
Seusai dari rungan Dokter Stella, Arthur berjalan ke arah bagian administrasi, dan mengurus semuanya.
Tak berselang lama, Mona yang kondisinya sudah lebih baik dipindahkan ke ruang rawat VIP yang sudah dipesan oleh Arthur sebelumnya.
Kedua perawat tadi membantu Mona untuk berganti pakaian pasien yang lebih hangat, dari pada dress yang dipakainya saat datang ke rumah sakit.
Setelah memastikan semuanya beres, kedua perawat itu pun kemudian pergi keluar, meninggalkan Mona agar beristirahat.
Saat ini, Mona duduk sambil meluruskan kakinya, dan bersandar pada bagian ranjang yang bisa dinaikkan sesuai keinginan.
wajahnya menerawang menatap ke arah jendela, yang memperlihatkan pemandangan langit hitam di malam hari yang tak berbintang. Ciri khas langit di kota-kota besar yang sangat membosankan.
Apa dia sudah tau? Apa dia marah? Apa dia menolak anak ini? batin Mona yang menerka-nerka bagaimana kondisi Arthur saat ini.
Tepat saat itu, pria yang sedari tadi berada di benaknya, muncul dari balik pintu. Mona pun menoleh dan menatap pria itu lekat-lekat, ingin melihat ekspresi apa yang terlukis di wajahnya.
Namun, Arthur diam, hingga membuat Mona memalingkan kembali wajahnya.
Sepertinya, dia memang tidak akan mau menerima anak ini, batin Mona.
Meskipun dirinya sudah mempersiapkan kemungkinan itu, akan tetapi hatinya tetap saja sakit saat melihat ekspresi datar di wajah Arthur, saat telah mengetahui keberadaan anak dalam kandungan Mona.
Wanita itu menggigit bibir bawahnya, seiring dengan Arthur yang berjalan semakin mendekat padanya.
Kini, Arthur telah berdiri tepat di hadapan wanita es itu. Dia sengaja menghalangi pandangan Mona, yang terus saja melihat ke arah luar melalui jendela.
Namun, wanita itu justru kembali memalingkan pandangannya dan lebih memilih menunduk.
Arthur duduk di samping Mona. Dia meraih tangan wanita itu dan menggenggamnya.
"Apa… apa dia milikku?" tanya Arthur yang menatap lekat wajah ratu esnya.
Mona masih menunduk.
"Kalau aku bilang 'iya', apa kamu akan percaya?" Mona balas bertanya.
"Mona, jawab aku!" seru Arthur sedikit meninggikan nada bicaranya.
Mona pun menoleh dan balik menatap Arthur.
"Ya, ini milik mu. Sekarang kau mau apa?" jawab Mona dengan mata yang telah berkaca-kaca.
"Kenapa kau tak pernah bilang padaku? Apa setidak percaya itu kamu padaku, Mona?" tanya Arthur kecewa.
Melihat ekspresi Arthur yang menunjukkan sebaliknya, Mona pun kembali menunduk. Awalnya dia mengira, jika pria itu akan langsung memintanya untuk ab*rsi atau tak mengakui anak itu. Namun, Arthur justru terlihat kecewa saat dirinya tak memberitahukan keberadaan anak yang ada dalam kandungannya tersebut.
"Mona, jawab aku. Apa kamu begitu tidak percayanya padaku, hem?" tanya Arthur yang ikut menunduk, dengan menumpukan keningnya pada genggaman tangan mereka.
"A… aku… aku hanya menyiapkan diri untuk menerima kemungkinan buruknya. Dari awal, aku tak berharap kau akan menerima dia, mengingat aku yang selama ini selalu bersama pria asing," ucap Mona.
Arthur mengangkat kepalanya. Dia menatap lekat wajah wanita esnya, dan menyentuh lembut pipi Mona.
"Apa kau yakin ini milikku?" tanya Arthur sekali lagi.
"Hanya kakak yang selalu lupa memakai pengaman, saat bermain denganku," tutur Mona.
Arthur nampak terkekeh mendengar penuturan Mona, yang membuat wanita itu pun mengangkat wajahnya dan menatap bingung ke arah pria besarnya.
"Mona, aku akan selalu percaya dengan apa yang kamu ucapkan. Jadi, mari kita rawat anak ini sama-sama yah," ajak Arthur.
Bagai oase di padang tandus, hati Mona begitu terenyuh melihat Arthur yang begitu tulus mau menerima anak dalam kandungannya, dan mengakui anak itu sebagai miliknya.
Matanya berkaca-kaca, dan setetes bulir bening meluncur di pipi mulus wanita itu.
Arthur pun seketika itu mendekap Mona, dan membawanya ke dalam pelukan hangat si pria besar.
"Terimakasih, sudah mengandung anakku, Mona," ucap Arthur dengan sebuah kecupan di puncak kepala Mona.
Mona tak menyahut. Dia hanya mengangguk pelan dalam dekapan Arthur.
...🍂🍂🍂🍂🍂...
Beberapa hari kemudian, Mona sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Banyak pesan-pesan yang diberikan oleh dokter kepada kedua orang itu, terlebih untuk Arthur agar tidak terlalu memaksakan kehendaknya kepada Mona.
"Nyonya, sebaiknya jika Anda mendapatkan pemaksaan dari suami Anda, Anda bisa segera hubungi nomor ini," ucap sang dokter sambil menyerahkan sebuah kartu nama bertuliskan Komnas perlindungan Anak dan Perempuan.
Sedangkan Mona, dia justru terkekeh kecil melihat ekspresi Arthur yang menurutnya menggemaskan.
"Terimakasih, Dok. Saya janji akan mengingat pesan dokter," ucap Mona sambil menahan tawanya.
"Sudahkan, Dok? Kalau begitu, saya akan membawa istri saya pulang untuk istirahat," sahut Arthur yang tak mau kembali disudutkan oleh Dokter Stella.
"Baiklah. Jangan lupa untuk memeriksakan kandungan, minimal sebulan sekali. Atau jika ada keluhan, segera bawa istri Anda ke rumah sakit," pesan sang doker.
"Baik, Dok." Mona menyahut dan berjabat tangan dengan Dokter Stella.
Setelah itu, mereka pun segera menuju ke apartemen The Royal Blossom. Sepanjang perjalanan, Arthur terus saja meletakkan tangannya di atas perut rata Mona, sambil sesekali mengusapnya.
Hati Mona pun menghangat saat melihat prianya begitu menyayangi anak yang masih belum berbentuk sempurna itu.
"Apa kita mau makan dulu?" tawar Arthur.
"Ehm… tidak ah. Aku mau langsung pulang saja," jawab Mona.
"Baik, Nyonya." Arthur pun mengiyakan permintaan Mona, dan segera menuju ke apartemen.
Terimakasih, karena sudah mau menerima anak ini, Kak, batin Mona yang tersenyum hangat ke arah prianya itu.
Sesampainya di Royal Rose Tower, Arthur mengangkat tubuh Mona saat keluar dari mobil, dan membawanya masuk ke dalam lift. Mona pun melingkarkan lengannya di leher Arthur, dan membenamkan wajahnya di dada pria tersebut.
"Kak, aku bisa jalan sendiri," ucap Mona yang menyembunyikan wajahnya di dada Arthur, karena malu.
"Harusnya tadi kita beli kursi roda saja, biar kamu tak usah capek-capek jalan, Mona." Arthur sama sekali tak menghiraukan wanitanya yang saat itu tengah merasa sangat malu.
Beberapa orang yang berada di dalam lift pun memandangi mereka dengan tatapan aneh. Namun, Arthur sama sekali tak peduli. Justru Mona yang semakin dalam menyembunyikan wajahnya di dada Arthur.
"Maaf, istri saya baru saja keluar dari rumah sakit. Kandungannya lemah," ucap Arthur yang berusaha menepis pandangan aneh para warga apartemen.
"Oh… perhatian sekali Anda, Tuan." salah seorang penghuni memuji sikap Arthur.
Hal ini sontak membuat pria itu merasa bangga dengan dirinya sendiri. Berbeda dengan Mona yang justru kesal dengan sikap narsis Arthur.
Apa dia tak tau kalau aku ini malu sekali sekarang? Malah dengan percaya dirinya bilang begitu tanpa ditanya. Pasti biar dipuji, gerutu Mona dalam hati.
Sesampainya di dalam apartemen, Arthur meletakkan Mona di atas tempat tidur.
"Kamu berbaringlah," seru Arthur.
"Tapi aku malas, Kak. Masa di rumah sakit bed rest, di sini juga begitu lagi. Kan bosan," rengek Mona.
"Eh… calon ibu tidak boleh terlalu banyak mengeluh. Tidak baik untuk baby-nya," ucap Arthur sambil mengusap perut Mona yang masih nampak rata
"Ehm… Kakak…," rengek Mona lagi.
"Apa?" sahut Arthur gemas.
"Tidak mau tidur. Duduk saja yah," pinta Mona dengan manjanya.
Hah… kalau tidak sedang seperti ini, sudah ku terkam kau, Mona, batin Arthur.
"Ya sudah. Kamu duduk dulu di sini, aku mau ambil barang-barang di mobil sebentar," ucap Arthur.
Pria itu lalu mengecup kening Mona sekilas, dan berjalan keluar meninggalkannya.
Saat Arthur meninggalkan unitnya, nampak seseorang muncul dari balik dinding yang ada di ujung lorong, yang mengarah ke pintu darurat.
Sosok itu nampak memperhatikan unit di mana Mona dan Arthur tinggal bersama.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih