DESIRE

DESIRE
Bab 76



Keesokan harinya, Arthur tengah menunggu seseorang di ruangannya.


"Jam berapa dia akan datang, Will?" tanya Arthur kepada sang asisten.


"Kita sudah membuat janji dengannya jam sebelas, Tuan. Ini baru setengah sepuluh, masih ada waktu satu jam," sahut William.


"Baiklah. Kau siapkan semua yang diperlukan untuk penandatanganan kerja sama ini dengan arsitek itu. Aku sangat menyukai rancangannya. Terlihat simple tetapi berkelas. Sangat cocok untuk kalangan atas eropa," puji Arthur.


"Benar, Tuan. Saya pun sependapat. Ku dengar, dia seorang yang masih sangat muda, akan tetapi begitu terampil di bidangnya. Sudah banyak perusahaan besar yang memakai rancangannya," timpal William menguatkan argumen bosnya.


"Hem... aku sangat menantikan semua rencanaku terlaksana dengan baik hingga akhir," seru Arthur dengan senyum optimisnya.


Pria itu kembali disibukkan dengan setumpuk pekerjaan, sambil menunggu tamunya datang.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Di tempat lain,


Mona yang baru saja bangun setelah malam panjangnya bersama Arthur, kini bangkit dan duduk bersandar di head board.


"Ehm... jam berapa ini?" gumamnya sambil meraih ponsel yang berada di atas nakas.


Ia mengusap wajah, serta menaikkan rambut yang menutupi wajahnya.


"Sudah lumayan siang. Pantas aku ditinggal lagi," lanjutnya.


Ia memijat sedikit tengkuknya yang terasa pegal, dan melakukan sedikit peregangan. Tiba-tiba saja, dia teringat akan sesuatu.


"Benar, ini sudah tanggal berapa?" gumamnya yang kemudian membuka catatan bulanannya di dalam ponsel.


"Ehm... sudah lewat dua hari. Mungkin kali ini agak telat," lanjutnya.


Ia pun berjalan menuju lemari kecil yang ada di bawah meja riasnya, dengan masih bertelanj*ng. Mona berjongkok di depan sana, dan mencari sesuatu.


Ia nampak melihat-lihat namun sepertinya, yang dicari tak ada di dalam sana.


"Benar... aku lupa kalau ini bukan apartemen ku. Apa aku ke sebelah saja? Tapi, aku belum berani ke sana," ucapnya pada diri sendiri.


Mona pun kemudian memilih untuk mandi, dan membersihkan diri.


Setelah berganti pakaian, dia pun duduk di sofa sambil mengetikkan sesuatu di atas layar ponselnya.


[Kak, aku ijin ke swalayan sebentar yah?] pesan Mona.


Sejak peristiwa penculikan hingga kecelakaan yang menimpa Joshua, Arthur sangat mewanti-wanti agar Mona tetap di dalam apartemen, dan boleh pergi hanya jika bersama dengannya atau atas seijin darinya.


Mona yang paham dengan situasinya pun memilih untuk menurut. Karena semua itu memang sudah terjadi sejak lama, dan yang terparah adalah kecelakaan mobil hari itu.


Tak berapa lama, Arthur pun mengirim pesan balasan.


Mau beli apa memangnya? Bukankah di apartemen semua sudah ada, jawab Arthur.


[Ada satu benda yang tak ada, dan Kakak tak mungkin bisa membelinya] balas Mona.


[Jangan meremehkan ku. Memang benda apa yang ada di swalayan dan aku tak bisa membelinya] tanya Arthur.


[Benarkah Kakak mau membelikannya. Mustahil. Kakak pasti tidak bisa] goda Mona.


[Pasti bisa. Kalo perlu ku borong semuanya. Cepat katakan apa?] desak Arthur.


[Pembalut wanita yang panjangnya empat puluh dua senti meter dan ada sayapnya depan belakang] jawab Mona dengan emoticon terbahak-bahak.


"Pasti dia tak akan mau membelinya, hahaha...," gumam Mona tergelak.


Namun, sebuah pesan balasan kembali masuk.


[Oke, nanti ku minta Will untuk membelikannya. Jadi, jangan kemana-mana dan tunggu saja di rumah] ujar Arthur.


"Isshh… dasar curang! Malah meminta Will untuk membelinya. Menyebalkan," gerutu Mona.


Namun, dia justru tersenyum diselingi tawa kecil yang cukup mengguncang bahunya.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Di kantor PS Group,


Arthur tengah berbalas pesan dengan Mona, dan terkejut atas permintaan si ratu es.


"Hah? Pembalut? Si*lan. Dia mau mengerjaiku rupanya. Awas kau yah," gumamnya.


Arthur pun kemudian mengetikkan pesan balasan, jika akan meminta Will untuk membelikan benda itu untuknya, dan memerintahkan Mona agar tetap berada di apartemen.


"Will, cepat ke mari. Ada perintah untuk mu," ucap Arthur, dan segera menutup panggilannya.


Tak berselang lama, William datang ke ruangan sang atasan.


"Permisi, Tuan. Ada tugas apa untuk saya?" tanya William.


"Cepat belikan ini," perintah Arthur sambil menunjukkan isi chat Mona kepada sang asisten.


William membacanya sembari mengerutkan alis.


"Hewan apa itu, Tuan?" tanya William dengan polosnya.


"Ini bukan hewan. Kau pergilah ke supermarket sekarang, lalu tanya ke SPG di sana. Setelah dapat, kau antar langsung ke apartemenku. Cepat lakukan!" perintah Arthur.


"Ba... baik, Tuan" sahut William yang seketika berlalu dari sana dan melaksanakan perintah atasannya.


Sepeninggal William, Arthur kembali menyibukkan diri dengan setumpuk berkas di hadapannya.


Tepat pukul setengah sebelas, seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya.


"Masuk," seru Arthur.


Nampak seorang wanita yang adalah sekretaris Arthur yang lain, masuk dan memberitahukan jika ada yang ingin menemuinya.


"Permisi, Tuan. Ada Tuan Holes di depan. Beliau ingin bertemu dengan Anda," ucap sang sekretaris.


"Persilakan masuk," sahut Arthur.


"Baik." Sekretaris itu pun keluar.


Tak lama kemudian, dia kembali membukakan pintu, dan mempersilakan orang yang berada di luar untuk masuk.


"Silakan, Tuan Holes." serunya.


"Terimakasih," sahut pria yang dipanggil Tuan Holes itu.


Pri tersebut pun masuk ke dalam dan berjalan menghampiri Arthur yang masih duduk di belakang meja kerjanya.


"Selamat datang, Tuan… Holes?" ucap Arthur terbata, kala menoleh dan melihat orang yang berada di hadapannya.


Arthur tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.


"Kau… sedang apa kau di sini?" tanya Arthur sambil bangkit dari duduknya, dan berjalan sambil menunjuk ke arah pria tersebut.


Pria bernama Tuan Holes itu pun tak kalah terkejut dengan keberadaan Arthur, dan balik menunjuk ke arah pimpinan PS Group itu.


"Kau... kenapa... Apa kau pimpinan di sini?" tanya Tuan Holes juga dengan tergagap.


"Yah, aku pimpinan di sini. Apa mau mu, hah?" tanya Arthur dengan sombongnya sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana.


"Perkenalkan, namaku Gerald Holes. Arsitek yang akan menangani pembangun gedung department store mu di Paris," jawab pria yang ternyata adalah Gerald itu, sambil ikut memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya.


"Apa? Kenapa bisa...," ucap Arthur yang begitu terkejut hingga tak bisa melanjutkan perkataannya lagi.


"Sebuah kebetulan yang luar biasa bukan, Tuan Peterson." Gerald tersenyum dengan sebelah sudut bibir yang terangkat.


"Ehem... Maaf, sepertinya penandatangan kontrak kerja sama kita harus ditunda dulu. Asistenku akan menghubungi lagi nanti. Permisi, aku masih ada hal penting lain yang harus di selesaikan," ucap Arthur yang berlalu begitu saja meninggalkan Gerald yang masih berada di dalam ruangannya.


Gerald memandangi kepergian Arthur yang telah berjalan jauh meninggalkan ruang kerjanya.


"Sebuah kebetulan yang benar-benar mengejutkan," gumamnya.


Ia pun kemudian keluar menyusul Arthur, dan pergi dari gedung PS group dengan rasa kecewa, dan menganggap bahwa Arthur, sebagai pimpinan sebuah perusahaan besar berkelas internasional, telah bersikap tak profesional.


Namun, dia pun bisa mengerti jika pria itu bersikap seperti tadi padanya. Yah, apa lagi jika bukan karena memperebutkan wanita yang sama. Wanita yang sudah memikat hati seorang Gerald Holes sejak awal mereka bertemu.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like πŸ‘, komen πŸ“, atau beri dukungan lainnya


terimakasih