
Hari yang ditunggu telah tiba. Hari dimana Zion akan menguji kemampuan para murid Hero Class dan Beast Akademi.
Ia berfikir apa duel kali ini berjalan lancar, atau justru kacau? Itulah yg Zion pikirkan.
Ia memandang daftar nama yang dipegang nya. Jujur saja, Zion sedikit bingung harus memulai dari mana. Setelah ia amati, kemampuan fisik para beast itu jelas jauh lebih unggul dibanding murid Hero Class. Tapi kemampuan sihir mereka tergolong rendah. Hanya saja bukan berarti mereka tidak bisa menggunakan sihir. Ada juga dari mereka yang memiliki sihir cukup tinggi.
Zion menghala nafas. "Menyebalkan. Tidak adakah yang bisa membantuku?"
"KAKAK!!"
"HUA!!!"
Brug!
"YANATA!!!!!!"
"Maaf kakak!!! "
Secara tiba tiba Yanata berlari dan memeluk Zion. Pemuda ber rambut hitam yang sedang tidak siap itu pun langsung jatuh tersungkur.
Para murid di sekitar nya yang melihat kejadian itu pun langsung tertawa melihat gaya mereka jatuh.
Ya, cukup lucu bagi mereka, tapi tidak bagi Zion.
"Bisakah kau turun dari atasku? " Tanya Zion pada Yanata yang masih ada di atasnya.
Gadis ber ikat dua itu pun langsung berdiri dan tersenyum garing sambil menjulurkan sedikit lidah nya.
"Ehehe.. Maaf kak. Habis nya kakak kaya stress banget gitu."
Zion mengusap kening nya. "Gimana gak stress.. Aku bingung harus masangin sama siapa aja untuk duel nanti."
Yanata mengamati daftar nama yang dipegang kakaknya itu. "Mungkin aku bisa bantu. Selain itu, ada seseorang yang mau bilang sesuatu sama kakak"
Zion memandang ke arah gadis yang berdiri di belakang Yanata. Gadis itu tampak sedikit malu dengan telinga yang tampak lesu melengkung kebawah.
"A-aku.. Aku mau minta maaf. Aku akui aku salah. Kak Zion memang hebat. Maaf sudah mengejek kak Zion cebol." Ujar Yiva sambil membungkukkan badan setelahnya.
Zion tersenyum. Baguslah, satu masalah sudah selesai. Setidaknya itu bisa mengurangi stress nya.
"Tidak apa. Aku sudah memaafkan anda, Putri Yiva." Ucap Zion.
Mendengar itu, Yiva langsung tersenyum. "Terimakasih!! Dan.. Sudah kubilang bukan? Tidak perlu memanggilku putri. Panggil saja Yiva."
"Baiklah."
Yanata dan Yiva pun tersenyum. Tapi, selanjutnya gadis beast itu memandang ke arah daftar nama yang Zion pegang. Tercatat nama nama para murid Hero Class dan Beast Akademi di sana.
"Apa kakak sudah menentukan siapa murid yang akan bertanding dulu? " Tanya Yiva.
Zion menggeleng. "Aku masih belum tau banyak tentang beast. Sejujurnya aku sendiri agak bingung." Ujar Zion apa adanya. Ya, memang ia sendiri sedang bingung sekarang.
"Kalo gitu, boleh aku bantu kak?" Tanya Yiva.
Zion mengangguk. Mana mungkin ia akan menolak bantuan di saat seperti ini bukan? Setidaknya ini akan memperingan pekerjaan nya.
"Baiklah, jadi boleh aku tau tentang kemampuan mereka?" Tanya Zion.
Yiva mengangguk. " Tentu. Aku sangat hafal dengan kemampuan mereka semua! Karena saat di Beast Akademi, aku juga ikut melatih mereka! "
Yanata terlihat kagum. " Wah!! Hebat juga! Jadi kamu bisa dibilang sudah cukup pro nih! "
Yiva melipat tangan nya di depan dada. "Sudah tentu! Yiva gitu loh!"
Zion hanya terkekeh melihat kedua anak itu yang malah mengobrol. Ingatlah jika mereka perempuan.
Setelah itu, Yiva pun menjelaskan semuanya dengan detail pada Zion mengenai kemampuan setiap muridnya. Tak lupa, pemuda bermanik ruby itu juga mencatat poin poin penting dari penjelasan Yiva.
Tak butuh waktu lama, Zion pun siap dengan semua informasi yang ada. Ia tersenyum senang dengan itu.
"Terimakasih bantuan nya Yiva! "
"Sama sama!"
"Kalo gitu, kami pergi dulu! Kakak semangat ya!" Ucap Yanata sambil menarik Yiva pergi. Zion pun hanya bisa tersenyum dan melambaikan tangan.
Senang rasanya kedua gadis itu sudah kembali akrab.
"Baiklah, saatnya serius sekarang!!"
Zion pun segera memulai duel nya.
"Baiklah, pertama tama, terimakasih karena kalian sudah mau ikut dalam duel kali ini. Tujuan dari duel kali ini adalah untuk menguji kemampuan kalian, murid Hero Class dan Beast Akademi. Dalam duel kali ini sedikit berbeda dari duel sebelumnya. Aku akan menguji kalian bukan hanya satu lawan satu, tapi bisa juga dua lawan satu, dua lawan dua dan seterusnya. Tergantung bagaimana kemampuan kalian nantinya. Aku akan memberi kalian waktu 10 menit untuk bertarung. Manfaatkan waktu sebaik mungkin."
Zion melanjutkan. "Jadi, kita mulai saja duel kali ini. Dari Hero Class, Leo Vlict dan Thory Leinsta. Melawan Sai Relhman dari Beast Akademi. Segera memasuki arena."
Leo pun langsung berjalan dengan gaya masuk ke tengah arena. Ia melambaikan tangan nya pada para penonton yang mendapat sorakan meriah dari para gadis Hero Class. Sedangkan Thory hanya berjalan santai di samping Leo.
Di sisi lain, seorang pemuda ber usia 17 tahun ber ribut coklat dengan telinga dan ekor cheetah berjalan memasuki arena. Ia mengenakan topi besar yang mirip dengan perisai berwarna coklat keemasan dengan simbol kelapa cheetah di tengah nya.
"Kenalkan, aku Leo Vlict yang keren bin tampan dan dia rekan ku, Thory Leinsta. Lebih baik, kau jangan dekat dekat atau ku sentil dari colloseum ini nanti." Ujar Leo sambil bergaya. Sedangkan Thory hanya tersenyum sambil melambaikan tangan.
"Jangan sok angkuh kau. Aku Sai Relhman. Beast paling tampan di Beast akademi. Kalian harusnya tunduk dibawah ke tampakan ku! Hahahahaha!!!" Ujar Sai tak kalah sengit.
"Oh ya? Mari lihat siapa yang akan menang!"
"Sudah jelas aku!"
"Ekhem! Bisa di mulai pertandingan nya?"
Seketika semua menoleh ke arah Zion yang berdiri di sisi arena.
"Baiklah! " Ujar ketiganya semangat.
Zion pun mengaktifkan pelindung yang membentuk kubah menutupi arena itu. Setelahnya, ia pun mengangkat tangan nya ke atas. "Bersedia... "
Leo tampak mengaktifkan sihirnya dan api langsung berkobar di tangan nya. Sedangkan Thory hanya membuat sulur panjang yang melilit di kedua tangan nya. Di sisi lain, Sai juga sudah siap dengan topi perisai yang ia pegang.
"Mulai!"
Leo mengacungkan jarinya pada Sai "Lihatlah bagaimana aku akan mengalahkan mu dengan satu serangan!!"
"Jangan sok keren anak berandal! Dirimu masih lebih rendah dari ku dan topi perisai kebanggaanku ini! " Sahut Sai.
"Diriku mungkin berandal, tapi aku tetap keren wahai om pedo! Topi rongsokan mu akan ku hancurkan dengan satu serangan!"
"Berani nya kau menghina topi buatan penempa ternama di Kerajaan!!"
"Itu hanya topi aneh yang tak lebih dari topi petani! "
Leo hanya terkekeh. Ia mengangkat tangan nya dan menunjukkan jari tengah nya pada Sei. "Maju dini."
Ditunjukin beneran tuh jari!!
Sai yang kesal pun langsung bersiap. "Lemparan topi perisai!!!"
Sai memutar dan melempar topi itu yang berputar dan meluncur ke arah Leo. Sedangkan pemuda itu langsung menghindar dengan mudah nya.
"Haha! Bahkan topi aneh mu tidak bisa mengenai k-"
BRUK
"Aduh!!"
Topi itu berputar dan meluncur mengenai kepala Leo dan membuat pemuda itu jatuh tersungkur. Sai pun langsung menangkap topi nya dan mengenakan nya kembali, bersamaan dengan setangkai bunga mawar yang entah sejak kapan ia gigit.
"KYAAAA!!!!!"
Sorakan kagum terdengar meriah dari para gadis melihat aksi memukau Sai.
"Wah!!! Topi nya hebat banget!!" Puji Thory dengan mata yang berbinar.
Kenapa yang di puji topinya? Bukan orang nya?
Sementara itu, Leo pun bangkit dari jatuhnya dan mengusap kepala nya yang masih agak pening.
"Oi! Tuh topi kagak punya SIT (Surat Izin Terbang) ya?! Terbang gak lihat lihat nabrak orang gitu!!"
"Bodoh amat! Topi topi ku! Kau saja yang tidak hati hati!"
"Amat aja gak bodoh, kenapa lo bodoh bodohin?"
"Bercanda mu garing!"
"Lah aku orang bukan keripik. Mana bisa di buat garing lah."
Zion yang melihat kejadian itu menepuk dahi nya. Yang ia kira, pertarungan sengit dan ledakan besar akibat hantaman power yang akan terjadi. Tapi kenyataannya? Sungguh bertolak belakang dari apa yang ia harapkan.
Kejadian aneh apakah ini?
Ia memandang jam saku nya. Waktu sudah hampir habis. Zion menghela nafas.
"Kalian bertiga! Bertarung dengan serius sekarang!! Waktu tersisa 2 menit lagi!" Ucap nya sambil tersenyum. Tapi sayangnya, itu justru membuat ketiga pemuda itu merinding. Sungguh mengerikan senyuman manis nya!
"Baiklah! Saatnya serius!!"
Thory langsung menumbuhkan sulur sulur tumbuhan yang ia arahkan para Sai. Namun,
"Kemari kau!!!!!!" Leo menembakkan api dari lingkaran sihir nya yang juga menghanguskan sulur sulur tumbuhan milik Thory.
"Leo!! Sulur ku kebakar!"
"Salah sendiri halangi!"
" Woy! Aku lawan kalian!!" Seru Sai sambil melemparkan topi nya yang nyaris mengenai Leo dan Thory.
Leo pun langsung kembali menyerang. Namun, mereka masih saja terus berdebat. Zion yang mendengar itu hanya bisa menghela nafas.
"Lihatlah bagaimana aku akan mengalahkan kalian wahai manusia!! "
" Aku yang akan mengalahkanmu! Om pedo! "
" Woy! Aku masih muda gak usah panggil pedo anak berandal!!"
" Yg penting aku keren. Makan nih bola api!!"
"Bola api lo ancur sama kaya muka mu!"
" Woy Thory! Lawan di depan! Kenapa malah serang aku?!"
"Leo dah bakar sulur Thory! Gantian! "
Zion menepuk dahi nya. Ia memandang ke arah jam.
"3..."
"Lawan di depan Thory!!"
"Kamu juga jangan bakar sulur ku!! "
"Oi!! Lawan kalian aku!!! "
"Diam lo om pedo!! "
"2..."
"Sekali lagi kau panggil aku pedo, akan ku hajar kau ke luar arena!!"
"Coba saja! Bahkan serangan mu meleset terus!!"
"Ngaca!! Kau sendiri sama!!
" Aku ganteng tuh. Gak kaya om pedo!! "
"1. Oke waktu habis!!! Kalian bertiga berhenti!!"
Ujar Zion akhirnya. Dan...
"HUAA!! "
BRUG!!
DUAR!!
Ledakan besar terjadi dan debu bercampur asap mengbul menutupi arena. Semua orang terlihat penasaran menunggu kebulan debu menghilang untuk melihat siapa yang menang.
Tapi, justru mereka tertawa setelah debu yang menutupi arena menghilang. Zion juga tertawa kecil melihat ketiga pemuda itu. Lain halnya dengan teman teman nya yang tertawa ngakak.
Terlihat gunung.. Eh, tiga pemuda yang saling tindih dengan Thory paling bawah dan Sai ada di pinggir atas.
"Oke, baiklah. Jadi, karena tidak ada yang dapat bertahan, jadi duel kali ini seri! " Ujar Zion.
Ya... Mau bagaimana lagi? Ketiga pemuda itu sudah pingsan dengan gaya yang wow seperti gunung begitu.
Tidak lama, beberapa orang healer pun datang dan menarik mereka keluar dari arena.
TBC