
"Cari mati ya?" Ucap Zion dengan nada ceria dan senyuman manis semanis gula. Namun, entah mengapa lainnya malah ketakutan.
Pupil mata Zion berubah menjadi pupil iblis membuat mereka semakin ketakutan. Sampai...
Tok tok tok...
Kenop pintu terbuka dan seorang pria masuk ke dalam ruangan. Ketiga orang itu menarik nafas lega atas kedatangan Rendrano.
"Oh, kau sudah sadar Zion. Bagaimana keadaanmu? Masih ada yang sakit?" Tanya Rendrano yang datang sambil membawa dua plastik berisi makanan.
"Sudah lebih baik ayah..." Jawabnya dengan senyum manis. Kali ini senyuman yang benar benar manis ditunjukkannya. Namun, ia sedikit memiringkan badan nya dan menggerakkan tangannya seperti gaya memotong kepala ke arah Alex dan lainnya.
Mereka pun sempat berpikir. Zion itu manusia atau iblis? Seremnya minta ampun!!
Yanata yang melihat kedatangan sang ayah pun langsung memeluknya. Seakan sudah berpisah berapa tahun saja.
"Apa tuh?" Tanya Yanata saat melihat apa yang dibawa sang ayah.
"Oh, ini ada makanan untuk kalian. Kalian biasanya disini juga pasti belum makan, jadi ku bawakan saja. Takut kalian ikut jadi pasien nanti." Ucapnya.
Dan tentu saja Yanata, Alex dan Ocho langsung mengambilnya.
"Hehe... Terimakasih tuan Rendrano" Ucap Alex.
"Sama sama"
Sementara lainnya enak makan, Zion terlihat sedikit murung. "Mau dong..." Pintanya.
"Eits. Kau kan lagi sakit... Orang sakit mana boleh makan ginian? Gak baik buat kesehatan" Ucap Alex dengan nada yang dibuat buat.
Zion yang mendengar itu, "...." Benar benar menyebalkan! Jadi ini balasan mereka? Sungguh kejam! Malangnya nasibku... Memangnya lucu ya mengejek ku begitu? Awas saja kalian!!!
Melihat Zion yang cemberut, bukannya berhenti, Alex justru semakin mengerjai nya. Jika dipikir pikir, memajukan bibir dan pipi yang sedikit di gembung kan itu cukup menggemaskan juga. Seperti anak kecil yang ngambek karena tidak dibelikan permen.
Alex pun mengulurkan keripik kentang ke arah Zion. "Buka mulut... Aaa..." Ucapnya. Namun, saat Zion sudah membuka mulutnya, "eits. Gak jadi ah. Kamu kan masih belum boleh makan ginian... Selamat menikmati makanan rumah sakit yang hambar~" Ledek Alex yang jelas mengundang tawa bagi yang lain.
Zion yang mulai kesal, "Ayaaaahhh... Alex tuh... Aku kan juga laper. Sedikit ya... Ayah yang baik..." Rayu nya.
"Tetap gak boleh..." Jawab Rendrano.
Namun, entah mengapa Zion justru berpikiran jika Rendrano bersekongkol dengan Alex untuk meledeknya.
Inikah yang dinamakan derita orang sakit?
Rendrano tertawa kecil. Dirinya tak pernah menyangka ternyata Zion bisa bersikap semanja itu. Sangat berbeda dengan sosok yang ia lihat di medan perang dan pertempuran malam itu. Rendrano sempat berfikir awal nya, apa Zion memiliki kepribadian ganda?
Lagi lagi ia terjebak dalam pertanyaan mengenai anak itu. Kedatangannya cukup misterius. Ditambah kekuatan yang dimilikinya. Ia cukup penasaran mengenai masa lalu dan identitas Zion yang sebenarnya.
Namun, melihat Zion yang cemberut begitu, timbul rasa kasihan juga. Terlebih lagi, anak itu baru sadar beberapa menit yang lalu.
Rendrano mengambil sebuah kotak makanan berwarna hijau dan menyerahkan nya pada Zion. "Ini untukmu. Kamu pasti lapar kan? Udahan dong ngambeknya..." Ucap Rendrano.
