Isekai: New Adventure In The Fantasy World

Isekai: New Adventure In The Fantasy World
38. Roommate



Seorang pemuda ber iris biru muda berlari di sebuah koridor sambil menggendong seorang pemuda yang tak sadarkan diri dengan darah mengalir dari kepala nya.


Murid murid yang melihat itu bertanya tanya apa yang terjadi. Sementara pemuda ber iris biru itu hanya mengabaikan, karena yang paling penting baginya sekarang membawa pemuda mungil itu ke ruang kesehatan.


Beberapa jam kemudian....


Tok tok tok!


Pintu di ketuk dan perlahan terbuka menampakkan sosok pemuda ber iris biru muda yang terlihat cukup kelelahan. Namun...


"PASUKAAN!!! SERBUUUUU!!!!" Komando pemuda ber iris jingga begitu Ice masuk.


"HIAAAATTT!!!!" Kedua anggota pasukan nya pun langsung melompat ke arah Ice membuat pemuda itu terjatuh karena kehilangan keseimbangan.


"Aduh!! Kalian apa apaan???!!!" Keluh Ice.


Namun...


"BOLA MERIAAAMMM!!!"


BRUK


"ADUUUHHHHHH!!!!!!!!"


Leo, pemuda ber iris jingga itu melompat layaknya bola meriam ke arah Ice yang sekarang terkapar di lantai.


Apa apaan ini? Baru masuk sudah jadi gepeng karena trio troublemakers ini yang langsung menyerang tanpa aba aba. Apa salahnya??


Ice mencoba bangkit sambil mengusap punggung nya yang nyeri.


"Kalian apa apaan sih?!" Tanya Ice lagi. Tapi ia justru mendapat tatapan tajam dari Leo, Kei dan Thory.


Tunggu, kenapa mereka memberikan tatapan seperti itu?


"Justru kami yang harus nya bertanya. Dan apa yang kau lakukan pada Zion hah?!" Bentak Leo.


"Kami melihatmu berlari menggendong Zion dalam keadaan tak sadarkan diri dan terluka. Pasti kau berbuat macam macam kan?! Jawab!!" Kini Kei juga ikut ikutan.


"Kak Ice kukira orang baik. Tapi ternyata sungguh kejam melukai orang yang lebih muda dari kita. Kejam!!!" Seru Thory dengan mata yang mulai berkaca kaca.


Oke, drama apa lagi ini? Apa mereka kira dirinya melakukan hal yang tidak tidak pada Zion? Mereka salah paham!!


Ice mencoba membela diri. "B-bukan seperti itu! Kalian salah paham!!"


Leo menodongkan jari nya. "Sudah jelas kau bersalah. Tersangka Ice Vlict, anda kami tahan!!"


"Thory! Hubungi 911!" Perintah Kei.


Thory memberi hormat. "Siap!!"


Ice bingung."Kenapa malah 911?"


"Eh salah!!! Panggil bu kantin!!" Ucap Kei.


"Kok bu kantin?"


"Beliin makanan aku laper. Sama saus sambal untuk Ice!"


"Siap!" Thory pun langsung pergi.


Sempat sempat nya pesan makanan tuh anak.


Sementara Hali dan Sein hanya tertawa melihat adegan di hadapan mereka. Sedangkan Ice yang menjadi korban malah bingung sendiri bercampur kesal.


Tok tok tok


Terdengar suara pintu di ketuk. Hali yang kebetulan berada di dekat pintu pun membuka nya.


Seorang pemuda mungil dengan iris ruby dan kepala dan lengan kanan yang di perban berdiri di depan pintu.


"Zion? Ada apa kau ke sini? Bagaimana kondisi mu? Ayo masuk dulu. " Ajak Hali.


Zion menggeleng. "Aku baik baik saja. Maaf, alasanku datang cuma untuk menyampaikan pesan pak Rendrano. Dia mengundang kalian makan malam nanti. Apa kalian ada waktu?" Tanya Zion sambil tersenyum.


"Tentu. Dengan senang hati." Jawab Hali.


"Baiklah, jika begitu kami tunggu kalian ya. Terimakasih... Maaf mengganggu." Ucap Zion sambil membungkukkan badan nya.


"Kau tidak mau masuk dulu?" Tanya Hali.


"Maaf, mungkin lain kali. Masih ada hal yang perlu ku lakukan."


"Baiklah jika begitu. Sekali lagi, terimakasih undangan nya."


"Ya, sama sama." Ucap Zion dan berjalan pergi.


Hali kembali masuk dan menutup pintu. Namun, saat berbalik, semua saudara nya sudah ada di hadapan nya.


"Siapa yang datang?" Tanya Kei.


"Zion. Pak Rendrano mengundang kita semua makan malam nanti." Ucap Hali.


Tidak biasanya. Ada apa?


Hali berjalan menuju sofa dan membiarkan saudara saudara nya yang masih terdiam. Ia membuka sebuah buku yang sebenarnya hanya untuk pengalihan. Sedangkan saudaranya yang lain masih terdiam.


Namun tak lama, suara ketukan pintu terdengar. Pemuda ber iris hijau masuk dengan senyuman lebar dan membawa bungkusan di tangan nya.


"Ini kak Kei pesanan nya!!!"


Kei menyeringai dan menerima bungkusan itu. Ia meletakkan makanan nya di meja dan saus sambal ia pegang.


Ice membatin, 'buset dah, dibeliin beneran ama ni bocah!!'


Dari belakang, Leo dan Thory memegang tangan pemuda itu. Sein memunculkan lingkaran sihir dan siap merekam, Hali yang hanya menonton dan Kei yang berjalan perlahan ke arah Ice sambil menodong kan saus sambal itu.


"Ice~ aku tau kau tidak suka pedas~mengaku sekarang atau kau akan merasakan akibatnya ~" Kei berjalan semakin mendekati Ice.


"B-baiklah ku jelaskan!!! Aku tertidur di taman, saat terbangun sekitarku sudah terbakar dan tak jauh dari sana aku melihat Zion sedang bertarung melawan Falmeball monster level 5 dan dia terluka karena terkena serangan monster itu. Jadi aku menolongnya. Tepat setelah serangan terakhir, Zion pingsan. Jadi aku membawanya ke ruang kesehatan. Itu saja." Jelas Ice.


Ketiga pemuda itu terdiam dan memandang satu sama lain seolah saling ber telepati.


Perempatan imajiner muncul di dahi Ice. "Apa kau tak percaya dengan adik mu sendiri?! Aku serius!"


Mendadak lantai di bawah Ice membeku dan es tajam bermunculan. Leo dan Thory pun bergerak menjauh dari pemuda itu.


"Sudah sudah! Lebih baik kalian bersiap atau kalian akan merasakan sengatan listrik ku." Ujar Hali dengan nada suara penuh penekanan di bagian terakhir.


Mereka yang mendengar itu pun langsung menghilang dan masuk ke kamar masing masing meninggalkan Hali di ruangan itu seorang diri.


Malamnya, Zion dan Rendrano sedang duduk di sebuah gazebo. Suasana malam yang menenangkan dengan bintang yang bersinar terang menemani sang bulan sabit. Hembusan angin sepoi sepoi yang sedikit dingin namun menenangkan membuat mereka nyaman.


"Pak Rendrano, jika boleh tahu, kenapa bapak meminta mereka ke sini?" Tanya Zion yang kebetulan duduk bersebelahan dengan Rendrano.


Pria itu menoleh dan tersenyum. "Nanti kau juga akan tahu sendiri."


Tak lama kemudian, para pengendali elemen itu datang dan duduk di kursi yang sudah di sediakan. Mereka masih berfikir sebenarnya apa yang ingin di bicarakan pak Rendrano dengan mereka.


"Sebelum itu, silahkan makan dulu. Aku akan memberitahu kalian setelahnya." Ujar Rendrano. Mereka pun menurut.


Beberapa menit kemudian, saat mereka sudah menyelesaikan makan mereka, "baiklah, langsung saja pada intinya, aku ingin Zion tinggal bersama kalian."


Hening...


Zion bertanya. "Tapi kenapa?"


"Aku melihat kalian yang cukup akrab. Kurasa tak masalah jika kalian tinggal bersama. Lagipula, bukannya lebih baik jika kau tinggal bersama mereka, Zion?" Ujar Rendrano. Zion memandang lara pengendali elemen di hadapan nya.


"Kami tidak keberatan kok." Ucap Hali.


Thory tersenyum manis dengan mata yang berbinar. "Ya! Kami juga akan senang!!"


"Baiklah kalo kalian tidak keberatan." Ucap Zion yang entah mengapa sedikit gugup.


"Tak keberatan sama sekali kok!" Ujar Leo.


