
"Terimakasih, Gerald. Kau sudah menolong ku semalam," ucap Mona saat pria itu sudah duduk di kursi yang semula ditempati oleh Arthur.
"Kebetulan aku tau kau dalam bahaya, jadi sudah kewajibanku untuk ikut menolong bukan," sahut Gerald.
"Yah, Tuan ini langsung lari menyusul Tuan Peterson, saat tau ada yang tidak beres denganmu," timpal Elliott yang sedang duduk di samping bosnya.
"Tapi, dari mana Ema tau kau akan ke Grand moon? Apa kalian melakukan permainan b*doh lagi?" terka Madame Queen yang penasaran akan masalah ini.
"Tidak, Mom. Ema tidak ada kaitannya dengan semua ini. Malah, aku juga penasaran dari mana dia bisa tau," sanggah Mona.
"Lalu, mau apa kau pergi ke sana?" tanya Madame Queen menatap tajam ke arah Mona.
Mona pun seketika diam.
Aku tak mungkin bilang yang sebenarnya bukan. Aku harus minta penjelasan dulu dari anak itu, batin Mona.
"Tidak mungkin kau ke sana karena uang bukan? Apa Tuan Peterson tak mencukupi semua kebutuhanmu, hah?" cecar Madame Queen.
"Ah... Mom. Ayolah… dia itu sultan. Mana mungkin dia pelit. Kemarin saja aku baru di transfer setengah miliyar," tutur Mona dengan bangganya.
"Lalu... apa alasanmu ke sana, hah? Iseng?" ucap Madame Queen kesal.
"Hehehe... Madame bisa saja. Mana mungkin aku se-b*doh itu sampai pergi ke sana. Hahaha... hah...," sahut Mona dengan senyum terpaksa, sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Dasar anak ini. Kenapa kau selalu berbuat seenaknya sih hah. Apa kau tau betapa khawatirnya aku saat tau kau pergi ke tempat mengerikan itu. Coba kalau Tuan Peterson dan Tuan Holes tidak sampai tepat waktu. Kau mungkin sudah jadi orang gila sekarang. Apa yang harus ku katakan saat bertemu dengan Joshua nanti di akhirat," ucap Madame Queen bersungut-sungut.
"Bilang saja aku iseng," seloroh Mona.
"Dasar anak ini," ucap Madame Queen kesal.
"Hahahha... aku hanya bercanda, Mom. Ayolah. Lagi pula, Tuan Peterson tak akan tinggal diam saat tau aku menghilang. Dia pasti akan mencariku, karena pria itu tak bisa tidur kalau aku tak ada di sampingnya… hahaha…," kelakar Mona.
Madame Queen hanya bisa melipat kedua lengannya dan mencebik kesal dengan jawaban Mona yang dinilai tak serius sama sekali.
Mona terus saja tertawa. Dia tak tau jika pria yang saat ini duduk di sampingnya, merasa tidak nyaman saat Mona dengan gamblangnya mengumbar hubungan antara dirinya dan Arthur di depan semua orang.
Apa aku sudah tak punya kesempatan sama sekali, Mona? batin Gerald.
Elliott bisa menangkap hal itu. Namun, dia memilih tetap diam dan hanya mengamati saja dari jauh.
"Ehm... Mona, sepertinya aku harus pergi. Masih ada sesuatu yang harus aku selesaikan," ucap Gerald sambil memaksakan senyumnya.
"Oh... cepat sekali? Baiklah, kau pasti sibuk. Hati-hati yah," sahut Mona.
"Nyonya... Ell... saya permisi dulu," pamit Gerald kepada kedua orang yang sedang duduk di sofa.
...🍂🍂🍂🍂🍂...
Di dekat parkiran luar, Arthur nampak berbicara pada seseorang. Sepertinya sebuah pembicaraan yang serius.
"Apa? Kenapa bisa begitu?" tanya Arthur yang terdengar emosi.
"Maaf, Tuan. Kami juga belum begitu tau. Kabar tersebut baru pagi ini sampai, dan mereka telah mulai meratakan tanah yang ada di sana. Namun sepertinya, jika kita tidak segera membangun proyek ini, maka kita akan tersalip oleh kompetitor dan kemungkinan akan rugi besar karena kalah start, mengingat jaraknya yang cukup dekat dengan tempat kita," papar orang di seberang yang tak lain adalah sang asisten.
"Bagaimana sampai tidak tau hal penting seperti ini? Baiklah, aku akan coba untuk segera mencari solusinya," ucap Arthur dengan kesal.
Pria itu seketika menutup teleponnya.
"Yang benar saja. Departemen store dengan jarak hanya tiga kilo dari tempat ku? Ini sama saja mengajakku perang. Tidak... tidak bisa. Rencanaku tidak boleh gagal… demi Mona." Arthur mengacak rambutnya kesal.
Tepat saat itu, Gerald muncul dari dalam rumah sakit, dan berjalan menuju tempat parkir.
Arthur menangkap kedatangan pria dengan nama belakang Holes itu dengan gamang.
Apa iya aku harus memohon padanya? batin Arthur.
Tanpa sengaja, tatapan keduanya bertemu. Namun, Gerald segera berbelok menuju ke arah mobilnya yang terparkir agak jauh dari tempat Arthur berdiri.
Pria itu pun berjalan cepat menghampiri Gerald yang sudah membuka pintu mobilnya.
GREB!
Arthur mendorong pintu mobil Gerald hingga menutup dan membuat pria dengan nama belakang Holes itu terkejut atas perlakuan pimpinan PS group padanya.
"Tunggu. Ada yang ingin aku bicarakan," cegah Arthur sebelum pria itu mulai memarahinya.
"Tentang apa?" tanya Gerald.
"Mari kita bicara di caffe sebelah sana," ajak Arthur sambil menunjukkan sebuah tempat di seberang jalan.
Gerald menaikkan sebelah alisnya, tetapi kemudian dia berbalik dan berjalan menuju ke tempat yang ditunjuk oleh Arthur.
...🍂🍂🍂🍂🍂...
Di ruang rawat VVIP rumah sakit pusat yang berada di pusat ibu kota, Mona masih ditemani oleh Madame Queen dan juga Elliott.
Madame Queen berdiri dan berjalan menuju kursi yang tadi sempat ditempati oleh Arthur dan juga Gerald.
"Ell. Bisa belikan aku jus buah segar?" seru Madame Queen.
"Baik, Bos." Elliott pun segera melaksanakan perintah yang diberikan oleh Madame Queen kepadanya.
Seperginya Elliott, Madame Queen menatap tajam Mona, yang sedari tadi begitu asik memandangi bunga yang diberikan oleh Gerald kepadanya.
"Mona. Jawab dengan jujur. Kenapa kamu sampai pergi ke sana? Aku yakin kalau kamu masih waras, untuk pergi tanpa alasan yang jelas ke tempat gila itu " cecar Madame Queen.
Mona nampak menghirup aroma bunga-bunga itu dalam-dalam, dan menghembuskannya sekaligus.
"Hah… bunganya terlihat sangat indah dan wangi. Namun sayang, durinya begitu menyakitkan." Mona meletakkan buket bunga itu di pangkuannya dan menoleh ke arah Madame Queen.
"Apa kau tau, Mom. Sejak awal aku paling tidak bisa percaya dengan orang lain. Karena kapan waktunya, pasti mereka akan menyakiti kita, sebaik apapun kita pada mereka," ucap Mona.
Madame Queen mengerutkan keningnya dalam, mencoba mencerna perkataan Mona tadi.
"Di Heaven valley, siapa yang paling aku pedulikan? Siapa yang selalu berusaha dekat dengan ku sejak awal? Kau pasti tau kan, Mom," lanjut Mona dengan tatapan dinginnya.
"Mona… apa kau serius? Ini tidak boleh dibiarkan . Kita harus interogasi dia," seru Madame Queen yang geram setelah mendengar penuturan Mona.
"Tidak, Mom. Aku punya rencana lain agar dia mengungkap sendiri, apa yang telah ia perbuat di depan semua orang," ucap Mona dengan pandangan menerawang.
"Apa rencanamu?" tanya Madame Queen.
Mona menoleh, "Tunggulah nanti, Mom. Kau akan lihat sendiri."
Mona tersenyum dengan menyunggingkan sebelah sudut bibirnya ke atas.
Madame Queen mengerutkan kedua alisnya hingga hampir menyatu.
Dasar bocah licik. Apa rencanamu? batin Madame Queen.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih