Isekai: New Adventure In The Fantasy World

Isekai: New Adventure In The Fantasy World
81. Desa Faulla



"[Sihir api:cakram api]!!" Lingkaran sihir terbentuk begitu kata kata sihir di ucapkan. Sepasang cakram api langsung muncul dan di lemparkan oleh sang pemilik pada lawan nya. "Terima ini!!"


"Kau pikir serangan mudah seperti itu bisa mengalahkan ku?? [Sihir cahaya: tembakan cahaya]!" Sebuah tembakan laser cahaya meluncur dengan cepat dan kemudian menimbulkan ledakan besar saat kedua sihir itu saling bertemu.


DUAR!!


Kebulan asap dan angin kencang terbentuk akibat kekuatan serangan itu. Kaca kaca sampai bergetar dan kebanyakan orang terkejut dengan ledakan itu. Tak terkecuali seorang pemuda yang sedang merawat pohon bonsai nya, malah salah memotong karena terkejut mendengar ledakan itu.


"Hua!!!! Gimana ini?? Pohon ku jadi rusak!! " Jerit nya panik.


Di sisi lain, seorang pemuda bermanik blue sky yang sedang duduk bersandar di atas pohon nyaris terjatuh akibat suara ledakan itu. "Woy! Kalian mau hancurin sekolah atau apa?!" Protes nya sambil melompat turun dari atas pohon.


"Tidak lah kak Kei! Hanya menunjukkan kehebatan kami!" Ujar Leo, pemuda pengendali elemen api itu.


"Eleh. Kehebatan menghancurkan sekolah tepat nya?"


"Enggak lah! Lagian kak Kei sendiri kenapa murung gitu? Kangen sama kak Hali?" Tanya Leo. Karena tidak biasanya Kei yang hyperactive tidak bisa tenang itu malah bersikap murung.


"Kalo bilang enggak sama aja bohong. Aku lebih khawatir dengan Zion malah. Harusnya aku yang ada di sana!!"


Kedua pemuda di hadapan nya menatap datar. Namun dalam hati, seolah mereka berkata,


'Andai kau tau Kei, aku pun berpikir demikian.'


"Kalo di ingat ingat sudah 3 hari kan? Mereka beneran gak apa?" Tanya Thory yang baru saja datang membawa pot bonsai nya.


"Berdoa saja mereka pulang dengan selamat." Sein menjeda ucapan nya. Ia memandang ke arah lapangan, tempat murid murid Hero Class dan Beast sedang berlatih. "Jika Zion ada, pasti latihan akan lebih menyenangkan."


"Kesan nya pun juga berbeda. Walau kejam, dia sebenarnya sangat manis." Lanjut Leo dibalas anggukan setuju oleh lain nya.


"Hanya saja, bagaimana bisa mereka terjebak di tempat seperti itu? Kalo dipikir, ini terlalu aneh kalo disebut sebuah kebetulan." Semuanya menoleh pada sosok pemuda ber iris biru muda yang berjalan mendekati mereka dengan wajah mengantuk nya.


Jika di ingat mereka hilang saat semuanya tertidur, apalagi setelah tau penyerangan yang terjadi di Akademi saat mereka sedang berkemah, sudah jelas ini di rencanakan.


"Ada yang merencanakan semua ini?" Tanya Leo dan di balas anggukan Ice.


Kei memasang pose berfikir sambil mengingat semua serangan yang terjadi dan rencana licik gadis ber rambut pendek itu. Apa mungkin semua ini juga berkaitan? "Sama seperti penyerangan penyerangan sebelumnya. Apa mungkin Neily Cirva terlibat dalam hal ini?"


"Bukan nya itu sudah jelas? Gadis gila itu bekerjasama dengan mereka. Dia benar benar sudah terbakar api dendam hanya karena masalah sepele. Sungguh bodoh." Sein menghela nafas. Ia heran, hanya karena masalah kecil di kantin dan kekalahan Neily dalam duel justru membawa Zion tertarik dalam masalah sebesar ini. Gadis itu benar-benar nekat.


Thory terlihat memandang sang adik. "Terlebih lagi yang dia ajak kerjasama bukanlah Monster tingkat rendah. Melainkan menengah ke atas. Menurut pengamatan ku, aku juga menemukan bekas simbol sihir dan serangan di lorong gedung sekolah. Lingkaran sihir itu juga sama seperti apa yang kau temukan kan Sein?"


"Di dinding koridor ada lingkaran sihir pemanggil yang sama. Aku tidak asal menarik kesimpulan, karena diam diam aku juga sudah mengamati Neily Cirva belakangan ini. Aku menemukan kuas yang kemungkinan ia gunakan untuk melukis lingkaran sihir itu. Ditambah lagi, menurut buku yang ku baca, ini merupakan lingkaran sihir dari suatu ras yang cukup berbahaya. Kalian ingat pidato Zion sebelum memulai pelatihan Hero Class dulu?"


"Zion sempat bilang tentang ras Inimicus?"


Sein mengangguk. "Dalam sejarah, ras itu jauh lebih berbahaya dari yang kita kira. Tapi yang membuatku penasaran, bagaimana Neily bisa berhubungan dengan ras itu?"


"Zion juga sama. Bagaimana bisa ia tau sebanyak itu tentang ras Inimicus? Apa hubungan nya dengan ras itu?"


"Kalian sedang apa di sini?"


Tubuh kelima pemuda itu membeku seketika mendengar pertanyaan itu. Mereka langsung berbalik dan mendapati seorang pemuda ber iris merah di belakang mereka.


Sudah berapa lama Alex ada di sana? Apa dia mendengar pembicaraan mereka tadi?


"Ah kami hanya.. Sedang membicarakan Zion dan kak Hali. Sudah tiga hari mereka belum kembali jadi kami khawatir. Khususnya Kei nih kangen sama abang nya." Ucap Leo sambil menepuk nepuk pundak sobat nya itu.


"Dih, siapa juga yang kangen. Aku kesal lah karena mereka berduaan."


Alex terlihat menatap lekat iris blue sky pemuda itu. Sebelum kemudian menghela nafas. "Baiklah, dan cepat kembali ke lapangan. Kalian juga harus latihan bukan? Apa kalian mau membuat Zion kecewa saat mengetahui roommate nya jadi pemalas saat dia pergi?"


Kelima nya langsung menggeleng cepat.


"Tentu saja tidak!"


Saat itu juga, mereka langsung berlari menuju lapangan.


"Hey Kei! Kau serius gak kangen sama kakak mu tuh?" Tanya Ice memastikan.


Pemuda bermanik biru itu membalik tubuhnya, berlari mundur sambil memasang pose berfikir. "Kangen. Kangen jahilin. Aku sudah menyiapkan banyak jebakan dan rencana untuk menjebak nya nanti!"


Bukan itu yang Ice maksud....


*******


"Hatchim!"


"Kau kenapa Hali?" Tanya Zion pada Hali yang baru saja bersin.


Pemuda ber manuk ruby itu menggeleng. "Tidak. Hanya rasanya agak aneh saja."


"Mungkin sedang ada yang membicarakan mu?" Ujar Zuka.


"Masa sih?"


"Mungkin saja kan?"


"Ngomong ngomong sudah lama kita jalan mau kemana sih?"


Ketiga pemuda di depan nya saling memandang, lalu mengalihkan pandangan nya pada Rio tang memimpin di depan.


Namun langkah nya terhenti dan berbalik sambil memasang senyuman dan menggaruk belakang kepala nya yang tak gatal. "Aku sendiri gak tau. Aku asal kabur aja tadi."


Krik krik..


Seekor jangkrik numpang lewat di waktu yang tepat.


"KENAPA GAK KASIH TAU DARI TADI???!!!!" Ketiga nya berseru emosi. Mereka mira Rio menunjukkan jalan ke suatu tempat, tapi ternyata dirinya sendiri pun tidak tau kemana mereka pergi.


