
Masa sekarang,
Mona nampak sibuk dengan kegiatannya, mengamati orang yang berlalu lalang di depan sana.
"Permisi, Nona. Ini pesanan Anda." Seorang pelayan menghentikan kegiatan wanita itu, dan seketika Mona menoleh ke arah si pelayan.
"Ehm… terimakasih," sahut Mona tersenyum ramah.
Ia kemudian menatap hidangan yang sudah tersaji di atas meja. Seporsi pasta dengan potongan smoked beef dan saus bolognese, serta segelas es cappucino, menemani makan siangnya kala itu.
Ia menyantap hidangan yang menggugah selera tersebut dengan perlahan. Mona menggulung pasta dengan garpu, dan melahapnya dengan gaya yang masih bisa mempesona laki-laki yang tengah memandangi dirinya sejak tadi.
"Bahkan saat makan saja, kamu begitu menggoda," gumam pria itu.
Mona begitu menikmati makanannya, dan juga menikmati suasana di restoran. Matanya berkeliling, menyapu setiap pemandangan yang bisa ia jangkau dengan netranya.
Sampai pada suatu sudut restoran, ia menangkap sosok yang sangat tak ingin ia lihat. Mendadak, ia meletakkan garpunya, dan memicingkan matanya, memastikan jika yang dilihatnya itu bukanlah orang tersebut.
Namun, yang dilihat justru berdiri, dan berjalan mendekat menuju tempat Mona berada.
Sontak saja, wanita itu langsung memalingkan wajahnya, dan menghindari tatapan tajam orang tersebut.
"Kenapa dia bisa ada di sini?" gumamnya sambil menghadap ke arah jendela kaca besar.
Tuk! Tuk! Tuk!
Terdengar seseorang mengetuk-ngetuk meja di depannya.
Mona yang sedari tadi menghindari orang tersebut, kini justru tak bisa menghindar lagi, karena pria itu sudah berada tepat di depannya.
Mona memejamkan matanya sejenak, dengan helaan nafas yang terdengar begitu kasar. Mau tak mau, dia pun menoleh dan menyapa orang tersebut.
"Oh… hai, Tuan Peterson. Sedang apa Anda di sini?" sapa Mona basa basi, dengan senyum palsunya.
"Boleh aku bergabung?" tanya pria itu.
"Ehm… yah, silakan." Mona menunjuk kursi di depannya dengan telapak tangan menghadap ke atas.
Wanita itu dengan terpaksa menerima permintaan Arthur, untuk makan bersama dalam satu meja.
Pria tersebut mengangkat satu tangannya ke arah pelayan, yang terlihat mencari penghuni meja yang sebelumnya telah memesan makanan.
Sebelum pindah ke meja Mona, Arthur telah terlebih dulu memesan, sehingga ketika dia pindah tempat, si pelayan mencari-cari dirinya untuk mengantarkan pesanannya.
Setelah melihat si empunya makanan, pelayan itu pun segera berjalan ke arah meja, di mana kedua orang itu tengah duduk berhadap-hadapan.
"Silakan, Tuan." Pelayan itu menyajikan menu yang hampir sama dengan yang Mona pesan.
Setelah meletakkan semua makanan dan minuman, si pelayan pun pergi meninggalkan keduanya, dengan Mona yang masih merasa kesal dengan kehadiran pria di hadapannya.
"Wah... tidak kusangka selera kita ternyata sama. Suatu kebetulan yang luar biasa bukan," ujar Arthur ketika melihat makanan yang serupa di atas meja, di hadapan mereka masing-masing.
"Ini bukan suatu kebetulan, Tuan. Menu ini memang sangat recommended di resto ini, jadi mungkin saja pelayan tadi yang merekomendasikannya pada Anda." Mona kembali menyuapkan pastanya, yang sempat ia gulung-gulung dengan garpu tadi, saat Arthur mengatakan omong kosong itu.
Tentu saja dia akan kembali dingin. Apa yang sedang aku harapkan? gerutu Arthur dalam hati.
Saat dia melihat ekspresi Mona yang begitu damai ketika memandang keluar kaca jendela, Arthur berpikir jika yang ia lihat saat itu adalah Lisa kecil, gadis yang dulu pernah ia kenal.
Sehingga tanpa ia sadari, sikapnya pun berubah seolah tengah berhadapan dengan gadis kecil nan polos dari masa lalunya tersebut, dan melupakan siapa wanita yang ada di depannya saat ini.
"Sedang apa Anda di tempat ini, Tuan?" tanya Mona ketus, tanpa melihat ke arah lawan bicaranya.
"Ehm… tentu saja untuk makan, memang apa lagi?" jawab Arthur tak kalah ketus.
"Kalau begitu, silakan makan. Sungguh kasihan makanan Anda tak dilihat sama sekali dari tadi, dan Anda hanya memandang ke arah lain. Awas, bisa-bisa dia akan membuat Anda sakit perut karena cemburu," ujar Mona, yang merasa risih karena merasa pria itu terus memandanginya.
Arthur mengerutkan keningnya, dan mencerna perkataan wanita di hadapannya. Dia lalu tersenyum tipis, dan mulai mengaduk-aduk pastanya.
"Aku hanya sedang melihat sebuah pemandangan indah. Sayang bukan kalau keindahan itu dibiarkan begitu saja, tanpa dinikmati dan dikagumi," ucapnya sambil menyuapkan pasta ke dalam mulutnya.
Mona menghentikan gerakan tangannya, dan meletakkan garpu yang sedang ia pegang.
Wanita itu menatap tajam ke arah pria di hadapannya, dengan rahang yang mengeras.
"Ppfffttt… apa tadi katamu? Aku memandangi mu? Siapa bilang?" tanya Arthur yang menahan tawanya secara terang-terangan di depan Mona.
Wanita itu semakin geram. Tangannya mengepal, dan hendak berdiri.
"Duduklah dengan tenang, Nona Mon," perintah Arthur dengan nada dinginnya.
Mona tetap diam. Dia masih berdiri dan memandang jengah ke arah pria tersebut.
Arthur mendongak dan menatap Mona.
"Duduklah!" perintahnya lagi.
Entah kenapa, Mona menurut begitu saja dengan perintah Arthur, pria yang selalu menyulut emosinya setiap kali mereka bertemu.
Setelah Mona duduk, Arthur menyuapkan kembali pasta ke mulutnya sendiri. Sedangkan wanita itu, dia diam dan terus menatap tajam ke arah pria tersebut.
Setelah makanan berhasil di telan, Arthur menyesap minuman dan menyeka mulutnya dengan lap, yang tersedia di atas meja.
Dia melipat kedua lengan dan menumpukannya di atas meja, dengan wajah yang condong ke depan.
"Nona Mona, sepertinya Anda salah paham. Saya tidak mengatakan sedang melihat Anda. Apa kata-kaya saya tadi, ada yang menyinggung tentang diri Anda, hem?" tanya Arthur dengan tatapan dingin, membuat Mona membeku dengan pesona itu.
Arthur memundurkan wajahnya, dan menyandarkan punggungnya pada kursi.
"Apa Anda selalu sepercaya diri ini? Atau... Anda memang ingin saya melihat ke arah Anda?" tanya Arthur yang seketika membuat wajah Mona yang tadi sempat merah padam akibat emosi, kini merona karena malu.
Si*al! Dia berhasil mengerjai ku. Kurang ajar, gerutu Mona dalam hati.
Namun, bukan Mona namanya jika tak bisa segera mengontrol perasaannya dan kembali memasang poker face-nya.
"Wah… apa benar saya sudah salah paham?" tanya Mona santai.
Wanita itu kembali mengambil garpu, dan menggulung pastanya.
"Tapi, bisakah seseorang seperti Anda, menaruh perhatian kepada orang rendahan seperti saya?" balas Mona sambil menyuapkan makanannya, dan menatap tajam ke arah Arthur.
"Apa kau mau mencoba berkencan dengan ku, supaya kamu tau bagaimana caraku memperhatikan mu?" tanya Arthur dengan seringainya.
"Heh… dalam mimpi Anda, Tuan," sahut Mona, dengan sebelah sudut bibir yang terangkat ke atas.
Mona kembali menikmati makanannya, setelah membalas perkataan pria di hadapannya itu. Sedangkan Arthur, dia merasa sedikit kesal dengan ucapan Mona yang terakhir.
Awas kau. Akan ku balas nanti, gerutunya dalam hati.
Mereka pun kembali menyelesaikan makanan masing-masing, tanpa perbincangan apapun lagi.
"Saya sudah selesai. Maaf, saya harus pergi lebih dulu," ucap Mona.
Wanita itu mengambil uang pecahan seratus ribu dari dalam dompetnya, dan menaruhnya di atas meja.
"Saya membayar makanan saya sendiri, dan tolong berikan sisanya kepada pelayan tadi sebagai tips. Saya permisi," pungkas Mona datar.
Wanita itu pun pergi begitu saja, tanpa menunggu jawaban dari Arthur.
Setelah kepergian Mona, pria yang sedari tadi bersikap tenang itu, mendadak menyandarkan punggungnya dan menghela nafas panjang.
Ia menoleh ke arah luar jendela, dan memandang menerawang jauh, entah ke mana.
"Aku harus bisa mengembalikan Lisa kecil ku yang dulu ke dalam dirimu… Mona," gumam Arthur lirih.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih