Isekai: New Adventure In The Fantasy World

Isekai: New Adventure In The Fantasy World
41. Keluarga



Pagi berikutnya mereka kembali latihan bersama. Lagi lagi diawali dengan para elemental yang pemanasan dan berakhir dengan lomba lari. Setelahnya beralih ke beberapa latihan fisik sebelum kembali mengontrol aliran sihir mereka yang masih berantakan.


Zion yang melihat mereka berlatih dengan serius tersenyum. Ia bersandar di dinding pembatas lapangan sambil menatap ke langit.


Entah kenapa terbesit perasaan rindu di hatinya. Ia terpikir bagaimana keadaan Zuka dan Avren di luar sana. Apa mereka baik baik saja? Bagaimana keadaan Zuka sekarang? Ia berharap, iblis kejam itu tak melakukan hal buruk pada keluarga nya.


Angin berhembus menerpa wajah nya. Zion memejamkan mata menikmati hembusan angin itu. Ia cukup menikmati saat saat seperti ini. Merasakan hembusan angin yang juga membuat rambutnya bergoyang karena terpaan nya.


Hal itu juga di perhatikan para elemental yang tersenyum dengan wajah memerah melihat pemuda mungil ber rambut hitam itu.


Pemuda itu terlihat semakin imut. Seakan tak ada beban dalam dirinya dan membiarkan dirinya tenggelam dalam ketenangan.


Sementara, di sebuah ruang tahta di istana, seorang pria ber iris hitam sedang duduk dengan tenang di singgasana. Ia terlihat santai memainkan rantai di tangan kiri nya dan tangan kanan nya memegang sebuah gelas berisi cairan merah.


Di sampingnya terlihat seorang pemuda ber iris gold yang terlihat pucat dengan perban yang melilit leher dan tangan nya. Dia adalah Zuka yang kini berdiri di samping Avren.


Tidak ada lagi tawa ceria dan binar di matanya. Pandangan nya sudah mulai kosong sekarang.


Ia menatap nyeri pada apa yang ada di hadapannya. Di lantai, organ organ tubuh manusia berhamburan dengan darah yang membentuk genangan di sana.


Tubuh manusia yang sudah terpisah pisah dan cairan merah yang menghiasi membuat bau amis menyengat di ruangan itu. Ingin sekali Zuka pergi dari sana. Tapi sudah tentu dia akan jadi korban selanjutnya jika ia melakukan itu.


Seorang pengawal datang dengan tubuh gemetar dan menunduk di hadapan pria itu. Ia tahu jika datang ke tempat itu maka hidupnya akan berakhir. Tapi ia tidak memiliki pilihan lain. Kabur pun tak ada gunanya karena dia akan tetap dibunuh.


"Apa kau menemukan nya?" Tanya Avren.


"B-belum tuan. K-kami sudah mencari kemana mana tapi masih belum menemukan nya." Jawabnya terbata bata.


Avren mengepalkan tangan nya erat. "Sudah ku bilang kan?! Jangan kembali sebelum kalian menemukan nya!!!"


Pria itu menunduk "M-maafkan saya tuan. K-kami.. Kami akan berusaha lebih keras lagi!"


Menghela nafas. "Baiklah. Pergi sekarang!" Ujar Avren sambil menunjuk keluar.


"Baik tuan! " Pria itu pun berdiri dan berbalik. Dalam hatinya ia bersyukur dia masih hidup dan tak dibunuh saat itu juga.


Namun, ia terlalu cepat beranggapan. Baru beberapa langkah ia melangkahkan kakinya dari hadapan Avren, sebuah rantai sudah menembus kaki nya.


"AAAKKKHH!!!" Jerit pria itu dan terjatuh.


Rasa sakit menjalar di kakinya bersamaan dengan darah yang mengalir ke luar Dari luka di kaki nya.


Zuka membelalakkan mata nya melihat itu. Ia mencoba untuk menahan rasa mual di perut nya dan tubuhnya yang mulai gemetar. Sudah sering ia melihat hal seperti ini. Dan itu membuat tekanan batin untuknya. Apalagi melihat orang orang tak bersalah seperti merek harus kehilangan nyawa dengan cara yang mengenaskan seperti itu.


Avren kembali menusukkan rantai pada tubuh pria itu dan membuat pria malang itu kembali menjerit kesakitan.


"Ini akibatnya jika kau gagal menjalankan perintah dariku." Ujar Avren dingin dan menarik kerah baju pria itu. "Sebagai gantinya kau harus mati!"


Avren melempar tubuh pira itu ke lantai dan menusukkan rantai ke mata pria itu. Mencabut bola mata dari tempat nya dan melemparnya ke sembarang tempat.


Rantai rantai bergerak seperti ular melilit dan menarik kedua tangan pria itu sampai tercabut dan kembali melemparnya.


Zuka menutup mulutnya melihat itu. Ingin ia berteriak dan lari. Tapi kakinya tak bisa di gerakkan. Para pengawal di depan ruangan pun hanya bisa menulikan pendengaran mereka dan berpura pura tak melihatnya. Mereka masih ingin hidup lebih lama.


"Saatnya selesaikan permainan"


Avren menusukkan rantainya pada dada pria itu. Tepatnya jantung nya dan mengambil sesuatu di dalamnya lalu menariknya keluar. Sebuah gumpalan berwarna merah yang diketahui adalah jantung pria itu.


Ia meremas jantung itu sampai hancur. Darah menciprat kemana mana bahkan mengenai wajah dan pakaian nya.


Satu nyawa lagi telah melayang di tangan iblis kejam itu. Zuka tak bisa lagi menahan dirinya. Kedua kakinya melemas dan ia jatuh terduduk sambil memegangi telinganya.


"Tolong hentikan itu... Tolong hentikan... Aku tak mau melihatnya lagi... Aku tak mau mendengar nya lagi... Kumohon hentikan..." Ucap Zuka lirih.


Avren yang melihat itu menghampiri pemuda mungil itu. Ia memeluk tubuh kecil Zuka dengan penuh kasih sayang.


"Sstt... Tenang saja... Aku tak akan menyakitimu..." Ucapnya sambil menghapus air mata yang mengalir.


Ia tersenyum saat mencium aroma hutan tropis pada rambut pemuda itu. Pengendali sihir dan mana. Tentu saja Avren tak akan membiarkan dirinya kembali kehilangan harta berharganya.


"Aku pasti akan membawa keluarga kita kembali. Aku tak akan membiarkan nya pergi lagi..." Bisik Avren sambil menggerakkan tangan nya mengusap surai pemuda itu.


Zuka mengepalkan tangan nya. 'Justru karena kau lah dia pergi!! Aku akan kembalikan keluarga ku!! Aku tak akan biarkan kau mengambil nya! Kami akan membuatmu melepaskan Avren!!!' batin Zuka di tengah isakan nya.


Ia hanya berharap berhenti melihat semua ini. Ia hanya berharap berhenti mengalami semua ini. Ia hanya berharap bisa kembali seperti dulu.


Di saat ia, Zion dan Avren bersama sebagai keluarga.


Bukan tunduk di hadapan makhluk keji tak berperasaan yang haus akan kekuatan dan kekuasaan.


Ia ingin keluarganya benar benar kembali.


Sementara, Zion masih memejamkan matanya. Merasakan angin yang berhembus. Dalam hatinya merasa gelisah dan khawatir. Ia khawatir dengan keadaan Zuka.


Mengingat bagaimana perpisahan mereka dan seberapa kejam ketua Inimicus itu membuatnya kembali teringat kenangan buruk.


Tanpa sadar, air mata mengalir dari balik kelopak mata nya. Meluapkan perasaan campur aduk di hati nya.


"Zion? Zion kau kenapa?"


Zion membuka matanya dan ke enam elemental itu sudah ada di hadapan nya menatapnya khawatir.


Ah, seharusnya ia bisa menahan diri untuk tidak menangis.


Cepat cepat Zion menghapus air mata nya.


"Kenapa kau menangis? Ada apa? Ada masalah apa?" Tanya Sein.


"Ah tidak, aku baik baik saja kok! Mataku hanya kelilipan terkena debu tadi." Bohong Zion.


"Beneran?" Kini Kei yang bertanya.


"Beneran kok! Sekarang ayo kita lanjutkan latihan nya teman teman!!"


Akhirnya mereka pun melanjutkan latihan. Mereka langsung mempercayai nya melihat bagaimana Zion tersenyum dan tertawa.


Tapi tidak dengan Hali.


Ia tahu senyuman itu palsu. Zion menutupi perasaannya.


Hali adalah orang yang cukup peka. Ia tahu jelas saat seseorang berbohong.


'Sebenarnya masalah apa yang kau sembunyikan?'


TBC