
Di sebuah ruang gelap, seorang pemuda bermanik hitam tampak memandang sebuah cermin di hadapan nya. Di cermin itu menampakkan pertarungan Zion dan Zuka saat melawan monster monster yang ia kirim untuk mengalahkan kedua anak itu.
Seringaian terbentuk di wajah pemuda itu saat melihat kemampuan dan sihir kedua anak itu yang semakin meningkat.
Pandangan nya terfokus pada pemuda bermanik ruby yang kali ini tidak lagi menahan dirinya untuk menggunakan sihir.
"Seperti dugaanku. Kemampuan nya semakin meningkat." Ucap nya sambil menyeringai lebar.
Tok tok tok
Secara tiba tiba terdengar suara ketukan pintu yang membuat pemuda itu mengalihkan pandangan nya.
"Masuk." Ucap nya.
Seorang pria masuk dan berlutut di hadapan nya. "Tuan, semua persiapan telah selesai."
Pemuda itu tersenyum lebar. "Perintahkan semuanya untuk menyerang sekarang!!"
"Siap tuan!" Jawab pria itu dan perjalan pergi.
Pemuda itu tampak terkekeh. Ia kembali memandang cermin itu. "Sudah saatnya. Bersiaplah, pahlawan."
*******
"Gila... Banyak banget..." Ucap Hali. Ini benar benar penyerangan besar besaran.
Zion berdecak kesal. Ketua ras Inimicus itu benar benar sudah mengibarkan bendera perang sekarang. Star Magic Academy dalam bahaya. Mereka harus sampai di sana secepatnya. Zion berharap murid murid Hero Class dan para Beast sudah siap mengikuti perang yang sesungguhnya.
"Kita harus kembali ke akademi secepatnya!!" Ucap Zion serius.
Lainnya langsung mengangguk. Terlihat jelas raut khawatir di wajah mereka. Antara takut tapi juga khawatir akan keselamatan teman teman mereka.
Hali terdiam. Melihat momster dengan jumlah yang begitu banyak, entah mengapa timbul perasaan ragu dalam hati nya.
Apa ia mampu menghadapi mereka?
Puk
Hali tersentak saat ia merasakan ada yang menepuk pundak nya. Di sampingnya, Zion terlihat menatap Hali dengan tatapan serius. Ya, ia tidak boleh mengecewakan pemuda mungil itu bukan?
Hali menarik nafas panjang dan menghembuakan nya. "Aku siap." Ucap Hali mantap.
Zion tersenyum melihat itu. 'Kami sangat membutuhkan bantuan mu dalam perang Ini, pangeran.' batin Zion.
"Aku akan membuat portal teleportasi untuk berpindah ke sana dengan cepat." Ucap Ren dan langsung menggunakan sihir nya.
"Rio, suruh Haru meminta bantuan ras lain. Jika hanya para guru dan murid pelatihan sepertinya tidak cukup."
Rio mengangguk mengerti. "Baik!"
Rio langsung mengaktifkan sihir nya dan Haru muncul di hadapan nya.
*****
TENG TENG TENG TENG TENG!!!
"BANGUN BANGUN DARURAT!!!! KEADAAN DARURAT!! BANGUN SEMUA!!!!" Seru Kei sambil memukul mukul panci dengan sendok.
Seketika semuanya pun langsung terbangun dan keluar dari kamar mereka. Bahkan Ice yang tergolong orang yang paling sulit untuk di bangunkan pun langsung terbangun saat itu juga.
Ya... Lagipula siapa juga yang bisa tetap tidur saat mendengar teriakan sekeras toa dan bising dari panci yang dipukul sekeras keras nya?
"Ada apa Kei? Apa ada maling? Kebakaran? Tsunami? Gunung meletus? Zion sudah balik??" Tanya Leo bertubi tubi.
"Bukan, bukan itu! Ilmuan Sein, silahkan jelaskan." Kei sedikit membungkuk dan mundur mempersilahkan Sein untuk berbicara.
"Keadaan darurat teman teman! Ada ratusan monster sedang menuju ke sini! Aku sudah mengamatinya dan sepertinta monster monster itu monster tingkat menengah ke atas yang jelas tidak bisa di anggap remeh!"
"AAPPAAA???!!!!!" Seru semuanya terkejut.
Leo memandang tak percaya. "Kau jangan bercanda Sein!!"
"Apa ini perang yang Zion maksud?" Tanya Ice sambil mengingat ingat kata kata Zion.
"Ini jauh lebih banyak dari perang sebelumnya. Jadi kekuatan kita benar benar akan di uji sekarang..." Ucap Thory.
"Kau sudah laporkan ini pada pak Rendrano? " Tanya Ice.
Sein menggeleng. "Belum. Aku baru saja mengetahui nya dan memberitahu kalian."
"Jika begitu cepat beritau pak Rendrano. Aku dan lainnya akan memberitahu murid murid lain."
"Siap!" Jawab Sein lantang dan langsung pergi menuju ruangan pak Rendrano.
"Ayo kita pergi juga!" Ujar Kei. Lainnya pun mengangguk dan segera menuju gedung asrama.
Namun, di tengah perjalanan saat mereka menuju gedung asrama, tanpa sengaja Kei melihat sosok gadis yang berlari menuju belakang sekolah.
Kei sengaja melambatkan lari nya, membiarkan teman teman nya lari terlebih dahulu. Saat ia merasa teman teman nya sudah cukup jauh, ia langsung mengubah arah lari nya menuju arah gadis itu.
Kei mengendap endap memperhatikan setiap pergerakan gadis itu. Ia mencoba melihat lebih jelas siapa sebenarnya garis itu.
"Sudah kuduga Neily Cirva." Bisik nya sambil terus memperhatikan.
Langkah gadis itu terhenti di depan sebuah dinding kosong. Ia mengeluarkan sebuah kuas dari dalam saku nya dan mulai melukis lingkaran sihir di sana.
Ia tidak menyadari jika sedaritadi ada yang terus mengawasi nya.
Kei tampak penasaran dengan lingkaran sihir apa yang akan gadis itu buat. Tangan nya mengepal kuat menahan emosi. Setelah semua yang gadis itu lakukan pada Zion tentu saja ia tak bisa terus diam bukan? Ditambah lagi semua rencana keji nya yang juga membahayakan banyak orang.
"Haha. Sudah siap. Lihat saja Zion, aku akan membunuhmu. Tak akan ku biarkan kau bisa hidup dengan tenang!!" Ujar Neily kejam. Lingkaran sihir itu bersinar redup dan sosok spirit keluar dari dalam nya.
"Aku ingin kau membunuh seseorang untuk ku. Zion Ravael. Jangan sampai gagal!" Perintah Neily.
"Baiklah. Lagipula tuan ku memang sudah meminta ku untuk membunuh nya. Tak akan ku biarkan aku dikalahkan lagi." Ujar sosok spirit itu dan menghilang meninggalkan hawa dingin yang sempat membuat Neily menggigil.
"Jadi dia memiliki dendam pribadi juga pada Zion. Baguslah... Setidaknya sekarang pemuda itu tau, apa akibatnya jika ber urusan dengan Neily Cirva. Dia pikir dia siapa bisa seenaknya seperti itu. Lihat saja, aku akan membunuh mu dengan sangat kejam Zion!!"
Prok prok prok
"Wah wah... Bagus sekali Neily Cirva. Jadi kau merencanakan balas dendam sampai sejauh ini ya?"
Neily tersentak dan langsung berbalik menatap pemuda bermanik blue Sky yang sedang berjalan ke arah nya.
"K-Kei." Neily benar benar terkejut. Ia tidak tahu sejak kapan Kei ada di sana. Sejauh mana pemuda itu mendengar apa yang ia katakan. Seketika nyali nya ciut melihat ekspresi marah pemuda bermanik blue Sky itu.
"S-sedang apa kau di sini? Tidak tidak. Yang ku maksud tadi... Aku bermaksud membantu Zion." Bohong Neily.
"Oohhh membantu ya... Lalu kenapa tadi langsung diam? Lanjutin aja. Aku siap kok nunggu sampe lo selese. Ayo lanjutin aja ngejelekin Zion. Tapi setelah itu, ku jahit mulut mu sampai rapat SIALAN! "
BRAK!!
Kei memukul dinding dengan kuat sampai sampai tercetak bekas kepalan tangan di sana. Kei terkekeh mengabaikan rasa sakit di tangan nya. Emosi nya sudah di ujung tanduk.
Ada api yang membara di dalam manik biru pemuda itu. Rahang nya sudah mengeras. Nafas nya memburu. Pemuda itu masih menatap tajam dengan tangan yang mengepal kuat. Jelas amarah telah menguasai pemuda itu. Jika saja ia tak ingat sedang berhadapan dengan perempuan, Kei akan menghajar orang itu tanpa ragu.
"T-tunggu Kei... Biar ku jelasin. Tadi tuh aku cuma-"
"Bercanda? Kau kira aku orang bodoh?" Kei langsung terkekeh. "Ya, aku memang bodoh karena masih membiarkan gadis busuk seperti mu hidup."
Kei benar-benar termakan emosi sekarang. Ia telah menahan diri cukup lama untuk tidak menghabisi gadis itu, tapi sayangnya sekarang kesabaran nya sudah habis. Apa yang Neily Cirva lakukan sudah di luar batas. Ia tak akan mengambil resiko dengan membiarkan gadis itu lebih lama lagi.
"Sekarang beritahu, apa yang kau rencanakan sebenarnya?" Tanya Kei.
Neily yang sudah gemetaran semakin takut. Ia tidak pernah mengira jika orang yang selalu ceria, humoris dan hyperactive seperti Kei bisa menjadi sekejam dan semengerikan ini saat marah.
"JAWAB!" Bentak Kei membuat Neily semakin ketakutan. Melawan pun tak ada guna nya. Tingkat kemampuan pemuda itu jauh di atas nya.
"B-baiklah... Jadi...."
TBC