Ya, kini keempat pemuda itu sedang berjalan tak tentu arah akibat kabur dari kenalan goblin yang mengepung mereka semalaman. Zion menggunakan sihir nya untuk membuat ledakan, dan saat itu mereka memutuskan untuk kabur. Hemat tenaga untuk kedepan nya.


Zuka menghela nafas. Ia sendiri sudah cukup lelah sebenarnya. "Lalu sekarang bagaimana? Kita masih jadi buronan loh. Mereka bisa datang dari manapun."


'Nero... Bisa bantu kami?' Zion akhirnya bertanya pada makhluk yang kemungkinan lebih dapat dipercaya.


'Ada desa kecil tidak jauh dari sini. Desa Faulla. Kalian bisa menginap sementara di desa itu. Setahuku warga di sana cukup ramah.'


'Baiklah terimakasih.'


"Ada desa tidak jauh dari sini. Bagaikan jika kita ke sana?" Usul Zion.


"Ide bagus. Setidaknya ada tempat untuk beristirahat." Sahut Hali setuju.


"Apa nama desa nya?" Tanya Zuka.


"Desa Faulla. Menurut informasi yang ku dapatkan, penduduk di sana cukup ramah."


"Ah desa Faulla... Aku pernah mendengar dari ayahku. Selain warna nya yang ramah dan menerima ras lain tinggal di desa mereka, setiap tahun juga ada tradisi keramat di desa itu."


"Gak berhubungan sama hantu kan?"


Semuanya langsung memandang Zion.


Sungguh pemuda itu benar-benar takut hantu.


"Hantu yang gak nyeremin sih... Festival panen dan persembahan untuk arwah leluhur gitu."


"Setahu ku, pengunjung dari luar tidak boleh pergi sebelum festival selesai kalo datang tepat pada waktu festival."


"Yang artinya kita harus menginap dua hari di sana." Sambung Hali disusul anggukan Zuka.


"Kayaknya gak masalah. Kalo mereka datang, kita bisa basmi kan?"


Lainnya pun setuju. Namun, mereka tidak menyadari jika ada yang sedang mengawasi mereka sedari tadi.


Sosok itu mengepalkan tangan nya kesal tapi juga menahan diri agar keberadaan nya tidak di ketahui orang lain.


******


Suasana desa yang asri dengan perkebunan buah dan sayur yang sangat subur, ditambah para penduduk yang ramah dan bersahabat membuat para pengunjung merasa nyaman di desa itu.


"Desa yang cukup indah." Ujar Zuka sambil memandang perkebunan di sana.


"Ya... Mengingatkan ku dengan desa tempat tinggal pak Rendrano dan Yanata." Ucap Zion sambil mengingat ingat. Sudah lama ia tidak kembali ke tempat itu. Tempat pertama yang ia sebut sebagai rumah setelah sampai di dunia ini.


"Ah, itu ada penginapan. Bagaimana jika kita menginap di sana saja selama di desa ini?" Usul Rio sambil menunjuk ke arah sebuah penginapan yang cukup besar.


"Boleh juga. Setelah ini aku mau belanja ah... Bisa juga kan untuk persediaan kita di perjalanan berikutnya." Sambung Zion sambil tersenyum.


Hali dan Zuka yang mendengar itu tersenyum kikuk.


'Jiwa emak emak nya sudah kembali.' batin keduanya bersamaan.


Keempat pemuda itu berjalan memasuki lobi penginapan, saat seorang wanita secara tiba tiba berjalan menghampiri mereka.


"Permisi, apa anda yang bernama Rio?" Tanya wanita itu.


Rio sedikit terkejut, "iya. Ada apa?"


Wanita itu tersenyum dan menyerahkan sebuah kunci pada Rio. "Kamar atas nama Rio ada di lantai dua. Silahkan"


Rio yang mendengar itu justru semakin kebingungan. Sejak kapan? Dirinya saja baru datang ke desa itu. "Maaf, tapi aku belum-"


"Aku yang sudah memesan nya."


Rio membulatkan mata mendengar suara itu. Ia berbalik dan mendapati seorang pemuda dengan manik yang sama dengan nya menatap tajam ke arah dirinya.


"Kalian lama banget sih!"


TBC