DESIRE

DESIRE
Bab 82



"Menurut hasil visum, tidak ditemukan cairan sp*rma, bahkan sobekan atau luka di sekitar **** ***** korban. Pakaian dalamnya pun masih melekat di tubuh wanita ini. Hal tersebut menandakan jika Anda datang di waktu yang sangat tepat. Dengan kata lain, korban tidak sempat mengalami pemerkosaan," jelas sang dokter.


Mendengar pernyataan dari dokter itu, Gerald terdengar menghela nafas lega, bersamaan dengan itu, Arthur mengecup punggung tangan Mona dalam-dalam.


"Namun, ada bekas merah di beberapa bagian tubuhnya, terlebih kondisi pasien yang terlalu banyak terpapar obat perangsang dengan dosis yang cukup besar, yang mungkin akan mengakibatkan rasa pusing yang kuat serta otot yang tegang saat bangun nanti," lanjut sang dokter.


"Tapi dia akan baik-baik saja kan, Dok?" tanya Arthur.


"Asalkan dia dirawat intensif di sini selama beberapa hari, pasien akan bisa segera pulih," ucap sang dokter.


"Terima kasih informasinya, Dok," seru Arthur.


"Sama-sama. Kalau begitu saya permisi dulu," sahut dokter itu sambil meletakkan berkas di atas nakas.


Seperginya dokter, Arthur kembali menatap lekat wanitanya, sambil terus menggenggam erat tangan Mona.


"Kau sudah dengan penjelasan dari dokter, kan? Sekarang kau bisa pergi," ucap Arthur datar kepada pria yang telah bersama-sama dengannya menolong Mona.


"Hem... baiklah. Aku pergi. Besok, aku akan datang lagi untuk menjenguknya," sahut Gerald.


"Tidak perlu. Ini juga bukan urusanmu," sanggah Arthur datar.


"Terserah. Mona wanita bebas. Dia tak dimiliki siapapun. Jadi, aku berhak untuk menemuinya," ucap Gerald yang kemudian pergi dari ruang rawat mewah itu.


"Hah...." Arthur menghembuskan nafasnya yang terdengar begitu berat, setelah Gerald keluar dan menutup pintunya.


Dia mengulurkan sebelah tangannya ke wajah wanita yang masih terpejam itu, dengan perasaan yang kacau.


Ia mengusap lembut kening Mona, dan menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantiknya.


Sebelah tangan yang lain, masih setia menggenggam erat jemari Mona, sambil sesekali menciumi buku-buku jari wanita tersebut.


"Maaf. Andai saja aku datang lebih cepat, pasti mereka tak akan sempat menyentuhmu. Maaf," ucapnya dengan tatapan sendu.


Rasanya sangat sakit ketika melihatmu dilecehkan seperti ini. Aku tak bisa bayangkan kehidupanmu yang dulu, terlebih saat kau harus kehilangan mahkotamu, dan bertahan di tempat pel*curan itu selama bertahun-tahun, batin Arthur.


Entah kenapa, hatinya terasa kembali sakit. Terlebih saat dia mengingat cerita Joshua, yang dengan jujur mengatakan jika dialah yang mengambil keper*wanan Mona dalam keadaan tak sadar.


Dia tak bisa bayangkan, bagaimana hancurnya Mona saat itu. Ia semakin merasa bersalah karena sudah meninggalkannya sendiri.


Harusnya, aku tak melepas mu lagi lima tahun lalu. Harusnya saat itu, aku turut membawamu ke negera ku, agar kau tak mengalami semua hal mengerikan itu. Kenapa aku begitu b*doh, batin Arthur.


Tak terasa, lelehan bening mengalir di sudut mata pria itu. Sesak di dadanya membuat air mata tak bisa terbendung lagi. Penyesalannya kian dalam, saat dengan kedua matanya, dia menyaksikan setiap kejadian buruk yang seperti sengaja diarahkan kepada wanitanya.


Ia pun merebahkan kepalanya di samping perut Mona, dan terisak dalam diam, menyesali semua kebodohannya di masa lalu.


...🍂🍂🍂🍂🍂...


Keesokan paginya,


Arthur terbangun dengan posisi yang sama. Tidurnya terganggu karena sinar mentari yang begitu terang masuk kamar Mona, dan mengusiknya.


"Ehm... sudah pagi," gumamnya sambil menegakkan duduk dan meregangkan otot-otot yang kaku.


Dia menatap Mona yang masih lelap terpejam, dengan nafas yang terlihat begitu teratur.


Arthur mengusap lembut kening Mona, dan mengecup singkat wanita itu.


"Ehm...." Mona melenguh lirih.


Sepertinya, wanita cantik ini juga merasa terusik dengan kecupan selamat pagi dari Arthur.


Perlahan, bulu matanya yang lentik bergerak-gerak dan mulai mengerjap.


Arthur yang melihatnya pun, seketika memanggil nama wanitanya.


"Lisa," panggil Arthur.


"Ehm...." Mona merasa silau dan kembali menutup matanya.


Perlahan, dia membuka kembali matanya, dan menyesuaikan pupil hitam dengan cahaya mentari yang begitu terang menerangi ruangan tersebut.


"Ehm... Kakak. Aku di mana?" tanya Mona lirih, sambil mengedarkan pandangan ke sekitar.


Mona lalu mencoba bangun dari posisinya.


"Kenapa aku... Aaaahhhh...," keluh Mona sambil memegangi kepalanya.


"Kenapa, Sayang? Apa pusing sekali?" tanya Arthur yang nampak begitu khawatir.


"Ehm... iya, Kak. Kepalaku rasanya mau pecah." Mona terus memegangi pelipisnya karena rasa nyeri yang teramat.


"Sebaiknya kamu tetap berbaring. Jangan paksakan kalau memang belum kuat bangun," tutur Arthur yang kembali menuntun Mona agar berbaring.


"Ehm... kenapa aku di sini, Kak?" tanya Mona yang masih memegangi kepalanya yang pening.


Arthur diam. Dia tak tau harus berkata apa kepada wanita ini.


Tak mendengar jawaban Arthur, Mona pun mencoba membuka matanya dan menatap pria yang ada di sampingnya.


"Kak, apa yang terjadi dengan ku?" tanya Mona yang mulai bingung.


"Ehm… tidak apa-apa. Tidak ada yang terjadi. Semua baik-baik saja. Lebih baik, kau istirahat agar cepat pulih, hem," seru Arthur kepada wanitanya itu.


"Ehm… tapi, Kak…," Mona


"Sssttt… sudah ya. Istirahat saja. Aku akan panggilkan dokter sebentar. Kau diam saja, oke," tutur Arthur.


Mona hanya tersenyum menimpali seruan pria itu. Sedangkan Arthur, dia berjalan ke luar dan meninggalkan wanitanya seorang diri.


Wanita tersebut memejamkan matanya kembali, berusaha mengurangi rasa pusingnya.


"Ssshhh… pusing sekali kepalaku. Semalam aku kenapa?" gumam Mona sambil memijit-mijit pangkal hidungnya.


Dia mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi semalam.


"Kalo tidak salah, semalam aku pergi ke …," gumam Mona terhenti.


Dia mulai mengingat kejadian demi kejadian yang menimpanya. Matanya membola, saat kepingan memorinya muncul.


Tidak! Tidak mungkin! Tidak mungkin kalo aku sudah …, batinnya.


Mona mulai bereaksi. Dia pun bangun, meski kepalanya masin terasa sakit. Dia mencoba berdiri dan berjalan ke arah wastafel, di mana ada cermin di sana.


Dengan susah payah, Ia berpegangan pada setiap benda yang bisa ia jadikan pegangan.


Sesampainya di depan cermin, Mona mengangkat tangannya dan mencoba memegang kerah baju yang ia kenakan.


Tangannya terlibat begitu gemetar, seakan takut apa yang ia duga ternyata benar. Perlahan, dia meraih kerahnya, dan segera menutup mata, saat baju yang ia pakai ditarik hingga dadanya terbuka.


Mona belum berani melihat dirinya di cermin. Namun, rasa penasarannya melebihi rasa takutnya. Dia pun perlahan membuka matanya, dan memberanikan diri melihat pantulannya di cermin.


"Hah...." Mona seketika itu membekap erat mulutnya, dan menahan suara jeritnya.


Matanya membulat saat melihat tanda merah yang tertinggal di beberapa bagian tubuh. Mona menggeleng cepat, seolah menyangkal semua yang ia Lihat


Tidak! Tidak mungkin! batin Mona merintih tak percaya itu.


Seketika itu juga kakinya lemas, dan tubuhnya merosot jatuh bersimpuh di lantai. Ia lalu meraih kembali kerahnya, dan merem*s erat bagian yang terbuka.


Pandangannya kosong.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih