DESIRE

DESIRE
Bab 102



Selepas sarapan yang penuh canda tawa, kini mereka telah berada di dalam perjalanan menuju ke kedai milik Luzy, senior Mona di Heaven valley.


"Mona, Luzy ini temanmu di mana?" tanya Arthur tiba-tiba saat mereka tengah melintas di jalanan.


"Oh… Kak Luzy itu senior ku di tempatnya Mommy," jawab Mona dengan santainya.


"Jadi, dia pelac*r?" seloroh Arthur.


Dia pun langsung mendapat cubitan yang cukup keras di perut dari Mona, karena perkataanya tadi.


"Aaawwww… sakit, Mona!" keluh Arthur.


"Habisnya Kakak ngomongnya seperti itu. Tidak ingat apa kalau aku juga sama seperti dia," gerutu Mona.


Wanita itu kemudian melipat kedua lengannya di depan dada, dan membuang pandangannya ke luar jendela.


Aduh! Salah ngomong. Lagipula, biasanya juga dia tak apa kalau ku singgung masalah pekerjaannya. Kenapa sekarang jadi sensitif banget gini sih? heran, gerutu Arthur dalam hati.


Pria itu kemudian mengulurkan tangannya dan meraih sebelah tangan Mona yang masih terlipat.


"Maaf, Sayang. Aku tak bermaksud menyinggung kamu, Kok. Sumpah," bujuk Arthur.


"Hem…," Mona menepis tangan Arthur dan kembali membuang muka.


Hah… jadi ngambek. Haduh, Mona, batin Arthur kesal.


"Sayang, maaf yah. Yang aku maksud bukan kamu kok. Aku juga tak sengaja ngomong begitu. Sudah ya. Masa kita mau ke sana, tapi kamunya cemberut begitu. Kan tak enak sama temanmu nanti," bujuk Arthur lagi.


"Tapi aku tak suka kamu ngomong seperti tadi, Kak," ketus Mona.


"Iya… iya. Aku minta maaf. Janji deh tidak ngomong seperti itu lagi, hem," ucap Arthur.


Pria itu pun kembali meraih tangan Mona, dan mengecup punggung tangannya, sembari dia sibuk mengemudi.


"Benar? Tapi janji tak akan ngomong begitu lagi," rengek Mona.


"Iya Mommy-nya lil baby," sahut Arthur.


Pria itu pun melepas tangan Mona dan beralih mengusap puncak kepala wanitanya.


Suasana pun kembali ceria. Mona dan Arthur kembali berbincang-bincang, bercanda dan saling mengolok. Kebersamaan yang pernah terlewatkan begitu saja, karena Arthur yang meninggalkan Mona di masa lalu.


Andai saja sejak dulu aku tetap di sampingmu, pasti sekarang kau sudah benar-benar menjadi milikku, Mona, batin Arthur.


Tak lama kemudian, sebuah panggilan masuk ke ponsel Arthur.


"William?" gumam pria itu saat melihat nama yang tertera di layar.


"Kenapa tak diangkat, Kak? Dari Will bukan. Mungkin saja penting," seru Mona saat ikut melihat nama si penelepon.


Arthur pun memasang hands free ke telinganya, dan menggeser tombol hijau ke kanan.


"Halo, Will. Ada apa?" tanya Arthur.


"Maaf, Tuan. Tapi ada masalah penting yang harus ditangani langsung oleh Anda," tutur William dari seberang.


Arthur nampak mengerutkan keningnya, sambil menoleh sekilas ke arah Mona yang juga memandangi dirinya sedari tadi.


"Apa tidak bisa kau handle dulu?" tanya Arthur memastikan.


"Maaf, Tuan. Ini tentang anggaran yang akan kita ajukan ke rapat dewan. Ada beberapa yang ingin mendengar langsung presentasi dari Anda sebelum rapat dimulai minggu depan," papar William.


"Hah…," terdengar helaan napas panjang dari mulut pria itu.


Mona yang melihat pun, seolah tahu jika prianya harus segera pergi karena ada situasi darurat. Dia pun mengulurkan tangannya dan mengusap lembut pundak Arthur.


Pria itu menoleh dan melihat senyum manis dengan tatapan teduh yang begitu menenangkan hatinya.


"Kalau mendesak, sebaiknya Kakak pergi saja. Aku tak apa kok," seru Mona.


"Maaf yah," ucap Arthur.


Mona tak menyahut lagi. Wanita itu hanya tersenyum dengan tatapan yang begitu lembut.


"Kapan waktu pertemuannya?" tanya Arthur.


"Oke, aku ke sana sekarang." Arthur pun segera memutus sambungan dan melepas alat yang menempel di telinganya.


Arthur meraih tangan Mona yang sedari tadi berada di atas pundaknya, dan mengecup punggung tangan wanita itu.


"Maaf yah. Aku tak bisa menemani mu," ucap Arthur yang merasa bersalah.


"Tak apa kok. lain kali kan masih bisa," sahut Mona.


Tak lama kemudian, mereka pun tiba di depan kedai milik Luzy.


"Aku akan selesaikan urusanku secepatnya. Setelah itu, aku akan menjemputmu lagi di sini yah," pesan Arthur.


"Iya, Kak. Ya sudah, aku keluar dulu ya," pamit Mona.


Wanita itu pun meraih tas yang ada di pangkuannya dan hendak membuka pintu mobil. Namun, Arthur menarik lengan Mona hingga si ratu es pun menoleh.


Arthur mengecup sekilas bibir merah wanitanya, dan beralih ke kening Mona.


"Have a nice day," ucap Arthur.


"You too," sahut Mona.


Wanita itu pun keluar dari mobil, dan berdiri di samping kendaraan roda empat berwarna putih tersebut. Saat Arthur melajukan kembali mobilnya, Mona pun melambaikan tangan hingga pria itu menjauh.


Seseorang nampak keluar dari dalam kedai, dan berjalan menghampiri Mona yang masih betah berdiri di tepi jalan, memandangi Arthur yang sudah tak terlihat.


"Mona," panggil orang yang tak lain adalah si pemilik kedai, Luzy.


Mona pun menoleh, dan senyumnya mengembang seketika, saat melihat orang yang sudah seperti kakak baginya berjalan menghampirinya


"Kak Luzy!" sahut Mona.


Keduanya pun saling berpelukan, seraya melepas rindu di antara keduanya.


"Kakak apa kabar?" tanya Mona selepas pelukan mereka terurai.


"Baik. Kamu tadi diantar siapa?" tanya Luzy menyelidik.


"Ehm… itu…," jawab Mona ragu.


"Orang itu kah?" tanya Luzy yang mengacu pada pembicaraannya tempo hari, saat mereka bertemu di sebuah mall.


"Ah… apanya yang orang itu, Kak," jawab Mona tersipu.


"Kenapa tak diajak sekalian?" tanya Luzy.


"Dia sibuk, Kak. Sudahlah … aku tak diajak masuk nih?" keluh Mona yang mengalihkan pembicaraan.


"Lupa. Hehehe… gara-gara keasikan interogasi kamu, Mona." Luzy pun merangkul Mona dan berjalan masuk menuju ke dalam kedai.


Mona disambut oleh suami dan juga putri Luzy, Joy. Gadis kecil itu begitu lengket dengan Mona meski mereka baru dua kali ini bertemu.


"Sudah cocok lho, Mona," ucap suami Luzy.


"Ah, Kakak ipar bisa aja." Mona pun tersipu.


Luzy sedari tadi terus memperhatikan perbedaan sikap Mona yang dia kenal dulu dan sekarang.


Sepertinya, kamu sekarang jauh lebih ceria, Mona. Aku harap, pria itu benar-benar tulus padamu, batin Luzy.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih