DESIRE

DESIRE
Bab 46



"Ini sudah pagi, bahkan hampir menjelang siang. Kalian pulang lah. Dan Anda Tuan Peterson, semua kerusakan ini, akan saya masukkan ke dalam tagihan Anda," seru Madame Queen.


"Baik, Nyonya. Kirimkan saja tagihannya melalui asisten saya yang kemarin datang. Dia yang akan mengurus semuanya," sahut Arthur.


Madame Queen pun lalu berbalik dan berjalan keluar, meninggalkan kedua orang aneh itu berdua di dalam sana.


Mona keluar dari balik selimut, dan berjalan menuju pintu. Namun, Arthur segera meraih lengannya dan membuat Mona berbalik menghadapnya.


"Lepas," ucap Mona datar.


"Pulang dengan ku," seru Arthur dengan tatapan tajamnya.


"Saya tidak mau," sahut Mona ketus.


"Memangnya kau sudah punya uang pembatalan kontraknya?" tanya Arthur sembari menatap manik hitam Mona dalam-dalam.


Merasa belum mendapatkan apa yang diminta oleh Arthur, Mona pun memalingkan wajahnya, tanda jika dia belum bisa memberikan uang tersebut.


"Heh… selama pihak pertama belum bisa membayar uang pembatalan kontrak, atau pihak kedua yang dengan sendirinya menyudahi kontrak ini, maka perjanjian akan terus berjalan. Itu poin terakhirnya," ucap Arthur yang membuat Mona menoleh dan balas menatap tajam ke arah pria tersebut.


"Dasar licik," ucap Mona geram.


Arthur hanya menyunggingkan senyum di bibirnya, dan menarik Mona keluar dari kamar itu.


Mona dengan terpaksa mematuhi pria yang selalu membuatnya kesal, selama dia tak bisa memberikan kompensasi pembatalan kontraknya.


"Masuklah," ucap Arthur ketika telah sampai di depan pintu mobil, yang ia bukakan untuk Mona di kursi penumpang depan.


Mona pun menurut, meski dengan wajah yang ditekuk, dan terus mendengus kesal.


Namun, Arthur dengan penuh perhatian, menghalangi kepala Mona, agar tidak terbentur bagian atas pintu, dan kemudian hendak memasangkan seat belt untuk wanita tersebut.


"Saya bisa sendiri, Tuan." Mona merebut seat belt, dan memasangkannya sendiri.


Arthur pun membiarkannya, dan menutup pintunya rapat. Ia lalu berjalan memutar dan masuk ke dalam kursi kemudi.


"Kita sarapan dulu sebelum pulang," ujarnya sesaat sebelum melajukan mobilnya.


"Terserah," jawab Mona ketus.


Arthur hanya bisa menghela nafas panjang menghadapi si ratu es di sampingnya itu.


Dia pun lalu melajukan mobilnya, membelah keramaian ibu kota yang sarat akan kemacetan di mana-mana.


Seperti biasa, Mona menatap ke arah luar mobil, dan menikmati pemandangan pagi menjelang siang di ibu kota, yang penuh dengan polusi dan kendaraan yang berjubel di jalanan.


Namun, kali ini wajahnya tak menyiratkan sebuah ketenangan seperti yang biasa terlukis di sana, kala menatap pemandangan dari kendaraan yang tengah berjalan.


Hal ini dikarenakan, semenjak mobil berjalan sekitar satu kilo meter dari Heaven valley, perutnya sudah merasa tidak enak, dan cenderung mual.


Namun, Mona sebisa mungkin menahannya, agar tidak sampai menjatuhkan image-nya di depan Arthur.


Wajahnya semakin terlihat pucat, dan keringat dingin keluar dari pelipisnya. Hal itu tak luput dari perhatian Arthur, yang memang sejak tadi memperhatikan Mona yang terus memalingkan wajah darinya.


Pria itu pun mengulurkan tangannya, dan menyeka peluh yang ada di pelipis Mona.


"Kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir.


Mona hanya menepis tangan Arthur, bahkan tanpa kata dan tanpa menoleh ke arah pria tersebut.


Arthur pun hanya mampu mendengus kesal, karena sikap Mona yang selalu saja dingin terhadapnya.


Sedangkan wanita itu, semakin merasa jika perutnya bertambah tidak bisa lagi untuk dikondisikan. Dia pun menepuk-nepuk dash board, dan membuat Arthur segera menepikan mobilnya.


Saat mobil berhenti, Mona buru-buru keluar dan berjalan ke arah trotoar. Ia memuntahkan semua isi perutnya, akibat pengar yang ia alami setelah mabuk semalam.


Arthur yang melihat itu pun buru-buru menyusulnya, dan membantu memijat tengkuk Mona untuk mengurangi rasa mualnya.


Mona berjongkok sambil memegangi lututnya. Rambut yang tergerai, membuatnya kerepotan untuk menghalau ketika ia muntah.


Arthur meraih sebuah sapu tangan yang ada di dalam saku celananya dan memilinnya, lalu mengikatkan pada rambut Mona, agar tidak membuat wanita itu terganggu.


Setelah dirasa cukup membaik, Mona pun bangkit berdiri namun masih terasa sempoyongan. Akhirnya, Arthur berinisiatif memapahnya, meski Mona selalu menghalau tangan pria itu melekat di tubuhnya.


"Kamu duduk lah dulu di sini. Aku akan cari sesuatu sebentar," ucap Arthur yang lalu meninggalkan Mona di dalam mobil sendirian.


Mona tak peduli pria itu mau ke mana. Dia hanya bersandar di kursi sambil memejamkan mata, untuk mengurangi rasa pusing di kepala.


Rasa asam lambung yang naik hingga ke lidah, membuat tenggorokannya terasa terbakar. Mona terus menelan ludahnya sendiri, untuk mengurangi rasa tidak nyaman di dalam mulutnya.


Tak berselang lama, pintu sebelah kemudi terbuka dan Arthur pun masuk ke dalam.


"Minumlah," ia menyodorkan sebotol air minum yang telah dibukanya kepada Mona.


Wanita itu melirik sekilas, lalu menyambar dan meneguk isinya begitu saja.


"Ah…." Mona memberikan kembali botolnya kepada Arthur.


"Sudah lebih baik?" tanya Arthur yang benar-benar khawatir kepada Mona.


Namun, Mona bersikap masa bodo dengan kekhawatiran Arthur saat itu, dan membuatnya hanya bisa menghela nafas panjang.


"Kita akan jalan lagi. Kalau nanti merasa mual lagi, kau katakan saja padaku," ucap Arthur yang kemudian menyalakan mesin mobilnya.


Mona hanya ber 'hem' ria, dan tak menimpali apapun lagi perkataan Arthur.


Pria itu pun melajukan kembali mobilnya, dan menuju ke suatu tempat.


Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam, kini mereka telah tiba di sebuah pusat perbelanjaan.


"Mau apa kita ke sini, Tuan?" tanya Mona yang kaget dengan tempat mereka berada sekarang.


Arthur yang tengah melepaskan seat belt-nya pun menoleh ke arah Mona yang tampak celingukan.


"Tentu saja makan. Bukankah tadi sudah katakan, bahwa kita akan makan dulu sebelum pulang. Di sini ada sebuah restoran yang menjual sup ayam yang rasanya sangat lezat. Itu bagus untuk meredakan pengar akibat mabukmu semalam," ucap Arthur yang kemudian membukakan seat belt Mona.


"Apa Anda bercanda ,Tuan? Anda tidak lihat bagaimana penampilan saya saat ini?" tanya Mona kesal.


"Memangnya bagaimana penampilanmu?" tanya Arthur yang tak paham dengan maksud wanita es itu.


"Lihat ini. Saya masih memakai pakaian aneh ini. Ditambah lagi, saya juga belum sempat cuci muka sama sekali, dan Anda mengajak saya ke tempat umum seperti ini? Anda sengaja mau mempermalukan saya?" cecar Mona sambil menarik-narik ujung lengan piyamanya dengan kesal.


Arthur berkedip beberapa kali, sambil melihat penampilan wanita di hadapannya. Dia baru menyadari, jika Mona masih dengan wajah bantalnya, karena mereka langsung pergi begitu saja sesaat setelah bangun tidur tadi.


Pria itu pun lalu melihat dirinya di kaca spion depan, yang ternyata tak jauh beda dengan Mona.


Rambutnya masih acak-acakan khas orang yang baru bangun tidur, dengan kotoran yang ada di sudut matanya yang telah mengering.


"Kau benar. Kita sangat kacau sekarang ini," gumamnya.


Mona melengos kesal dengan sikap pria di sampingnya itu, yang selalu saja berbuat seenaknya.


"Tapi kenapa tadi kau mengiyakan begitu saja ajakan ku?" tanya Arthur yang balik kesal kepada Mona.


"Saya pun baru sadar tadi," sahut Mona datar.


"Hah…." Arthur lagi-lagi hanya bisa menghela nafas panjang, dan bersabar menghadapi sikap Mona.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih