DESIRE

DESIRE
Bab 44



Elliott melihat Mona yang bersikap sangat aneh, akhirnya menelepon Madame Queen, sebagai bentuk tanggung jawabnya untuk memantau setiap kondisi yang terjadi di tempat hiburan tersebut, termasuk kondisi para ladies-nya.


"Bos, Mona terlihat aneh. Dia datang lagi kemari dengan pakaian yang sangat jauh dari imagenya selama ini, dan sekarang dia sedang mabuk-mabukan di bar ku," tutur Elliott lewat sambungan telepon di dalam ruangan, di balik barnya.


"Apa sekarang dia masih di tempatmu?" tanya Madame Queen dari balik telepon.


"Masih, Bos. Dia sedang menghabiskan sebotol whiskey seorang diri," ucap Elliott.


"Apa?! Apa dia mau bunuh diri? Toleransi alkoholnya tidak setinggi itu. Dasar Bo*doh. Cepat ambil sisa minuman itu sebelum dia menghabiskan semua isinya," perintah Madame Queen yang terkejut dengan penuturan Elliott.


"Baik, Bos." Elliott pun mengakhiri sambungan teleponnya dan kembali ke dalam bar.


Ia melihat botol yang tengah dipegangi Mona, dengan isinya yang masih tersisa seperempat bagian. Ia pun lalu berjalan mendekati wanita yang kini telah mabuk itu dan sedang menundukkan wajahnya, sambil sesekali terdengar suara cegukan dari mulutnya.


Elliott perlahan mengambil botol yang masih digenggam Mona, dan menjauhkan benda tersebut darinya.


"Hei… di... ma... na... mi... nu... man... ku... hah?" tanyanya yang terkesan mengeja, layaknya orang mabuk yang tengah berbicara.


"Kau sudah sangat mabuk, Mon. Sebaiknya sekarang kau pulang saja. Aku akan pesankan taksi untuk mu," bujuk Elliott.


"Tidak... Aku tidak mau pulang. Aku masih ingin di sini!" bentak Mona.


Elliott pun dibuat geleng-geleng kepala, melihat kelakuan aneh teman kerjanya itu.


Dari arah belakang, tepatnya di depan lorong cinta, Madame Queen terus memperhatikan Mona yang masih saja meracau di depan bar milik Elliott, dengan mengenakan pakaian piyama lucunya.


Wanita tua itu pun lalu menggulirkan layar ponselnya dan mencoba menghubungi seseorang.


"Halo, Tuan. Apa yang sudah Anda lakukan kepada ladies saya, Mona? Kenapa dia di jam seluruh ini, mabuk di tempat saya dengan pakaian aneh seperti itu. Anda tidak melakukan kekerasan sek*sual kepadanya bukan?" cecar Madame Queen.


Wanita tua itu nampak tengah mendengarkan penjelasan dari ujung sambungan telepon dengan seksama.


"Baiklah, aku akui dia memang keras kepala. Tapi, tolong bawa dia pergi dari sini, karena bagaimana pun, ini masih jadi tanggung jawab Anda," perintah Madame Queen.


Dia pun lalu memutus sambungan teleponnya.


Madame Queen kembali memperhatikan tingkah Mona yang sudah sangat mabuk itu, yang terus meracau tak jelas di depan sana, dan membuat para pengunjung memandang aneh serta menjauhi dirinya.


Sosok cantik, seksi nan angkuh itu sama sekali tak terlihat saat itu pada diri Mona. Seluruh tubuhnya tertutup oleh pakaian yang sengaja disiapkan oleh Arthur untuknya.


Beberapa saat kemudian, Arthur datang, tepat saat Mona mulai beranjak dari tempat ia duduk dan hendak berjalan entah ke mana.


Wanita tersebut terlihat sempoyongan karena dia sudah benar-benar mabuk saat itu. Kakinya serasa tak menginjak tanah, hingga beberapa kali nyaris terjatuh.


HAP!


Seorang pria menangkap pinggangnya, dan membuat Mona terdorong ke depan, menempel pada tubuh pria tersebut.


"Nona, kau tidak apa-apa?" tanyanya.


Saat itu lah Arthur masuk dan melihat wanita booking-annya sudah berada di dalam pelukan pria lain, dan nampak kacau sambil terus saja meracau tak jelas.


Ia dengan cepat meraih lengan Mona dan menjauhkannya dari pria itu.


"Maaf, dia istri saya." Arthur pun segera mengangkat Mona di pundak.


Wanita itu memekik karena terkejut merasa dirinya terbang melayang, efek dari alkohol yang mereka minum.


Ia menendang-nendang udara dan memukuli punggung pria itu, yang terus berjalan menuju sebuah kamar di lorong cinta Heaven valley.


Setelah masuk ke dalam salah satunya, Arthur segera menendang pintu hingga menutup namun tak sepenuhnya.


"Pertengkaran suami istri? Sungguh menggelikan," gumam pria asing tadi, sembari memandang ke arah lorong di mana pasangan tersebut telah menghilang.


"Gerry! Hei, Gerry. Sedang apa kau di sana? Kemarilah, cepat!" panggil seorang pengunjung lain kepada pria tersebut.


"Ya, aku datang." Pria bernama Gerald Holes itu pun segera berlalu dan menghampiri teman-temannya.


...❄❄❄❄❄...


Sementara itu, Elliott dan Madame Queen yang melihat aksi Arthur, pun mengikuti mereka dan menunggu di balik pintu.


"Kenapa dengan mereka, Bos?" tanya Elliott yang sangat penasaran dengan perubahan sikap Mona yang biasanya selalu tenang, akan tetapi kini seperti air di telaga yang terusik dan menimbulkan riak.


Bisa saja mereka ikut masuk dan turut menenangkan Mona, akan tetapi tak etis jika mengganggu privasi Arthur, yang notabennya adalah tamu mereka, bahkan seorang VVIP.


Sementara Elliott dan Madame Queen menunggu di luar, Mona terus menyerang Arthur, hingga akhirnya pria itu menurunkan tubuh wanita tersebut ke atas tempat tidur, akan tetapi tidak sekasar sebelumnya ketika memberi Mona hukuman.


Wanita mabuk itu nampak bernafas dengan terengah-engah, akibat terus meronta di balik punggung Arthur.


"Hei... siapa kau, hah? Berani-beraninya kau berbuat seperti ini padaku. Memangnya, kau memiliki duit berapa?" racau Mona yang mencoba bangkit, dan duduk bersila di atas kasur.


Arthur mendekat dan duduk di bibir ranjang, tepat di samping Mona.


Wanita itu menunduk, dengan suara cegukan yang masih sering terdengar dari mulutnya. Saat ia merasakan kehadiran seseorang di sampingnya, ia pun lalu mengangkat wajahnya dan menoleh ke samping, menatap lekat wajah Arthur.


Mona memicingkan kedua netranya, dan berusaha melihat dengan jelas siapa yang ada di sana.


"Kenapa kau begitu mirip dengan orang brengs*k itu?" tanya Mona.


Dia kemudian mencondongkan wajahnya, dan melihat lebih dekat pria di hadapannya.


"Kau benar-benar mirip dengan dia? Kalian pasti kembar yang terbuang. Hahaha... satu satu saja membuat ku kesal, apa lagi dua." Mona tergelak dan terus berbicara tak jelas.


Arthur hanya diam, ketika pipinya ditepuk-tepuk oleh Mona, dan hanya melihat wanita itu dengan tatapan sendu.


Dia seakan tahu, seberapa sakit hati wanita di hadapannya itu, saat dulu dia dan keluarganya dengan tega meninggalkan dirinya yang dalam keadaan sekarat.


"Eh… apa kau tahu, aku sangat muak melihat muka mu. Muka mu hanya menginginkan ku pada masa lalu ku yang beraaaaaat sekali, hehehe... hek," Mona kembali cegukan di sela-sela racaunya.


"Kembaran mu itu, sudah sudah meninggalkan ku begitu saja saat aku sedang sekarat. Padahal, aku secara suka rela menjadi tameng dan tertusuk pisau, hanya demi menolong dia. Apa kau tahu semua itu, hah? Jahat sekali bukan?"


"Aku… aku menjadi pel*cur seperti ini pun juga karena dia. KARENA PRIA BRENGS*K ITU," pekik Mona di ujung kalimatnya.


Arthur semakin memandang getir ke arah Mona. Lingkar matanya mulai memerah, seiring dengan genangan yang mulai timbul di pelupuk netranya.


Tangannya terangkat, dan terulur menangkup telinga Mona, dengan ibu jari yang mengusap lembut pelipis wanita itu.


"Apa kamu semenderita itu saat kami pergi, Lisa?" gumam Arthur lirih.


Mona mendadak seperti tersadar dari mabuknya, kala mendengar nama lamanya disebut. Dia bahkan sampai menatap tajam ke arah Arthur, yang telah berkaca-kaca menatapnya.


"KENAPA KAU BISA DI SINI, HAH! PERGI! PERGI KAU, BRENG*SEK! KAU SUDAH JAHAT KEPADAKU! KAU JAHAT!" teriak Mona yang mencoba menghindar dari Arthur.


Dia mendadak histeris, namun masih dipengaruhi oleh alko*hol yang ia minum sebelumnya.


Ardiaz meraih tubuh Mona yang mencoba menghindarinya, dan mendekapnya erat dalam pelukannya.


"PERGI KAU, BRENG*SEK! KAU JAHAT! JAHAT!!" teriak Mona yang semakin kencang, namun Arthur tak kalah erat mendekap wanita itu.


Mona terus memukul punggung Arthur, namun tak sedikit pun pria itu melonggarkan pelukannya.


"Maaf... Maaf... Maaf...," Arthur terus merapal kata maaf sembari menerima setiap pukulan dan makian dari Mona.


Air mata lolos dan luruh ke pipi pria itu.


sebuah adegan yang sangat memilukan tersebut pun disaksikan oleh Madame Queen dan juga Elliott, yang masih setia berdiri di depan pintu kamar, yang menjadi saksi bisa luapan emosi seorang Mona.


Elliott memegangi keningnya seraya berkacak pinggang, sambil berjalan mondar mandir tak jelas di sana.


Pria itu terlihat begitu terkejut kala melihat betapa histerisnya Mona saat ini. Ia seakan tau, bagaimana beratnya hidup yang sudah dijalani wanita yang selalu tampil dingin dan datar itu.


Jadi dia orangnya, Josh? Kenapa kau tega membuka luka lama Mona yang sudah susah payah dibalutnya rapat-rapat? batin Madame Queen.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih