Isekai: New Adventure In The Fantasy World

Isekai: New Adventure In The Fantasy World
125. Mengalahkan Rasa Takut



"Mengecewakan? Kami tak selemah itu."


Mata badut itu terbelalak mendengar suara pemuda yang tadi ia kalahkan. Seharusnya pemuda itu masih tergantung di atas pohon, namun bagaimana bisa dia ada di sini sekarang?


"Jangan meremehkan kami, murid Hero Class."


Bzzzttt!!!!


"AARRGGHH!!!"


Kilatan listrik merah mengalir mengenai tubuh badut itu, membuatnya mengerang kesakitan. Di belakang nya, Hali mencoba untuk bangkit sambil menyiapkan pedang nya untuk kembali menyerang.


"B-bagaimana bisa?"


Sein terkekeh. "Kau melupakan bola cahaya yang ku gunakan untuk penerangan. Aku hanya tinggal mengendalikan nya untuk memutus tali yang mengikat ku."


Badut itu berdecak kesal. Ia benar benar lengah kali ini. Seharus nya ia pastikan agar tak ada lagi cara untuk pemuda itu melepaskan diri dari jebakan nya.


"Jadi, menyerah saja sebelum kami menghancurkan mu!" Seru Sein sambil mempersiapkan lingkaran sihir nya.


Namun, bukannya takut, justru badut itu tertawa keras. "Menyerah? Aku yang akan menghancurkan kalian!"


Badut itu melemparkan sebuah bola ke tanah yang menimbulkan ledakan bersama kabut yang kembali mengebul. Trik yang sama lagi. Namun kali ini, kabut itu dengan cepat menghilang bersamaan dengan si badut yang sudah tidak ada di sana.


Sein berdecak kesal. Itu alasan dirinya tak suka badut. Selalu membuat nya kesal dengan permainan dan trik konyol sambil menunjukkan penampilan yang mengerikan. Ia masih mengingat dengan jelas, saat kecil dirinya menangis karena melihat wajah badut yang mengerikan. Bahkan itu selalu muncul di mimpi nya sebagai mimpi buruk yang membuat trauma tersendiri bagi nya.


Dan sekarang, justru dirinya harus berhadapan dengan ketakutan nya itu dalam uji nyali. Kali ini nyali nya benar benar di uji. Entah bagaimana Zion dan Reon membuat semua ini, entah sengaja atau hanya sebuah kebetulan membuat nya harus melawan hal yang paling membuat nya takut. Tapi, pasti ada maksud tersendiri di balik tantangan ini.


Sein mengepalkan tangan nya. Tubuh nya sedikit gemetar. Ia ingin menyelesaikan nya dengan cepat, tapi ia bahkan tak tau di mana badut itu sekarang.


Puk..


Sebuah tangan mendarat di pundak Sein, membuat pemuda itu refleks menoleh. Di samping nya, Hali menatap nya serius. "Kita pasti bisa menyelesaikan ini. Kita hanya perlu mengalahkan rasa takut kita." Ujar Hali mencoba memberi semangat.


Sein masih terdiam. Ia menatap iris mata merah pemuda itu. Ia tau, Hali pun juga takut karena dia memiliki phobia pada balon. Tapi dari tatapan nya, pemuda itu dapat menutupi ketakutan nya dengan sangat baik.


Ya, benar. Sekarang bukan waktunya untuk takut. Mereka harus bisa mengalahkan rasa takut yang mereka rasakan.


Sein menarik nafas panjang dan menghembuskan nya perlahan. Kemudian ia mengangguk menanggapi ucapan Hali. Pandangan nya kini ia edarkan untuk mencari sosok badut yang sempat menghilang tadi.


"[Sihir cahaya:bola cahaya]" Lingkaran sihir kecil muncul di hadapan nya, membentuk bola cahaya yang kemudian Sein terbangkan membuat cahaya nya menerangi tempat itu.


"Dia pasti ada di sekitar sini..." Ucap Sein sedikit pelan.


Kedua nya memperhatikan sebaik mungkin setiap hal di dekat mereka. Sampai akhirnya,


Krek..


Suara ranting patah menarik perhatian Hali yang tanpa buang waktu langsung menggunakan sihir nya. "[Sihir petir:panah petir]" Kilatan dengan cepat menyambar sebuah semak semak tak jauh dari nya. Sosok badut yang tadi bersembunyi pun keluar.


"[Sihir cahaya: tembakan cahaya]!" 4 lingkaran sihir kecil terbentuk dan menembakkan laser laser cahaya yang langsung menghancurkan bola bola itu.


Di sisi lain, Hali dengan cepat berlari sambil menebaskan pedang nya.


Tring!


Benturan terjadi antara pedang petir milik Hali dengan sebuah tongkat yang badut itu munculkan. Sebagai makhluk spirit, badut itu mampu memanipulasi benda benda di sekitar nya menjadi benda yang ia inginkan menggunakan sihir.


Badut itu tersenyum melihat ekspresi Hali yang kesal karena serangan nya berhasil di tahan.


"Sekarang Sein!" Namun, belum sempat badut itu mulai menyerang, dari belakang nya, Sein muncul dengan lingkaran sihir berukuran besar dan bola cahaya di depan nya yang siap menembakkan laser ke arah badut itu.


"Ck. Aku harus kabur!" Badut itu hendak melarikan diri, namun ia sendiri masih menahan serangan Hali.


Sayangnya tak ada waktu untuk berfikir. Laser cahaya itu sudah lebih dulu mengarah pada nya, bersamaan dengan Hali yang menghindar di detik detik terakhir.


"AAAKHHH!!!" Teriak badut itu sebelum tubuh nya hancur.


Tantangan berhasil mereka selesaikan. Badut itu sudah di kalahkan. Hali menarik nafas lega. Di sisi lain, Sein langsung bersorak serang.


"Akhirnya!! Haha sudah ku duga, dia itu lemah. Yaiya lah! Mana ada yang bisa ngalahin Sein yang ganteng nya sejagat ini!" Ujar nya membanggakan diri sambil sedikit bergaya.


Hali hanya menatap datar. Sekarang saja dia mengatakan itu. Tadi, wajahnya bahkan sampai pucat saat berhadapan dengan badut itu. "Padahal kau tadi ketakutan."


Sein langsung berhenti seketika. Aib nya sudah terbongkar... "K-kau pun sama. Baiklah... Aku tetap benci badut!! Tapi... Tolong rahasiakan ini dari lainnya. Aku tak ingin ada yang tau tentang ini." Mohon Sein.


Hali mengangguk. Ia pun berpikiran sama. Akan buruk jika banyak orang yang mengetahui tentang phobia nya itu. "Kau juga. Jangan bocorkan ini pada siapapun."


Sein mengangguk setuju. "Baiklah, ayo kita keluar dari sini. Aku gak mau kulit halus ku di gigit nyamuk."


Hali yang mendengar itu justru memutar bola mata nya. Orang itu perempuan atau laki laki sih sebenarnya? "Nyamuk nyamuk... Datang lah.. Ada makanan enak di sini..."


Sein langsung menatap tajam. "Kau menyebalkan! Tega sekali malah memanggil nyamuk begitu!"


"Kita di hutan, jadi wajar lah ada nyamuk. Lagian laki harusnya gak takut di gigit nyamuk kan."


"Memang, tapi aku harus menjaga ketampanan ku."


"Cih. Buat apa memikirkan itu dasar cowok narsis."


"Bodoamat~ daripada cowok galak yang super dingin."


"Apa mau bilang hah?!"


"Nah kan bener galak."


Yah.. Walau tantangan mereka sudah selesai tapi tidak untuk perdebatan mereka.