
Beberapa jam yang lalu di pagi itu, Joshua berangkat ke kantor dari Heaven valley. Ia pergi pagi-pagi, bahkan sebelum cleaning service mulai datang untuk bekerja.
Saat ini, dia tengah duduk di dalam kantornya, berkutat dengan berbagai dokumen yang ada di atas meja.
Hari itu, jadwal Joshua cukup senggang. Ia masih mengingat pesan Mona yang dikirimkannya kemarin, yang mengatakan akan menjual mobilnya hari ini.
Dia tertawa mengingat akal Mona yang selalu bisa lepas dari masalah.
"Apa aku harus bertindak, agar dia tak jadi menjual mobil itu? Kalau pun dijual, harganya pasti masih bisa melebihi jumlah satu miliyar. Hahahahaโฆ Tuan Arthur, apakah Anda yakin untuk meminta saya tetap diam saja?" seru Joshua pada dirinya sendiri, kala berada di dalam ruang kerjanya.
Waktu sudah cukup siang. Kala itu jam menunjukkan pukul sepuluh. Joshua tengah memeriksa laporan-laporan penjualan brand fashion-nya, ketika sebuah panggilan datang.
Pria paruh baya itu pun lalu melihat nama si penelepon di layarnya.
Dahinya berkerut, saat sebuah nomor tak dikenal melakukan panggilan dengannya. Joshua pun langsung menggeser tombol hijau ke kanan.
"Halo," sapa Joshua yang menghentikan pekerjaannya, dan mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan orang di seberang.
"Maaf, Bos. Kami ada berita buruk. Seseorang telah melakukan sabotase pada mobil Nona Mona. Kami sedang menunggu kedatangan montir untuk memperbaikinya," ucapnya.
"Sabotase? Kenapa kau justru menelepon ku, hah? Segera perbaiki. Sebentar lagi, Mona pasti akan memakai mobil itu. Jangan sampai dia tau apa yang sedang terjadi," seru Joshua.
"Baik, Bos." Panggilan pun dimatikan.
Joshua memijat pelipisnya, sambil menundukkan kepala.
"Apa lagi ini, Valeria?" gumamnya.
Saat itu lah, terbersit satu nama di benaknya.
"Peterson. Ya, aku harus meminta bantuannya," gumam Joshua.
Pria tua itu pun lalu mencoba menghubungi Arthur, namun dia sangat susah sekali untuk dihubungi. Berkali-kali Joshua mencoba meneleponnya, namun tetap saja sia-sia. Arthur sama sekali tak menjawab.
Joshua pun akhirnya mengirimkan pesan teks yang berisikan informasi jika Mona dalam bahaya, dan memintanya agar mencegah wanita itu mengendarai mobil sport-nya.
Lama menunggu, namun Joshua tak kunjung mendapat jawaban dari Arthur, hingga panggilan dari nomor tak dikenal kembali masuk.
"Bos, Nona Mona kelihatannya akan pergi. Dia terlihat sedang menunggu lift di lantai atas," ucap orang di seberang.
"Tahan dia. Aku akan kesana dan mencegahnya sendiri," jawab Joshua yang langsung mematikan teleponnya.
Joshua segera keluar dari kantornya, dan meminta sang supir untuk mengantarkan ke apartemen The Royal Blossom.
...๐๐๐๐๐...
Di The Royal Blossom, Mona yang tengah menunggu lift, tiba-tiba mendapat panggilan dari ponselnya.
Ia pun mengambil hand phone yang berada di dalam tas, dan melihat siapa si penelepon itu.
"Josh? Mau apa dia menghubungi ku," ucap Mona sambil memandangi ponselnya.
Namun, dia tak peduli dan malah mematikannya. Mona kemudian mengganti setelan ponselnya ke mode senyap, sehingga dering telepon tak lagi bisa mengganggu dirinya.
"Aku akan merajuk padanya. Biar saja dia kemari dan mohon ampun pada ku. Siapa suruh dia mengabaikan ku lebih dulu," ucap Mona pada dirinya sendiri.
Saat ia sedang kesal dengan Joshua, seorang wanita tua datang menghampirinya dan ikut menunggu di depan pintu lift. Wanita tua itu nampak sedikit kebingungan, dan membuat Mona bertanya padanya.
"Maaf, Nyonya. Apa mungkin Anda sedang membutuhkan bantuan?" tanya Mona mendekati si wanita tua.
"Benar. Saya memang sedang mencari alamat ini, Nak," kata wanita itu sambil menunjukkan sebuah alamat pada secarik kertas.
Mona melihatnya dan mencoba berpikir. Dia lalu membuka ponselnya dan mengetikkan alamat yang ada di kertas. Setelah beberapa saat Mona pun memberi tahukannya kepada si wanita tua itu.
"Sepertinya, Anda salah memasuk Tower. Ini Tower Royal Rose, kalau yang Anda cari adalah Tower Royal Orchid," tutur Mona sambil mengembalikan kertas berisikan alamat tersebut.
"Ohโฆ rupanya memang salah ya. Pantas saja saya kebingungan mencarinya. Ehmโฆ bisakah Nona antarkan saya ke tempat tersebut?" pinta wanita itu.
"Ehmโฆ," Mona nampak berpikir.
Ia lalu melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
Masih jam segini. Mungkin.... tak apalah, batinnya.
"Baik lah . Mari saya antar," ucap Mona.
Mona dan wanita itu pun lalu menuruni lift, menuju ke lobi bawah. Keduanya kemudian berjalan ke arah Tower yang dimaksud dalam alamat yang ditunjukkan oleh si wanita tua tadi.
Antara tower Royal Rose tempat tinggal Mona, dengan Royal Orchid, tempat yang dituju oleh wanita tua tadi, hanya terpisah oleh central park yang berada di tengah ke empat tower.
Mona pun mengajak Wanita itu berjalan menyusuri taman bunga yang menjadi simbol The Royal Blossom, dan menuju ke gedung di seberangnya.
"Ini gedungnya, Nyonya. Anda tinggal masuk saja, lalu tanyakan ke petugas, di mana unit yang Anda cari," ucap Mona sesampainya mereka di lobi gedung.
"Terimakasih sudah membantu, Nak." Wanita itu tersenyum ke arah Mona, sambil meraih tangannya.
"Tidak masalah, Nyonya. Kalau begitu, saya permisi dulu," ucap Mona yang kemudian berlalu pergi.
Wanita itu memandangi kepergian Mona, dan memegangi telinganya. Ia nampak tengah menekan sesuatu yang terpasang di sana.
"Target sudah berjalan kembali ke area mawar," ucapnya yang kemudian berjalan pergi keluar dari gedung The Royal Orchid.
...๐๐๐๐๐...
Di tempat lain, Jotsh yang tengah berada di dalam mobilnya, terus mencoba menghubungi Mona, namun tak satupun panggilannya yang diangkat wanita itu.
"Ayo, Mona. Angkat teleponnya," gumam Joshua yang diliputi kepanikan.
Mobil terus melaju dengan cepat, namun semuanya terasa lambat ketika seseorang tengah berada dalam situasi yang mendesak.
"Kenapa jalannya lama sekali?" gerutu Joshua kepada sang supir.
"Maaf, Tuan. Ini sudah lumayan cepat. Anda tahu sendiri ibu kota itu semacet apa lalu lintasnya," sahut sang supir memberikan pengertian dengan sopan.
"Hahโฆ kenapa dia tak mau angkat teleponku," gumam Joshua sambil memijit pangkal hidungnya.
Ia teringat Arthur, dan mencoba untuk menghubungi pria itu sekali lagi.
TUT! TUT! TUT!
"Aaarrrrggghhh! Kenapa tidak ada yang bisa dihubungi dalam situasi seperti ini?" teriak Joshua.
Di tengah frustasinya, Joshua mendapatkan sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Pria paruh baya itu segera menerima panggilan tersebut.
"Bagaimana? Apa semuanya sudah beres?" tanya Joshua kepada orang di seberang.
"Maaf, Tuan. Mekanik yang kami panggil, sekarang tengah memperbaikinya. Namun, Nona Mona telah lebih dulu kembali ke gedung ini, sehingga kami terpaksa menghentikan semuanya," tutur orang di seberang yang tak lain adalah anak buah Joshua.
Tepat saat itu, Joshua telah memasuki pelataran tower Roya Rose, tempat di mana Mona tinggal.
"Baik, aku yang akan mencegahnya. Di mana dia sekarang?" tanya Joshua sambil berlari keluar dari mobil.
"Dia sedang menuju basement, Tuan."
Joshua seketika berlari menuju parkiran bawah tanang dari arah luar, tanpa melewati lift. Dia sudah tak bisa berpikir normal, saat wanita yang ia sayangi ada dalam bahaya.
Joshua berlari dan tepat saat ia sampai di sana, Mona baru saja akan membuka mobil sport-nya.
"MONA!" teriak Joshua.
Pria paruh baya itu lalu berjalan cepat menghampiri Mona yang memasang wajah kesal, sambil melipat kedua lengannya di depan dada.
"Ada apa kau kemari, Josh? Bukankah kau sudah lupa dengan ku?" ucap Mona ketus.
"Kembalikan mobilku," ucap Joshua langsung tanpa menjawab pertanyaan Mona terlebih dulu.
Mona seketika menoleh dan menatap Joshua dengan tajam. Ia mengernyitkan alisnya, karena tak yakin dengan apa yang ia dengar barusan.
"Kembalikan kataku," ucap Joshua berusaha mengatur nafasnya yang tersengal akibat berlari tadi.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like ๐, komen ๐, atau beri dukungan lainnya
terimakasih