Mereka membayangkan bagaimana jika Zion menjadi teman sekamar mereka. Entah apa yang mereka pikirkan hingga membuat rona merah muncul di pipi mereka.


"Um, Zion, bisa kau bawa piring kotor ini dan bersihkan?" Pinta Rendrano.


Zion mengangguk. "Baiklah!" Lalu ia mengambil semua piring kotor itu dan berlalu pergi.


Entah mengapa mendadak suasana mencekam muncul di antara mereka. Para elemental yang awalnya sedang melamun pun terkejut.


Rendrano membuka pembicaraan. "Sudah cukup menghayal nya, ada yang ingin aku tanyakan pada kalian."


"A-apa?" Tanya Kei gugup saat kepergok melamun.


"Apa ruangan kalian berantakan?" Tanya Rendrano.


Mereka saling memandang satu sama lain. Jika ditanya seperti itu, jawabannya jelas iya. Ditambah lagi trio troublemakers yang selalu membuat berantakan.


Mereka pun mengangguk.


"Ku sarankan, kalian membersihkannya sebelum Zion datang."


"Memangnya kenapa?" Tanya Sein.


"Aku tak ingin kalian mengalami hal yang sama dengan apa yang pernah ku alami."


Entah mengapa mendadak suasana menjadi mencekam. Angin dingin berhembus menambah kesan horor.


"Memangnya ada apa? Apa Zion berubah menjadi monster atau iblis?" Tanya Thory. Lainnya pun langsung menatap tajam pada pemuda itu.


Melihat tatapan saudara saudaranya, Thory menatap bingung."Kenapa?"


"Ya benar, saat itu aku baru saja sampai di apartemenku. Karena sudah lama aku tidak ke sana dan terakhir kali aku pergi mendadak karena misi, aku tak sempat membereskan nya. Saat masuk, Tiba-tiba aku merasakan hawa mencekam dan aura membunuh dari belakang ku." Ucapannya berhenti.


Dilihatnya para elemental itu yang terlihat ketakutan. Entah mengapa mereka merasa merinding seakan di ceritakan cerita horor saja.


Rendrano melanjutkan. "Saat aku berbalik ke belakang, aku melihat Zion menodongkan senjatanya padaku dan siap menembak!!!"


BRAK!


"HUUUAAAAAAAAA!!!!!" Rendrano memukul meja yang membuat mereka langsung teriak karena terkejut dan juga takut.


Apa benar sampai seperti itu. Agak meragukan jika sosok laki laki bak malaikat mungil di mata mereka itu sampai seperti itu. Namun, jika seorang Rendrano Fryfer yang mengatakan itu, sudah jelas hal itu benar terjadi.


"Jadi, lebih baik kalian membereskan nya lebih dahulu" Lanjut Rendrano. Ke enam pemuda itu pun mengangguk cepat.


Setelahnya, mereka pun kembali ke asrama. Namun, mendadak merek terdiam melihat kondisi ruangan yang tak jauh beda dengan kapal yang hancur menabrak batu atau desa yang terkena tsunami.


Berantakan...


Rak sepatu di penuhi barang barang lain, sampah berserakan di mana mana, bahkan baju dan gayung saja nyangkut di kipas angin di langit langit.


Mereka heran, bagaimana benda itu bisa di sana?


"Baiklah teman teman, jika kalian tidak ingin apa yang terjadi di cerita pak Rendrano terjadi pada kita juga, segera bersihkan tempat ini! Kei dan Sein, kalian bersihkan ruang tamu. Leo dan Ice bersihkan dapur. Aku dan Thory akan bersihkan kamar. Kalian mengerti?!" Tanya Hali sambil membagi tugas.


"Mengerti komandan!!" Seru semuanya. Dan mereka pun mulai membersihkan.


20 menit kemudian...


"Haah... Akhirnya selesai juga...." Ucap Leo sambil menyeka keringatnya.


Yap, setidaknya sudah bersih sekarang.


Tok tok tok!


Dan bersamaan dengan kedatangan Zion.


Ice membuka pintu dan Zion pun masuk. Seketika mata nya berbinar saat melihat ruangan yang sungguh bersih.


"Wah... Bersih sekali... Tak seperti yang ku bayangkan! Sepertinya aku akan betah di sini!" Ucap Zion kagum. Mereka hanya tertawa.


Mereka yang melihat senyuman Zion, "...." Itu karena kami tidak ingin kau berubah menjadi monster. Kami masih ingin hidup.


TBC