DESIRE

DESIRE
Bab 126



Keesokan harinya, Ema sudah sadar. Mona pun sangat bersyukur karena melihat rekannya itu bisa kembali membuka matanya.


"Em, terimakasih ya. Kau sudah menyelamatkan ku. Aku berhutang banyak padamu," ucap Mona.


Dia kini tengah duduk di samping ranjang Ema, dan meraih tangan rekannya itu.


"Ingat baik-baik kalau hutang mu banyak. Jangan lupa bayar ya nanti," seru Ema.


"Dasar perhitungan!" keluh Mona.


Namun, keduanya saling melempar senyum satu sama lain, meski cekcok mewarnai obrolan mereka sehari-hari.


"Aku senang kau tak apa, Mon. Apa lagi, sekarang semuanya sudah aman dengan tertangkapnya orang itu," ucap Ema.


"Iya, Em. aku juga merasa lebih tenang. Semoga setelah ini, sudah selesai yah semuanya," sahut Mona.


Mereka berdua seperti tengah melepas rindu, layaknya sudah berpisah untuk waktu yang cukup lama.


...🍂🍂🍂🍂🍂...


Di luar kamar Ema, Nampak Arthur dan juga William tengah membicarakan sesuatu yang serius.


"Apa dia sudah mau bicara?" tanya Arthur.


"Dia terus bungkam, Tuan. Meskipun tubuhnya sudah babak belur, tapi dia tetap diam," tutur William.


"Terus siksa dia sampai mau buka mulut. Kalo perlu, biar aku juga ikut menginterogasinya," ujar Arthur.


"Tapi tuan, apa Anda sudah menemukan sesuatu yang janggal di apartemen?" tanya William.


"Belum, Will. Ini aneh. Kalau waktu itu dia masuk dan hanya berdua dengan Mona, kenapa tak ada yang terjadi dengan wanita itu. Lalu kemarin, saat ada Ema, dia malah melakukan serangan," ungkap Arthur.


"Benar, Tuan. Mumpung sekarang Nona Mona sedang di rumah sakit, bolehkah saya dan anak buah menyisir seisi apartemen Anda, untuk mencari benda mencurigakan yang mungkin saja memang sengaja ditinggal oleh orang itu," ujar William.


"Yah, kau boleh melakukannya. Ambil apapun yang terlihat mencurigakan," seru Arthur.


"Baik, Tuan." William pun pergi dari depan ruang rawat Ema.


Seperginya sang asisten, Arthur kembali masuk dan melihat jika wanitanya masih berbicara dengan Ema.


"Kak, Will mana?" tanya Mona.


"Dia sudah kembali ke kantor," sahut Arthur yang duduk di sofa.


"Yah, dia bahkan tidak pamit," gumam Ema.


Wanita itu terlihat kecewa karena William tidak menemuinya lagi sebelum pergi.


"Ehem … ada yang kesal nih," sindir Mona yang melihat ekspresi rekannya itu.


"Eh … apa sih. Siapa juga yang kesal," kilah Ema.


"Tidak mau ngaku tuh. Hem... sok jual mahal," goda Mona.


"Ck! Menyebalkan!" Ema pun hanya bisa mencebik kesal mendengar sindiran dari wanita yang tengah duduk di sampingnya itu.


"Hahahaha… Ema, Ema. Ngaku saja kalau kau memang suka sama Will. Love at the first sight. Hahaha …," kelakar Mona.


Arthur yang duduk di seberang kedua wanita itu pun hanya memandang dengan tatapan yang sulit diartikan.


Jeffrey sudah tertangkap, dan dia sudah bisa tertawa seperti itu. Harusnya aku merasa tenang. Tapi, kenapa seperti ada yang terlewat, batin Arthur.


Flash back on,


Beberapa hari yang lalu, saat terjadi keributan yang diakibatkan Ema yang menggedor-gedor pintu apartemen, saat meninggalkan Mona dan tukang ledeng gadungan berdua saja di dalam apartemen, Arthur sempat bertanya kepada Mona apa yang sebenarnya terjadi.


"Apa? Cotton bud?" tanya Arthur.


"Ehm … dia minta cotton bud padaku aku," jawab Mona.


"Terus?" tanya Arthur lagi.


"Terus ya … aku ambilkan lah," jawab Mona biasa saja.


Wanita itu sampai saat ini belum tahu jika saat itu, dia hanya berdua di dalam apartemen dengan orang yang sangat dia takuti.


"Kamu ambil di kamar dan meninggalkan dia di bawah begitu?" tanya Arthur memastikan


Mona hanya mengangguk pelan.


Aneh sekali. Kenapa dia Tidak ngelakuin apapun, padahal saat itu dia hanya berdua saja dengan Mona di sini, batin Arthur.


"Ehm … Tidak kok. Kamu ngantuk Tidak? Tidur yuk," ajak Arthur.


Mona pun kembali mengangguk. Dia kemudian berbaring dan memeluk erat Arthur, dan menggunakan lengan pria itu sebagai bantalannya.


Setelah Mona tertidur, Arthur nampak menghubungi William untuk menanyakan perihal kejadian siang tadi dan memintanya meng-handle semua urusan kantor untuk sementara ini.


"Bagaimana, Will. Apa benar dia tukang ledeng palsu?" tanya Arthur.


"Kami sudah cek semua CCTV yang menangkap pergerakan orang tersebut. Dia terakhir terlihat masuk ke sebuah swalayan. Tapi, saat kami melihat CCTV di swalayan itu, dia keluar dari toilet umum dengan mengganti penampilannya. Ini jelas sekali jika dia hanya menyamar," ungkap Will.


"Lalu, apa kamu tau ke mana lagi dia pergi?" tanya Arthur.


"Dia masuk ke dalam sebuah mobil van hitam. Dari arahnya, dia seperti menuju ke pinggiran kota," tutur William.


"Daerah mana?" cecar Arthur.


"Ke arah selatan, di daerah perbukitan. Tapi, saat dalam pengejaran, kami kehilangan jejaknya di sekitar jalan yang menuju hutan," jawab William.


"Hah … sudah pasti dia tak akan mudah tertangkap. Baiklah, kita bahas ini lain waktu lagi. Sekarang, aku ada tugas untuk mu. Beberapa hari ke depan, handle semua pekerjaan di kantor. Jika ada dokumen yang perlu tanda tanganku, bawa semuanya ke apartemen," seru Arthur.


"Tapi kenapa, Tuan?" tanya William.


"Aku harus mencari tau sesuatu yang mungkin saja dia tinggalkan di sini. Tidak mungkin dia masuk ke sini tanpa tujuan apapun. Ini hal yang mustahil," ucap Arthur.


"Benar sekali, Tuan. Saya pun berpikir seperti itu. Baiklah, saya akan coba mengurus semua urusan kantor. Jika ada yang perlu persetujuan Anda, akan saya bawakan ke sana," sahut William.


"Terimaksih, Will." Arthur pun memutus sambungan teleponnya.


Dia melipat kedua lengan dan menatap lurus ke arah langit malam yang berada tepat di hadapannya.


Pasti ada sesuatu yang tidak beres, batin Arthur.


Sejak hari itu hingga beberapa hari setelahnya, Arthur terus berusaha untuk mencari benda mencurigakan yang mungkin bisa ia temukan di dalam apartemennya.


Hampir semua sudut, sudah coba disisir oleh Arthur, namun Jeffrey benar-benar pintar menyembunyikannya.


...🍂🍂🍂🍂🍂...


"Kak! Kakak!" panggil Mona.


"Ehm… ya, Mona?" tanya Arthur yang tersadar dari lamunannya.


"Issh! Ngelamun apa sih?" tanya Mona yang menatap Arthur curiga.


"Lagi ingat selingkuhannya mungkin tuh," seloroh Ema.


"Apa?!" pekik Mona yang melampar tatapan tajam ke arah prianya.


"Heh, Ema. Jangan suka bicara sembarangan yah. Siapa bilang saya mikirin selingkuhan?" elak Arthur bersungut-sungut.


"Oh… bukan katanya tuh. Aawwww…," pekik Ema saat mendapat cubitan dari Mona di lengannya.


"Sakit tau, Mon!" keluh Ema.


"Kau menyebalkan," tukas Mona.


Ema meringis sambil mengusap-usap lengannya yang masih terasa panas oleh cubitan Mona. Sedangkan rekannya itu beranjak dari duduknya dan menghampiri Arthur.


"Kenapa sih, Kak? Lagi mikiran apa sampai bengong begitu?" tanya Mona yang duduk di samping prinya.


"Ehm… Tidak papa kok. Cuma kerjaan saja," sahut Arthur.


Pria itu mengusap lembut puncak kepala Mona, dengan tatapan yang terlihat sendu.


Tunggulah sebentar lagi, Mona. Aku akan tuntaskan semuanya dan mengeluarkanmu dari semua masalah ini, batin Arthur.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih