
Perjalanan yang ditempuh selama tujuh jam dari bandara internasional Kota S di Negara K, menuju Kota Akasia, cukup membuat Mona kelelahan.
Setibanya di bandara, Mona meminta untuk diantarkan langsung menuju apartemen miliknya.
Sepanjang perjalanan, dia selalu diam dan memandang ke arah luar. Sedangkan Joshua, selalu menjadikan momen itu sebagai saat yang paling berharga.
Aku tau, pertemuan mu dengan Nona Peterson, kembali membuka kenangan lamamu yang ingin kau lupakan, Mona, gumam Joshua dalam hati.
Dia sangat mengenal baik wanita cantik dan seksi itu, karena dia lah orang yang telah mengganti namanya menjadi dari Lisa menjadi Mona.
Sejak saat pertemuan pertama mereka, Mona tak pernah menyebutkan siapa nama aslinya, sampai Joshua mencari taunya sendiri lewat bantuan Madame Queen, muci*kari tempat Mona bekerja.
Aku tau, kamu sangat ingin mengubur dalam-dalam nama itu di jurang hati mu. Membuang semua kenangan mu bersama nama yang begitu cantik itu. Tapi di dunia ini, ada hal yang memang harus kamu hadapi, cepat atau lambat. Dan ini adalah salah satunya, bertemu dengan orang dari masa lalumu, Joshua kembali berdialog dalam hatinya sendiri
"Aku mau langsung istirahat, Josh. Apa kau mau menginap? Tapi ingat, hanya tidur. Tidak ada kegiatan lainnya." Mona tiba-tiba menoleh dan berbicara pada Joshua, yang sedari tadi memandangi dirinya.
"Ehm โฆ yah, boleh juga. Kebetulan, aku juga sangat lelah. Bukankah lebih cepat jika aku ke apartemen mu saja malam ini," sahutnya dengan nada bicara yang terdengar senormal mungkin, menutupi kegugupannya karena tertangkap basah telah memandangi wajah wanita itu.
"Oke. Terserah kau saja. Yang jelas, hanya tidur, tidak ada hal lain." Mona kembali menegaskan.
"Ya โฆ ya โฆ baiklah, dasar cerewet. Hahaha โฆ," gerutu Joshua yang di akhiri dengan tawa lepasnya.
Mona hanya mengedikkan bahunya, dan kembali menghadapkan wajahnya ke arah jendela mobil, lalu memandang ke arah luar, menikmati pemandangan kota metropolitan itu.
Empat puluh lima menit sudah mereka tempuh dari bandara, kini sampailah mereka di pelataran apartemen Mona, The Royal Blossom.
Sebuah komplek hunian kelas atas, yang terdiri dari empat tower apartemen mewah, dan deretan perumahan elit serta ruko, dengan segudang fasilitas publik yang berkelas.
Tepat di tengah area tersebut, terdapat sebuah central park yang berisikan berbagai macam bunga-bunga yang dirawat dengan baik oleh para florist terbaik di ibukota, menambah kesan indah dan asri pada area hunian itu, dari warna warni bunga yang bermekaran di berbagai musim.
Mobil yang mereka berdua tumpangi, kini telah berhenti tepat di depan pintu masuk lobi.
Sang supir keluar dan berjalan ke belakang, lalu membukakan pintu untuk Joshua.
"Ayo," pria itu mengulurkan tangannya, dan segera disambut oleh Mona yang ikut turun bersama.
Mereka lekas menuju ke atas dengan menggunakan lift, dan sejenak kemudian, mereka telah tiba di unit milik Mona.
Wanita cantik itu langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya, sesampainya ia di apartemen miliknya.
Selang tiga puluh menit kemudian, ia keluar dengan mengenakan handuk kimononya, dan berjalan menuju walk in closet, untuk berganti pakaian.
"Kamu tidak mandi, Josh?" tanya Mona yang tengah berdiri di ambang pintu.
"Ehm ... sebentar lagi. Aku masih ada pekerjaan sedikit," sahutnya sambil terus sibuk dengan macbook-nya.
Mona hanya mengedikkan kedua bahunya, mendengar jawaban dari pria paruh baya itu. Dia pun kembali berjalan menuju walk in closet dan mengambil baju tidurnya.
Semua koleksi baju tidur yang dimiliki berbahan satin, sehingga membuat lekuk tubuhnya terlihat begitu menonjol dengan indah. Kali ini, dia mengambil yang berbentuk dress pendek selutut berwarna soft gold, dengan tali bahu tipis.
Kaki jenjang nan mulusnya, terekspose dan menggiurkan siapa saja yang melihatnya.
Selesai berganti baju, dia pun keluar dari ruangan itu, dan berjalan menuju tempat tidur. Ia sudah tak menemukan keberadaan Joshua yang tadi duduk di atas sofa.
Terdengar gemericik air dari dalam kamar mandi, yang menandakan ada seseorang di dalam sana.
"Mungkin dia sedang mandi," gumamnya sambil berjalan lurus menuju ranjang, dan naik ke atasnya.
Ia kemudian membenahi posisi bantalnya, dan merebahkan diri di sana. Tak lupa ia juga menarik selimut untuk melindungi tubuhnya yang hanya dibalut pakaian tipis dari hawa dingin AC di dalam ruangan tersebut.
Rasa lelah benar-benar menguasainya. Ia pun perlahan memejamkan matanya, dan tak lagi mempedulikan Joshua yang belum keluar dari kamar mandi.
Selang beberapa saat, pria paruh baya itu telah selesai membersihkan dirinya, dan berjalan menuju walk in closet. Ia memang menaruh beberapa pakaian gantinya di sana, termasuk celana boxer kegemarannya, yang selalu ia pakai ketika tidur.
Dia pun lalu berjalan ke arah ranjang dan bergabung bersama Mona. Namun, belum juga ia berbaring, ia mendengar wanita cantik itu menggumamkan sesuatu.
Ia pun perlahan mendekatkan telinganya ke wajah Mona, dan mencoba mendengarkan apa yang tengah ia gumamkan.
"Tidak! Jangan! Kembalikan! Kembalikan!" gumam Mona meracau di dalam tidurnya.
...๐๐๐๐๐...
"Hei, kau... dasar ana pela*cur. Jangan pernah dekat-dekat dengan anakku," kata salah seorang wanita kepada seorang gadis kecil, yang berusia sekitar sepuluh tahun.
Sang gadis kecil hanya menatap wanita itu dalam diam, sambil mengulurkan tangannya yang memegangi sebuah bola bisbol.
PLAK!
Wanita itu menepis tangan gadis kecil itu, hingga bola yang ia pegang jatuh dan terpental entah kemana.
"Ibu, bolaku," rengek seorang anak yang tengah berdiri di belakang wanita tersebut.
"Buang saja. Nanti kita beli lagi. Bolanya sudah kotor terkena manusia hina itu," sarkas si wanita itu kepada gadis kecil tadi.
Kenapa semua orang membenciku? gumam si gadis kecil dalam hati.
Dia pun lalu berbalik dan berjalan pulang.
Saat di tengah jalan, ia melihat sekumpulan anak-anak seusianya tengah bermain di sebuah tanah lapang, atau lebih tepatnya lahan kosong yang berada di perkampungan itu.
"Heh, Lisa. Pergilah! Jangan deket-deket kami, dasar anak pela*cur," kata salah seorang anak.
"Iya, benar. Pergilah, dasar anak pela*cur," timpal salah seorang anak yang lain.
"Lisa anak pela*cur! Lisa anak pela*cur!"
Anak-anak itu terus menyoraki Lisa dengan sebutan hina itu, dengan diiringi tepukan tangan.
Lisa hanya diam. Dia sama sekali tak paham maksud dari ucapan anak-anak itu. Yang dia tau hanya, kehadirannya tak diinginkan di tempat itu.
Lisa kecil pun berjalan menjauh dari kerumunan anak-anak seusianya, yang tengah bermain bersama di lapangan kecil dekat tempat tinggalnya.
Dia memilih untuk duduk berjongkok, sambil menyaksikan dari kejauhan, keseruan teman-temannya bermain sebuah permainan tradisional.
Permainan itu sungguh menegangkan, apa lagi Lisa yang menyaksikannya dengan sangat antusias. Dia ingin sekali bisa merasakan permainan seru itu.
Namun, penolakan akan dirinya selalu membuat dia urung untuk membaur.
Dia hanya duduk berjongkok, dengan tangannya yang memainkan batang kayu lapuk, sambil menatap ke arah anak-anak itu dengan mata berbinar.
"Lisa! Lisa! Kamu di mana, Nak?" panggil seorang wanita.
Lisa pun segera menoleh, dan seketika itu juga dia bangkit dan berlari menghampiri wanita itu.
"Iya, Bu," sahutnya.
Lisa kecil berlarian menghampiri wanita yang tak lain adalah sang Ibu.
"Tolong bantu Ibu mengantarkan pakaian bersih ke hunian itu. Kau bisa bukan?" pinta sang Ibu.
Lisa kecil pun mengangguk dengan cepat, dan terlihat begitu antusias.
Dia segera meraih setumpuk baju yang telah bersih dan sudah dikemas dalam kantong-kantong plastik.
"Aku pergi dulu, Bu," Lisa kecil pun pamit dan berjalan dengan riang menyusuri jalanan setapak yang menghubungkan langsung antara perkampungan dengan hunian mewah yang berada tepat disebelahnya.
Jika dilihat, itu bukanlah sebuah jalan resmi, namun hanya sebuah celah di antara dinding pembatas, yang dimanfaatkan sebagian warga sekitar pulang pergi ke hunian itu untuk bekerja.
Termasuk Ibu Lisa yang adalah seorang pemilik binatu kecil yang biasa mengambil pakaian kotor dari rumah-rumah yang ada di area tersebut.
Kini, Lisa telah sampai di rumah tujuannya.
TOK! TOK! TOK!
Lisa kecil mengetuk pintu samping rumah besar itu, karena dia selalu diperingatkan oleh sang ibu, agar selalu lewat pintu samping, setiap kali ia mengantar dan mengambil pakaian.
"Oh... rupanya kau, Lisa. Cuciannya audah selesai ternyata?" kata seorang asisten rumah tangga di rumah itu, yang bertubuh agak gempal.
"Benar, Nyonya Luo. Ini pakaian-pakaiannya," Lisa kecil menyerahkan setumpuk pakaian kering itu kepada wanita bermarga Luo itu.
"Tunggu sebentar," ucap Nyonya Luo sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
Lisa kecil menunggu di luar. Dia duduk seorang diri di kursi yang ada di dekat pintu belakang.
"Lisa, ini bayaran untuk hari ini," ucap Nyonya Luo saat kembali ke luar, dan memberikan upah dari cucian yang telah diantarkan gadis kecil itu.
"Lalu ini, pakaian kotor yang harus kamu bawa," lanjutnya sambil menyerahkan sekantung besar baju-baju kotor sang majikan.
"Terimakasih, Nyonya," ucap Lisa.
Dia pun pergi meninggalkan rumah besar itu, dan berjalan kembali melewati jalan yang sama.
Saat di tengah jalan, seseorang menarik kerah bajunya dari belakang. Lisa pun terjungkal, dan membuat semua barang bawaannya terjatuh dengan beberapa baju nampak terburai.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like ๐, komen ๐, atau beri dukungan lainnya
terimakasih