Isekai: New Adventure In The Fantasy World

Isekai: New Adventure In The Fantasy World
91. Persiapan Hampir Selesai



"Apa?! Mereka sudah mulai menyerang?!" Rendrano terkejut dengan apa yang para pangeran elemen katakan. Perang sudah di mulai secepat ini. Apa mungkin murid murid nya sudah siap? Siap tidak siap bagaimanapun mereka harus ikut serta dalam perang ini.


Tapi bagaimana bisa? Bahkan Zion saja belum kembali.


"kalian sudah memberitahu murid lain?"


Sein mengangguk. "Aku sudah memberitahu nya dalam perjalanan tadi."


" Baiklah, minta semuanya untuk bersiap. Reon! Minta bantuan prajurit kerajaan dan ras lain!"


"Tidak perlu. Kami sudah mengurusnya. Mereka sudah dalam perjalanan sekarang."


Rendrano mengalihkan pandangan nya pada sosok pemuda ber manik merah yang baru saja masuk.


"Kak Hali?" Ucap Leo terkejut dan tidak percaya dengan apa yang dilihat nya. Ia berjalan menghampiri pemuda ber manik merah itu dan menepuk nepuk pipi nya memastikan jika yang dilihat nya bukan hanya sekedar halusinasi atau malah hantu. " Bisa di pegang. Ini beneran kak Hali?"


Hali langsung menepis tangan pemuda di hadapan nya itu. "Ya lah aku Hali. Memang kau kira siapa lagi?"


Leo hanya tersenyum garing dan menggaruk belakang kepala nya. "Kukira hantu tadi. Habis, main nongol gitu aja gak pake salam atau apa, kek maling jemuran."


"Udah. Lo nya aja yang gak denger."


"Kalo Hali sudah kembali, Apa Zion juga sudah kembali?" Tanya Rendrano memastikan.


Hali mengangguk. "Iya. Dia juga sudah kembali. Tadi dia bilang ada urusan jadi pergi entah kemana tapi dia aman." Jelas Hali.


Rendrano menghembuskan nafas lega. "Syukurlah..."


Namun secara tiba tiba terasa tekanan sihir yang cukup kuat membuat bulu kuduk Hali berdiri. Ia menoleh ke samping dan melihat ekspresi aneh dari saudara saudara nya.


"Kak Hali gak macam macam kan sama Zion?"


"Zion gak di apa apain kan?"


"Awas aja kalo Zion kenapa napa kami gak bakal ampuni kak Hali."


"Bagaimana bisa kak Hali ngilang berdua sama Zion hah?"


Hali menghela nafas. Ayolah, ini bukan saatnya untuk emosi seperti itu bukan? Ada hal yang lebih penting sekarang.


Hali memejamkan mata nya membiarkan tekanan sihir dalam dirinya meluap. Ia membuka mata nya lagi yang berkilat tajam menatap dingin keempat pemuda itu. "Apa yang kalian pikirkan hah?"


Glek.


Sepertinya mereka salah strategi kali ini.


Sementara Rendrano dan Reon yang melihat para pemuda itu hanya menghela nafas. Ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat seperti itu.


"Bisa tunda dulu? Kita sedang menghadapi masalah serius sekarang!!" Reon sudah kehabisan kesabaran untuk sekarang. Para pemuda itu langsung terdiam seketika.


"Jadi apa yang sudah kau dan Zion rencanakan?" Tanya Rendrano.


"Aku dan Zion akan langsung berjaga di sini. Kita akan memancing mereka ke hutan di luar akademi untuk mengurangi kerusakan dan mencegah adanya korban dari warga di dekat sini. Teman kami juga sudah bersiap ke sana. Yang perlu kita lakukan sekarang menggiring semua monster yang sudah terlanjur ada di sini ke hutan itu. Bawa semua murid pelatihan sekarang. Yang kita hadapi bukanlah lawan yang bisa di anggap remeh." Jelas Hali.


Rendrano dan Reon mengangguk mengerti.


"tapi ada juga yang harus berjaga di sini kan? Bagaimana dengan Zion?" tanya Thory.


"dia pasti akan baik baik saja." ucap Hali sambil tersenyum tipis. Namun ada yang kurang. halilintar mengedarkan pandangan nya mencari sosok pemuda yang seharus nya juga ada di sini. "di mana Kei?"


keempat pemuda itu justru saling memandang. "loh tadi perasaan ikut ke sini deh."


Hali menepuk dahi nya. "kemana anak itu di saat seperti ini sih?" ia kesal dengan tingkah adik nya itu. tapi dalam hati dirinya juga merasa khawatir. semoga saja alasan Zion pergi tidak ada kaitan nya dengan hilangnya Kei.


semuanya pun mengangguk mengerti.


"Aku juga akan membantu mereka." semua yang berada di ruangan itu seketika menoleh memandang seorang pemuda ber rambut keunguan yang baru saja datang.


"tidak bisa. ini berbahaya." larang Reon.


pemuda itu tampak mengepalkan tangan nya. "dulu aku tidak di izinkan mengikuti perang, setidaknya sekarang izinkan aku untuk membantu."


Reon menatap mata merah sangat adik. Terlihat jelas keseriusan dan tekat di dalam nya. sepertinya kali ini tidak masalah jika ia membiarkan sang adik ikut serta. lagipula ia juga sudah melihat peningkatan kekuatan Alex selama ini.


"baiklah." Jawab Reon singkat dan berlalu pergi.


Alex tersenyum lebar mendengar itu. "Terimakasih!"


"Sudahlah. Ayo kita mulai sekarang."


Tanpa buang waktu lagi, mereka langsung bertindak sekarang.


Sementara itu, Ren, Rio dan Zuka sedang mempersiapkan jebakan di lokasi yang sudah mereka tentukan.


Sebuah hutan yang seharusnya subur, kini justeru terlihat tandus dengan pohon pohon yang mengering dan mati. Terlihat seperti hutan hantu yang mengerikan.


Beberapa jebakan sihir telah mereka siapkan di sana untuk menjebak monster monster itu. Sejauh ini masih belum ada monster yang datang, ini memberi waktu bagi mereka untuk lebih banyak bersiap.


"Sudah di mulai ya... Aku tak menyangka akan seperti ini." Kata Zuka yang baru saja selesai membuat jebakan sihir api nya. Lingkaran sihir yang ia letakkan di tanah perlahan menghilang walau tidak hilang sepenuhnya.


"Ini tergantung pada kita juga. Kalo gagal kehancuran dunia yang akan terjadi. Ras Inimicus itu pasti akan semakin berkuasa." Ucap Rio.


Ren mengangguk. "Tapi... Setidaknya ada bantuan besar yang kita dapatkan sekarang."


Zuka memandang Ren. "Murid murid Hero Class dan Beast akademi?"


"Tepatnya Zion sendiri. Ya... Semoga saja dengan bantuan kekuatan Zion kita bisa menang."


Ya ada benarnya juga. Zuka sudah melihat sendiri sebesar apa kekuatan Zion. Ia yakin kali ini mereka akan menang. Tapi.. Ada juga yang membuatnya khawatir. Apa di perang kali ini dia juga harus mengalahkan Avren yang artinya membunuh salah satu keluarga nya sendiri? Orang yang selalu menemani nya sejak dulu?


Selama ini ia berharap jika suatu saat nanti Avren akan kembali pada nya dan ia bisa hidup tenang bersama kedua saudara nya. Ditambah lagi bagaimana perpisahan mereka saat itu, saat Avren kembali dan menyuruh nya untuk pergi, ia yakin bisa menyelamatkan saudara nya itu.


Tapi bagaimana cara nya? Bagaimana cara memisahkan jiwa ketua ras Inimicus itu dari tubuh Avren?


"Oi Zuka. Jangan ngelamun nanti kesambet loh." Ucap Rio sambil menepuk pundak Zuka membuat pemuda ber rambut putih itu terkejut.


"Ish. Hantu nya dah kabur duluan lihat muka mu."


"Apa kau bilang??"


"Mau berantem atau lanjut kerja?" Keduanya menoleh pada pemuda ber manik silver yang sedang memegang sebuah ranting dan menatap mereka horor.


Tanpa berniat membantah atau melanjutkan pertengkaran mereka, kedua pemuda itu langsung kembali membuat jebakan sihir.


Mereka gak mau kena amuk tentunya. Awalnya mereka kira akan aman karena Zion pergi ke akademi. Tapi ternyata masih ada binatang buas lainnya di sini.


"Aku penasaran apa semuanya lancar di sana?" Tanya Zuka. Entah mengapa dirinya merasa khawatir dengan keadaan Zion. Semoga semuanya lancar.


Prok prok prok


Secara tiba tiba terdengar suara tapak kaki kuda ke arah mereka. Seulas senyum kecil terbentuk saat pasukan prajurit dari berbagai rasi telah datang.


Dengan jumlah pasukan yang mencapai ribuan dari berbagai ras ini, kemungkinan kemenangan mereka akan bertambah.


TBC