
"Wah… baru pulang saja, kau sudah langsung mencari mangsa," celetuk Elliott yang menyajikan minuman kepada Mona.
Wanita itu membetulkan posisi duduknya, menghadap ke arah Elliott, dan menerima cocktail buatan bartender itu.
"Siapa bilang aku sedang mencari mangsa. Justru aku lah mangsa mereka," sahut Mona sambil menyesap minumannya.
"Seperti biasa, sedingin es." Elliott mengangkat bongkahan es batu yang ada di genggamannya.
Mona hanya mengedikkan kedua bahunya, dan memainkan jari telunjuknya di bibir gelas dengan gerakan memutar.
"Bagaimana jalan-jalan mu ke Negara K?" tanya Elliott sambil menyiapkan minuman untuk tamu lain yang duduk di depan barnya.
"Lumayan," jawab Mona singkat.
"Yah... kau pasti menikmati liburanmu itu bukan," ucapnya sambil mengedikkan kedua bahunya tanpa menatap wajah wanita di depannya, dan tetap fokus pada pekerjaannya.
"Ehm… tenang saja, aku sudah siapkan oleh-oleh untuk mu," ucap Mona sambil kembali menyesap minumannya.
Elliott sontak menoleh dan tersenyum menatap Mona.
"Kamu memang yang terbaik, Mona," serunya yang kembali sibuk dengan racikannya.
Mona hanya menaikkan kedua alisnya dan menyunggingkan sebelah sudut bibir, lalu menyesap kembali cocktail buatan bar tender itu.
Tiba-tiba dari arah belakang, seseorang memeluk Mona, dan membuat wanita itu hampir tersedak.
"Mona," seru orang itu.
Mona pun menoleh dan melihat sahabatnya yang bernama Shasa, sesama wanita penghibur di Heaven valley, tengah berdiri di sana dengan senyum cerahnya.
"Mona, aku merindukan mu," serunya lagi sambil tetap memeluk Mona dengan erat.
"Shasa, bisa tidak kau jangan mengagetkanku seperti tadi?" keluh Mona yang merasa penampilan sempurnanya hampir berantakan gara-gara tersedak.
"Tidak... Tidak bisa. Aku benar-benar sangat merindukan mu. Kau terlalu lama berlibur bersama Joshua," gerutu Shasa.
"Memangnya siapa yang berlibur hah? Aku itu sedang bekerja," sanggah Mona.
"Tapi intinya, kau bekerja sambil berlibur. Pasti menyenangkan," ujar Shasa yang masing bergelayut manja di pundak sahabatnya itu.
"Tak ada yang istimewa," jawab Mona singkat.
"Iissshhh... dasar bebal," keluh Shasa.
"Ehem...," terdengar seorang wanita lain berdehem, dan membuat kedua sahabat itu menoleh.
"Nenek sihir jelek datang," gerutu Mona sambil kembali memalingkan wajahnya ke arah depan.
"Ada apa, Ema?" tanya Shasa kepada wanita itu, yang bernama Ema.
"Mona diminta ke ruangan Mommy sekarang. Seharusnya begitu sampai, kau langsung melapor. Kau sengaja tebar pesona kan?" sindir Ema.
"El, masukkan ke dalam tagihan ku, oke." Mona beranjak dari duduknya dan berdiri berhadapan dengan Ema.
"Ema... Ema... Ema... Kau kira aku ini tentara, hah? Kenapa pula aku harus segera melapor? Apa kau kira kita sedang di Akademi, hahaha…," ucap Mona sabil berlalu pergi meninggalkan Ema, yang merasa kesal dengan ucapannya.
"Si*alan kau, Dasar ******," pekik Ema.
Mona yang mendengar suara wanita itu, terus saja berjalan tanpa menoleh, sambil mengacungkan jari tengahnya ke atas.
Shasa pun turut pergi mengekori Mona yang menuju ke ruangan Madame Queen.
Ema adalah teman seprofesi Mona. Namun hubungan mereka tidak terlalu baik. Keduanya kerap kali berselisih paham, dan berakhir dengan acara tawuran masal antar pendukungnya, yang membuat Madame Queen pusing.
Tak ada alasan khusus kenapa keduanya sering terlibat keributan. Karena baik Mona maupun Ema, masuk ke Heaven valley di hari yang sama, dan tak ada senioritas di antara mereka. Bahkan soal kecantikan dan popularitas mereka di tempat itu pun hampir sama.
Hanya bedanya, Ema bisa bersuara merdu di atas ranjang, sedangkan Mona tidak.
Namun, Mona justru menunjukkan sisi liarnya, dan dengan nakal memancing g*irah pria tersebut hingga kepuncak.
Ema yang tak mau kalah, berusaha menyingkirkan Mona dari atas tempat tidur. Sedangkan Mona yang juga tak mau kalah pun, berusaha mendorong rivalnya tersebut.
Akhirnya, aksi saling dorong terjadi, dan berlanjut dengan saling tarik menarik rambut dan cakar-cakaran antara keduanya. Pria yang telah memesan mereka berdua pun dibuat panik dan segera menghubungi Madame Queen.
Segera, sang m*cikari akhirnya datang melerai keduanya, yang telah dalam keadaan kacau dan setengah telanjang, karena sempat menggoda pria itu dengan tubuh mereka.
Setelah keluar, huru hara tak langsung berhenti. Aksi saling sindir kembali terjadi di ruang make up para pekerja malam.
Tawuran pun kembali berlangsung, dan kali ini tak hanya melibatkan kedua wanita cantik nan seksi itu, melainkan hampir seluruh wanita penghibur milik Madame Queen, turut berpartisipasi dalam kekacauan yang dibuat Mona dan Ema.
Alhasil, Heaven valley ditutup selama seminggu, akibat para wanita malamnya mengalami cedera ringan dan lebam di wajah cantik dan tubuh mereka.
Mona berjalan menyusuri lorong panjang, yang sisi kanan dan kirinya dipenuhi dengan banyak kamar-kamar panas.
Di ujung sana, tepatnya sebelum dapur, terdapat sebuah tangga yang menghubungkan ke lantai dua, di mana kantor Madame Queen berada.
Saat pertama kali berada di lantai dua, kita bisa menemukan sebuah ruang karyawan yang cukup besar, dan terbagi menjadi dua, yaitu ruang karyawan laki-laki dan perempuan.
Setelah melewati ruangan tersebut, sampailah mereka di depan ruang ganti dan make up para wanita malam yang bekerja dengan Madame Queen.
"Mona, aku ke sini dulu, oke." Shasa memisahkan diri dari Mona, dan masuk ke dalam ruangan yang biasa disebut base camp oleh pada wanita-wanita cantik di tempat tersebut.
Mona hanya menoleh sekilas, tanpa berkata dan bersuara. Dia kembali menghadap ke arah depan, dan berjalan menuju ruangan, yang berada tepat di ujung sana.
Tok! Tok! Tok!
Mona mengetuk pintu yang terbuat dari kaca tebal itu, ketika ia telah sampai di depannya.
"Masuk," seru suara seorang wanita di dalam ruang tersebut.
Tanpa di perintah dua kali, Mona segera meraih handle pintu dan kemudian membukanya.
Nampak sebuah ruangan yang mirip dengan kantor, namun tetap terlihat seperti ruang pribadi seorang wanita, dengan segala macam pernak-perniknya.
Mona berjalan masuk, dan langsung duduk di sofa empuk, dengan memangku sebuah bantal berbulu, untuk menutupi paha mulusnya yang terekspos.
Di seberang sana, tampak seorang wanita paruh baya, berumur sekitar hampir setengah abad, dengan dandanan yang cukup menor dan pakaian yang bisa dibilang tidak sesuai dengan usianya, tengah duduk di kursi kebesaran.
Wanita yang tak lain adalah bos dari tempat hiburan malam itu, atau yang sering dipanggil Madame Queen, bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Mona berada.
Ia kemudian duduk di kursi yang berada tepat di depan wanita cantik berbaju merah menyala itu.
"Hai, Mom," sapa Mona ketika Madame Queen telah menyamankan posisi duduknya.
"Bagaimana operasimu, Mona?" tanya Madame Queen sambil menyulut sebatang ro*kok yang terapit telunjuk dan jari tengah tangan kirinya.
"Cukup baik. Setidaknya, sekarang aku bisa memakai baju dengan punggung terbuka seperti ini," jawab Mona, sembari mengambil sebatang ro*kok milik Madame Queen, yang berada di atas meja.
"Baguslah, karena minggu depan aku ada tugas khusus untuk mu," ucap Madame Queen.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih