
Mona menyulut ro*kok di tangannya, dan menghisap perlahan barang beracun tersebut. Dihembuskannya asap pekat itu hingga membumbung memenuhi ruangan Madame Queen.
"Tugas apa itu, Mom? Aku tidak mau kalau kau meminta ku melakukan hal yang aneh-aneh," ucap Mona sambil kembali menyandarkan punggungnya, dan menikmati lintingan tembakau yang menyala.
"Tidak akan aneh-aneh. Dia adalah tamu VVIP kita, dan hanya berjumlah satu orang. Asal Kua tau saja, dia ini adalah produk impor," ucap Madame Queen.
"Lalu?" tanya Mona.
"Dia baru saja kembali lagi ke negara ini, setelah kunjungan terakhirnya lima tahun lalu. Orang ini sangat kaya, pengusaha muda yang sukses. Bisa dibilang, dia itu pangeran di kerajaan bisnis milik keluarganya." Madame Queen kembali menghisap batang ro*kok, dan menghembuskannya ke udara.
"Kamu bisa saja meminta bantuannya untuk menjadi pendukungmu selanjutnya. Yah... kita sama-sama tahu bukan, kalau Joshua itu sudah lumayan tua, dan mungkin saja sebentar lagi, dia sudah tidak se produktif sekarang. Jadi, apa salahnya jika kamu mulai mencari kandidat lainnya," lanjut Madame Queen.
"Memang, berapa usianya?" tanya Mona
"Ehm… sekitar tiga puluh tahun... atau mungkin tiga satu," jawab Madame Queen.
"Wow… lumayan bagus juga. Tapi tebakanku, dia sama saja dengan pria hidung belang lainnya." Mona seolah tak ingin mengenal orang tersebut, dan berusaha menjelek-jelekkannya di depan Madame Queen.
"Bukankah Joshua juga sama saja. Dia sudah banyak meniduri wanita-wanita malam lainnya sebelum kamu, Mona. Dia sama brengs*knya dengan laki-laki hidung belang itu," sahut Madame Queen.
"Setidaknya, sekarang dia sudah berhasil ku jinakkan, dan hanya melihat ku seorang. Selama aku mengenalnya, dia hanya mau bermain dengan ku saja. Bukankah itu sebuah kesetiaan?" ucap Mona menyunggingkan sebelah sudut bibirnya.
"Ayolah, Mona. Joshua hanya terkena virgin effect-mu saja. Dan yah... dia memang hanya mau bermain dengan mu. Tapi, kau bermain dengan siapapun yang sanggup membayar mu bukan," ucap Madame Queen.
"Hahaha… tentu saja. Bukankah itu sudah menjadi pekerjaanku?" sahut Mona yang tergelak dengan perkataan mucikarinya.
"Bagus kalau kau paham. Jadi, tidak ada bantahan lagi. Minggu depan, kau harus menemani tamu VVIP kita selama dia berada di negara ini," ucap Madame Queen menegaskan.
"Wait, Mom. Apa Mommy yang merekomendasikanku kepada tamu penting kita ini? Kenapa tidak yang lain saja? Ema misalnya," cecar Mona mulai penasaran.
"Bukan Mommy yang merekomendasikan mu, tapi dia sendiri yang meminta kamu menemaninya selama dia berada di negara ini. Mungkin, namamu sudah cukup terkenal di mana-mana. Seorang pe*la*cur yang tidak bisa men*de*sah di atas ranjang. Bukankah itu adalah sebuah tantangan, untuk semua pria penikmat wanita malam seperti kita," jawab Madame Queen.
"Yah... kau benar, Mom. Semua laki-laki sama saja. Mereka hanya tertarik dengan satu hal, lembah berlendir, yang berada sejengkal di bawah pusar," ucap Mona tersenyum mengejek.
"Anggap saja begitu. So, persiapkan dirimu. Dia akan sampai di sini dalam lima hari, tepatnya di hari jumat. Kemungkinan sabtu malam dia akan datang ke tempat kita. Lakukan perawatan tubuh jika perlu, agar tamu kita puas dengan pelayanan Heaven Valley kita," seru Madame Queen.
"Bukan Heaven valley, Mom. Tapi aku, Monalisa." ucap Mona.
Madame Queen hanya mengedikkan kedua bahunya dan tersenyum tipis, lalu kemudian kembali menghisap puntung ro*kok yang masih menyala di tangan.
Setelah pembicaraan itu, Mona keluar dari sana dan berjalan menuju base camp, tempat para Ladies (panggilan untuk wanita malam di sana) berkumpul.
Begitu masuk ke dalam, suasana girly begitu terasa. Banyak baju-baju seksi berbagai model dan warna terpajang di rak-rak yang berjejer di dalam ruangan tersebut.
Meja rias dua sisi dengan lampu-lampu yang mengitari cerminnya, serta peralatan make up yang lengkap, tak lupa juga aksesoris tambahan sebagai penunjang penampilan mereka saat bekerja, semua tersedia di tempat itu.
Sofa empuk yang berada di sudut ruangan, menjadi spot favorit para wanita malam untuk berkumpul dan saling bersenda gurau.
Mona berjalan dan langsung menuju ke arah sofa, di mana telah duduk beberapa teman seprofesinya.
"Hai, Mona. Akhirnya kau kembali," sapa salah satunya yang berambut pendek sebahu, dengan anting panjang menjuntai hingga pundaknya.
"Yah... baru tiba semalem... dan langsung diminta kerja oleh Mommy," keluh Mona sembari menghempaskan tubuhnya ke sofa, dan duduk di antara temannya itu.
"Wait. Coba tegakkan badan mu," seru temannya yang lain.
"Kenapa?" tanya Mona yang merasa malas menuruti perkataan temannya itu.
"Ayolah... sebentar saja," Wanita itu lalu sedikit menarik Mona, dan mendorongnya agak ke depan.
"Kalian kenapa sih?" tanya Mona bingung.
"Pulang dari Negara K, penampilanmu menjadi semakin berani yah," ucap wanita berambut sebahu.
"Oh itu… kebetulan, aku mendapat inspirasi baru di sana," ucap Mona datar sambil mengedikkan kedua bahunya.
Tak berselang lama, Madame Queen datang menghampiri anak-anaknya ke dalam ruang make up.
"Ayo semuanya turun. Sambut tamu-tamu kita dengan baik, dan beri mereka kesan agar selalu ingin datang lagi kemari," ucapnya.
"Iya, Mom." Semua Ladies yang ada di sana kompak menyahut.
"Oh ya... di mana Rubi?" tanya Madame Queen, sambil mengedarkan pandangannya ke dalam ruangan tersebut.
"Dia sedang libur, Mom. Seperti biasa, datang bulan," sahut wanita berambut sebahu yang duduk bersama Mona.
"Oke, kalau begitu semuanya turun sekarang. Jangan ada yang malas bekerja," perintah Madame Queen.
Wanita paruh baya itu pun kemudian keluar dari base camp, disusul kemudian oleh para Ladies yang hendak turun ke lantai satu.
Di bawah sana, Madame Queen menghampiri bilik-bilik yang telah dipesan oleh para pengunjung.
Wanita itu mendatanginya, karena sebelumnya pengunjung itu meninggalkan pesan kepada Elliott, untuk mengirim beberapa wanita ke tempat mereka.
"Selamat malam, Tuan-tuan. Saya Madame Queen, pengurus tempat ini." Sang mucikari memperkenalkan dirinya.
"Bawakan kami beberapa teman untuk bersenang-senang," ucap salah seorang pria di bilik itu.
"Tunggu, aku ingin wanita dengan baju merah menyala yang tadi. Bisakah kau bawa dia kemari?" seru pria lain yang sedari tadi nampak celingukan, mencari sesuatu di balik punggung Madame Queen.
"Baiklah, tunggu sebentar." Madame Queen tersenyum begitu ramah kepada para laki-laki hidung belang itu, lalu berbalik dan pergi dari sana.
Tak berselang lama, dia kembali dengan beberapa ladies-nya yang mengenakan baju berwarna merah.
"Silakan, Tuan. Ini anak-anak saya yang malam ini kebetulan memakai baju merah. Silakan pilih mana yang Anda suka," ujar Madame Queen.
Dua di antara ketiga pria itu langsung memilih salah satu ladies untuk mereka jadikan teman kencan, namun seorang lagi merasa tak tertarik dengan yang ada di hadapannya, padahal dialah yang meminta wanita berbaju merah tadi.
"Tuan, bukankah tadi Anda yang meminta wanita berbaju merah? Kenapa Anda tak memilih salah satu dari mereka?" tanya Madame Queen dengan suara yang dibuat selembut mungkin.
"Tidak. Aku tak tertarik sama sekali dengan mereka. Bawa pergi saja semuanya," seru pria itu kesal, yang lalu menuangkan minuman ke dalam gelasnya sendiri.
Madame Queen memberi isyarat tepukan tangan kepada para ladies untuk segera keluar dari bilik tersebut, sedangkan kedua wanita yang telah terpilih, memulai aksi mereka melayani tamunya.
Kini semua ladies berbaju merah telah pergi. Saat Madame Queen hendak keluar dari tempat itu, tiba-tiba Mona masuk begitu saja tanpa permisi, dan langsung duduk di samping pria yang tadi menolak semua ladies yang dibawa oleh sang mucikari.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih