DESIRE

DESIRE
Bab 114



Keesokan harinya, Arthur berniat meninggalkan Mona di apartemen untuk beberapa jam kedepan. Ada sesuatu hal yang harus ia urus sendiri, dan juga mengenai permintaannya kepada William atas rekaman CCTV di sekitar taman rooftop gedung perusahaannya.


Awalnya dia enggan untuk meninggalkan Mona seorang diri di apartemen, apalagi kondisinya yang masih belum stabil. Namun, masalah kali ini melibatkan anggota dewan yang sangat sulit untuk dihadapi, jika bukan Arthur langsung yang datang menemuinya.


"Tidak apa, Kak. Aku baik-baik saja kok," ucap Mona saat baru saja bangun pagi, dan masih nyaman di dalam pelukan prianya.


Arthur yang baru saja menerima panggilan dari William pun, terpaksa memberitahukan hal tersebut kepada Mona, karena wanita itu mendengarnya langsung dari sambungan telepon yang ia angkat di dekat Mona.


"Tapi, aku yang cemas sekarang," sahut Arthur.


"Serius aku tidak apa-apa. Kakak pergi saja," ujar Mona.


Arthur melonggarkan pelukannya, dan menatap wajah wanita itu lekat-lekat. Dia mencoba mencari keyakinan di mata Mona agar dia bisa tenang meninggalkannya sendiri.


"Benar?" tanya Arthur memastikan.


Mona pun mengangguk pelan sembari mengulas senyum tipis.


"Atau, kamu ikut aku saja ke sana. Iya begitu saja yah," seru Arthur.


Mona pun terkekeh.


"Kak, aku benar-benar tidak apa-apa kok ditinggal sendiri. Kalau aku ikut, yang ada nanti malah membuat kesan mereka padam jadi kurang baik bukan. Mana ada pertemuan penting seperti itu malah membawa waniga sih. Memangnya meeting di bar. hehehe…," tutur Mona yang diselingi tawa.


Arthur pun ikut tersenyum melihat tawa Mona telah kembali.


Mungkin tidak papa kalau aku tinggal dia sebentar saja, batin Arthur.


"Ya sudah, kalau begitu, aku mau siap-siap dulu yah," ucap Arthur yang mencium sekilas bibir wanitanya.


"Ehm… ya sudah. Aku siapkan sarapan dulu kalau begitu," sahut Mona.


"Tidak mau mandi bareng lagi?" tanya Arthur.


"Ish… nakal," keluh Mona memukul kecil dada Arthur.


pria itu pun terkekeh mendengar keluhan Mona atas ajakannya yang memang bermaksud menggoda wanita itu.


"Hanya menawarkan. Tidak mau ya audah," ucap Arthur sembari turun dari ranjangnya meninggalkan Mona yang masih kesal.


"Dasar menyebalkan," ujar Mona.


Wanita itu pun kemudian bangkit dan berjalan menuju ke meja rias. Dia mengambil bandana yang ada di dalam laci dan mengenakannya di kepala.


Dia berjalan ke arah walk in closet, dan memilihkan kemeja serta celana yang akan dikenakan oleh Arthur hari ini.


"Ehm… aku suka kalau dia memakai warna biru. Yang ini saja deh," gumam Mona.


Wanita itu mengambil sebuah kemeja dengan warna kesukaannya, dan sebuah celana bahan berwarna gelap. Kemudian, dia pun meletakkannya dengan hati-hati di atas tempat tidur.


Mona kemudian keluar menuju ke dapur untuk membuat sarapan, sambil menunggu Arthur selesai mandi dan bersiap-siap.


Tak berselang lama, terdengar langkah dari arah tangga. Mona menoleh dan melihat prianya telah turun dengan mengenakan setelan yang telah ia siapkan tadi.


"Segar sekali kelihatannya," ucap Mona.


Arthur berjalan mendekat, dan memeluk Mona dari belakang, yang saat itu tengah memasak sup ayam.


"Ehm… tadi diajak mandi bareng tidak mau sih. Lebih segar tau," sahut Arthur.


Mona pun menyikut perut Arthur dan membuat pria itu terkekeh.


Arthur menciumi puncak rambut Mona yang selalu wangi, dan membuatnya ingin terus menciuminya.


"Aku masih bau lho, Kak. Mending kamu duduk di meja makan saja deh," ujar Mona.


Wanita itu tak sadar, jika gerakan memasaknya yang terus bergerak ke sana ke mari meraih benda-benda yang berjarak cukup jauh, membuat gesekan antara bok*ng dan milik Arthur.


Pria itu pun dengan nakal semakin menekan miliknya agar terus menempel di antara dua bulatan sintal milik wanitanya.


Hingga Mona pun menyadari jika ada yang mengganjal di belakang, yang terasa begitu keras. Wanita itu lalu menghentikan gerakannya yang sedang mengaduk sup menggunakan sendok sayur.


"Ehm," gumam Arthur.


Pria itu terus menyandarkan dadanya di punggung wanita itu hingga Mona merasa semakin terdesak ke depan.


"Aku sedang pegang sendok sayur lho ini. Mau aku pukul sampai benjol yah? Minggir tidak!" hardik Mona yang merasa waktu memasaknya menjadi tidak nyaman akibat ulah Arthur.


"Ehm… sebentar. Cuma nempel saja, Sayang," sahut Arthur yang terus menghirup aroma rambut Mona yang membuatnya semakin berh*srat.


PLETAK!


"Aawwww!" pekik Arthur yang mengaduh kesakitan.


Mona benar-benar memukul prianya dengan menggunakan sendok sayur yang saat itu ia pegang.


"Sakit, Mona," keluh Arthur sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit.


Hasr*tnya yang tadi sempat naik, kini turun seketika dan hanya tersisa nyeri di kepalanya.


"Bukankah aku sudah katakan. Kakak duduk saja di sana, aku lagi pegang sendok sayur. Tapi Kakak maunya dipukul sih, jadi ku pukul saja deh, heheheh… sakit yah? Maaf," ujar Mona yang seolah tak bersalah sama sekali.


"Iya deh, iya. Aku ke sana dulu," gerutu Arthur sambil mengusap-usap kepalanya yang sakit.


Mona nampak masih terkekeh melihat prianya itu terus mengomel karena dia yang benar-benar tega memukulnya.


Tak lama kemudian, sup ayam sudah matang beserta lauk pelengkap lainnya. Arthur yang sedari tadi duduk, kini bangkit dan berjalan ke dapur, membantu wanitanya untuk menata semua makanan di atas meja.


"Makasih, Sayang," ucap Mona.


Arthur segera mendekatkan pipinya ke arah Mona, pertanda minta ucapan terimakasih yang lain dari wanita itu.


Mona terkekeh melihatnya, dan memberikan kecupan singkat di pipi Arthur.


"Tumben tidak bikin ayam kecap?" tanya Arthur yang telah duduk di kursinya.


Mona nampak mengambilkan nasi panas dari mesin penanak nasi otomatis untuk Arthur.


"Itu sih, yang di piring. tidak kelihatan ayam kecapnya ya?" tanya Mona yang kini sedang menuang sup ayam ke mangkuk.


Mona meletakkan semangkuk sup dan sepiring nasi di hadapan Arthur, kemudian mengambil untuk dirinya sendiri.


"Memang ini ayam kecap? Kok potongannya kecil-kecil begini?" tanya Arthur yang mengambil sedikit dan menaruhnya di atas piring.


"Lagi pengin bentuk baru, Kak. Bosen kalau bentuknya potongan besar-besar seperti biasanya. Kali ini ku potong kecil terus ku tumis pakai kecap. Tapi aku sih suka yang seperti ini. Lebih segar, soalnya aku beri irisan cabe," ucap Mona yang duduk dan mulai mengambil lauk untuknya.


"Ehm… iya sih. Lebih terasa ya bumbunya. Nanti pas aku pulang, masakkan yang seperti ini lagi yah. Ehm… enak," puji Arthur.


"Kakak kabari dulu kalau mau pulang, jadi aku bisa siapkan sebelum Kakak sampai," ucap Mona.


Sarapan mereka berlangsung seperti biasa, seolah tak ada masalah yang tengah menimpa mereka.


Arthur pun bergegas pergi, meski rasa ragu terus membayanginya kala meninggalkan Mona seorang diri di apartemen.


Tak berselang lama setelah Arthur pergi, seseorang terdengar mengetuk pintu dari luar. Mona yang sedari tadi tengah duduk di ruang tamu pun mendengar ketukan tersebut dan menghampiri pintu.


Dia membuka pintunya, dan betapa terkejutnya Mona saat mendapati siapa yang berada di luar apartemennya.


"Kau?!"


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih