hal lain.


"Bagaimana dengannya? Apa dia mencari ku?"


"Maksudmu kak Reon? Entahlah. Aku melihatnya lebih sering berlatih sejak kau menghilang dari kerajaan." Jawab gadis itu seadanya.


Raut wajah Alex mendadak murung bercampur kecewa. "Aku terlalu berharap... " Gumam nya pelan. Tapi masih bisa di dengar orang di dekatnya. Terlebih lagi suasana sekitar yang sepi.


Gadis itu pun memegang pundak Alex. "Dia kakakmu, walau kak Reon tak menunjukkan nya secara langsung, aku yakin dia mengkhawatirkan mu." Ucapnya.


Namun...


"Ehem! Aduh... Serasa jadi nyamuk ini... Semoga tidak ada yang menyemprot semprotan serangga deh... Iya kan Yana" Ucap Zion tiba tiba sambil melirik ke arah adik nya itu.


"Hihihi... Iya. Semoga enggak di semprot deh. Atau pergi aja yuk kak! Daripada ganggu." Kata Yanata dan bersiap pergi.


"Hey, Zion! Kucir dua! Jangan berani beraninya kalian pergi ya!" Ujar Alex.


"Hihihi... Habisnya takut ganggu!"


"D-diam lah!!" Protesnya. Yanata dan Zion hanya tertawa melihat itu. Apalagi ekspresi Alex yang seperti menyembunyikan rona di wajahnya cukup manis juga.


"Maaf maaf, perkenalkan, aku Ochori Shaera. Kalian bisa memanggilku Ocho" Ucap Ocho memperkenalkan diri.


"Ah, salam kenal. Namaku Zion Ravael. Dan ini Yanata Fryfer." Ucapnya sambil tersenyum dan menunjukkan badan.


"Salam kenal... Senang berkenalan dengan kalian. Dan kau manis sekali Yanata... Dan rambut yang indah... " Puji Ocho membuat Yanata tersenyum lebar.


Namun, Alex yang mendengar itu...


"Baru aja dipuji langsung begitu" Ucapnya dan memalingkan muka.


"Ngomong ngomong All, kau berhasil menemukannya ya? Bagaimana menurutmu?" Tanya Ocho pada Alex.


"Ah ya, aku sudah mengetesnya. Dan ternyata memang benar. Dia memang kuat."


"Yap! Tapi kak Alex gak mau berhenti padahal duel sudah berakhir" Ucap Yanata polos. Sedangkan Alex malah tepuk jidat dengan Yanata yang begitu polos. Ingatlah dia masih anak kecil.


"Ho ho... Jadi bermain kasar ya..." Ucap Ocho sambil menatapnya tajam dengan senyuman lebar yang justru mengerikan. Ditambah lagi dengan aura yang di keluarkan nya.


"A-aku... Hanya mengetesnya saja..." Ucap Alex mencoba mengelak. Tapi tatapan mata Ocho justru semakin tajam.


"Ini sudah memasuki waktu makan siang. Bagaimana jika kita makan bersama?" Ajak Zion tiba tiba membuat pandangan Gadis itu tertuju padanya. Alex justru sangat bersyukur karena itu. Setidaknya perhatian gadis itu teralihkan.


"Bukannya baru saja makan? Kakak sudah lapar lagi?" Tanya Yanata.


"Cuma makan buah mana kenyang"


"Iya juga. Kalo begitu, biar aku yang masak!!!" Ucap Yanata girang.


Beberapa menit kemudian mereka sudah berkumpul di meja makan. Rendrano pun juga ikut duduk bersama mereka. Tapi... Ada yang aneh. Kenapa raut wajahnya terlihat khawatir? Walau coba untuk disembunyikan, itu terlihat cukup jelas untuk Zion.


"Lord? Ada apa?" Tanya Zion.


Rendrano sempat terkejut. "Tidak, bukan apa apa. Kalian akan tau sendiri nanti."


Yanata pun datang dengan makanan buatan nya. Terlihat sup dengan warna pink keunguan. Tapi bau yang cukup menyengat tercium dari masakan itu. Bahan apa saja yang dimasukkan ke dalamnya?


"Ini dia! Masakan ala Yanata sudah siap! Ayo di makan!!" Ucap Yanata dengan senyum lebar. Sekarang mereka tau alasan Rendrano terlihat seperti itu.


"Um... Apa saja bahan masakan ini? " Tanya Alex.


"Bahannya.... Bawang putih, bawang merah, tomat, wortel, sayuran lainnya, terasi, petai, jengkol, katak panggang, jari burung, paruh bebek dan juga ikan dan telur yang sudah ku awetkan selama 1 tahun!! Ayo makan!!"


Mendengar itu, semuanya langsung memucat.


Itu sup atau racun dari kuali penyihir? Katak dan cicak juga ikut di masak? Lalu ikan dan telur di awetkan selama satu tahun... Oke, siapapun yang berani memakan masakan ini, sungguh luar biasa.


Secara tiba tiba ada seekor lalat yang terbang di antara mereka. Namun, saat terkena uap masakan itu, lalat itu pun langsung jatuh dan mati. Mereka justru membayangkan posisi mereka sebagai lalat itu.


Tapi melihat wajah Yanata yang berbinar... Mereka jadi bingung harus makan atau tidak. Jika tidak, takut menyakiti anak itu. Tapi jika mereka makan, mereka sendiri yang akan sakit.


'Nero... Bagaimana ini?!' batin Zion.


'Coba kau gunakan skill Telekinesis dan buat batu diluar jatuh ke dalam sup nya' Jawabnya.


'Ide bagus. Terimakasih'


Zion pun menggerakkan tangannya di bawah meja dan mengangkat batu lalu melemparnya masuk melalui jendela. Hasilnya, tepat sasaran. Tepat masuk ke dalam mangkuk isi sup itu.


"Haduh!! Siapa sih yang usil?! Beraninya dia melempar batu ke dalam masakan ku!!!!" Protesnya.


"S-sudahlah Yanata... Biar aku saja yang memasak ya..." Ucap Zion. Yanata pun hanya bisa mengangguk.


Lainnya menarik nafas lega setelah itu. Akhirnya mereka lolos dari masakan mengerikan itu...


TBC