
Hari yang mereka tunggu akhirnya tiba. Sebenarnya tidak terlalu di tunggu, tapi mau tidak mau harus di lakukan demi menyelamatkan kerajaan dan dunia dari kehancuran yang akan datang.
Semua persiapan di lokasi telah selesai. Bahkan semua murid Hero Class dan Beast Akademi sudah ada di sana. Penyihir terbaik kerajaan, elf, Beast dan Vampir juga ikut membantu.
Suasana malam yang gelap dan cukup menegangkan. Bulan purnama terlihat jelas di angkasa, diikuti bintang bintang yang berkelip di sekitar nya. Suhu dingin dan suara burung hantu terdengar memberi kesan yang semakin mengerikan.
Khawatir, takut, tegang tapi harus terus bertahan. Ada juga yang memang sudah mempersiapkan diri dengan mantap untuk menghadapi malam ini. Mereka harus berjuang sekuat tenaga mempertaruhkan nyawa untuk meraih kemenangan.
Para beast tipe burung terlihat terbang di langit mengawasi sekitar dan memperhatikan jika saja pasukan monster sudah mulai mendekat. Sheelda mempertajam penglihatan nya. Masih belum ada tanda tanda dari para monster itu. Ia melihat ke bawah memberi tanda pada teman teman nya.
Di bawah sana Sai berdecak kesal. Ia mengedarkan pandangan nya mencari sosok pemuda yang seharusnya juga ada di sini. Selain itu, para pangeran elemental juga tidak ada di sini. Dalam benaknya terpikir alasan Zion dan keenam pemuda itu menghilang di saat seperti ini. Tapi pasti ada alasan tersendiri bukan?
"Apa kalian sudah siap?" Sai menoleh dan mendapati seorang pemuda ber rambut putih menghampiri nya. Ia belum pernah melihat pemuda itu sebelumnya. Apa dia teman Zion?
Sai mengangguk. "Ya. Tantu saja aku siap. Akan ku buktikan kemampuan ku di sini. Dengan kekuatan sihir dan topi kehormatan ku ini, akan ku hancurkan semua pasukan iblis dan monster itu dalam sekejap."
Pemuda itu, Zuka tertawa kecil melihat gaya sok keren dari pemuda di hadapan nya. "Baiklah, mohon bantuan nya jika begitu."
Sai mengangguk mantap.
Fuuiittt!!
Siulan dari Sheelda terdengar memberi tanda jika apa yang mereka tunggu sudah tiba.
Dari kejauhan terlihat berbagai jenis monster dan iblis datang berbondong bondong menuju arah mereka. Bukan hanya iblis dan monster tingkat rendah, tapi tingkat menengah bahkan atas pun turut serta di sini.
Rendrano mulai mengaktifkan sihir nya, diikuti oleh para penyihir lainnya. "Maju!!!" Seru nya dan peperangan pun di mulai.
Semua orang berlari dan langsung meluncurkan serangan mereka pada monster monster yang mereka lihat. Para murid Hero Class dan Beast Academy saling bekerjasama untuk menyerang dan bertahan. Ada juga beberapa penyihir yang membantu menyembuhkan anggota yang terluka.
Ini menjadi kali pertama untuk semua murid Hero Class dan Beast yang mengikuti perang untuk membunuh monster sebanyak itu. Tidak ada lagi kata takut maupun ragu. Yang perlu mereka lakukan hanyalah mengerahkan semua kekuatan untuk memenangkan perang ini dan menyelamatkan kerajaan dari kehancuran.
Darah berceceran di mana mana menggenang di tanah bagaikan danau merah. Tubuh tubuh monster berserakan dengan keadaan yang tidak lagi utuh. Terlihat sangat mengerikan.
Tapi, yang menjadi inti dari peperangan itu masih mengawasi dari kejauhan. Menunggu sosok yang ia tunggu muncul untuk menghadapi nya secara langsung.
********
DUAR!!
Ledakan besar terjadi saat kedua sihir berbeda saling ber hantaman. Kebulan asap dan angin berhembus kencang akibat serangan itu. Kei mencoba mengatur nafas nya yang mulai tidak beraturan akibat kelelahan.
Tenaga dan sihir nya tidak sebesar Zion membuat nya jadi mudah kelelahan. Ia menyandarkan dirinya pada dinding akademi, membiarkan dirinya beristirahat walau sebentar dan kembali mengisi ulang tenaga nya.
Ia memandang Zion yang masih melawan makhluk spirit itu dan tetap bergerak lincah walau sudah cukup lama bertarung.
"Gila, tuh anak lebih muda dari ku tapi kemampuan nya hebat juga. Gak heran kenapa Zion bisa jadi mentor di usia nya yang semuda ini." Ucap Kei.
Sementara Zion terus mengayunkan pedang nya dan meluncurkan serangan pada Estra. Pedang itu berkilau memberi tanda jika pemuda ber manik ruby itu melapisi nya dengan sihir.
Terlihat Estra yang sudah mulai kewalahan, tapi masih belum menyerah untuk mengalahkan pemuda itu.
"[NonMagic:tanah tajam]!" Tanah tanah tajam bermunculan di bawah Estra membuat sosok itu langsung menghilang dan menghindar.
"Kau pikir serangan seperti itu bisa mengalahkan ku?" Ujar Estra remeh yang masih dalam mode spirit nya.
"Kau pikir dengan menghilang, aku tidak tahu dimana keberadaan mu?" Balas Zion. "[NonMagic:peluru tanah]"
Estra berdecak kesal. Ia kira dengan menghilang seperti itu akan membuat Zion tidak bisa melihat keberadaan nya. Tapi dugaan nya salah. Pemuda ber rambut hitam itu masih bisa merasakan sihir dari tubuh Estra. Ditambah lagi, ia mendapat bantuan dari naga yang bersemayam di dalam tubuh nya.
Kei yang melihat itu menatap kagum dengan mata yang berbinar. "Wus keren! Aku tidak tahu jika kau punya kemampuan sebesar itu Zion. Ditambah... Sihir tanah? Bukannya pengendali elemen tanah sudah menghilang ratusan tahun lalu?"
"[NonMagic:jaring baja]!!" Benang benang baja bermunculan dari lingkaran sihir yang Zion buat dan langsung membentuk jaring laba laba yang menangkap tubuh Estra.
"Keterlaluan!!" Menggunakan sabit andalan nya, Estra memotong benang benang itu dan kembali meluncurkan serangan ke arah Zion.
Pemuda itu langsung menghindar. Tangan nya terangkat ke atas dan petir menyambar tepat mengenai tubuh Estra.
"AAARRGGHHH!!!!"
Zion menatap datar tubuh sosok spirit itu. "Akan ku akhiri sekarang juga." Lingkaran sihir terbentuk menembus halilintar yang masih menyambar Estra.
"Wahai penguasa cahaya. Berikan aku kekuatan untuk menghancurkan musuh ku. [NonMagic:Pilar cahaya]!!"
Cahaya terang muncul membentuk pilar yang menyatu dengan sambaran halilintar itu. Kei membulatkan matanya melihat aksi Zion. Sungguh serangan yang dasyat.
Namun raut wajah nya seketika berubah saat merasakan tekanan sihir tak jauh dari dirinya. Diam diam Kei mendekati sumber aliran sihir itu dan mendapati Neily yang sedang mengintip dan mempersiapkan lingkaran sihir untuk menyerang Zion dari belakang.
"Gak ada kapoknya tuh anak." Kei berniat mendekati Neily saat secara tiba tiba langkah nya terhenti.
Dari belakang gadis itu, seorang pria ber iris merah mengarahkan pisau yang ia pegang telat di leher gadis itu.
"Batalkan serangan mu, atau ku bunuh kau saat ini juga." Ucapnya dengan nada suara dingin dan menekan.
Neily langsung menghilangkan lingkaran sihir yang ia pegang dan mengangkat tangan nya ke atas berharap jika dia akan selamat.
Kei yang melihat sosok yang ada di belakang Neily tersenyum lebar. Dengan segera, ia langsung menghampiri pemuda itu. "Kak Hali! Kak Hali kapan balik?"
"Baru aja." Jawab Hali. Ia memandang pada pemuda yang masih mempertahankan sihir nya untuk memusnahkan Estra. "Rupanya ini urusan yang dia maksud... " Lanjutnya.
"Tadi niatku menangkap nih anak waktu lagi bicarain Zion. Tapi malah akunya yang diserang makhluk itu. Beruntung Zion tolongin. Tapi sayangnya nih anak kabur. Untung aja ketangkep kak Hali." Ucap Kei.
"Hali!" Panggil Alex yang berlari menghampiri mereka bersama teman teman nya yang lain.
Pandangan nya seketika terpusat pada gadis yang masih di tahan oleh pemuda pengendali elemen petir itu.
"Jadi akhirnya dia tertangkap juga." Ucap Leo yang baru saja sampai.
Neily mereka coba mencari alasan "Aku.. Aku bisa jelaskan. Aku tidak bermaksud begitu!"
"Alah... Gak usah cari alasan lagi. Aku tau kok kelakuan mu. Mau sengaja celakai Zion kan? Mau alasan gimanapun gak ada gunanya!" Ujar Kei.
Sein mengangguk. "Lagipula selama ini kami juga sudah menyelidiki tentang mu. Tidak ada gunanya lagi alasan, Neily Cirva. Lebih baik kau menyerah saja!"
Neily berdecak kesal. Ia berharap bisa melepaskan diri saat ini juga. "Aku tidak akan menyerah! Aku benci Zion! Karena dia, semuanya sudah hancur!!"
"Kau sendiri yang menghancurkan nya bukan Zion!!" Bentak Kei kesal. Ingatlah emosi pemuda itu masih belum stabil.
Neily terdiam. Tak ada guna nya lagi jika melawan dengan kata kata. " Baiklah jika itu yang kalian mau."
TBC