Namun, Zion hanya melihatnya sekilas dan memalingkan muka.
"Gak mau. Gak laper." Ucapnya cetus. Namun, sayang sekali perutnya tidak bisa diajak kerjasama.
Kruyuk...
Suara cacing kelaparan dari perutnya seketika membuatnya malu. Ia berusaha menutupi rona merah di wajahnya dengan tangannya. Tapi tentu saja itu mengundang tawa untuk lainnya.
"Hahaha!! Udah... Gak usah pura pura. Perut gak bisa bohong loh... Gak usah sok gengsi.. Atau biar aku aja yang habisin? Daripada mubazir." Ucap Alex hendak mengambil kotak itu.
Namun, Zion langsung mengambilnya lebih dulu. "Gak usah serakah! Kamu dah punya!" Ucapnya masih dengan nada kesal. Tapi malah membuat lainnya gemas.
Zion pun akhirnya makan dengan 'terpaksa' sambil menahan malu. Tapi tetap saja ia tidak mau menjawab saat ada yang menanyainya. Kecuali Rendrano.
Beberapa menit kemudian, Zion pun sudah menghabiskan makanannya. Tapi cueknya masih belum habis juga.
"Ayolah Zii... Aku minta maaf. Cuma gitu aja marah. Kaya anak kecil aja. Gemes deh."
Zion yang mendengar itu, "....." Beraninya dia menyebutnya anak kecil??!!!! Asal dia tau jika usianya sudah delapan belas tahun sekarang! Seenaknya saja memanggilnya anak kecil seperti itu!!
"Sudah... Jangan meledek Zion terus seperti itu... Ngomong ngomong, pangeran Alex, menurut kabar yang saya dengar, apa benar anda akan menjadi pengawas bersama pangeran Reon di Star Magic Academy? " Tanya Rendrano dengan bahasa formal.
"Ah, tidak perlu formal begitu tuan Rendrano... Kalo itu memang benar. Kami di sana menyamar sebagai pengawas dan petugas keamanan untuk mengamati potensi murid murid di sana. Selain akademi di kerajaan Gold Moon, itu juga termasuk akademi terbaik di daratan. Jadi, kami berencana memilih murid murid berbakat di sana untuk memperkuat kerajaan. " Jelas Alex.
Zion yang mendengar itu, "pengamat ya... Kaya agen mata mata yang bertugas mengamati nih... Kayaknya seru! Boleh aku ikut? Mungkin aku bisa bantu mengawasi atau melatih mereka. Jadi murid juga boleh!!" Tanya Zion antusias.
Semua orang di ruangan itu pun memandang orang yang baru saja berbicara itu, lalu saling berpandangan satu sama lain dan kembali memandang Zion.
Sedangkan Zion sendiri malah bingung dengan reaksi mereka. "Ada apa?"
"Umur mu itu... Masih terlalu muda. Kemampuanmu juga tidak terlalu tinggi. Jadi, menurut pendapatku... Kau latihan saja dulu." Ucap Alex yang sok menilai.
"Yah... Lagipula sebenarnya aku juga lebih kuat darimu." Ucap Zion. Namun entah mengapa rasanya ada kaca pecah yang menusuk hati Alex saat mendengar fakta itu.
Kata katanya tidak salah. Tapi kenapa menyakitkan ya?
"Begini saja, bagaimana jika kau selesaikan pelatihan mu dulu denganku, dan setelahnya aku akan merekomendasikan mu di Akademi. Bagaimana?" Tawar Rendrano.
Zion sempat berfikir. Namun akhirnya, "baiklah..."
" Jika begitu, mungkin paling cepat satu tahun kau sudah cukup umur dan bisa mengendalikan kekuatanmu. Bagaimana?"
"Ha? Satu tahun? Lama banget..." Keluh Zion.
"Gak ada yang instan." Ucap Alex.
"Baiklah..." Ucap Zion akhirnya pasrah.
Yah, bagaimana lagi? Dia masih harus belajar mengendalikan sihirnya yang bisa dibilang over power itu bukan?
TBC