DESIRE

DESIRE
Bab 66



Pagi hari, Arthur dan Mona terlihat masih nyaman berada di atas kasur, meski keduanya telah sama-sama terjaga dari tidurnya sejak pagi buta.


Mereka saling bercanda ria dan bertukar cerita tentang hal-hal lucu yang pernah mereka alami.


"Jadi, kau pernah di paksa kencan buta oleh Mommy, Kak? Wah, pasti Mommy sudah bingung sekali dengan anak laki-lakinya yang masih belum mau menikah," ucap Mona.


"Bukankah aku sedang menunggu mu," ucap Arthur sambil mencolek ujung hidung Mona.


"Ehm… omong kosong. Apa Kakak pernah mencari ku selama ini, hem?" tanya Mona yang masih betah berlama-lama memandangi muka bantal Arthur.


Meski terlihat acak-acakan, namun entah kenapa menurut Mona, ketampanannya meningkat berkali-kali lipat.


"Aku mencari mu. Bahkan sejak lima tahun lalu," ucap Arthur.


Mona mengernyitkan kening, kemudian mengangkat sebelah alisnya.


"Lima tahun yang lalu?" tanya Mona sembari mengingat-ingat masa itu.


"Bukankah itu saat aku masih sekolah," lanjutnya.


"Ya, kalau yang aku lihat waktu itu memang kau masih memakai seragam," ungkap Arthur.


"Benarkah, Kak? Kalau Kakak melihat ku, kenapa tidak pernah menemui ku? Kenapa tidak menyapa ku? Kenapa tidak …," cerocos Mona.


Arthur langsung menempelkan jari telunjuknya di bibir wanita yang terus mengoceh itu, dan membuatnya diam seketika.


"Tanyanya satu-satu, Sayang. Kalau seperti tadi, bagaimana aku akan menjawabnya?" seru Arthur sambil mencubit hidung mancung Mona.


"Oke. Kenapa kau tidak menemui ku, Kak?" tanya Mona menyelidik, sambil memicingkan matanya.


"Aku menemuimu. Hanya saja, saat itu kau sedang tidak sadar karena pengaruh obat," tutur Arthur.


"Maksud Kakak?" tanya Mona yang semakin penasaran dan memajukan wajahnya.


Arthur seketika mengubah posisinya yang sedari tadi menyamping ke kanan berhadapan dengan Mona, kini terlentang dan menatap langit-langit kamarnya.


"Hah… kamu pernah bilang bukan, bahwa pernah dijual dua kali dulu, sampai akhirnya kau menjadi seperti sekarang ini?" tanya Arthur yang kembali menoleh ke samping, ke arah Mona berada.


Mona hanya mengangguk cepat sambil menyangga kepalanya dengan sebelah tangan, dan terus menatap ke arah Arthur.


Arthur kembali melihat ke langit-langit dan menyimpan sebelah tangannya di bawah kepala sebagai bantal.


"Apa kau ingat, kenapa sampai terjadi dua kali?" tanya Arthur.


"Ehm… mungkin karena yang pertama aku berhasil lolos?" jawab Mona dengan sebuah kemungkinan.


"Kenapa kau bisa lolos?" tanya Arthur yang kembali menoleh ke arah Mona yang terus menatap ke arahnya.


"Ada seseorang yang menolongku, Kak," tutur Mona sambil mengingat-ingat.


"Apa kau ingat siapa orang itu?" tanya Arthur sambil menoleh menghadap ke arah Mona.


Mona mengernyitkan kedua alisnya, dan tiba-tiba memukul dada Arthur agak keras.


"Kenapa malah Kakak terus yang bertanya tentang masalahku? Kenapa tidak jawab pertanyaan ku saja?" gerutu Mona yang merasa dikerjai oleh Arthur.


"Mona, kau tidak ingat siapa yang sudah menolong mu?" tanya Arthur dengan tatapan yang lurus ke manik hitam Mona.


"Ehm…," Mona mencoba mengingat, namun sayang tak ada bayangan sama sekali.


Akhirnya, wanita itu pun menggeleng pelan menanggapi pertanyaan Arthur barusan.


"Orang itu adalah aku. Akulah yang sudah menolong mu," tutur Arthur.


Mata Mona sontak membola kala mendengar pengakuan dari pria yang tengah berbaring di sampingnya. Dia pun seketika terbangun dan duduk di samping pria itu.


"Kakak becanda bukan? Tidak mungkin Kakak kan?" tanya Mona yang seolah tak yakin dengan perkataan Arthur, yang bisa saja hanya sebuah candaan.


Namun, Arthur ikut bangun dan duduk bersandar di head board. Tatapannya lurus ke arah depan, seolah ia tengah memutar ulang memori di masa lalunya


"Jadi, saat itu …,"


...🍂🍂🍂🍂🍂...


FLASHBACK...


Arthur menceritakan kejadian yang sebenarnya terjadi pada malam itu.


Pria itu memberikan sebuah alamat kepada sang asisten dan memerintahkannya untuk segera menemukan info tentang gadis tersebut.


"Cepat kau temukan dia. Kalau perlu, malam ini juga," perintah Arthur kepada William.


"Baik, Tuan," sahut sang asisten.


Malam itu juga, William mendatangi alamat tersebut. Dia pun mendapati jika rumah yang berada di alamat tersebut telah kosong.


Para warga mengatakan bahwa mereka terlihat berjalan ke arah jalan raya, tapi tak ada yang tau mereka pergi ke mana.


Semua orang mengaku tak dekat dengan penghuni rumah tersebut dikarenakan masa lalu si ibu, yang membuat warga merasa malu dengan keberadaannya di tempat itu.


"Maaf, Tuan. Mereka pergi sejak siang dan sampai sekarang belum kembali juga. Para warga tidak tau mereka pergi ke mana," papar William yang menyampaikan informasi yang diperolehnya melalui sambungan telepon.


"Lisa, dimana kau?" gumam Arthur dari seberang sambungan.


"Ya sudah. Sekarang kau ke mari, dan jemput aku," perintah Arthur kepada sang asisten.


"Baik, Tuan." Nicholas pun segera pergi ke tempat di mana sang atasan berada.


Saat itu, Arthur tengah berada di sebuah klub malam terkenal di ibu kota. Dia sedang menikmati hingar bingar dunia malam, sambil ditemani seorang wanita seksi yang dengan manja merebahkan kepalanya di dada Arthur, dengan jemarinya yang memainkan bulu-bulu halus yang menyembul dari balik baju pria itu.


Ekspresi Arthur begitu datar. Dia sama sekali tak peduli dengan wanita yang terus menggodanya. Pikirannya dipenuhi oleh Lisa, gadis kecil yang dulu pernah menghiasi hari-harinya.


Sang casanova seolah telah kehilangan instingnya, saat sesuatu yang berhubungan dengan Lisa mulai merasuki kepalanya.


...🍂🍂🍂🍂🍂...


Malam kejadian, di mana Mona dijual oleh sang kakak tiri, Jeffrey, untuk membayar hutang-hutangnya akibat judi yang membelenggu. Malam di mana sang ibu justru sedang meregang nyawa di meja operasi.


Masih jelas diingatan Mona, jika malam itu ia masih menjadi Lisa, dibawa masuk ke dalam sebuah mobil van, yang di dalamnya terdapat seorang wanita cantik, yang duduk di kursi depan.


Wanita itu menyerahkan sebuah alat suntik kepada anak buahnya, dan memerintahkan mereka untuk menyuntikkannya kepada Lisa, Mona di masa lalu.


Setelah itu, Lisa dibawa ke sebuah tempat yang ia pun tak tau di mana dan tempat apa itu. Sesampainya di sana, Lisa diseret oleh kedua pria bertubuh besar ke dalam sebuah ruangan, di mana terdapat sebuah ranjang besar di dalamnya.


Cahaya ruangan itu begitu temaram, dan Lisa remaja yang saat itu dalam keadaan setengah sadar, tidak tau sedang berada di mana.


Kedua pria itu melempar Lisa ke tas tempat tidur, dan meninggalkannya seorang diri. Lisa yang saat itu masih seorang gadis belia, menggeliat-geliat kepanasan karena efek obat yang diberikan kepadanya.


"Tolong… panas…," rintihnya sambil meliuk-liuk di atas tempat tidur.


Sesaat kemudian, seorang pria masuk ke dalam ruangan minim cahaya tersebut, dan melihat Lisa yang masih mengenakan seragam sekolahnya, tengah menggeliat-geliat di atas tempat tidur.


Gadis itu merangkak mencoba mendekati pria itu, sembari meminta tolong.


"Tolong... Panas...," ucap Lisa sambil menarik tangan pria tadi.


"Heh... Mereka masih saja memakai cara ini. Apa tidak bisa mereka biarkan permainan sedikit lebih seru?" gumam pria itu.


Dia mendekati gadis tersebut, dan mencengkeram kedua pipinya.


"Kamu mau aku tolong?" tanyanya.


Si gadis pun mengangguk dengan penuh pengharapan.


"Baik lah," seru pria itu dengan senyuman liciknya.


Dibukanya satu persatu kancing baju seragam yang masih melekat di tubuh Lisa, dan membuat si gadis terkejut dengan apa yang dilakukan pria itu.


Lisa dengan sisa tenaganya memegangi pakaian yang masih tersisa dengan sekuat tenaga.


"Tidak... Jangan... Tolong aku... Tolong...," teriak gadis itu.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih