
Avren dan Leo terus mencari gulungan itu kesana kemari. Sekarang mereka lebih fokus untuk mencari dan mencoba untuk tetap fokus ditengah situasi yang cukup mengerikan. Angin dingin sesekali berhembus, kelelawar yang terbang tiba tiba membuat mereka beberapa kali terkejut. Tangan Leo sedikit gemetar, namun ia mencoba untuk menguatkan dirinya. Malam pun makin larut, membuat para binatang malam semakin banyak berkeliaran.
Di bawah langit berbintang, namun tak terlalu terang. Di hutan yang gelap dan rimbun, dengan berbekal lentera dan bola api sebagai penerangan, mereka terus mencari gulungan kertas yang harus mereka dapatkan.
Leo berharap, ia tak akan bertemu dengan hantu lagi. Tapi di sisi lain, ia tau harapan nya itu tak akan terpenuhi kali ini. Jelas saja, namanya saja uji nyali dan sudah tentu apa yang harus mereka lawan adalah hantu. Mengingat dari apa yang mereka temui tadi saja sudah menjelaskan jika. itu bukanlah rekayasa, melainkan hantu sungguhan yang ada di hutan itu.
Avren menepuk pundak pemuda ber iris mata jingga itu dan menatapnya dengan yakin. "Tenang saja, aku di sini bersama mu. Lawan rasa takut mu!" Avren mencoba menenangkan teman nya itu. Leo menarik nafas panjang mencoba menenangkan dirinya. Ya, sekarang bukan waktu nya untuk takut.
Hiii hi hi hi hi hi hi hiiiii.....
Suara itu kembali terdengar, sayup sayup namun masih cukup jelas. Tidak, mereka harus fokus sekarang!
'Tenang saja Leo... semuanya pasti akan baik baik saja. Kau bisa! Tetap tenang.. jangan takut...' Batin Leo sambil berharap semuanya akan baik baik saja.
"Ketemu!" Seru Avren yang memegang sebuah gulungan kertas kecil. Leo pun langsung menarik nafas lega saat itu juga. Ia berjalan mendekati Avren. Avren membuka gulungan kertas itu dan membaca nya.
"Kalahkan hantu kelinci untuk menyelesaikan tantangan. Selamat berusaha~"
Keduanya saling berpandangan heran. "Kelinci?"
Zion tidak bercanda kan? Mereka harus mengalahkan kelinci? Yang benar saja. Namun, ini bukan kelinci biasa. Leo tidak tau harus bersyukur atau tidak. Mereka memperhatikan sekitarnya jika hantu itu ada di sini, seharusnya mereka sudah melihatnya sejak tadi bukan?
"Ini Zion tidak sedang bercanda bukan?" Tanya Leo yang nampak ragu.
Avren bergidik bahu. "Aku tidak tahu. Tapi namanya hantu mungkin mengerikan. Kita harus berhati hati."
Leo mengangguk setuju. Mereka tetap tak boleh lengah sekarang. Keduanya pun kembali mencari. Mereka sempat berfikir hantu seperti apa yang akan mereka hadapi kali ini. Apa sosok hantu yang mengerikan atau kelinci manis yang justru mereka temui?
Kresek kresek....
Secara tiba tiba terdengar suara dari sebuah semak semak. Avren dan Leo langsung memasang posisi siaga dan mempersiapkan sihir mereka masing masing.
Poing..
Seekor kelinci kecil berwarna putih melompat keluar dari dalam semak. Leo dan Avren menarik nafas lega. Mereka kira kelinci menyeramkan yang akan mereka temui. Ternyata kelinci kecil yang manis.
"Wah manisnya... Jadi inikah yang harus kita kalahkan?" Tanya Leo sambil berjalan mendekat, hendak mengelus kepala kelinci itu.
"Jangan mendekat Leo!!" Seru Avren tiba tiba membuat Leo langsung menghentikan pergerakan nya.
Ia menatap lekat kelinci itu yang mulai bergerak aneh. Secara tiba tiba muncul tanduk seperti tanduk rusa di kepala kelinci itu, disusul dengan tubuh kelinci itu yang mulai membesar. Di punggung nya, muncul duri duri tajam berwarna hitam. Di bagian ekor nya juga keluar suri suri yang mengeluarkan kabut hitam di sekitar nya.
"Ini... Beneran monster kelinci...." Bisik Avren.
"Imutnya hilang total." Balas Leo yang di susul anggukan setuju dari Avren.
ZZUUAAAAAAA!!!!!!!
Kelinci itu mengaum keras yang membuat kedua pemuda itu dengan refleks menutupi telinga mereka, menahan kerasnya suara monster kelinci itu. Bola bola keunguan melayang di sekitar tubuh kelinci itu yang di duga akan di gunakan nya untuk menyerang Leo dan Avren.
"Menghindar!!!" Dengan cepat Leo menarik lengan Avren kebelakang, menjauhi kelinci itu.
DUAR!
DUAR!
DUAR!!
Bola bola itu di tembakkan ke arah mereka yang melamun dengan kecepatan tinggi. Beruntung, keduanya berhasil menghindar tepat pada waktunya. Jika tidak, mereka. pasti akan terkena serangan makhluk itu. Di tempat bekas serangan makhluk kelinci itu, terdapat kawah kecil yang terbentuk akibat serangan dari monster itu. Terlihat jelas seberapa kuatnya serangan itu.
"Widih ngeri..." Desis Leo.
"Gimanapun kita harus mengalahkan nya!" Ujar Avren. Leo mengangguk setuju dan mulai mempersiapkan sihir nya.
"[Sihir api: tendangan bola api]!!" Sebuah lingkaran sihir berwarna jingga pudar muncul dan mengeluarkan sebuah bola api dari sana. Dengan cepat Leo langsung menendang bola itu ke arah si kelinci.
BUK!
Bola itu tepat mengenai kepala dari kelinci hantu itu. Namun, tak berefek banyak. Kelinci itu nampak marah karena mendapat serangan tiba tiba.
Namun, serangan Leo tak cukup sampai di situ. Bola yang tadi di gunakan nya menggelinding di bawah monster kelinci itu. Leo mengepalkan tangan nya dan seketika api menjalar keluar dari bola itu dan berkobar semakin besar mengelilingi makhluk itu.
ZZZUUUAAAAAAA!!!!!
Kelinci itu mengaum kepanasan. Api berkobar semakin besar di sekitar nya, membuat beberapa bagian bulu putih makhluk itu terbakar. Namun makhluk itu langsung mengambil posisi dan melompat menjauh. Lompatan nya begitu jauh bahkan melewati Leo dan Avren.
Leo berdecak kesal. Ia mencoba mengejar kelinci itu. Namun, tanpa ia sadari dari belakang nya, sebuah bola berwarna keunguan meluncurkan cepat ke arahnya.
"Gawat!" Jaraknya sudah terlalu dekat, tak ada waktu untuk nya menghindar.
DUAR!!