
Matahari sudah naik cukup tinggi, namun cuaca tidak terlalu panas karena tertutupi awan. Cuaca yang cocok untuk berlatih. Setidaknya itu yang dipikirkan Zion.
Di sebuah lapangan yang cukup luas, terlihat para murid Hero Class yang berbaris rapi. Mereka bertanya tanya kenapa kepala sekolah mengumpulkan mereka di sana.
Tak lama kemudian Rendrano, Reon, Zion dan seorang gadis kecil ber ikat dua pun datang dan berdiri di hadapan mereka. Hal itu jelas mengundang pertanyaan bagi murid murid Hero Class melihat kehadiran Zion di sana.
Mereka mulai penasaran dengan siapa Zion sebenarnya dan apa yang akan mereka lakukan.
Rendrano mulai menjelaskan.
"Selamat pagi murid murid, tujuan dikumpulkan nya kalian di sini, sebagai murid murid Hero Class yang memiliki sihir terkuat di Akademi, kalian akan mendapat pelatihan khusus mulai hari ini."
Ia memandang raut wajah para murid nya yang masih terlihat bingung dan penasaran.
Ia melanjutkan. "Kalian semua pasti tau serangan monster yang terjadi di Kerajaan Gold Moon. Mereka bukanlah ras monster dan iblis biasa, kemampuan mereka jauh di atas itu. Perang untuk mengalahkan mereka sudah dilakukan, tapi mereka belum sepenuhnya kalah. Dan tujuan kami mengumpulkan kalian di sini, sebagai murid murid terkuat di akademi, kami ingin meminta bantuan kalian untuk ikut serta dalam perang berikut nya melawan mereka."
Sementara Rendrano menjelaskan, terlihat raut wajah Zion yang tampak khawatir akan sesuatu. Ia terlihat menggigit bibir bawahnya untuk menyembunyikan kekhawatiran nya itu.
Namun sayang nya, Yanata yang ada di sampingnya menyadari kejanggalan itu dan menggenggam tangan sang kakak.
Zion menoleh pada adiknya itu yang tersenyum lebar. Seketika kekhawatiran nya mulai menurun. Jujur saja, ia masih memikirkan tentang suara rantai yang ia dengar di hutan tadi.
Ia memandang murid murid Hero Class di hadapan nya. Apa benar mereka bisa di andalan? Ah tidak. Dirinya tidak boleh ragu. Kemampuan mereka sangat dibutuhkan sekarang.
"Mulai hari ini, kalian akan mendapat pelatihan khusus dan dilatih langsung oleh mentor khusus." Rendrano memandang ke arah Zion.
"Kalian pasti sudah mengenalnya. Zion Ravael. Kalian akan dilatih langsung olehnya."
"AAAPPAAA??!!!"
Semua murid tampak terkejut mendengar itu.
"Yang benar saja. Kita akan dilatih anak itu?"
"Apa pak Rendrano sedang bercanda?"
"Bahkan dia lebih muda dari kita kan?"
Sudah Zion duga akan seperti ini. Tubuhnya yang kecil membuat dirinya di remehkan. Apalagi tentang masalah dan rumor tentang dirinya akan mempersulit.
Haah... Semoga tidak terlalu merepotkan...
"Sudah sudah. Zion, silahkan."
Zion mengangguk. Ia pun mulai berbicara. "Baiklah, seperti yang pak Rendrano katakan, mulai sekarang kalian akan di latih langsung denganku. Ada 5 tahap latihan yang akan ku ajarkan. Pengontrolan aliran sihir, serangan kombinasi, serangan jarak jauh, pemadatan aliran sihir dan mengendalikan sihir maksimal. Setelah selesai semua materi itu, aku akan mengadakan duel dan pemenangnya akan melawanku satu lawan satu."
Zion menjeda ucapannya melihat raut wajah murid murid Hero Class yang tampak lesu.
Sudah jelas ini akan merepotkan.
Zion pun melanjutkan. "Elemental prince. Kalian lebih unggul satu tingkat di atas lainnya, jadi kalian akan melanjutkan ke latihan berikutnya. Yanata yang akan melatih kalian."
Lagi lagi Zion memperhatikan reaksi para murid murid Hero Class. Seringaian terlihat di bibir Zion mendengar kata kata yang terucap dari mereka.
"Apa dia bercanda? Meminta anak kecil itu melatih para penyihir terkuat?"
"Mungkin semua yang di ajarkan Zion mang tidak benar.."
Zion memandang ke arah Yanata yang juga tersenyum lebar.
"Yanata, tunjukkan sayap mu."
"Baiklah!!"
Aura pink cerah terlihat keluar dari tubuh Yanata. Berkumpul di punggungnya dan membentuk sepasang sayap kupu kupu dengan corak merah yang indah. Semuanya pun terpukau melihat itu.
"Ini adalah contoh salah satu materi yang akan ku ajarkan pada kalian. pemadatan aliran sihir. Kalian ak-"
Sring!
Secara tiba tiba sebuah pedang tipis tertancap di tanah di hadapan Zion. Semua yang ada di sana terkejut melihat itu. Mereka bahkan tak melihat bagaimana Zion menangkis pedang itu. Semuanya terjadi begitu cepat.
Zion menatap tajam. Ia melihat ke arah semak semak yang terletak di sebrang lapangan. Berterimakasih lah pada sihirnya yang mempertajam penglihatan nya. Di sana ia melihat sepasang mata yang kemudian menghilang.
Zion menarik nafas. "Baiklah, ayo kita mulai"
Latihan pun di mulai. Zion mengarahkan semua murid Hero Class kecuali para pangeran elemen untuk mulai mengatur aliran sihirnya.
Seperti yang Zion duga, aliran mereka sangat kacau bahkan tidak sedikit yang meluber kemana mana sehingga Zion harus membuat jarak yang cukup jauh antar satu murid dengan murid yang lain agar aliran sihir mereka tidak saling berbenturan yang bisa berbahaya dan menimbulkan ledakan.
Zion meneliti satu per satu orang dan membantu mereka untuk lebih menstabilkannya. Sampai pandangannya terhenti pada seorang gadis ber rambut hitam bergelombang.
"Penghentian."
"Eh? Apa yang terjadi?" Gadis itu tampak terkejut saat secara tiba tiba sihirnya menghilang.
Gadis itu sedikit menggeleng. "Tidak juga. Saya anggota healer. Kami menggunakan sihir untuk menutup luka. Itu yang membuat aliran sihir ku lebih stabil. Cuma, cukup sulit untuk mengontrol kecepatan nya..."
"Tak apa. Coba latih lagi ya.. Tenangkan dirimu dan bayangkan kau sungai yang mengalir tenang."
"Baik! Terimakasih"
Zion pun kembali mengamati.
Di sisi lain, terlihat Yanata yang cukup kesulitan mengontrol latihan para pangeran elemen. Terlihat Kei dan Leo yang saling beradu sihir hingga membentuk tornado api yang besar.
Tak jauh dari mereka, Hali dan Sein justru berdebat dan saling serang. Thory yang bukannya latihan malah bermain lompat tali dengan sulur tumbuhan nya dan Ice yang sedang berlayar di alam mimpi alias tidur dengan tenang nya di tepi lapangan.
Alis Yanata berkedut melihat itu. Ia heran bagaimana Zion bisa mengontrol anak anak seperti mereka?
"Apa mereka semua waras? Aku gak habis pikir berapa sabarnya kak Zion hadapi ke liaran mereka. Atau mungkin... Ada alasan lain? "
Yanata menyeringai. Secara tiba tiba terlintas ide jahil di kepala nya. Ia pun menarik nafas dalam dalam dan...
"KAKAK KAKAAAKK!! KALO KALIAN MAU LATIHAN DENGAN SERIUS, AKU BAKAL KASIH TAU SATU HAL YANG KAK ZION SUKAI!!!"
Seketika keenam pemuda itu pun langsung berlari menghampiri Yanata dan berbaris rapi.
Lagi lagi alis Yanata berkedut. Ia tak pernah mengira ide jahilnya itu akan berjalan selancar ini. Sungguh hebat.
Sedangkan Zion yang sedang melatih murid murid yang lain merasakan hawa dingin yang menyengat kulitnya.
"Kok mendadak merinding ya?"
Namun, mereka tak menyadari jika sedaritadi ada sosok yang terus mengawasi mereka.
Zion yang merasakan hal aneh menatap semak semak yang berada di sebrang lapangan. Thory yang kebetulan melihat tatapan Zion dari jauh pun mengikuti arah tatapan nya.
Syut
Tring!
"Thory!!"
Semua menoleh pada sumber suara. Terlihat Thory yang menggunakan sulur tumbuhan nya untuk menangkap sebuah pedang tipis yang mengarah padanya.
Ia terkejut melihat sulur tumbuhan nya perlahan berubah menjadi hitam.
"Lempar pedang itu Thory!!!" Seru Zion. Dengan cepat Thory langsung melempar pedang itu yang kemudian meledak. Ledakan yang cukup besar membuat semua orang di lapangan itu terkejut.
"Thory kau baik baik saja?" Tanya Kei dan Leo bersamaan.
Thory mengangguk. "Ya aku baik baik saja."
Zion menatap khawatir. Ia tau jelas siapa pemilik pedang itu. Tapi bagaimana bisa dia menemukan dirinya? Apa mungkin ada pelacak?
Zion langsung memeriksa tubuhnya dan benar saja. Ada sebuah cincin kecil di dalam saku nya. Zion langsung menghancurkan cincin itu.
Rendrano dan Reon yang mendengar suara ledakan pun langsung menghampiri mereka.
"Ada apa ini?" Tanya Rendrano.
Yanata pun langsung menjelaskan semua kejadian itu secara rinci tanpa terlewat sedikit pun.
"Jadi begitu, kalian baik baik saja?" Tanya Rendrano.
"Kami baik. Beruntung Zion langsung menyuruhku melempar pedang itu. Terimakasih Zi-" Ujarnya sambil memandang ke arah Zion. Namun, kata katanya terpotong saat melihat ekspresi ketakutan dari wajah Zion. Tubuhnya tampak gemetar dan tangan nya menggenggam ujung jaket nya erat.
"Zion kau kenapa?" Tanya Kei. Namun Zion tak menjawab.
Leo langsung menghampiri Zion dan menepuk pipi nya. "Zion sadar! Kau kenapa?"
"T.. Tidak.. Aku gak apa..." Jawabnya. Namun sudah jelas ia berbohong. Ada sesuatu yang Zion sembunyikan.
Rendrano menghela nafas. "Baiklah, latihan cukup sampai di sini. Tapi ingat untuk mempelajarinya kembali."
"Baik! " Jawab semua murid dan pergi.
"Zion ikut aku." Ucap Rendrano. Zion pun hanya terdiam dan mengikuti nya.
Para pangeran elemen yang tidak terlalu mengerti tentang situasi ini memandang cemas Zion. Ini pertama kali nya mereka melihat Zion yang seperti itu.
"Sebaiknya kalian kembali ke asrama sekarang." Ujar Reon dan Pangeran elemen hanya bisa menurut.
Namun, Thory menghentikan langkah nya. Ia memandang ke arah serangan tadi dan melihat sepasang mata yang menatapnya tajam. Seketika tekanan sihirnya memberat dan ia kembali melanjutkan jalan nya.
TBC